
"S—saya ... tidak mempunyai hak membahas seluk beluk keluarga besar Tuan, suatu saat anda akan tahu sendiri kenapa beberapa hal yang dipersiapkan tadi begitu kaku, dan banyak aturan kebiasaan"
Susan terdiam kembali merenung, membuka ponselnya untuk melihat apakah Brian sudah bisa dihubungi.
"Ponselnya dimatikan ...' batin Susan
Hingga akhirnya sampai dirumahnya Susan dan Leo tidak melanjutkan percakapan, hanya kata terakhir yang diucapkan Leo untuk lebih bersabar dan jangan tergesa-gesa untuk segera menghubungi Brian.
POV Susan
Sampai detik ini belum ada kabar, sudah dua jam semenjak aku pulang Brian belum mengaktifkan ponselnya. Aku tidak berani apakah harus aku kesana lagi nekat melihat kondisinya, tapi disana masih ada beberapa asisten rumah tangga dan security. Apakah aku diperbolehkan masuk?
Hingga pukul 1 malam aku masih terjaga dalam pikiran, aku takut sekali untuk menghubungi Adam sekedar bertanya kabar.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
BRIAN!
"Sayang! kamu baik-baik saja 'kan?! Bri ... halo ..." ucapku tanpa basa-basi.
"Ya, jangan panik. Kamu gak apa-apa?"
"Kenapa aku yang ditanya, aku khawatir, kita semua khawatir dengan keadaan kamu, apa yang kamu rasain sekarang, lemas gak? gemetar? pusing atau ..."
"Cukup cukup ... kamu yang panik, jadi kamu nanti yang sakit. Aku gak apa-apa, hanya minta ketenangan sesaat" pinta Brian agar aku berhenti bicara dengan panik.
"Oh ... aku mau video call boleh?" pintaku setengah rayuan memohon.
"Gak, gak perlu" jawabnya singkat
"Kenapaaa ... kamu gak mau liat aku ...?" jawabku memelas.
"Kalau kamu mau keluar boleh, aku ada di depan rumahmu." jawabnya singkat.
"Ha?? didepan?? dari kapan?!" ucapku terkejut karena nyaris tidak mungkin jika Brian secepat itu pulih dan tidak berpikir panjang untuk menemuiku lagi hingga kerumah.
Aku berjalan mendekati jendela kamar dan melongok ke depan jalan rumah.
"Gak ada! kamu di teras?"
"Aku di dalam mobil, kuparkir satu rumah sebelum rumahmu"
"AKU KESANA!"
Aku bergegas turun ke lantai bawah dan mengendap-endap keluar, berlari kecil tanpa alas kaki agar tidak terdengar siapapun dini hari ini.
Berjalan perlahan saat melihat mobil berwarna hitam yang terparkir di depan jalan sebelah rumahku, sorotan lampu jalan yang memantul ke kaca depan mobilnya menampakan sosok kekasihku yang berada di dalamnya.
'Itu dia!'
Brian membuka pintu dari dalam mobil, dan cepat aku masuk ke dalamnya.
"Bri!" ucapku tanpa basa-basi dan segera memeluknya.
"Eh, eh. Jangan erat-erat, aku tercekik ... hahaha" ucapnya santai.
"Bri, sayang, you okay?" aku melepaskan pelukanku dan memegang kedua belah pipinya.
"Kenapa kamu panik?" Brian meraih kedua tanganku yang berada di pipinya, dan mencium kedua tanganku.
"Menurutmu aja gimana, aku di usir halus kan sama kamu ..." ucapku manja.
"Maafkan sikapku tadi, Dear. Aku hanya butuh waktu sendiri ..., tapi ... aku masih ingin sama kamu, seharusnya ... ini jadi malam yang terbaik untuk kita saat ini, tapi aku mengacau karena emosi" Brian mencoba menjelaskan akan maksud yang sebenarnya diluar kondisi mendadak tadi.
"Lupakan masalah tadi, aku gak terlalu paham. Baiknya aku tidak terlalu banyak menyangka-nyangka, dan ikut campur masalah ini, hanya jika kamu mau cerita lebih jelas lagi ... aku akan simpan baik-baik dan coba memahaminya" jawabku, mencoba menepis masalah yang sedikit ku tangkap melalui pembicaraan anatara Uncle dan Mama Anne.
"Hhh ... kita kesampingkan hal itu dulu, hmm ... aku hanya ingin ditemani kamu, kalau boleh ..." bujuknya.
"I—iya, boleh, sayang. Tapi ... apa gak sebaiknya kita parkir ditempat lain aja? aku takut security nanti bertanya-tanya, ini jam mereka patroli berkeliling kawasan sini"
"Hm ... bisa ada waktu sampai jam 5??" tanya Brian tanpa basa-basi.
"Iyaa ... cuma masalahnya ..."
Belum sempat aku menjelaskan situasi bahwa aku menyelinap seperti ini bisa saja berbahaya jika Mama dan Papaku tau, apalagi ini dini hari.
"Nanti kuantar kamu lagi." ucapnya datar sambil memutar kunci kontak, dan menyalakan mobilnya.
"Hei, aku pakai piyama tanpa alas kaki begini, kita mau kemana? Bri ... jangan bercanda ya"
"Hahaha ..."
__ADS_1
***
Mobil melaju cepat dini hari itu, jalur jalan raya terlihat cukup sepi hingga bisa leluasa mengendarakan mobil lebih cepat dari biasanya. Brian seperti tidak mengindahkan keselamatan meski cara mengemudinya sangat lihai dan aman untuk kami berdua, sayangnya ia seakan lupa kalau kekasihnya ini takut akan kecepatan, Brian tetap saja mengemudi sambil fokus menatap jalan dan tidak bicara apa-apa.
'Tunanganku stres atau apa dia ngebut-ngebut begini'
"Bri, pelankan sedikit, bahaya nanti"
"Aku cuma punya waktu empat jam kurang bersama kamu, kenapa harus kusia-siakan?"
"Kita mau kemana?"
"Gak kemana-mana, tempat yang lebih bebas tanpa alas kaki, dengan piyama pun suka-suka kamu ..."
Aku bergeming, dan tidak bertanya-tanya lagi ...
Kendaraan itu pun sampai dalam waktu setengah jam kurang dari lokasi rumahku, yah, ternyata dia membawaku kembali ke rumahnya.
"Kerumahmu lagi? kurang kerjaan ... tau begini aku gak perlu kamu suruh pulang, lain kali jangan emosi dulu makanya ... nanti pulang aku naik taksi aja kalau gitu, daripada kamu bolak-balik"
"Iya ... iya ... ini sedang kutebus salahku, makanya kujemput. Karena aku yang ajak, kalau aku bilang antar ya kuantar, atau sekalian bawa kamu setelahnya ke kantor" ucapnya sambil tersenyum.
"Terus kamu gak tidur? jangan macam-macam deh, kemarin kamu baru tidur dua jam kurang"
"Memang terbukti, cerewetnya kamu buat aku gak bisa tidur ... hahaha"
"Siapa suruh mau sama aku." aku bergumam kesal sambil mengerucutkan bibirku.
"Mau dong ..." goda Brian sambil mengacak-acak rambutku.
Memasuki gerbang dan sudah berada dalam suasana senyap pada pukul setengah dua pagi, udara dingin mulai menusuk kali ini.
Brian keluar dari dalam mobilnya dan sigap membopongku karena tidak menggunakan alas kaki, ia menurunkanku pada sofa di ruangan yang sama. Brian seperti biasa dengan posisi favoritnya memintaku duduk dan merebahkan kepalanya di pangkuanku.
'Kamu pikir ini bukan jam-jam rawan apa, berdua sama calon suami mesra-mesraan begini'
"Setidaknya saat begini aku bisa rileks tanpa harus memikirkan masalah, melepaskan pikiran meskipun hanya begini .., makasih sudah mau menemaniku disini ..."
"Gak harus serba-serbi formal seperti tadi, kamu bisa curhat apa aja yang kamu rasakan akhir-akhir ini. Aku jadi konselor mu saat ini, gantian. Tapi aku gak bisa hipnotis, hehe"
'Terkadang aku merasa sifatnya yang kekanak-kanakan muncul seperti ini, ingin dimanja begini ... sedangkan yang sedang ia pikirkan adalah tentang Mama nya'
"Sedikit, tapi gak apa-apa sih Bri ..." aku mencoba untuk mengabaikan ras kantuk ku.
"Maaf ya, kalau mau tidur ya sudah, gantian kamu yang tidur disini, aku yang duduk"
"Gak usah, jasa pangku kepala ya Tuan?" ejekku.
"Jasa pijat kepala juga boleh, selebihnya boleh, sebagai gantinya kamu boleh minta apa aja sama aku"
"Minta apa?" tanyaku sambil mengusap rambut tunanganku yang pirang kecoklatan ini.
"Apa aja, Nona mau dilayani apa?"
"Hih, apa ya, ..."
"Aku siap melayani!" ucap Brian bersemangat.
"Jadi tukang kebun mau? atau ... tukang cuci mau?"
"Cuci?! cuci apa? pakaian, kendaraan, atau orangnya?"
"Cuci otakmu!"
"Hahaha .., kenapa aku harus cuci otakku?"
"Gak!"
"Aku pilih opsi terakhir ..." Brian bangkit dari rebahnya dan mendekatkan posisinya, "hari ini aku belum dapat apa-apa ..." ia meraih daguku dan menatap dalam.
'Kenapa jadi agresif begini dia' gumamku dalam hati.
"Dapat kue!" ucapku semangat, mengalihkan.
"Semoga sisa kue nya masih tersisa disini ..." ia menyentuh bibirku dengan jarinya "aku masih mau kue ulang tahunku ..."
Dan ... sesuai perkiraan, apa situasi seperti ini adalah yang diinginkannya dalam melepas stres? selama ini Brian bisa konsisten menjaga kestabilan emosinya, kali ini dia berbeda sekali.
Caranya menciumku saat inipun berbeda, jauh dari cara halusnya, antara terburu-buru atau mencoba hal baru.
Aku melepaskan sentuhan bibirnya yang lekat, dan mengernyitkan dahiku memandangi wajahnya.
__ADS_1
"Apa aku cuma pelampiasan Bri?" tanyaku dengan nada dingin.
Brian menggeleng pelan dengan tatapannya, mencoba meyakinkanku. Ia mengusap pipiku dengan lembut.
"Pelampiasan jika selama ini aku cuma memintamu saat aku butuh, jika perlu kulakukan setiap saat kamu menginginkan ini pun, aku sanggup, asal lihat situasi, hahaha"
"Tapi caramu berbeda ..."
"Anggap saja ini eksplorasi ..." Ia kembali membenamkan ciumannya di bibirku. Dengan terkendali ... hingga akhirnya sulit dikendalikan.
***
POV Author
Di kediaman Uncle, Adam yang terus memantau kondisi, dengan CCTV melalui ponselnya, seketika ia tertawa puas dengan apa yang dilihatnya.
"Benar-benar ya, kalau telat pacaran seperti ini, pasangan ini ... baru beberapa jam aja sudah bertemu lagi ..."
"Apa maksudnya?" Leo menoleh ke arah Adam,
Adam memperlihatkan ponselnya.
"Hahaha ... Hahaha " tawa Adam puas
"Gak sopan kamu, itu kan privasi mereka"
"Tapi kita harus tau keadaan disana ..., gimana Leo? taruhan, apa yang terjadi setelahnya?"
"Taruhan? kemarin-kemarin juga begitu, nyatanya ... sudah ... matikan ah, kalau Tuan sampai tau, kena skors kamu"
"Akses CCTV ini kan memang sudah di amanatkan ke kita juga demi kebaikan, siapa yang salah, eh, gimana? jadi taruhan?"
"Terserah!"
"Menurutmu lanjut atau gak?"
"Gak ada kelanjutan"
"Aku pastikan lanjut, kalau menang, aku ambil cuti satu minggu, lihat saja ..."
Sepuluh menit kemudian,
"Hahaha ... bola digiriiiing kawaaan, ah!" Adam berteriak puas.
Leo kembali menoleh sambil memandang Adam kesal.
Terlihat melalui cctv, Brian menuntun Susan menaiki tangga sambil memegang ponsel. Menuju lantai atas dimana beberapa ruangan yang terdapat kamar mereka nanti.
Tidak berapa lama kemudian ...
ACCESS BLOCKED
please try again for a few minutes
"Sial!!" umpat Adam.
"Kenapa?"
Adam tidak menjawab masih berusaha mengakses CCTV melalui ponselnya.
ACCESS DENIED
"Ditolak dong aksesnya, gagal! sudah di block!"
"Hahaha ... pelajaran ... Bos kita bukan orang yang bodoh, Dam"
Tiba-tiba pesan masuk ke ponsel Adam.
Bos BriBri [ Besok temui saya di LSM, tunggu saja dari pagi, tidur sana! sudah cukup nontonnya, sembarangan!]
****
Sementara itu di kediaman Brian, terlepas dari masalah yang sedang dialami olehnya, Brian yang sikapnya sedikit berbeda saat ini cukup membuat Susan kewalahan dengan banyak keinginannya.
Sedangkan Susan yang terlanjur jatuh cinta hanya mampu mengikuti tanpa bisa berbuat banyak, keinginan yang lebih besar dan lebih kuat lagi mereka rasakan ... terlarut dalam suasana mesra penuh kehangatan pasangan yang belum sah itu.
.
.
Bersambung
__ADS_1