
...'Kupenuhi janjiku ... untuk tak menyentuhmu'...
Setelah beberapa menit Susan merasa sedikit lega akibat rasa mual tadi. Mereka berdua kembali menuju permainan selanjutnya, sebuah Roller Coaster. Kali ini Susan tidak menolak sama sekali, jauh di dalam hatinya mulai menikmati suasana bersenang-senang di dalam area taman hiburan itu. Melupakan sejenak rasa takut akan pria di sebelahnya kini.
Setelah menaiki permainan, sebuah foto candid para pengunjung tampak disebuah layar monitor. Sebuah kamera yang menangkap otomatis, yang disematkan di beberapa bagian wahana dan tersembunyi, guna mendapatkan momen dan ekspresi unik para pengunjung yang menaiki wahana tersebut. Dan dapat dicetak sesuai permintaan pengunjung yang terdapat dalam foto.
Setelah beberapa lama Susan terduduk menunggu untuk menghilangkan ketegangan, Dicky datang menghampiri setelah meminta hasil cetak foto itu, kemudian diperlihatkannya kepada Susan. Saat melihat hasilnya, ia merasa malu dengan ekspresinya yang terlihat tegang saat itu.
"Hahaha, ekspresinya, astaga— " Susan terhenyak melihat hasilnya yang memalukan, ekspresi lepas dan tak dibuat-buat kala terlihat tegang.
"Upload, di sosmed ...." ucap Dicky iseng. Yang tiba-tiba mengambil gambar dari foto itu ke dalam ponselnya.
"Eh, jangan! haduh! ... Dicky!!" cegah Susan panik.
"Done! hahaha, why? kan lucu!" sangat cepat tangannya mengupload gambar itu untuk disebarkan ke dalam akun sosial medianya, tidak lupa memberi tag pada beberapa teman kantor yang ada dalam akunnya.
"Malu-maluin tau gak! nanti temen kantor pada liat!" tegas Susan.
"Emangnya kenapa?" jawab Dicky santai.
"Tauk ah!" Susan mengabaikan tindakan Dicky yang spontanitas tidak dapat dicegah, kekonyolannya sangat mengesalkan saat Susan terlihat sama sekali tidak rapi, dan tampak mengeluarkan ekspresi aneh, menurutnya.
"Hahaha ... hahaha ...." Dicky tertawa puas meski Susan terlihat sangat malu akibat foto yang telah di upload barusan.
Setelahnya mereka bersama mencari lokasi untuk duduk dan berteduh dari panas dan teriknya matahari siang itu, sekadar beristirahat setelah lelah berjalan di sekitar area taman hiburan yang memiliki luas kurang lebih 21 hektar itu.
"Udah siang, istirahat sebentar, Dic. Aku mau cari toilet."
Dicky melirik arloji hitam di sebelah tangan kanannya, dia mengingat sesuatu hal yang harus ia lakukan sekitar pukul satu siang.
"Oke, jangan jauh-jauh. Nanti nyasar. Aku tunggu disini. Apa mau aku antar?" tanya Dicky.
"Gak usah lah, emangnya aku anak kecil," gumam Susan.
Mereka memilih sebuah kursi kayu berukuran panjang menjadi tempat yang paling memungkinkan di area taman yang agak jauh dari kebisingan setiap wahana di sekitarnya. Susan berjalan meninggalkan lokasi untuk mencari lokasi toilet umum, sedangkan Dicky menunggu sambil merebahkan dirinya di kursi kayu yang sebenarnya tidak nyaman, selama beberapa saat. Kemudian sigap duduk kembali, dan membuka laptopnya.
Susan yang baru kembali dari toilet cukup lama akibat letak toilet yang cukup jauh, serta antrian para pengunjung. Dari kejauhan ia berjalan menghampiri sambil memerhatikan Dicky yang sibuk dari balik laptopnya. Terlihat pria itu sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui headset bluetooth nya sambil fokus menatap layar laptopnya dengan intens.
'Lagi begini, sempat-sempatnya kerja.' batin Susan
"Serius amat." Susan berdiri tepat dibalik layar laptopnya. Sedikit terkejut, namun Dicky hanya menoleh sesaat menjawab perkataan Susan.
__ADS_1
"Oh, udah? sebentar, 10 menit ya," jawab Dicky singkat. Ia kembali fokus memandang laptopnya, terdengar ia mengintruksikan sesuatu pada seseorang yang sedang ia hubungi saat itu. Pihak kantor sepertinya membutuhkan bantuan menyelesaikan permasalahan jaringan internet yang sedang down secara mendadak.
Tidak lagi menghiraukan aktifitas Dicky. Susan memilih kembali memeriksa ponselnya, terdapat beberapa panggilan masuk yang tidak diketahuinya, meskipun sedari tadi Susan menunggu adanya panggilan dari seseorang ataupun Brian.
"Kok gak ada sinyal sih. Ini ... ada panggilan gagal, tapi kenapa gak ada suara ya ...," gumam Susan dengan perasaan bingung. "Ini nomor siapa? Adam kah? Leo? kenapa Brian gak telepon sama sekali ...." Susan berbisik halus pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Dicky kembali merapikan laptopnya ke dalam ransel hitam miliknya. Susan menoleh pria yang masih terlihat berada dalam pikirannya tentang pekerjaan itu. Sepertinya ada masalah yang tidak mudah diselesaikan.
"Katanya cuti," sindir Susan.
"Kondisinya genting, mereka gak membaca problem server sebelumnya kayak apa, makanya kubantu dari sini," ucap Dicky sambil melepas kacamata berbingkai tipis miliknya, dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. Kacamata yang hanya sesekali digunakan untuk lebih fokus dalam bekerja, bukan saat melakukan aktifitas biasa.
"Oh, ya emang gitu sih," jawab Susan yang seakan-akan paham tipe masalah pekerjaan seperti apa yang dihadapi Dicky.
"Seharusnya nggak, berhubung ini darurat aku harus bantu tangani kantor." Dicky menghela napas, merasa seharusnya ia tidak sesibuk ini saat libur bekerja. "Pekerjaan memang untuk masa depan, San. Tapi masa depan kita untuk siapa?" tanya Dicky dengan sorot mata penuh arti.
" ... " Susan terdiam tidak memedulikan pertanyaan Dicky yang bisa saja menjebak jika harus ia jawab secara logika.
Dicky kembali melanjutkan perkataannya, dan benar saja beberapa pernyataan cukup mengena pada pikiran Susan. "Misalnya gini, San. Kita capek-capek ... bekerja keras agar menghasilkan lebih, buat orang yang kamu cintai. Tapi akhirnya ... ia lepas karena kesibukanmu sendiri, lalu buat apa banting tulang selama ini?"
"Buat masa depan sendiri lah," Susan menjawab asal bicara. Jawaban paling klise yang mudah dijawab oleh siapapun.
"Eh, itu betul. Tapi ... konsepnya gak gitu, San," Dicky merubah posisi duduknya menghadap Susan. "Suatu saat lelahmu akan terbayar jika ada seseorang disamping kamu, mencari harta itu gak akan ada habisnya, tapi akan ada masa ... kamu lelah dengan kesendirian, dan hanya terbayar oleh keberadaan orang yang kamu cintai. Cinta pekerjaan boleh, tapi jangan lupa ... ada orang yang meminta sedikit waktu dan perhatian kamu." ucap Dicky dengan nada serius. Baru kali ini Susan merasa Dicky mampu berpikir dewasa tentang porsi waktu terhadap pasangan juga pekerjaan.
"Haha, ya udahlah. Karena aku belum ada tujuan kesana, aku masih bisa diganggu begini. Lain ceritanya kalau aku nikah nanti. Sebisa mungkin, aku gak akan membuang waktu khususku hanya untuk melaksanakan tugas dibawah kaki orang lain. Keluarga—pasangan, itu utama."
Susan terdiam, mengingat betapa sibuknya Brian hingga kadang sulit dihubungi, tapi itu semua dilakukan Brian karena ia adalah pemilik, maka itu semua harus dimaklumi. Tapi, demi membantah perkataan Dicky, ia mengutarakan sesuatu yang menurutnya sebuah kartu mati bagi seorang pegawai. "Professional dong."
"Professional? Apa perusahaan juga bisa dikatakan professional kalau mengganggu cuti orang? sebagai seorang HRD, kamu pasti tahu bagaimana menjaga kesejahteraan karyawan. Lagi pula itu bukan perusahaanku, buat apa mereka punya karyawan lain."
'Ada benarnya juga sih, fungsinya apa jika suatu perusahaan memiliki karyawan dan tim pembantu dalam setiap divisi' batin Susan.
"Trus kenapa berhenti? siapa tau mereka masih butuh bantuan kamu ..., " tanya Susan.
"Gak, gak apa-apa. I-itu udah beres kok," ucap Dicky dengan gugup, beralasan agar tidak terlalu lama mengabaikan Susan yang mencoba menghubungi Brian.
'Itu semua karena saat ini kamu disampingku, San. Aku gak akan membiarkan detik-detik kebersamaan kita terbuang sia-sia.' batin Dicky. Ia menunduk dan tersenyum tipis merasakan detik-detik berharga, saat ia akan kehilangan orang yang dicintainya selama ini, akan meninggalkannya untuk selama-lamanya demi pria lain yang menjadi pilihannya.
****
Beberapa saat kemudian saling sibuk dengan aktifitas ponsel masing-masing, di kala Susan sibuk mengakali sinyal ponselnya, namun Dicky memilih bermain game ringan pada ponselnya.
__ADS_1
"Oh, tau gak, kita belum kemana?" ucap Susan melepas kebosanan akan kegagalannya mencari sinyal.
"Apa?" tanya Dicky kembali tersenyum.
"Istana boneka!" jawab Susan dengan bersemangat.
"Astaga, harus ya?!" Dicky terhenyak dengan permintaan Susan, suatu wahana yang biasa ditujukan untuk anak-anak dibawah umur.
"Dari tadi aku ngikutin mainan kamu, gantian dong!" protes Susan.
"Hhh ... oke oke ...," ucap Dicky dengan malas dan sedikit terpaksa.
Keduanya bangkit dari duduk dan kembali berjalan menuju lokasi wahana yang dimaksudkan. Sesampainya di lokasi dan mengantri dengan para pengunjung yang rata-rata adalah keluarga-keluarga muda yang membawa anak-anak. Atau pasangan kekasih yang masih muda bukan seusia Susan dan Dicky.
Memasuki wahana, mereka berdua duduk berdampingan di posisi ujung sebuah perahu kecil yang akan membawa mereka mengelilingi suasana redup dengan gemerlap lampu, boneka bergerak disertai lagu daerah dan juga lagu anak-anak. Beberapa saat setelah perahu berjalan mengitari area, Dicky mulai gusar dan kekonyolannya muncul kembali.
"Ini lagu dari tahun ke tahun gak ganti-ganti," Dicky teriak "Wey, ganti lagu rock bisa gak wey!" protes Dicky sambil setengah berteriak, mendongakkan kepalanya. Seakan-akan ia mampu menghentikkan lagu yang menurutnya membosankan, padahal ia tahu hal itu tidak akan terjadi.
Susan terkejut, dan mendelikkan mata memandang Dicky kesal. "Dicky!! diliatin orang!" ucap Susan dengan kesal.
"Duh, kalo kamu gak bakal ngesot-ngesot nangis nanti pas pulang, aku gak mau masuk sini, hufff—" Dicky menghela napas malas.
"Ngedumel melulu, diem ah," bentak Susan dengan suara kecil. "Eh, ini tuh epic banget ya, untung banget masih terawat, bertahun-tahun masih dijaga loh tempat ini," ucap Susan sambil memandang sekitar dengan takjub. Tanpa sengaja menaruh tangan di bahu Dicky, yang sedang menunduk malas dan asik dengan game di ponselnya.
Dicky terhenyak, perlahan menoleh memandang Susan kemudian ke tangan yang berada di bahunya.
"Ehem, bukan aku ya yang pegang-pegang duluan." sindir Dicky. Ia tersenyum tipis penuh kemenangan.
Seperti menyentuh air panas, Susan langsung menghentakkan diri melepas tangannya kembali dari bahu Dicky. "Eh!" Seketika Susan tertunduk malu dan mer3mas-r3mas tangannya sendiri. Ia terlalu lupa akan perjanjiannya sendiri karena terbawa suasana menyenangkan kala itu.
Waktu mulai menunjukkan pukul tiga sore saat mereka berdua menyempatkan waktu untuk makan siang yang sedikit telat, karena Susan yang ditawari makan siang terus menolak, hingga menyerah sekian kali Dicky memaksa mengajaknya makan siang. Susan tidak mampu berkata-kata lagi sejak kejadian tadi, ketidaksengajaan yang dibuatnya sendiri.
Dicky memandang sekeliling, dan merasakan kejanggalan dalam setiap langkah mereka berdua sedari awal tadi. Ia sejenak berpikir tentang situasi itu yang seakan-akan terpantau oleh seseorang.
'Satu orang bertopi merah, jaket biru. Pasangan kekasih yang tiba-tiba berpisah di lokasi yang berbeda. Satu keluarga yang selalu ada di wahana yang sebenarnya tidak ingin mereka naiki. Aduh Brian ... cari mata-mata kurang professional begini, gitu aja mudah kutebak orang-orang ini. Hahaha' batin Dicky mencela.
.
.
Bersambung
__ADS_1
otewe next part