My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Permintaan Terakhir part 3


__ADS_3

Kini semua memerhatikan gerak-gerik Susan yang sedang menatap layar ponsel berbicara dengan kekasihnya. Susan nampak gugup, kekhawatirannya muncul seketika, tentu saja bukan karena takut Brian akan menghancurkan ponselnya sendiri, tapi Susan takut bahwa ini akan memperburuk keadaan menjelang pernikahan.


"Hihi— " Susan meringis, tersenyum paksa. "Aku juga gak bilang pasti jadi kok Bri, a-aku juga belum bilang ke Anton ambil cuti sehari"


"Eh," Dicky muncul dari belakang Susan, kembali mengarahkan posisi tubuh Susan agar layar ponsel tetap terlihat oleh kedua orang tua Susan. "Cuma jalan-jalan kok, paling main ke taman hiburan, makan, ya gitu aja sih. Gak bisa ya?" penekanan Dicky semakin membuat Brian terpojok, seakan-akan hal biasa terasa berlebihan jika ia tidak mengizinkan sama sekali.


"Tanya Susan, dia sibuk atau tidak." Brian menurunkan pandangannya, meski ingin sekali ia membuang muka dalam situasi itu, ia hanya bisa menjawabnya dengan sangat datar.


"E-eh, sebentar. Aku ke depan dulu," Susan berjalan cepat ke arah teras menghindari situasi itu, menggenggam ponselnya kuat, menghindari kemungkinan dirampas oleh Dicky.


Susan kini berada diteras, menyandarkan diri di pilar penyangga balkon, mencoba berbicara lebih tenang dan pribadi dengan Brian.


"Hah! Candaan apa ini!" Brian mendengus kesal.


"Bri, listen! aku gak minta!" Susan meninggikan intonasi dalam bisikkan suaranya, tidak ingin ada pihak yang mendengar dari dalam rumah.


"Dan bahkan kamu membiarkan dia Video Call dengan ponsel kamu, yang bahkan aku gak pernah mengusik isi ponselmu seperti apa! Hah? terbuka sekali kamu sama dia."


"Hh~ udah aku duga kamu bakal marah, iya~ aku salah, tadi dia minta ponselku, depan mama papa—," jelas Susan, mencoba merajuk dengan manja.


"Kalau aku gak marah, jadi kamu setuju?!" sindir Brian.


"Bri~ sayang ..., dengar aku," Susan berusaha melembutkan suara demi menenangkan Brian. "Ini permintaan terakhirnya sebagai sahabatku, diluar semua masalah kita yang terdahulu. Sudahlah, lupakan. Dia bahkan nekat menjaminkan mama nya akan terlibat jika dia berbuat macam-macam lagi. Entahlah ...," ucap Susan bingung, bagaimana harus menjelaskan tanpa memancing emosi Brian.


"Tentu aja mereka akan terlibat, bukan cuma ibunya, tapi orang tua mu juga! kemana pikiranmu!" protes Brian.


"Orang tua ku setuju, ehm— maksudnya, mereka gak melarang asalkan ... dengan seizin kamu." Susan membujuk semakin perlahan.


"Kamu paham maksudku 'kan?" ucap Brian cepat.


Susan mengangguk pelan, sedikit memejamkan matanya sesekali untuk menahan diri meluapkan emosi, ingin sekali rasanya ia menangis berada di tengah-tengah pilihan seperti ini.


"Keputusan di tangan kamu, aku bebas. Gak lain, hanya agar namamu juga baik dimata orang tua kami, karena kita sudah seperti keluarga, itu aja ...," Susan berkata dengan sangat hati-hati.


Brian terdiam sejenak, rahangnya terlihat mengeras menahan marah, kala kedua mata mereka bertemu pada layar ponsel. Susan pun menunggu jawaban selanjutnya dari Brian, menatap pasrah dalam bimbang demi kebaikan keduanya.


Brian menambahkan satu syarat dengan cepat.


"Adam dan Leo akan mendampingi kalian!"


"Gak bisa, Dicky minta sama sekali gak ada yang boleh mengikuti perjalanan kami ... a-aku— " ucap Susan dengan berat hati mengutarakan persyaratan Dicky.


"What?! kalian mau kemana memangnya?! ke hotel!!" tuduh Brian keras.

__ADS_1


Susan sigap menutup speaker pada telepon genggamnya, terkejut dengan perkataan Brian yang terdengar kasar. Namun sebuah langkah cepat menghampiri Susan. Seketika ponsel itu terampas dari balik punggungnya.


"Gimana Bro?" ucap pria yang kini menggenggam ponsel Susan itu dengan santai.


"Dicky!!"


"Serahkan ponselnya ke Susan, saya sedang bicara. Anda sopan sedikit!" tegas Brian.


"Bro. Saya udah minta izin sama keluarganya Susan, mamaku juga. Terserah, saya jelaskan deh. Gak akan ada kekonyolan, percaya, cuma mau jalan. Saya dan Susan sahabat sejak lama ...," Dicky menjelaskan tujuannya yang terkesan lurus, namun sedikit berbau ancaman.


"Itu jika anda bukan pembuat masalah!" bentak Brian.


"Kan udah janji, ada orang tua saksinya, masa gak percaya?"


"Rubbish!" gumam Brian dengan nada suara bergetar dan marah.


Panggilan itu pun seketika diputuskan sepihak oleh Brian. Tak menunggu lama, Dicky pun mengirimkan pesan singkat kepada Brian.


Dicky   [ Gak apa-apa, Bro. Om Dharmawan udah tau kok kalau anda gak kasih anaknya jalan sama sahabatnya, setidaknya mereka bisa tau calon menantunya tipe posesif kayak apa ]


Brian   [ Jangan kabur, tunggu saya disana, saya akan bongkar identitas anda! ]


Dicky [ Siap, BOSS! ]


"Dia mau kesini, San. Hahaha, segitunya." ejek Dicky puas sambil bersedekap.


"Psycho!" gumam Susan geram seraya memandang Dicky dengan tajam.


Dicky menyeringai sambil berlalu, meninggalkan Susan untuk kembali masuk ke dalam rumah menemui pihak keluarga. Melanjutkan perbincangan lain seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dicky bahkan tidak mengatakan bahwa Brian akan mengancam datang dan membongkar identitas Dicky selama ini. Mungkin saja, Dicky memang sudah siap dengan segala kemungkinan.


Setengah jam berlalu, Susan masih terduduk panik, menunduk seraya menggenggam kedua tangannya di ruang utama, menghindari percakapan kedua belah pihak keluarga di ruangan lain. Sesaat bunyi kendaraan menepi di sisi jalan depan rumahnya, Susan sigap bangkit dari duduknya, dan saat itupun Dicky cepat menyusul ke arah teras rumah.


Seorang pria cepat keluar dari dalam kendaraan hitam mewahnya, berjalan agak tergesa-gesa sambil menekan alarm mengunci kendaraannya. Dari kejauhan raut wajahnya nampak dingin seakan siap memberi pukulan pada seseorang.


Susan dan Dicky berdiri menunggu langkah Brian yang semakin mendekat.


"Sue. Mana mama dan papamu? aku mau bicara!" Brian lalu cepat mengalihkan pandangan ke arah Dicky. "dan anda! siapkan diri untuk terlibat dengan aparat!"


"Ka-kamu mau ngapain?" Susan seperti memasang badan, berdiri menghalangi langkah Brian untuk mencoba menenangkannya, sebelum pria itu mengucap salam untuk dapat masuk ke dalam rumah, menemui mama papa.


"Mau kubongkar kelakuannya selama ini! kenapa?!"


"Haduh, sabar dulu Bri, please," pinta Susan.

__ADS_1


"Ya, silahkan. Saya siap Pak— eh, Boss! Tapi apa gak dipikirkan dulu, mengingat— bisa jadi pernikahan kalian diundur ... atau saya yang malah disuruh menggantikan posisi anda, Bro. Menang banyak dong saya." Dicky membalas santai.


"You!!" Brian mendelik geram, gerakan tubuhnya nyaris seakan hendak melancarkan pukulan.


"Badan gede, tua doang!" gumam Dicky dengan dingin.


"Udah!! aku gak mau Dic! aku gak bisa deh jalan sama kamu! mulut kamu kok kurang ajar banget!" Susan menentang dengan keras, pada akhirnya ia sanggup mengambil resiko jika saja Brian terpaksa dipandang negatif oleh pihak keluarganya.


"San, aku gak maksa sebenarnya. Tapi aku dari tadi coba jelaskan sama kalian, tujuan aku gak macam-macam. Jadi apa susahnya kalian gak nuduh-nuduh segala, dari tadi aku dituduh lho." Dicky mengernyitkan dahinya, menunjukkan sikap kesal dengan hal yang dibuat semakin rumit.


"Anda dengar? Susan gak mau?"


"Hah, ya cukup tau, meski aneh buat saya. Gini ya, ngapain aku ngejar-ngejar dia, si Susan juga gak cakep-cakep amat, kemarin-kemarin saya cuma iseng ... oke, saya salah. Tapi dia kan sahabat ... ya-ya — mantan lah. Gak masalah dong, itu semua udah berlalu. Eh, lagipula saya juga ada rencana pulang kampung, rencana kerja di perusahaan papa saya. Bos! kita sama-sama keturunan inggris. Biasa aja sih— gak usah berlebihan juga."


"Hei, apapun penjelasan anda, jawabannya jelas. Dia ... menolak, sudah cukup?" balas Brian.


"Cukup. Tapi jelaskan dengan baik di depan kedua orang tua kita. Dan ingat perkataan saya tadi, membongkar cerita lama, berimbas kemana-mana, pikirkan aja."


"Berani mengancam?" Brian mengangkat kedua alisnya, mendelik kesal.


"Bukan ancaman, tapi berpikir jernih Pak Prof. Anda kan Psikolog, masa' menganalisis niat saya aja gak bisa!" ejek Dicky.


"Psikolog bukan cenayang, record perilaku anda yang selama ini saya ragukan. Anda tetap seorang kriminal bagi saya, saya gak akan melepaskan calon istri saya dengan orang yang tidak pantas untuk dipercaya!"


"Negatif thinking aja terus Pak, calon istri anda kan sahabat saya, keluarga kami juga sudah bersahabat cukup lama. Kalau anda mau buat hubungan keluarga kami retak karena anda bongkar masalah kita selama ini, silahkan."


Brian terdiam cukup lama, seakan menimbang-nimbang, seketika ia menarik napas dalam dan memandang Susan sesaat. Kemudian beralih ke arah Dicky. "Oke! ... tolong buktikan perkataan anda, jika memang anda bisa menjaga diri untuk tidak sedikitpun menyentuh calon istri saya, saya izinkan."


"Brian adney!! apa-apaan kamu!" hardik Susan. Sangat tidak percaya Brian bisa semudah itu berubah pikiran, padahal baru saja beberapa saat sebelumnya ia melarang keras permintaan Dicky.


"Hm. Buktikan!" Brian tidak menggubris perkataan Susan, ia menepuk berat lengan Dicky dengan sikap menantang dan sinis.


"So?" Dicky melirik ke arah Susan.


"Ah!! sama aja kalian!!"


Susan berlalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan geram, berlari menuju kamarnya dengan sangat marah dan tidak ingin menemui siapa-siapa lagi. Sudut matanya kini tidak dapat membendung airmata, tangisan yang muncul seketika merasakan kekecewaan karena merasa dipermainkan kedua pria.


'Kenapa Bri ... kenapa aku ...' batin Susan.


Susan merasa jadi bahan pertaruhan kedua pria yang bersaing mempertahankan harga diri dan ego. Entah apa rencana Brian, atau yang ia pikirkan sehingga secara mendadak berubah pikiran menyetujui permintaan Dicky tanpa menentang apapun.


'Andai saja kamu tahu maksudku merubah keputusan, ini bukan tentangku lagi ataupun Dicky. Tapi ini semua tentangmu ... dan perasaanmu yang sesungguhnya' batin Brian.

__ADS_1


__ADS_2