
Eli berjingkat cepat dari duduknya di taman itu, Susan ikut menoleh curiga kenapa tiba-tiba Eli bergegas bangun secepat itu, lalu ia melihat ke belakang dimana Eli langsung berjalan ke arah tersebut, bukan main kagetnya Susan berdiri melihat Eli berjalan cepat dan meluncurkan pukulan tepat diwajah orang tersebut.
BUKKKK
“YOU BAS*ARD!!” Eli meluncurkan beberapa pukulan lagi, namun Dicky sama sekali tidak melawan bahkan hanya mencoba bertahan dari beberapa pukulan.”KEMANA KAU SELAMA INI!”
Susan berlari masuk ke dalam rumah dalam keadaan gemetar karena panik dan ketakutan hebat, ia berpapasan dengan kak Edo yang berlari keluar mendengar keributan.
Eli menarik kerah kaus Dicky dan sebelum terjadi pukulan selanjutnya kak Edo ikut menarik kasar baju Dicky dan menyeretnya ke dalam garasi rumah. Dicky berjalan terhuyung atas beberapa pukulan, sesekali ia mengusap darah dibagian hidungnya dan merintih berat namun itu belum cukup karena selanjutnya yang akan ikut andil dalam tindakan main hakim sendiri itu adalah Kak Edo.
Kak Edo melempar dicky hingga tersungkur dan ia menutup rolling door garasi dengan cepat. berjalan cepat ke arah Dicky dan meraihnya tubuhnya lagi yang tanpa perlawanan.
Apabila terjadi dalam sebuah adegan film pastinya penonton akan ikut merasakan sakitnya saat itu, sangat tidak berperikemanusiaan, tapi itulah sebuah dendam dan sakit hati.
“AKU PERCAYA PADAMU!! AKU PERCAYAKAN SUSAN PADAMU SELAMA INI PENGHIANAT!!!”
BUKKK
Kak Edo kembali meluncurkan pukulan ke bagian perut berulang-ulang, sulit terucapkan kembali bagaimana kondisi saat itu, masing-masing dari mereka semua mengeluarkan nafas cepat seperti mengeluarkan energi habis-habisan pada setiap pukulan yg bertubi-tubi itu. Tendangan terakhir Kak Edo mengenai bagian vital, dan Dicky pingsan seketika.
Eli menghampiri Dicky yg sudah tergeletak lemas, kemudian mengecek bagian nadi di sekitar lehernya.
“Dia pingsan ... “ menoleh ke arah kak Edo.
“Biarkan dia disini! kita tunggu hingga ia sadar!”
Peluh mengucur di wajah kak Edo, ia berjalan sambil menggulung lengan pakaiannya, kemudian mengambil selang air elastis dan mengikatnya ke sekeliling tubuh Dicky.
Eli dan kak Edo masuk ke dalam rumah menyusul Susan yang tadi berlari histeris, ia berada dikamarnya lagi, mengunci pintu.
“Susan ... buka pintunya sekarang, ini kakak”
“Jangan biarkan dia masuk! aku mohon jangan, Jangan dia ... “ Susan menangis sejadi-jadinya.
“Sue, tenanglah ... dia tidak disini, ini kami!” Eli ikut coba membujuk
kak Zac muncul berlari ke arah mereka berdua dari arah lantai bawah, ia mendengar keributan dari sebelah rumah dan menerobos masuk karena pintu rumah yang tidak sempat terkunci.
“What’s goin’ on??!” kak Zac menoleh ke arah kak Edo yg berdiri persis di depan pintu kamar.
“He’s here !“ Eli berkacak pinggang masih mengatur napasnya.
“Who??!” kak Zac masih terlihat bingung.
“Dicky!” Eli dan kak Edo serempak.
“So, dimana dia sekarang?”
__ADS_1
“Garasi ... pergilah kau kesana lihat apa dia sudah kembali sadar, jangan sampai ia lepas, ingat itu!” kak Edo masih menyandarkan kepalanya menghadap pintu sambil tetap mengetuk pintu kamar itu, membujuk adiknya.
“Ow okay okay ... kak Zac berjalan mundur beberapa langkah kemudian berlari ke bawah ke arah garasi.
Hari itu sangat naas bagi Dicky, bagaimana ia siap menanggung resiko dari perbuatan khilafnya, karena dia sendiri pun tidak mengerti bagaimana ia bisa se nekat itu bertindak bodoh, hingga sesal itu lah ia mampu mengorbankan dirinya.
‘Setidaknya kalau aku mati di tangan kalian, dendam kalian bisa terpuaskan ketimbang mendapatkanku mati karena bunuh diri.’ Dicky
Susan sama sekali tidak terbujuk untuk membuka pintu sekalipun berjam-jam satu persatu dari mereka bolak-balik untuk membujuk dalam berbagai cara.
Kak Zac nampaknya tidak setega itu memandangi kondisi Dicky yang sudah kembali sadar dalam lemahnya, Dickyhanya mampu terdiam menunggu hal apa lagi yang akan diterimanya.
“Jadi kau yang bernama Dicky” kak Zac memandangi Dicky dengan iba, dia paham betul sahabatnya jika sudah melakukan tindak kekerasan bagi orang yang ia benci, kak Edo memang sangat sulit menjadi pemaaf dalam hal ini.
“Bangunlah ... minum sedikit ... “ Kak Zac membantu Dicky untuk kembali duduk yang dalam keadaan terikat, perlahan ia melepaskan ikatan di tubuh Dicky dan memberinya minum.
“Biarkan saja ... aku mati, itulah yang mereka inginkan ... bukan?” Dicky meratap.
“Tapi bukan seperti ini caranya, sebaiknya kau mampu bertanggung jawab untuk semua ini!” kak Zac ikut terduduk di depan Dicky mencoba menenangkan hatinya.
“Eli adikmu kan ... ? “
Kak Zac mengangguk pelan.
“Katakan ... aku sudah menguasai kekasihnya ... Hahaha”
“Sudah bangun kau sialan ... kemari kau!” kak Edo mengangkat tubuh Dicky dengan sebelah tangannya dan menariknya ke dalam rumah area ruang keluarga.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga kecuali Susan.
Kak Edo menghempaskan tubuh Dicky yang lemah ke arah sofa, menyalakan sebatang rokok sambil berdiri memandangi pria mengenaskan itu, kak Zac dan Eli sudah enggan ikut andil dalam hal itu.
“Lancang sekali kau berbuat nekat seperti itu!! kemana otakmu?!!” Dicky membisu dengan kata-kata kak Edo.
”Kau sudah seperti adikku sendiri, apa yg kau pikirkan ... “ Suara kak Edo bergetar menahan tangis. “Kalau saja tidak kau lakukan hal itu mungkin aku akan membuatmu bersama dengan Susan atas ijinku”
Eli terhenyak mendengar kata-kata kak Edo. Seakan-akan ia lebih setuju jika Susan bersama Dicky.
Dicky tersenyum tipis dan memandang Eli dengan sinis.
“YOU!!!” Eli menunjuk Dicky dengan geram.
”Itu dulu!” kak Edo menurunkan tangan Eli. “Tapi aku tidak akan membiarkan adikku bersama pria tidak tau terima kasih semacam kau” melanjutkan kata-katanya.
Setelah puas mencaci maki perbuatan Dicky, kak Edo sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Susan perlahan turun dari kamarnya mencoba memberanikan diri untuk muncul dihadapan mereka berempat.
__ADS_1
Eli sigap meraih tangan Susan untuk tetap berada didalam lindungnnya.
Meski hatinya merasa terenyuh melihat kondisi Dicky yang menyedihkan tapi perasaan geramnya sama sekali membuat semua orang disitu menjadi orang-orang yang berdarah dingin.
Kak Edo mematikan rokoknya, menghampiri Susan.
“Kau ingin aku apakan lagi dia?” sambil meraih Susan dan memeluk erat.
Susan menggelengkan kepala
”Kuserahkan pada kalian atau laporkan dia pada pihak yg berwajib”. berkata pelan dan datar.
“Beri aku waktu sebentar” kak Edo melepaskan Susan lagi.
Kak Edo pergi ke kamarnya dan mengambil air wudhu, rasanya ia sudah terlalu jauh dari sang pencipta hingga kini ia terjatuh pada masalah yang begitu dalam seperti ini, ia menangis terisak dalam sujudnya.
****
Kak Zac nampaknya resah dengan kondisi saat itu, ia bergegas keluar rumah dan duduk di teras depan melegakan dirinya dengan beberapa batang rokok, tinggalah mereka bertiga dalam satu ruangan.
Eli masih merangkul erat Susan agar merasa terlindungi.
“Ayo, apalagi yang kalian tunggu ... kalau belum puas, segera lakukan lagi, seperti yang kalian lihat, aku masih hidup Hahaha” Dicky mencoba memprovokasi. Susan melepaskan diri seketika dari Eli dan bergegas menghampiri Dicky, Eli belum sempat meraih Susan saat seketika Susan meluncurkan tendangan ke arah Dicky.
“Biadab kau!”
BUKKKK
Sigap Eli menarik kekasihnya lagi, Dicky malah tertawa atas sakitnya.
“Hahahha ... kau tendang berapa kalipun tidak terasa bagiku! jangan lupa kelemahanmu menghadapiku saat itu ... masih ingat??”
Eli yg merasa Susan yang diremehkan segera memeluk kekasihnya lagi.
“Hebat, fisikmu memang kuat nampaknya, tapi bagaimana dengan hatimu” Eli segera meraih kepala Susan dan dihadapkannya dengan cepat mencium bibirnya dengan sangat bersemangat.
Entah kenapa pada awalnya Susan yang tersentak atas sikap Eli saat itu, kali ini ia membiarkannya dengan pasrah sampai akhirnya turut membalasnya dengan ciuman yang sangat dalam hingga mereka terlarut di dalamnya untuk waktu yang tidak sebentar.
Hati mereka berdua yang terpancing oleh perasaan dendam pada Dicky berusaha menyakitinya melalui perasaan hingga mereka lupa pada batas-batas kesopanan.
Dicky terpaksa membuang muka dengan amat geram, tangannya mengepal erat tapi ia tidak bisa memungkiri rasa sakitnya bisa melebihi pukulan-pukulan tadi.
Tiba-tiba Kak Edo menghampiri cepat melihat situasi itu.
“SEDANG APA KALIAN!!!” melepaskan mereka berdua dan mendorong Eli hingga hampir terjatuh.
Bersambung
__ADS_1