
...***** Warning *** **...
...Bijaklah dalam membaca. Sesuaikan dengan usia karena konten bukan untuk dicontoh. Isi hanya mengungkap insting nyata manusia dewasa dalam situasi yang ada pada tokoh cerita....
...🌹...
Kupaksakan untuk sigap bangun hingga nyaris membentur wajahnya.
“Ugh” ia tersentak memundurkan kepala.
“Ah, sorry honey, kamu kena?”
“Hampir, tapi tidak apa-apa ... tidak kena kok, kamu mau kemana?”
“A—aku mau ke toilet sebentar, cuci muka”
“Ya baiklah.”
Aku beranjak menuju kamar mandi disebelah ruangan yang terdapat tempat tidur berukuran king size disana. Entah untuk apa Brian memesan semua ini untuk di desain sama seperti kala dulu padahal belum tentu malam ini dia akan menginap di kamar hotel ini.
Rupanya tanpa terasa kami berdua memang terlelap cukup lama saat tadi, setelah berbincang-bincang lagi kini mulai mendekati waktu malam dan aku memohon diri untuk pulang.
Brian menahanku untuk tetap disana lebih lama, mengajak makan malam saat kala itu yang sudah menginjak waktu pukul tujuh. Lagi-lagi kami memesan beberapa jenis makanan lain ke dalam kamar, rasanya hari ini kami benar-benar puas menghabiskan waktu bersama.
Makan malam pun selesai. Kini pukul setengah delapan malam, kami sejenak berbincang lagi sambil berdiri menghadap ke arah jendela kaca penuh melihat suasana diluar yang sudah mulai gelap, ia memelukku dari belakang.
“Bri, kapan aku boleh pulang?”
“Sebentar lagi, aku masih ingin disini bersamamu, sebentaaar ... lagi, sebentar saja”
“Sebentar ya, yakin? aku tidak mau terlalu malam kan kamu tau kakak ku.”
“Hhh ... jangan lagi takut padanya, itu tanggung jawabku depan orangtuamu nanti. Oh, would you dance with me?”
“Dansa? aku gak bisa Bri, bercanda”
“Ayo cobalah sesekali ... setelah itu kita pulang, aku janji”
“Ya baiklah”
“Oke sebentar ... “
Brian melepaskan pelukannya dan berjalan mencari remote untuk menyalakan audio, tapi kali ini dia mencari dimana sepertinya lebih dari lima menit aku menunggu.
Seketika alunan musik muncul lagi, alunan saxophone dengan judul lain lagi dipilihnya kali ini. Brian menghampiriku lagi meraih pinggangku dan melingkarkan kedua tangannya disitu.
“Letakkan tanganmu dibahuku.”
Aku melakukan sesuai instruksinya karena jujur saja aku tidak tau caranya berdansa.
Brian meraih remote dari sakunya lagi menekan beberapa tombol. Seketika lampu sedikit meredup dan semua tirai didepan kami terbuka lebar memperlihatkan indahnya sisi pemandangan malam itu yang penuh gemerlap lampu kota.
“Kamu senang hari ini?” tanya Brian dengan nada halus.
Sambil berdansa pelan mengikuti alunan musik yang ada.
“Sangat senang, belum pernah aku merasa spesial seperti ini”
“Sudah kukatakan, aku ingin membahagiakanmu”
“Kamu berhasil Bri”
“Love you Dear ... “
“Love you so much too.”
Beberapa percakapan santai mengalir seiring dansa dan alunan saxophone yang romantis kala itu.
Lalu tiba-tiba Brian berhenti dan melepaskan sebelah tangannya dari pinggangku. Ia merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Kemudian ia berlutut di hadapanku dan meraih tanganku.
__ADS_1
Aku terkejut menunduk ke arahnya.
...🌹...
...“Sue, You deserve the very best, someone who will back you up without limits, let you grow without borders, and love you without end. Will you let me be the one?”...
**Sue, Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, seseorang yang mendukungmu tanpa batas, yang membiarkanmu tumbuh tanpa batas, dan mencintaimu hingga akhir. Maukah kamu mengizinkanku menjadi orangnya? **
...🌹...
Aku terkejut dengan sikapnya kali ini, hingga tercekat tidak mampu berkata-kata. Jantungku berdegup lebih cepat dan sepatah kata dengan kuat aku ucapkan.
Brian mengangkat kedua alisnya, mencoba menyadarkanku yang masih tercengang.
"Y—Yes, i will” kata-kata itu terucap tulus dari hatiku, meski seakan terlupa dengan hubungan kami yang bahkan baru menginjak beberapa minggu.
“So, we’re engaged!”
“A—yes” aku tersenyum canggung
Brian memasangkan cincin yang digenggamnya sedari tadi ke jari manisku, dia tidak ingin memperlihatkan keindahan cincin bertahtakan berlian itu pada saat memintaku tadi, cara yang tidak terlalu seperti di film-film yang pernah kutonton. Dan cincin itu sangat indah dengan kesederhanaan desainnya namun tetap terlihat mewah.
“Thank you so much for letting me be yours.” Brian kembali berdiri dan mencium keningku dengan lembut.
Dan kami melanjutkan dansa yang tadi sempat terhenti.
“Sepertinya kamu sudah menyiapkan segalanya matang-matang ya?”
“Seperti yang kau lihat, hanya ini yang mampu aku lakukan sekarang”
“Tapi Bri ... ini sangat diluar dugaan”
“Mulai dari sekarang kamu adalah milikku, jangan pernah berpaling dariku sama sekali atau ... “
“Atau aku akan menculikmu dan membawamu pergi ke negara lain, Hahaha” Brian tertawa kecil dengan candaan konyolnya.
Meski nampaknya ia mampu saja berbuat begitu.
“Hahaha lucu sekali statement mu, lalu kamu mau apa kalau menculikku? orang-orang akan mencarimu, tau!"
“Biar saja, nanti tinggal kuhubungi orangtuamu untuk segera datang meresmikan pernikahan kita, atau kamu mau begitu?”
“Gila, hahaha. Itu namanya kawin lari Bri ... darimana pikiran itu”
“Hahaha aku cuma bercanda, aku tidak akan memaksamu. Apa artinya sebuah cincin jika tanpa perasaan, aku lebih baik memperjuangkan kepastian perasaanmu sambil kusingkirkan pria yang mengganggumu”
“Huuuh ... masih saja bercanda.”
“Soal itu aku serius.” seketika Brian berhenti dan menurunkan tangannya dari pinggangku. Kini ia menatapku lebih dalam. “pria yang berani mengganggumu adalah orang yang tidak layak menjadi pendampingmu. Suatu saat pria semacam itu akan mampu menyakitimu dengan cara yang sama kepada wanita lainnya. Jangan salah lagi memilih pria, Dear. Aku tidak ingin kamu tersakiti oleh siapapun lagi”
“Aku simpan kata-katamu Bri, sebaliknya kamu pun jangan pernah meninggalkanku, aku pun akan mencoba memperjuangkan hubungan kita hingga nanti”
“Tentu saja, berjanjilah ... “ Brian menundukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Ya ... akuu ... “ Aku pun tidak mampu bergeming melawan tatapannya yang semakin mendekat.
Brian meraih daguku dan perlahan mendekatkan wajahnya. Seketika semakin dekat hingga akhirnya bibir kami saling bersentuhan. Hingga membuatku memejamkan mata.
Ia menciumku secara perlahan. Degup jantung ini semakin berdebar merasakan kelembutannya. Bibirku yang tergetar kini mencoba mulai membalas ciumannya.
Brian meraih pinggangku lagi, melingkarkan sebelah tangan dan satunya mulai menyentuh belakang kepalaku. Ia mendekatkan tubuhku hingga nyaris kakiku berjinjit untuk mengimbangi posisi nya.
Tanpa terasa kami pun terlarut suasana, sebagaimana Brian yang tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita hingga usia dewasa, kini seakan terluap seiring diriku yang telah lama tidak merasakan kehangatan cinta.
Tanganku refleks kini meraih bagian tengkuknya, ia merespon cepat dengan mengangkat tubuhku dan mendudukanku di atas meja makan dibelakang kami. Posisi kami seimbang dan ia mampu mengendalikan kehangatan suasana.
Insting pun mulai berbicara ...
__ADS_1
Brian semakin mencoba menciumku lebih jauh lagi. Akupun tidak bergeming tetap mengikuti keinginannya nyaris tidak mampu menguasai diri. Sepertinya kami terlupa akan hasrat yang sudah lama tertahan.
Ia sudah tidak lagi membatasi diri dengan kehalusan ciumannya saat awal tadi, segalanya mulai terasa meningkat mengikuti caranya.
Entah kenapa aku tetap saja mengikuti keinginannya dan nyaman dengan sentuhannya yang mulai menjalar pada punggungku yang sesekali diremasnya halus.
Aku semakin sulit menahan bahasa tubuhnya yang mulai merengkuh diriku lebih kuat. Tanpa kusadari aku terlalu kuat mencengkram kerah kemejanya.
“Hhh ... Brii ... honey ... “ bisikku, mengambil sedikit nafas. Aliran darahku semua seakan naik ke kepala.
“It’s okay ... i’ll do my best ... “ balasnya halus sambil membuka mata dan memandang tipis ke arahku, wajahnya terlihat memerah.
Nafasnya terdengar meningkat lebih berat dan cepat, ia dengan sigap mengangkatku dengan kedua tangannya lalu membawaku ke lokasi lain.
Ternyata ia mulai berani membawaku ke tempat yang kulihat tadi, tempat tidur!!
Apa yang ada dipikiranku kini hingga aku lupa diri mengikuti terus keinginannya, ia merebahkan tubuhku pada hamparan tempat tidur berukuran besar dengan alas yang sangat lembut, ia melepaskan ciumannya dari bibirku, mengusap halus wajahku.
Berat rasanya menolak keinginan, kini ia berada diatas tubuhku tapi tetap menahan dirinya agar aku tidak terbebani oleh ukuran tubuh yang tidak seimbang denganku. Ia terus saja mendominasiku dengan sentuhan bibirnya.
Dan itu hampir saja membuat tubuhku lemas tidak mampu bertahan.
Tangannya perlahan berada menyusup ke balik punggungku dan melepaskan pengait dibalik kaus besarku.
‘Apa ini! tidak ... tidak ... aku lupa diri ... sepertinya Brian mengharapkan lebih!’
Aku seketika menyadari bahwa ini akan terbawa lebih jauh dan berbahaya untuk kami. Aku cepat mendorong kepalanya, kemudian kuraih wajahnya untuk mengatakan sesuatu.
“Bri ... Brian!” bisikku dengan nada tinggi.
“Hhh apa? hhhufff ... apa kamu siap untuk ini?” Brian berbisik halus perlahan membuka matanya. Ia menelan saliva berusaha bicara dalam tarikan nafasnya yang cepat.
“Tidak, jangan Bri ... aku tidak mau”
“Kenapa Dear ... kita sudah saling terikat, kamu tunanganku sekarang” Ia menatap dalam untuk meyakinkanku.
“Tapi kita bukan suami istri!” tegasku kini dengan nada suara kembali normal.
“Hufffff ... “ Brian sedikit menghela napas kesal. Lalu menjatuhkan tubuhnya disampingku, ia mengusap wajahnya dengan kasar yang telah dipenuhi oleh peluh “ aku tidak mengerti jika kau tidak terima dengan apa yang kita lakukan tadi, maaf”
“Aku bukan tidak terima. Aku pun tidak mampu melawan keinginanku juga sesaat tadi”
“Tapi ... kenapa kau hentikan? hhh ... apa yang meragukanmu, aku mampu melakukannya dengan baik, katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman”
“Itulah sebabnya, aku yakin kita berdua tidak dapat saling mengendalikan diri suatu waktu. Jangan lagi kita begini, jangan ada situasi yang mendukung”
“Baiklah, maafkan aku. Aku salah mengartikan maksudmu, aku ... harusnya tidak berpikir untuk ini semua ”
“Bukan aku tidak ingin, sangat normal jika aku terbawa suasana tadi, kamu sudah cukup mampu melakukannya bahkan hingga lebih jauh lagi, tapi bagiku ... ini belum saatnya Bri ... “
“Hhhh kemarilah ... aku tidak akan melakukannya lagi ... “ Brian memiringkan tubuhnya ke arahku segera memeluk erat dan mencium rambutku.
“Aku harap kamu bisa memahami keputusanku” ucapku merendahkan suara dibalik dekapan tubuhnya.
“Aku mengerti. Maaf, seharusnya aku melindungimu”
“Ini bukan hanya tentangmu, tapi kita. Maafkan aku juga yang ikut terhanyut suasana tadi.”
Sekian lama kami hanya berpelukan tanpa berkata-kata lagi. Saling meredam perasaan dan keinginan yang nyaris tidak terkendali. Kami seakan saling terdiam dalam pikiran dan berbicara pada batin masing-masing.
Lalu aku mendongakan kepalaku yang dipeluk erat di dadanya.
“Bri, antarkan aku pulang ... “
.
.
Bersambung
__ADS_1