My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Penguji 2


__ADS_3

Hari itu datang juga, selama sehari kemarin konsentrasi ku terganggu dengan pertimbangan untuk datang ke kediaman Kak Brian. Apa yang kupersiapkan adalah bukan masalah yang ingin kuungkapkan sebagian, tidak mungkin seluruhnya, karena aku tau itu tidak mungkin.


Yang aku butuhkan adalah segala hal untuk memproteksi diriku apabila hal terburuk bisa saja terjadi tiba-tiba, belajar dari tragedi sebelumnya, kini aku harus mampu menanganinya sendiri meski tidak tau sanggupkah aku menghadapi ini seorang diri.


‘Ahhh apa ya ... raket nyamuk? tidak tidak ... itu terlalu besar, semprotan serangga ... Ahh itu juga tidak muat disakuku ... bagaimana jika mendadak seperti aku menghadapi Dicky kemarin ... tidak sempat mengambil dalam tas kukira ... Hhh ... kenapa aku jadi panik begini ... ‘


Susan mengingat batas kemampuannya yang gagal melawan orang seperti Dicky apalagi orang yang besarnya seperti Yeti (mahluk mitologi pegunungan es). padahal jika saja tidak pernah mengalami kejadian naas seperti itu mungkin saja Susan tidak perlu takut untuk menghadapi Kak Brian yang hanya kelihatan ramah diluar namun sedikit pemarah jika berhadapan langsung dengannya.


‘Ah ... Ok, aku ada ide!’


****


Siang itu pukul 12.30 dengan paksa Kak Edo tetap mengantarku ke kampus, memastikan kalau aku tidak pergi dengan siapapun, ia juga mengkonfirmasi keberadaan Eli dan Dicky yang sama-sama berada dirumah mereka masing-masing, dari situ aku hanya sedikit melanjutkan perjalanan estafet sedikit lagi dengan jarak ke Hotel sekitar 300 meter.


Sampailah diloby Hotel bintang 5 yang cukup megah itu. mengkonfirmasi kedatangan pada pihak informasi, Susan dipersilahkan menuju kamarnya.


Tokk Tokk


Pintu terbuka dan ekspresi wajah datar itu muncul dari dalam ruangan kamar itu.


“Anda terlambat 15 menit!” ucapnya ketus.


“Eh ... iya maaf, saya sempat kekampus sebentar tadi, Kak.”


“Masuk!”


Ya cukup luas, fasilitas kamar VVIP yang ditempatinya, nampaknya dia bukan orang biasa-biasa saja.


‘Rumayan juga si Yeti ini, kupikir akan kutemui tumpukan salju dan pohon-pohonan disini’ Susan tersenyum bercanda dalam hati, apalah akan kusebut untuk orang sebesar dia.


“Buatlah dirimu nyaman, tidak perlu terlalu tegang, duduklah ... “ nada suaranya mencair, aku jadi takut tenggelam kalau saljunya ikut cair.


“Ya, Kak” mata Susan masih melihat sekeliling mencari benda-benda dengan potensi berbahaya semacam tali, pisau atau apalah, tidak masuk akal memang.


Kami duduk disofa panjang duduk berjarak satu sama lain, Susan mencoba terus bercanda dalam hati menghilangkan ketegangan dirinya.


“Mau minum apa?”


“Ah, tidak kak, saya sudah membawa air mineral”


“Baik, katakan saja kalau mau minum apa tidak perlu sungkan, anggap saja tempatmu sendiri, Beers?”


Susan mendelik kaget


“Tidak tidak ... saya tidak minum itu!”


“Hahaha Saya cuma bercanda ... habis kamu masih kelihatan tegang, please ... just relax ... “ merubah posisi duduknya menghadap Susan, Susan mundur sedikit lagi menciut diposisinya.


Brian memicingkan mata


‘Kenapa anak ini? seperti menghadapi predator saja hahaha ... lucu sekali’ Dalam hati Brian.


“Bisa kita mulai, Kak? Saya cuma punya waktu sedikit”


“Yang butuh saya atau kamu? by the way, kamu tidak kepanasan memakai jaket setebal itu? apa kamu bawa kendaraan?”


“Tidak Kak”


“Ya sudah, lepaskan saja ini kan sudah di dalam ruangan”


“Tidak tidak, saya nyaman begini”


‘Bagus, menolak lah terus ... ‘ Brian.


“Okay kalau begitu, kita mulai saja ... “

__ADS_1


Brian mencatat segala jawaban Susan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berdasarkan catatan dalam selebaran kertas yang ia pegang,


Susan menceritakan tentang masa lalu, kegiatan, lingkungan, hingga masalah perasaan dengan lawan jenis. tanpa menyebutkan sama sekali kejadian yang ia alami akhir-akhir ini.



Satu setengah jam berlalu tanpa terasa, nampaknya Susan sudah mulai rileks dengan cara profesional Brian menggiring beberapa pertanyaan dan diselingi candaan yang terlontar dari mulutnya.


‘Baik juga dia ternyata’ Susan dalam hati.


“Okay ... sekarang ... “ Brian menyeret sofa kecil didekatkan ke sofa panjang tadi. “Rebahkan tubuhmu di sofa itu, buatlah dirimu sedikit nyaman” Brian menaruh bantal disisi ujung sofa itu.


“Hah? untuk apa Kak?”


‘Mati aku’ Susan bergumam dalam hati


“Jangan khawatir, kita akan melakukan sedikit hipnoterapi dan kamu harus menyetujuinya, jika kamu menolak maka ini tidak akan berjalan sesuai metode”


“Kalau di kelas memang begini juga ya Kak?”


“Tidak, ini bonus saja untukmu.”


‘Bagaimana tidak, penyakitmu parah Nona’ Brian bermonolog.


“Ba—Baik Kak”


‘Aduuh bagaimana ini, selain posisi ini membuatku canggung, aku takut tidak bisa mengkontrol diriku ketika bercerita, bisa ketahuan semua yang kualami, sebaiknya aku berpura-pura sajalah’ Susan


Susan melakukan sesuai yang di instruksikan.


“Luruskan kakimu, katakan kalau bantalnya kurang nyaman, angkat kepalamu” Brian membetulkan posisi bantal itu dan menekan sedikit pundak Susan agar kepalanya agak sedikit menunjang.


‘Haaaa kenapa dia pegang-pegang’


’Ini namanya terapi, Bodoh!’ seakan-akan saling bersautan padahal tidak satupun kata yang keluar tapi ekspresinya mudah sekali terbaca.


“Pejamkan matamu ... kosongkan pikiran ... dan hanya dengarkan saja apa yang saya ucapkan ... fokus pada kata-kata saya ... “ Brian seperti mengucapkan mantra-mantra yang Susan sama sekali tidak ikuti dalam hatinya.


‘Dasar gajah afrika, patung berhala, kontainer, gapura 17an A, B ,C , D, E, F, G ...’ Susan mencoba mengumpat terus dalam hati agar tidak bisa fokus.


Brian menepuk punggung Susan mendadak.


“YETI!!” satu umpatan lolos dari mulut Susan.


“Hei, kalau kamu terus menolak untuk fokus bagaimana bisa kita mulai terapi


ini!” Kedengarannya Brian mulai agak kesal.


‘Kenapa dia bisa tau kalau aku belum fokus.’


“Eh iya Kak, Iya ... “


“Baik ... kita mulai lagi, Oya maaf ... “ Brian mengambil remote untuk mengatur cahaya ruangan menjadi lebih redup.


‘Kenapa lebih gelap ya ... tadi rasanya memejamkan mata tidak segelap ini’


Batin Susan


“Kita mulai lagi ... “


Seperti langkah awal tadi Brian seperti mengucapkan mantra-mantra yang tetap dilawan oleh Susan, kali ini dia memang tidak ingin patuh, dia tetap mengumpat dalam hati.


‘Dasar pria jutek ... kerjanya marah-marah ... kerjanya perintah ... gorilla berbulu domba ... bla ... bla ... bla’


Brian menepuk lagi kali ini dahinya yang ditepuk pelan.

__ADS_1


“PANDA!”


“Bangun!!” Brian bernada tinggi. “Hhh ... Useless!” Brian mengumpat pelan.


‘Harus bagaimana lagi dengannya ini’


Brian berpikir ekstrim.


Susan bangun dari rebahnya dan kembali duduk.


“Kalau begini caranya anda tidak akan bisa berkembang, Nona”


Saking kesalnya dia menyebutku nona kali ini.


“Mungkin ... bisa kita lakukan lagi wawancara lain waktu?”


“Tidak bisa ... kehadiranmu saja sudah lama saya tunggu, sedangkan kamu malah baru muncul sekarang!” Brian terlihat mengungkit hal itu kembali.


“Maaf Kak, saya tidak bermaksud ... “


Brian menggenggam pergelangan tangan Susan. tubuhnya condong ke depan hingga Susan mundur sedikit dari posisi duduknya.


“Jangan ucapkan kata Maaf lagi di depanku ...! “ Brian memandang tajam.


DEG


‘Oh Tidak ... apa salahku lagi ya Tuhan.’


Brian memicingkan matanya ke arah Susan dan maju sedikit lebih dekat dari bangku kecil di sebelahnya itu, bibirnya yang tipis terlihat seperti segaris karena tertutup rapat tidak ada senyum lagi.


Genggamannya tidak menyakiti pergelangan tangan Susan, entah tapi sangat sulit dilepaskan.


“Kak ... lepaskan tangan saya ... “


‘Berontak ... ayo berontak ... ‘ batin Brian memaksa.


“Kalau saya lepaskan kamu pasti akan segera pergi kan”


“Tidak kak, saya tidak jadi pergi ... tapi ... saya tidak bisa lama-lama Kak ... “ Wajahnya mulai pias dan tubuhnya gemetaran.


Sekarang Brian bangun dari duduknya tetap mencengkram kedua tangan Susan, hingga posisi tubuhnya membungkuk seperti membuat kurungan sempit pada susan yang terduduk di sofa itu.


‘Lihat responnya itu, tidak mampu mempertahankan diri, seharusnya dia mampu menendangku atau apalah’ Batin Brian.


Brian mendekat lebih ekstrim. Sekarang wajahnya berada di Sisi sebelah telinga Susan.


“Harus ku bayar berapa agar kau bisa menemaniku malam ini?” Berbisik membujuk halus.


Susan semakin terperanjat .


“Maafkan saya Kak ... saya akan mengikuti aturan Kakak ... saya akan ikuti terapinya ... “


‘Jangan sebut kata Maaf nona, nanti aku tidak bisa menguasai diriku!!’ tangannya kini malah mencengkram kuat.


Bulir airmatanya kini mengalir derasdan Susan mulai lebih histeris.


“Jangan ... jangan lagi ... kumohon ... aku tidak mau lagi dikuasai ... kalian pria-pria B*adab! aku benci dengan pria!!.“


Susan meracau memejamkan mata.


Brian tersentak kaget dengan ucapan Susan yang meracau.


‘Hah!!! apa yang sebenarnya terjadi denganmu Nona?!!’


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2