
Brian meraih sebelah tanganku yang mulai berkeringat dalam genggamannya tadi. Ia mencium tanganku sambil menatap Uncle nya. Seakan menantang balik.
'Brian apa yang kau lakukan memancingnya semakin ingin menjatuhkanku' karena panik kutarik tanganku seketika. Melepaskan genggamannya.
Brian terdengar mendengus kesal.
"Pendidikan itu penting, tapi ... Kenyataan berkata lain, meski hanya S1 dia cukup pintar membuatku sadar untuk tidak sendiri lagi. Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan tau bahwa aku sama sekali tidak mengalami gangguan kejiwaan seperti yang selama ini—Kita berdua cemaskan, begitu 'kan Uncle?" sindir Brian.
Seketika Wajah Uncle berubah kesal sekali, mereka sempat saling memandang sinis sampai akhirnya terdiam dan ia memutuskan pergi meninggalkan aku dan Brian.
Pertemuan kejutan ini benar-benar sebuah hantaman untuk diriku, entah bagaimana dengan Brian yang ternyata sedari umur belasan di dampingi paman macam begini. Hanya kudapati sikapnya yang kurang menyetujui arah hubungan kami.
Kami pun turut meninggalkan lokasi selang beberapa waktu Brian mencoba menenangkan ku atas pembicaraan tadi.
"Maaf, aku telah membuat kalian bertemu disaat yang tidak tepat"
"Bukan tidak tepat, mungkin aku yang kurang tepat untuk orang se-kelas kalian"
"Se-kelas apa maksudmu? Ah, sini."
Brian menarik pelan lenganku mengarahkan ke arah lift.
"Ini mau apa? Kita keluar lewat depan sana, kenapa ke lift lagi?"
"Kita ke basement, parkiran."
"Jadi kamu gak mau pulang dengan umum lagi, gak tahan ya? Salah dimana aku kalau bilang kalian beda kelas"
Aku tau pasti karena Adam dan Leo tadi kesini. Pasti mereka yang membawa mobilnya kesini. Saat ini saja kemejanya sudah berganti warna. Pasti kemeja gantinya minta dibawakan juga oleh mereka.
TING
Pintu lift terbuka, dan Brian menggiringku kuat ke dalam lift. Dia nampak mulai kesal.
"Bri!"
Brian nampak menekan tombol lift cepat. Saat kami masuk ke dalam lift.
"Hari mu cukup berat, ini bukan tentangku!" tegas ucapan nya membuatku terdiam tidak berani membantahnya meski terdengar pelan.
Kami terdiam tanpa satu kata pun hingga berada di parkiran. Matanya mencari-cari lokasi kendaraan yang di parkirkan oleh Asistennya.
Akhirnya kami menemukan lokasinya. Segera ia menekan alarm mobilnya, kami pun masuk ke dalam, kali ini ia tidak membuka kan pintu untukku. Wajahnya terlihat serius tanpa senyum.
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi?" wajahnya serius tanpa sedikitpun menoleh ke padaku."aku tidak ingin ada pertengkaran selama perjalanan"
"Tidak" aku berkata pelan. Rasa takut bercampur salah. Tapi, aku merasakan bebanku sangat berat hari ini.
Tanpa sengaja emosi seharian ini sudah tidak tertampung lagi, seketika aku menangis menunduk memeluk tas dalam pelukanku. Brian terhenyak mendengar tangisanku. Ia menghela napas dan menunduk.
"Kemarilah ... " Ia meraih tubuhku dan memeluk ku dari samping kemudi. "sudah kukatakan harimu berat, maaf menambah bebanmu hari ini, Dear"
"Kamu gak salah 'Bri, ini semua karena hidupku. Aku menyesal melibatkan mu bertahun-tahun seperti ini, semuanya karena aku dan masalahku!" aku menangis tersedu dalam pelukannya. Hingga airmata itu sedikit membasahi bagian dada pada kemejanya.
__ADS_1
"Kenapa kau sesali, aku juga yang memilih untuk menjadi bagian dari cerita hidupmu. Tenang ... Tidak ada yang akan mengusikmu selama ada aku, bahkan Uncle sekalipun ... Percayalah"
Ia meraih wajahku dari pelukannya dan mengusap airmata yang membekas di pipiku, perlahan ia mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibirku kini. Ia menciumku lembut membiarkan ku mendapatkan perasaan hangat di dalam nya.
Sesaat kemudian kulepaskan perlahan.
"Feels better?"
"So much better"
"Teruskan?"
"Tidak, hahaha"
"Biar mimpimu indah nanti, hahaha"
"Modus! Sudah, kita pulang"
Kami menyempatkan berhenti sebentar untuk makan malam di salah satu restoran yang kami datangi saat dulu awal bertemu kembali. Dalam perjalanan pulang aku menyinggung pembicaraan tentang Uncle nya lagi.
"Uncle mu itu ... Anaknya seumuranku ya?"
"Anak? Hahaha"
"Kok ketawa, itu gak lucu Bri"
"Sorry. Ya. Dia tidak punya anak. Dia hanya menikah tiga tahun tapi tidak memiliki keturunan"
"Kasian. Makanya dia protektif sama kamu ya"
"Lalu kenapa dia tidak menikah lagi, atau sudah?"
"Hahaha, sudahlah"
"Kenapa ketawa lagi?"
"Untuk apa?"
"Eh. Jahat kamu, ya perlu lah. Mungkin dia karena dia menduda jadi butuh seorang wanita untuk menghangatkan hatinya. Lihat kamu, puber nya telat"
"Eeeeehh ... Jangan samakan aku dengan dia"
"Apa bedanya kalian, dua pria yang kelamaan single"
"Aku normal"
"Wait. What?"
"He's gay"
"Ahhhh ... Shoooot! Pantas dia melihatku sinis begitu, kamu juga pakai ngajak pegangan tangan, dicium lagi!"
"Aku hanya ingin membuktikan keseriusan ku kali ini"
__ADS_1
"Jadi kamu sebelum nya sudah pernah pacaran?"
"Tidak. Kan sudah kukatakan tidak. Maksudku ... Aku sudah memilih wanita pendampingku nanti"
"Tapi kan dia menikah sebelumnya bagaimana itu?"
"Tidak tau, memangnya aku peduli. Paling hanya sebuah identitas, sayang. Ia kan seorang pemimpin perusahaan. Orang akan bertanya-tanya tentang status nya kalau tidak ada jejak kehidupan rumah tangga"
"Pimpinan perusahaan? Perusahaan apa?"
"Perusahaan kontraktor. Passion kami berbeda, sudah jangan banyak tanya. Mood ku hancur karena sikapnya tadi"
"Harusnya aku kan, kenapa kamu"
Brian menoleh pelan dan kembali serius.
"Karena ia memperlakukanmu seperti itu, ia tidak berhak menjatuhkan siapapun yang kupilih"
"Terima kasih ya, maafkan ucapanku tadi, kalian memang berbeda"
"My pleasure"
Pikiranku asik melamunkan tentang Brian. Hingga tanpa sengaja aku tertidur pulas dalam perjalanan pulang. Aku terbangun saat Brian mengecup pipiku.
"Kita sudah sampai Dear"
"Ah, ya. Maaf aku ketiduran" aku menegaskan pandangan mataku yang buram melihat sekeliling.
"Aku langsung pulang tidak apa-apa 'kan? Sepertinya juga dirumah mu sedang ada tamu"
"Ah Iya, siapa ya malam begini ada tamu, temannya kak Edo mungkin" kulihat mobil SUV hitam terparkir di halaman.
"Ya sudah, segeralah mandi dan istirahat. Aku tidak akan menghubungi mu malam ini, hanya kukabari kalau aku sudah sampai, okay Dear"
Satu kecupan lagi mendarat di keningku dan bibirku.
'Ini orang, dikit-dikit cium'
"Ya sudah kamu langsung saja sana, aku saja yang keluar, bye tampan" aku mencubit pipinya yang sedikit chubby.
Kulambaikan tangan saat keluar dari mobil dan segera menyuruhnya pergi sebelum ada yang sadar kalau Brian tidak menyempatkan diri untuk mampir.
Kendaraan itu pun melaju cepat keluar area perumahan. Aku berjalan setengah lunglai menuju pintu rumah yang terbuka lebar. Kudengar suara orang bercakap-cakap dengan candaan.
"Assallamualaikum"
"Waalaikumsalam ..." saut serentak orang didalam ruang tamu ku.
Betapa kagetnya yang kulihat kali ini. Tamu yang kudapati adalah orang yang tidak Asing di hari ini.
'DICKY!! Ngapain dia disini!'
.
__ADS_1
.
Bersambung