
Aku mencoba menahan diri agar segalanya berjalan mulus, baik-baik saja. Bagaimanapun Dicky adalah seseorang yang pernah aku sayangi dan kutunggu selama beberapa tahun kebelakang, sebelum hatiku terisi sepenuhnya oleh Bri.
Ada baiknya mulai beradaptasi oleh sikap Dicky yang terkadang berlebihan, kami memang pernah bersahabat, sangat dekat. Secara positif, mungkin saja ia sedang berusaha mengembalikan suasana yang terlupakan, dulu, saat kami belum merubah rasa itu menjadi cinta.
Kembali ke ruang IT dengan secangkir kopi yang kubuat sendiri di pantry. Yah, anggaplah ini awal dari perdamaian.
Kulihat Dicky sudah kembali duduk di depan komputernya, menatap layar monitor dengan seksama. Bola mata cokelatnya bergerak-gerak terfokus pada sesuatu yang ditatapnya, ekspresinya serius, dalam raut lelah dibalik kacamata berbingkai hitam dan tipis.
...'Jika saja situasi tidak seperti ini, entah sebagai sahabat atau kekasih, mungkin aku akan menghampirinya dan memijat kepalanya agar lebih rileks kali ini' batinku....
Sambil memperhatikannya dari jarak jauh.
"Jangan diam saja dipintu, asik menatap orang ganteng lagi kerja ya?" ucap Dicky tanpa membuang pandangannya dari layar monitor.
Aku terhenyak, lupa. Masih saja berdiri bukan memberikan kopi pesanannya itu.
"Ge-er" aku berkilah berharap ia tidak menyadari pikiranku tadi, "nih, Tuan Dicky!" kata ku sambil menaruh cangkir kopi di meja sebelah komputernya.
"Makasiiih ... , nah gitu dong. Kalau begini kan Istri tua kelihatan cantiknya"
"Istri tua?! mata—mu!" ucapku dengan nada tinggi.
"Eeeh ... ssstt. Jangan keras-keras kalau ngomong, emangnya ini hutan! Nanti si Ivan dengar"
"Makanya, enak saja kalau manggil orang!"
"Gitu saja marah. Tuh, sudah kubuka file nya, cari tanggal yang mau dilihat, tinggal skip-skip saja atau ketik jam yang ingin dilihat"
"Ya, ya sudah sana. Aku mau pinjam line telepon kamu untuk menghubungi Pak Agung di layanan"
"Ya sudah, duduk nih!"
"Ya sudah, bangun!"
"Oh, kukira mau dipangku"
"Hmmmh ... " aku mengambil spidol dan mengetuknya di kepala Dicky.
TUKK
"Aw!"
"Otakkk—mu itu isinya apa sih!" bentakku
'Perdamaian dibatalkan!' ucapku dalam hati.
"Hahaha ... ya kalau gak mau, gak apa-apa, aku kan nggak maksa, kalau mau ya kupasrahkan diriku" ucap Dicky sambil membentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar.
"Sakit jiwa kamu!" bentakku pelan.
"Kaku sekali jadi orang, kayak baru kenal kemarin aja" gumam Dicky pelan sambil bangkit dari duduknya.
Aku duduk dikursinya dan mencoba menghubungi pihak layanan beserta salah satu security untuk datang ke ruang IT.
Dicky menyeruput kopi sambil bersandar pada dinding dibelakangku, ikut memperhatikan aku mengutak utik komputernya.
Saat aku salah menekan tombol open file di tab bagian bawah. Dicky sigap menyambar mouse yang sedang kupegang.
"Eh jangan!"
"Apaan sih, aku mau liat file yang sebelumnya!" aku menoleh ke arah Dicky, dan ia pun memandang balik ke arahku.
"Ja—ngan!"
Beberapa detik kami saling memandang. Aku berusaha sadar ketimbang jantungku rasanya mau copot dengan situasi ini.
__ADS_1
"Tangan heh, tangan. Jangan pegang-pegang ... " ucapku sambil melirik ke arah tangannya yang berada di atas tanganku.
Dicky melepaskan tanganku yang masih menggenggam mouse.
"Bangun deh, biar aku saja! bahaya kalau kamu yang pegang. Nggak ngerti komputer mau otak-atik file orang" ucap Dicky sedikit kesal.
"Kalau nggak ada rahasia besar ngapain takut juga kali" ucapku sambil bangkit dari kursi. Bergantian duduk.
"Rahasia apa? kalau sistem jadi bermasalah gara-gara tanganmu, siapa yang mau tanggung jawab? aku juga yang akan kena, tau"
"Sesekali kan kamu perlu bertanggung jawab, jelas aku lain dengan kamu ... " sindirku sambil berjalan meninggalkan Dicky.
"Kamu tau aku tidak lari dari tanggung jawab. Sebaliknya apa kamu berani tanggung jawab atas nyawa yang pernah kamu hilangkan dulu? kamu siap mengganti jika aku minta?" Balas Dicky dengan nada dingin.
Aku terhenyak dengan kata-kata Dicky. Saking geramnya kuhampiri dia kembali dengan langkah cepat.
"Aku lelah ya menjelaskan ke kamu, berdebat denganmu itu seperti mengisi air di ember bolong, nggak masuk sama otakmu!"
"Seharusnya yang marah itu aku, bukan kamu!"
"Loh, kamu pikir aku nggak pernah merasa kehilangan ya, dan menuduhku melakukan kesengajaan? aku juga korban disini!"
"Hanya kamu yang tau apa niatmu "
"Cukup 'Dic! aku nggak tau sejauh mana Eli mencuci otakmu hingga jadi seperti ini"
"Betul, seperti inilah aku sekarang. Jadi, gimana? hatiku belum tenang, suatu saat aku akan menuntut Hak aku"
"Ya, aku pun akan meminta kasus ini dibuka kembali" tegasku berbalik mengancam.
"Wah wah wah ... bangga ya punya pacar orang 'kuat', sekarang kalau apa-apa lapor sana-sini, well done Sue ... " ejek Dicky sambil bertepuk tangan pelan.
"Maaf ya, pacarku bukan orang pamer sepertimu ... "
Lalu Mas Ivan muncul dari ruang istirahat dibelakang tadi.
"Gak ada orang kuat mas, aku keruangan sebentar ya, kabari kalau Pak Agung dan Security sudah kesini" jawabku pelan karena lelah berdebat.
"Oh, salah dengar aku, lapor-lapor orang kuat hahaha"
"Obat kuat!" celetuk Dicky sambil berjalan keluar.
"Eh, mau kemana 'Rick?"
"Lantai tujuh, cari udara segar" saut Dicky yang berjalan menjauh dari Mas Ivan, diikuti aku di belakang Dicky yang berencana kembali keruanganku lagi.
"Kalau mau lompat dari ketinggian, ingat-ingat 'Dic, dosamu banyak" sindirku yang berjalan menjauhinya ke arah yang berbeda.
"Sama saja dengan wanita yang selingkuh dari suaminya, apa kurang besar itu dosanya ... " balas Dicky dengan nada datar dan acuh.
'Dia selalu saja punya jawaban, tapi orang macam dia selalu skak mat dengan perkataan Brian, sedikit bicara tapi langsung kena sasaran'
Status kami berdua memang tidak jelas, kebodohan masa lalu membuat kami percaya kalau pernikahan SAH, yang nyatanya tidak.
Kini aku sudah mulai banyak mempelajari tentang hukum pernikahan, karena beberapa syarat yang harus kuajukan pada Brian diatas segala perbedaan.
Meskipun aku belum memberikan keputusan untuk kesiapan diriku menikah dengan Brian, tapi kami berdua tau arah hubungan kami selanjutnya.
***
Sekitar pukul sembilan pagi kami sudah berkumpul kembali di ruang IT, koordinator layanan, security dan tim IT lain yang sudah kembali hadir untuk menggantikan posisi Dicky dan Mas Ivan yang standby semalaman.
Dicky masih terlihat santai diantara kami yang sedang mengamati hasil rekaman CCTV, ia nampak sesekali memejamkan mata menutupi kelelahan disalah satu kursi yang agak jauh dari meja komputernya.
Permasalahan pencurian dalam proses penanganan, karena Agent yang menjadi tersangka tidak terbukti bersalah.
__ADS_1
Ditemukan bukti tambahan salah satu Agent lain yang menjadi tersangka baru dalam kasus ini, yaitu salah satu Agent senior yang pernah tersandung kasus kleptomania, namun masalah itu telah lama selesai dan kini terbuka kembali.
...'Ini menjadi tugas tambahan lagi untukku, turut menganalisis gangguan kepribadian seseorang dibarengi dengan tanggung jawabku sebagai tim HRD dalam andil pengambilan keputusan nanti'...
Kurang lebih satu jam, kami semua memantau dan saling berdiskusi pelan. Tiba-tiba seseorang datang, dan cukup mengejutkan Dicky yang tertidur pulas dikursi tadi.
"Permisi, wah ... ramai sekali ruangan sini ya, boleh masuk nggak?"
"Oh, hai ... kamu kesini 'Va? tumben ada angin apa?" ucapku sambil tersenyum sedikit berbasa-basi.
Eva, datang juga akhirnya wanita itu.
"Eh Mbak Susan disini ... , gak ... tadi Pak Anton minta aku bawakan materi tambahan di kelas Mbak Haya, lagi ada apa sih rame-rame?" sambil menghampiriku dan cipika-cipiki ala perempuan.
"Biasalah, ada problem"
"Ooh, gitu ya, hehe" ia melirik ke arah Dicky dan menghampirinya perlahan.
Dicky yang sedang tertidur dikejutkannya hingga hampir terjatuh dari kursi berputar itu.
"DOR!!"
"Astaga, hufffff ... kukira siapa! eh, kamu ... " Dicky menghela napas karena terkejut dengan kedatangan pacarnya yang tiba-tiba.
"Haiiii, kamu capek ya habis begadang? Baby, sudah sarapan?"
"Eh, sudah. Sebentar lagi aku mau pulang" Matanya melirik mencariku yang sedang menahan tawa kuat karena kata-kata yang kudengar barusan.
'Apa?? Baby?? sejak kapan Dicky mau dipanggil begitu'
Aku yang sedang menahan tawa akhirnya ikut menggoda pasangan baru itu.
"Waaaah, so sweet ya Mas Erick, pagi-pagi sudah didatangi wanita cantik. Dipanggil Baby lagiiii ... uwu banget deh kalian ... "
Mata Dicky membulat kesal memandangku, karena kami sama-sama tau Dicky paling tidak suka dengan panggilan itu.
"Ih, Mbak Susan. Malu tau ... hehehe" sambil tangannya memukul-mukul kecil lengan Dicky.
'Mati kamu Dicky! Hahaha' gumamku dalam hati, yang tanpa aku mengerti kenapa rasanya dadaku seperti dihantam benda keras saat ini.
Aku membelakan mata, kemudian membuang pandanganku dibarengi tawa yang nyaris keluar dari mulutku yang tertutup. Dicky memicingkan matanya memandang ke arahku.
"Mbak Susan, nanti kita proses dulu soal Agent ini, soalnya ini jadi bukan kasus baru lagi. Saya beri laporan ulang dengan pihak Manager layanan. Tolong di support ya Mbak, ini urusan kejiwaan soalnya, berulah lagi dia ... ckck ... "
"Baik Pak Agung, komunikasikan dengan saya waktunya. Biar keputusan yang diambil benar-benar matang demi kebaikan Agent dan Perusahaan, kalau begitu saya bisa tinggal ya Pak, recordingnya kalau mau di share ke bagian layanan mumpung ada Mas Erick bisa Pak"
Sedikit basa-basi kuucapkan sebelum meninggalkan ruangan, tawa ku yang masih tertahan membuat wajahku memerah hingga mataku berair. Saat duduk aku sadari perasaan campur aduk ini.
'Kenapa tawaku disertai rasa jantung yang seakan diremas seperti ini'
Aku menelungkupkan wajahku dimeja kerjaku. Tak sadar sudah nyaris setengah jam sempat aku termenung dengan bermacam-macam pikiran.
Sampai ketika, seseorang menepuk punggungku.
Segelas cup kopi dingin diletakkan samping lenganku yang berada di meja.
"Nih, biar hatimu dingin ... jangan diam-diam tersiksa, aku tau kamu nggak sanggup melihatnya, seperti juga aku melihatmu dengan kekasihmu"
.
.
Bersambung
...Done, meski nulis terputus-putus aku usahain untuk tetap melanjutkan ya teman-teman. ini cuma bisa upload karena sinyal kembali ambyar....
__ADS_1
...Mohon maaf belum menjejak ke lapak kalian, mungkin besok Thor akan mencoba bolak balik baca dan menjejak tulisan kalian....