My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Pertemuan Dadakan 2


__ADS_3

Kami sampai di kawasan estate rumahnya, mobil melaju masuk ke dalam gerbang rumah dengan bangunan putih itu. Segalanya sudah hampir seratus persen selesai dibandingkan saat kami terakhir kali kesini. Pengerjaan itu cukup cepat, mungkin saja Brian sudah ingin segera tinggal dirumahnya sendiri untuk menjauh dari sosok Pamannya.


Kami memasuki area ruangan utama, tampak bunga Lily dalam Vas ukuran besar menyambut pandangan kami diruangan itu, saat kami masuk kedalam terlihat Leo sedang duduk santai memainkan ponsel sambil menyilangkan kaki. Sigap ia bangun dari duduknya saat kami mendekat ke arahnya.


"Leo ..., Adam belum ada kabar?"


"Belum, meeting tadi pagi ditunda hingga setelah makan siang karena pihak Direksi tidak jadi datang di pertemuan, tapi diwakilkan beberapa Manager Perusahaan itu"


"Hm ... semoga hasilnya bagus, dan Adam bisa diandalkan kali ini" Brian terlihat serius sambil menyisipkan kedua tangannya di saku celana "kirim pesan sama Adam, hasilnya kita bahas besok, saya ... tidak mau dia bawa laporan meeting itu didepan saya saat ini, saya butuh istirahat. Dan pastikan kalau diatas jam tujuh dia baru bisa datang, gunakan pakaian lebih rapi"


"Ya, Tuan, nanti saya sampaikan. Bisa jadi Adam selesai jam lima sore nanti dan kembali ke apartemennya, baru kesini"


"Atur saja sama kalian"


"Bisnis ya? hufff ... aku gak ngerti ..." Aku ikut masuk dalam pembicaraan.


"Ya, Adam saat ini memposisikan diri sebagai aku, berperan sebagai pemilik untuk membahas masalah investasi saham kami, sekaligus berlatih dan aku hanya orang di belakang layar, Dear"


"Kenapa begitu?"


"Banyak alasan karena sangat sensitif kali ini, sebaiknya tidak ada namaku tertera sebagai salah satu pemilik saham. Lagipula ... itu bukan passion ku, itu hanya sampingan, yang utama adalah profesiku, ya 'kan?"


"Hahaha ... aneh kamu, Perusahaan apa?"


"Lupakan, kamu gak perlu tau"


Kami duduk di area ruang keluarga, Brian melepaskan jas nya dan membuka satu kancing atas kemeja serta menggulung kedua bagian lengan kemejanya.


Aku duduk di sofa single dalam ruangan itu, Brian memintaku untuk pindah ke sofa panjang agar ia dapat merebahkan kepalanya di pangkuanku. Leo bergegas ke arah dapur dan kembali lagi dengan satu pitcher air putih dingin beserta dua gelas kosong.


"Tinggalkan kami, Leo. Coba cek persiapan makan malam nanti, pastikan catheringnya tidak telat"


"Baik, beberapa asisten dari rumah Tuan Dave datang jam tiga nanti"


"Yaa ... ya ... kamu atur, bantu aku, tolong. Terima kasih"


"Cathering? wow, makan malam apa ini, Bri?"


"Sudahlah, kamu diam disini saja temani aku. Habis magrib kamu mulai siap-siap berdandan ya, bajunya sudah kusiapkan"


"Eh, baju? ... i—ini ... "


"Ssstt ... sudah" Brian memejamkan matanya dan aku mengusap rambutnya perlahan.


"Aku gak tau ini kejutan apa lagi, tapi kamu keliatan gak tenang, kenapa sebuah pertemuan bisa mengganggu kamu seperti ini, apakah ini sesuatu yang besar?"


"Jangan dipikirkan terlalu dalam, ini hanya sebuah makan malam, nanti kita bicarakan kalau aku sudah merasa lebih baik, aku benar-benar lelah"

__ADS_1


"Ya udah, kamu tidur ..."


"Gak apa-apa kan?" Brian memiringkan posisi tubuhnya, dan kepalanya sembari memeluk pinggangku dalam posisi tidurnya "maaf, aku merasa nyaman begini"


Aku duduk sembari masih mengusap rambut dan memijat-mijat pelan keningnya sesekali pada kepalanya yang berada dipangkuanku saat ini, wajahnya memang nampak lelah dan stres, entah apa yang ia pikirkan. Tak menunggu waktu lama ia sudah lelap tertidur, nafas lelahnya terdengar halus.


'Apa yang sudah aku perbuat malam tadi, aku mungkin gak akan sanggup bercerita jika kondisimu seperti ini, akan sangat tidak adil untuk segala yang kamu lakukan terhadapku'


Aku menyandarkan kepala dan mengganjal kepalaku dengan bantal kecil, pelan-pelan meraih ponselku yang berada di meja kecil disebelahku agar ia tidak terbangun oleh gerakanku.


Saat aku membuka ponsel dan beberapa pesan, sambil menanyakan kondisi Training yang diwakilkan Haya hari ini.


Tiba-tiba beberapa pesan masuk ke ponsel Brian yang tadinya coba kuabaikan, beberapa pesan dalam kelihatannya bertumpuk, sepertinya dia tidak membuka ponselnya hari ini untuk mengecek beberapa pesan. Meski begitu, ia tetap membaca pesanku tadi.


Semakin mengganggu bunyi pesan yang masuk, aku mencondongkan pelan tubuhku sekedar melongok ke arah ponselnya yang berada pada meja didepanku. Khawatir pesan penting yang ia abaikan hari ini bisa merugikannya juga.


Tapi aku terkejut bukan main, bahkan kali ini aku semakin gugup, beberapa notifikasi pesan yang masuk pada tampilan layar ponselnya yang terkunci menyebutkan beberapa pesan terpotong ...


Happy birthday, Pak ...


Selamat Ulang Ta ...


Kami seluruh pi ...


Pak Brian, Sela ...


'Whaaaaattt?!' aku terkejut sambil mengingat-ingat bulan dan tanggal hari ini.


'Bodoh, bodoooohnya aku .., jangan-jangan makan malam nanti adalah perayaan ulang tahunnya yang akan dihadiri beberapa kolega, dan aku punya apa! nyaris saja menceritakan hal yang bisa merusak hari besarnya!'


Aku hanya bisa panik tanpa bisa bergerak banyak, rupanya ia tidur hingga menahanku untuk bergerak bangun. Aku sibuk memainkan ponsel dan melakukan pencarian pada web, trik membuat hadiah kejutan, mencari hadiah dadakan untuk kekasih atau semua kata kunci yang mulai diluar logika pencariannya.


Panik, aku panik


Bisa apa aku saat ini, terpenjara karena posisi kepalanya dipangkuan menahanku untuk berdiri, serta sebelah tangannya dipinggangku, sedangkan ia sangat lelap dan aku tidak ingin mengganggu, aku harus apa ...


'Tanya Adam, ia sedang meeting'


'Berdiskusi dengan Leo, pasti Brian dengar ...'


'Ya Tuhan ... gimana ini ...'


Aku mengetik sebuah pesan kepada Leo, dia berada di ruangan lain sedang sibuk melakukan persiapan.


Susan [ Leeeoooooo ... kenapa kalian gak bilang kalau ini acara ulang tahun Brian! ]


Leo [ Haha ]

__ADS_1


'Cuma itu balasnya! benar-benar Asisten ini!'


Susan [ Aku harus kasih apa, tolong bantu aku berpikir, Leo. Waktunya mendesak sekali! aku bahkan gak bisa gerak karena tertahan olehnya, tau begini aku bisa cari sesuatu untuk memberikan kejutan ]


Leo [ Hahaha ]


Susan [ WOYYY! senang ya! awas kalian ya, kamu dan Adam tunggu aja akibatnya ]


Leo [ Diam diam saja disitu Nona, Haha ]


'Sial, jebakan betmen! dia yang ulang tahun aku yang dijebak begini, apa-apaan ini!' Aku memandang wajah Brian dengan agak sedikit kesal.


'Kamu jail!' sambil kucubit kecil ujung telinganya dan ia tetap bergeming.


Tidak ingin kehabisan akal aku tetap mencoba mencari hadiah secara online, dan ini sangat membingungkan jika memberi benda yang segalanya Brian sudah hampir punya, sedangkan Brian bukan orang yang suka bermewah-mewah dalam penampilan, dia tipe orang yang hanya suka kenyamanan.


Pesan masuk kembali ke ponselku, kali ini dari Adam.


Adam [ Jangan mengganggu Leo, Nona. Dia sedang sibuk, buat saja makanan kesukaannya, Tuan suka Bubur ]


Susan [ Hah! bubur??? jangan bercanda! ]


Adam [ Terserah kalau gak mau percaya, tapi jangan lupa kasih topping Salmon setengah matang ]


Susan [ Kok saya jadi curiga ya ]


Adam [ Mau menyenangkan Tunangan, kan? Sudah dibantu tapi menolak ya terserah ]


Susan [ Sejak kapan Tunangan ulang tahun hadiahnya Bubur! ]


Adam [ Namanya juga dadakan, atau anda gak bisa masak? wah, kasian Tuanku ya. Sudah ya, saya mau kembali meeting, jangan kirim-kirim pesan ke saya, mengganggu. Selamat siang ]


'Whatt the ... ppffttt ... harus kuikuti atau tidak ya, meski bahan-bahan bisa mudah didapat dengan belanja online atau bantuan dari Leo di Fresh market terdekat, tapi nyaris tidak masuk logika, bagaimana bisa aku hanya membuatkan bubur untuk makan sore nya'


Pesan kembali masuk


Leo [ Butuh bantuan? ]


Susan [ eh, sebenarnya saya gak yakin, tapi terpaksa sih Leo, bisa kamu keluar atau suruh orang belanjakan bahan-bahan untuk menu yang dimaksud Adam? ]


Leo [ Apa? ]


Susan [ nanti saya Screenshot chat saya tadi, tolong ya ]


Leo [ Ok ]


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2