My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Keputusan Akhir


__ADS_3

Susan terhenyak mendapati Brian yang seketika meragukan perasaannya. Dicky tentu saja bukan orang yang satu dua kali membuat masalah dalam hidupnya. Tapi tidaklah mudah, untuk begitu saja melepaskan diri dari orang masa lalu yang sempat membekas dalam hatinya.


Menjadi sangat sulit mengungkap fakta kronologi kejadian yang hanya sekilas Brian jelaskan. Bahkan hasil rekaman yang dikirimkan melalui email tidak sama sekali Brian tunjukan sebagai bukti tuduhan perselingkuhan. Pernyataan Brian memang bukan menyasar pada hal itu, sebagian dirinya lebih yakin lagi-lagi Dicky pandai memanfaatkan situasi. Orang yang berpikir cepat untuk bertindak demi kepentingannya sendiri, Dicky sangat cerdas dan tanggap dalam segala hal. Tidak aneh jika karirnya melesat cepat dalam perusahaan, sesuai keahliannya dalam bidang teknologi.


Tidak jarang semua terkecoh oleh sikap Dicky yang seakan-akan acuh dan santai menghadapi apapun, bahkan seorang Brian tidak mampu menuduh perbuatan Dicky secara langsung.


'Dia seorang yang licik dan sangat gesit' hal yang dapat digambarkan oleh Brian mengenai sosok seorang Dicky.


Susan tidak menanggapi lebih lanjut lagi setelah menjelaskan segala tujuannya kala itu. Terlebih Brian yang saat ini kondisi emosionalnya tidak stabil mengingat beberapa waktu lalu masalah keluarga cukup mengganggu kondisi mentalnya, hingga gangguan anxiety yang dideritanya seringkali muncul. Susan mencoba mengalah pada situasi, membiarkan Brian memutuskan apa yang terbaik bagi hubungan antara kedua-nya.


"Jika kamu membiarkan situasi seperti ini lagi tanpa sepengetahuanku, sudah bisa kupastikan kamu gagal menjaga hubungan kita hingga nanti," gumam Brian yang masih intens menatap Susan yang tertunduk kaku.


"Aku gak bisa menjelaskan apa-apa lagi, Bri ...! semua keputusan sudah ada di tangan kamu. Apapun alasannya kamu gak akan bisa terima, ya 'kan? selalu saja aku yang disudutkan tanpa kamu pertimbangkan segala usahaku menyelesaikan masalah kita satu-persatu. Apa pernah kamu sendiri memikirkan perasaan aku?"


"Lalu gimana dengan aku? pernah ... kamu menghargai posisi aku disini?"


"Itu sebabnya aku gak mau melibatkan kamu," jelas Susan yang langsung menatap Brian kembali.


Keduanya saling bertatapan, mencoba mencerna ke dalam pikiran atas segala pengakuan, tidak ada satupun yang salah dengan ketulusan niat, hanya saja mereka telah terlibat dalam permainan orang yang salah.


"Ya sudah. Kamu ingin aku apakan Dicky untuk membuatnya jera? aku menye-sal menarik tuntutan itu saat dulu. Seharusnya orang itu tidak berkeliaran begini mengganggu kamu, sial!!" gumam Brian yang tiba-tiba mengumpat kesal. Lalu, Brian merubah posisi duduknya menghadap ke arah Susan dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat "Dear ... biarkan aku bicara dengannya! jangan halangi aku lagi, tolong!"


"Kamu mau apa? ... memang kamu bisa mengajaknya berdamai? aku saja gagal," jawab Susan dengan pasrah.


Brian dengan cepat menggengam tangan dan menatap kekasihnya itu dengan lebih dalam.


"Aku belum pernah benar-benar merasa bodoh seperti ini, kamu terus menghalangi aku bertindak, mau-mu apa sebenarnya!" bisik Brian dengan nada tegas.


"Bri ..., aku sudah membuat keputusan ..., hanya ini satu-satunya cara yang terbaik untuk kita ..."


"Keputusan apa?! Dear! ... Ja—jangan gegabah ..." ucap Brian yang seketika takut akan keputusan yang diambil.


Susan menghela napas dalam-dalam, menyiapkan diri mengucapkan kepastian yang selama ini selalu ia tahan.


"NIKAHI AKU, SEGERA."


Brian terhenyak. Dan tak sadar wajahnya memerah karena bahagia, senyumnya terkembang seketika, mendengar perkataan yang sekian lama dia harapkan.


"Benar?? Yakin, kamu siap?? Dear, aku serius!" ucap Brian bertubi-tubi karena terkejut.


"Jangan cerewet! Ya, aku gak akan mengulur-ulur lagi soal pernikahan. Kamu selesaikan aja persyaratan dari Mama dan Papa. Aku tunggu kabar dari kamu."


"Minggu depan?!" tanya Brian dengan mantap.


"Heh ~! aku bukan mau jual diri loh, hahaha" canda Susan.


"Lalu kapan?? kan bisa kita resmikan dulu. Masalah pesta 'pun ... bisa kuatur. Gampang, 'kan ada Adam yang atur."


"Jadi aku nikah sama Adam?!"

__ADS_1


"Kamu mau~, nikah sama dia??" canda Brian sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Lagi—an, apa-apa Adam ... apa-apa Adam. Kamu turun tangan dong ..., ih, gimana sih ..." ucap Susan sambil mencubit pipi Brian dengan gemas.


"Ya kalau begitu ..., gajinya kupotong lah. Gak ada kerjanya, hahaha"


"Hee—eh pelit! hahaha," Susan mendelik sambil tertawa.


"Bercanda ..., Adam itu ... sudah seperti adikku sendiri kok." Brian menggenggam lebih erat tangan Susan.


"Baik-baik ya kalian. Adam sudah kuanggap juga seperti keluarga sendiri juga."


"Ya, nanti kuhubungi Mama lagi, dia pasti senang dengar kabar ini."


Susan mengangguk tersenyum, keduanya pun merasa lega atas keputusan yang akan segera terlaksana. Brian bangun dari duduknya, dan mengecup kening Susan, kemudian memeluknya dengan erat.


"Thank you. Mulai sekarang kamu harus bersiap diri kapanpun aku—memintamu." bisik Brian.


"Sudah aku bilang, aku tunggu ..."


Brian meraih kedua belah pipi Susan dan mendekatkan wajahnya, dan membenamkan ciuman hangat pada kekasihnya. Tak menolak sedikitpun, Susan mengikuti alur yang memagut mesra pada bibirnya. Perasaan itu terlalu dalam disertai kebahagiaan keduanya. Namun tiba-tiba Susan menarik diri saat mulai merasa keduanya terlalu bersemangat melepas kerinduan itu.


"Bri, jangan terpancing ..." bisik Susan.


Brian mengatur napasnya yang cepat karena sedikit memancing adrenalin kala itu.


"Just kiss ...!"


"Masih lama 'kan di kantin, tenang aja ..."


"Astaga, Bri ... hahaha."


Tanpa basa-basi Brian kembali mencium kekasihnya lebih dalam lagi, dan terlarut dalam hasratnya yang sekian lama tertahan. Lalu, beberapa saat kemudian ...


"Sebentar ya."


"Mau kemana?"


"Kamar kecil, mau ikut??"


"Jangan gila, sana deh huss ... huss"


Brian berlalu menuju toilet, dan Susan kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Mamanya.


****


Mama kembali ke dalam ruangan setelah setengah jam kemudian, diikuti Dicky dan Eli yang hendak pamit untuk pulang. Susan dan Brian menghabiskan waktu berdua merencanakan hal-hal yang akan mereka persiapkan untuk pernikahan nanti. Suatu pernikahan dadakan yang tetap digelar dengan mewah dilokasi luar Jakarta, sesuai permintaan Susan.


Menghindari kecurigaan Dicky dan Eli. Susan dan Brian bungkam saat kedatangan mereka saat itu. Menghentikan pembicaraan dan kemesraan keduanya untuk memberi kejutan bagi Dicky melalui undangan mendadak. Bahkan Eli, yang bisa saja melepas ucapan tentang rencana itu, juga turut urung untuk diberi tahu, karena kedekatan Eli dan Dicky yang terlihat jelas akhir-akhir ini, bisa saja membuat rencana yang tidak terduga untuk menggagalkan pernikahan itu.

__ADS_1


Senyum terkembang dari wajah keduanya, Susan dan Brian menyambut Mama dengan sumringah. Mama menganggap ini semua perihal pertengkaran yang usai diantara Susan dan Brian.


"Senyum-senyum ... ada apa sih kalian ..." ucap Mama membalas senyum.


"Gak, gak apa-apa. 'Ma ..." jawab Susan sambil tetap tersenyum.


"Tante, saya menunggu Om dulu disini gak apa-apa 'kan?" tanya Brian.


"Oh, gak apa-apa. Tapi kamu gak mau pulang ... sudah mulai malam, besok kerja?"


"Sudah atur jadwal, Tante. Mungkin lusa saya aktif lagi"


"Bos kan bebas, Tante. Ya 'kan Bro?? lain lah kalau kayak aku sama Eli kan masih coro-coro, hahaha" sindir Dicky sambil tertawa sinis.


Brian melirik dan tersenyum sinis.


"Itu namanya tahap karir, siapapun bisa pada waktunya, asal jalani nya benar. Begitu 'kan?" balas Brian.


"E—eh, iya. Kan kamu juga baru berkarir Dicky, lain usia juga sama Brian. Eli juga, tapi kan dengar-dengar tadi sudah naik posisi di kantor masing-masing, ya 'kan?"


"Ya dong Tante, enam bulan lho ... saya kejar target dari junior jadi SPV, enam bulan ... mudah-mudahan kurang dari setahun jadi BOSS ..."


Susan diam-diam dengan cepat menggenggam tangan Brian, agar Brian berhenti menanggapi Dicky yang terus saja menyindir masalah status sosial dan pekerjaan. Brian segera menuruti dan sengaja membalikan badan ke arah Susan kembali dan tersenyum, dengan jelas menunjukkan kemesraan keduanya dengan saling menggenggam tangan, di depan Dicky.


"Tante, saya pamit pulang ya. San ... jaga kesehatan kamu, get well soon, okay!" ucap Eli sambil berjalan menghampiri Susan.


lua


"Ya, Eli. Kamu juga ya, jangan sering-sering tugas ke kota, cuaca sedang tidak baik," balas Susan.


Dicky turut menghampiri. Mendekat ke arah Susan tanpa ragu.


"Aku juga, balik ya. Nanti aja kalau kamu di kantor kita ngobrol-ngobrol lagi, waktunya sempit kalau sekarang,"


"Okay, Thanks, Dic," jawab Susan singkat.


Kemudian Dicky juga berpamitan pada Mama dengan sikap yang hangat dan akrab seperti keluarga. Sengaja menampakkan situasi itu menunjukkan identitas kedekatan dirinya dengan keluarga Susan. Lalu, ia mengajak Brian bersalaman dan disambut jabatan tangan sekilas oleh Brian tanpa melihat ke wajahnya sama sekali. Dicky dengan acuh sambil berjalan ke arah pintu dan menoleh sekali lagi ke arah Susan.


"Jaga kesehatan ya ..., TULANG RUSUK!"


Brian yang mulai tidak sabar dengan ucapan Dicky, kembali terpancing membalas perkataannya.


"Jaga kesehatan juga ya Dic, saya khawatir tulang rusuk kamu tertinggal di ruang operasi."


Dicky geram dalam hatinya dan memasang wajah datar tidak mempedulikan perkataan Brian yang disertai dengan seringai barusan.


...'Bercanda aja terus ... mau kubuat hidupmu cuma sekedar candaan nantinya ya ...' gumam Dicky dalam hati....


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2