My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Tersadar


__ADS_3

Brian tertidur lelap dalam lelah, baru kali ini Ia mengalami konflik yang tidak mampu dikendalikan oleh ego nya sendiri, Ia melemah dengan kata-kata orang disekitarnya, hanya karena subjek terakhir dari seluruh penelitiannya yang Ia lindungi hingga menjerumuskan diri sendiri pada pertanyaan, apakah Ia hanya sebatas melindungi, sayang atau mulai mencintai sosok subjek itu sendiri?


Baru kali ini pun Ia tertidur tanpa mementingkan rasa tidak nyaman akan kotor dan jauh dari keteraturan hidupnya, Ia bahkan masih menggunakan pakaian yang sama saat menemui orang lain, jauh dari kebiasaannya yang selalu membersihkan diri dan teratur menggunakan pakaian tidur, kini Ia nampak acuh dengan serba serbi keserasian hidup itu.


Tepat pukul 07.00 Alarm berbunyi, tanda seharusnya Brian mencari udara pagi, ke Gym sejenak lalu mandi dan sarapan seperti hari-hari biasa nya, tapi tidak pagi ini.


Ia terbangunkan dering Alarm tadi, sigap bangun namun sedikit pusing membuatnya berjalan menjuntai menuju ruangan depan kamarnya, terlupa akan ponsel yang dilemparkan nya semalam.


Adam ternyata sudah berada didepan pintu kamarnya, sekali lagi mengetuk berulang karena tidak terdengar sama sekali oleh Brian sebelumnya.


“Masuklah” ucap Brian dengan suara lemah dan parau.


Adam sigap masuk karena sebenarnya semalaman pintu tidak terkunci oleh penghuninya.


“Tuan, ada apa dengan ponsel tuan? kenapa tidak bisa saya hubungi, apa ... apa yang terjadi semalam tuan?”


“Hhh ... tidak apa-apa Adam, tolong carikan ponsel saya di kamar, nampaknya terjatuh dilantai, saya lupa” Brian beralasan, padahal Ia tau betul telah melemparnya semalam.


Adam menuju kamar Brian, mencari-cari pada karpet berbulu di ruangan tersebut, sungguh terkejut Ia kini melihat botol minuman tergeletak juga dibawah tempat tidur, setelah itu baru Ia menemukan ponsel Brian yang dalam kondisi tidak aktif terlihat ada benturan pada ujungnya namun tidak retak sama sekali.


Adam menghampiri Brian kembali sambil membawa kedua benda tadi.


“Tuan, ini ... bekas minuman siapa? anda yakin tidak ada yang datang tadi malam?” menunjukan botol kosong yang semalam telah habis isi nya diminum oleh Brian.


Brian masih berusaha memfokuskan pandangan lelahnya, Ia mendongakan kepala sambil memijat-mijat sedikit tengkuk lehernya.


“Itu aku” Brian sekilas tersenyum bangga, namun seketika itu pula Adam memberikan ekspresi sebaliknya “kenapa?”


“Tuan ... “ Adam masih terhenyak dengan sikap Brian dan duduk perlahan pada sofa diseberang Brian “Anda yakin tidak apa-apa dengan ini??bagaimana ... bagaimana ini ... “


“Sudahlah, pesankan sarapan pagi untuk ku, hari ini ... aku ingin sarapan di kamar saja, dan secangkir kopi nampaknya enak juga, kau mau apa? minta lah sekalian”


“Tapi tuan, jadwal pagi ... “


“Membantah lagi?” Brian mulai meredupkan senyumnya


“Oh iya, iya baik ... segera saya minta untuk bawakan kesini, sandwich atau salad sayur saja ya kan tuan?”


“Iya iya ... , oh! ehmmm tidak! jangan!”


“Apa tuan? apa buah-buahan saja atau jus atau ... “


“Mie Instan rebus! seperti mahasiswa-mahasiswa kos-kosan itu, Hmmmm ... nampaknya seru juga, saya ingin tau rasanya, Adam.”


“Apa?!.” Adam sampai nyaris meninggikan suara nya mendengar permintaan bos nya yang sangat janggal kali ini,

__ADS_1


‘Ya ampun, apa obatnya sudah habis jadi gila nya semakin akut, aku jadi takut dibuatnya ini’ Adam bermonolog


“Hei, kenapa diam? cepat sana!”


“Ba ... baik tuan, sebentar” Adam mungkin agak bergidik mendengar permintaan Brian kali ini, namun tidak sedikitpun Ia berani membantah.


Adam menggelengkan kepala keheranan saat berjalan menuju telepon untuk memesan makanan.


Makanan pun sampai dalam waktu yang tidak lama, Adam menaruhnya pada meja dihadapan Brian dalam ragu, takut salah lagi.


Brian memandangi mangkuk berisi mie Instan itu, meraih garpu disebelahnya dan perlahan mengangkat helaian mie itu dan memakannya sedikit, tiba-tiba Brian terhenti. Adam memperhatikan seksama setiap detik ekspresi Brian yang mengernyitkan dahi.


‘Ah kan, pasti dia tidak cocok dengan kandungan MSG di dalamnya, lihat saja ekspresinya itu’ Adam bermonolog.


“Tuan, kalau tidak cocok hentikan saja, nanti saya pesankan ... “


“Ssstt!” Brian mengangkat tangan menyuruh Adam untuk berhenti komentar. Dan Ia memakan kembali mie itu untuk kedua kalinya, tapi kali ini senyumnya merebak dan tertawa “Hahaha ... Oh God, ini enak sekali Adam! bagaimana saya tidak tau makanan seenak ini dari dulu ya! kau sudah tau rasa mie Instan ini Adam?”


“Dulu sering tuan, waktu masih ... “


“Ya saya tau, apa nama produk ini?”


“Itu ... Intimie, produksi PT. Intifood, tuan.”


“Ah! saya mau invest di perusahaan ini! cari tau ya? gila sekali mereka bisa pintar membuat makanan enak begini!.” ucap Brian sambil terus menyuap mie instan itu hingga nyaris habis.


“Tuan, bukankah biasanya anda lebih memprioritaskan dana anda di bidang pendidikan dan sosial, seperti kampus itu, kenapa jadi berminat untuk hal begini”


“Itu kan lain, pembangunannya dengan dana langsung juga, tapi sepertinya ini juga bagus bukan? lalu kau pikir Hotel ini bagaimana? investasi saham kita juga ada kan? masih juga satu perusahaan dengan Mall sebelah, beli lah sejumlah besar Lot pada perusahaan ini, pasti bagus pergerakannya! kau amati grafiknya nanti, pasti menguntungkan! saya pintar, kan?! Hahaha ... , jangan terpengaruh gorengan lagi kamu, gagal cuan nanti!”


(Lot, gorengan, cuan : istilah dalam permainan saham)


“Iya nanti saya atur tuan!.” Adam bernada datar mendengar pengarahan atasannya.


‘Iya ... pintar-pintar aneh! dia tertawa lagi dasar Ganteng-ganteng Sering gila’ Adam cemberut dengan keinginan bos nya yang memberi kerjaan baru untuknya.


Mie itu pun habis dalam waktu singkat, kemudian Ia meneguk segelas air putih yang telah tersedia dihadapannya.


“Ah ... banyak juga ya! kenyang saya ... “


‘Banyak apa! lihat ukuran badanmu itu loh tuan, tidak sebanding dengan sebungkus mie instan saja, aku bahkan harus dobel ditambah telur di dalamnya’ Adam bermonolog


Sesaat kemudian Brian terlihat menyerigis kecil.


“Hmm ... tapi ... kenapa perut saya tidak enak begini ya, sebentar!”

__ADS_1


Brian berjalan cepat ke kamar mandi, dan terdengar seperti memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Adam sigap menghampiri kamar mandi itu dengan cepat dan mengetuk pintu.


Tok tokkk


“Tuan, anda baik-baik saja kan ... apa perlu saya bantu sesuatu!”


Tidak ada jawaban dari kamar mandi hanya bunyi air mengalir setelahnya. tidak lama kemudian Brian keluar dari kamar mandi.


“Sedang apa kamu disini?”


“Tidak, saya takut anda kenapa-kenapa”


“Ah ... ya, saya baru saja muntah, sepertinya ini juga efek minuman semalam, saya mungkin belum terbiasa saja”


Mereka berjalan ke arah sofa dan kembali duduk.


“Jelas lah, anda kan ... tidak pernah mengkonsumsi yang macam-macam sedari anda kecil”


“Tau darimana?”


“Uncle anda pernah cerita kepada saya, makanya ... dia minta saya mengawasi apa saja yang anda konsumsi sehari-hari, tuan”


“Dia itu aneh, untuk saya ... dia seperti menolong dan menjagaku, tapi di sisi lain ... ada kejanggalan dari sikapnya. Saya merasa ia seperti mempunyai tujuan lain, nampaknya ada pamrih yang terselubung” Brian seketika termenung dengan pikiran-pikirannya saat itu, seperti menaruh curiga pada segala hal tentang pamannya.


“Jangan mulai lagi memikirkan apapun terlalu jauh, baiknya anda pikirkan dulu tentang kondisi psikis anda saat ini”


“Itulah yang saya ingin bicarakan padamu saat ini, ada beberapa rencana yang harus dirubah segera!” ucap Brian dengan berat hati.


“Apa yang harus dirubah??”


“Semua rencana, Adam” Brian mencoba kembali tegas dan memandang Adam dengan yakin.


“Maksud anda ... tentang apa ini semua?”


“Tarik semua tuntutan terhadap Pria itu dan gagalkan tuntutan untuk Kakak Missorry ku, saya ingin memajukan jadwal kepulangan ke London, minggu ini juga! siapkan segera!”


“Hah? apa saya tidak salah dengar tuan? ini baru saja mulai dan kita pasti berhasil menjebloskannya ke penjara, lagipula ... anda kan menjadwalkan kepulangan beberapa bulan kedepan, kenapa terburu-buru?”


“Tidak, saya tidak mau menunggu lama, saya tidak mau semakin dibuat sakit oleh psikiater-psikiater gadungan rekomendasi uncle, kau lihat sendiri hasil diagnosa itu, tidak ada perubahan sedikitpun! padahal saat saya mencoba memahami diri sendiri ternyata saya masih bisa menjalani banyak hal yang normal orang lain lakukan!”


“Iya sih, ada benarnya juga, saya pun merasa ... anda tidak seburuk hasil diagnosa itu, tapi kadar obat yang anda konsumsi malah membuat anda ketegantungan”


“Ya itulah, ternyata ... Missorry ... dia memang secara tidak langsung membuatku sadar tentang masalahku, entah kenapa ... hanya dia satu-satunya wanita yang mampu saya sentuh saat ini, seharusnya saya merasa berterima kasih padanya bukan menjatuhkan perasaannya, tapi ... saya memang harus pergi dari sini” lirih Brian


‘Ya ... Aku harus segera pergi untuk memperjuangkan diriku sendiri, aku bukan lagi robot kecil paman, yang selalu dikuasai tapi coba dibunuh secara perlahan’ batin Brian

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2