My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Pengganggu


__ADS_3

Sangat mengejutkan, Dicky yang dianggap mulai bisa keluar dari zona kesedihan berani mengutarakan hal semacam itu. Brian pun mulai gerah dengan permintaan konyol dari pria itu, antara tidak tahu diri atau ingin membuat kegaduhan, Dicky terlalu berani mengambil risiko.


"Mate!" Brian mendekat berbisik pada Dicky, "kamu tau harus berhenti kapan bertindak konyol dalam pesta kami, jika terus kamu lakukan, saya tidak segan membuat kamu keluar dari sini dalam keadaan malu."


Baru kali ini Brian tidak lagi formal menyebut Dicky dengan sebutan 'kamu', tingkat kesabaran untuk tidak menggubris Dicky sudah dibuang mentah-mentah.


"What's the deal, Mate?!" ucap Dicky santai dan memundurkan tubuh agar ucapannya terdengar oleh kedua wanita yang berdiri di dekat mereka, Eva, dan Susan. "But! Humm ... Oke, ada satu pengecualian, sih! Bapak, kan ... tau betul saya biasanya gimana. Seharusnya, sih, santai aja. Saya juga gak bakal ngapa-ngapain istri anda, kok. Tapi, gak pa-pa ...," Dicky memotong kata-katanya lalu membisikkan Brian hal yang paling konyol, "kalau saya gak salah ... Posisi paling enak ... kalo dia dipangku, Pak."


Satu kepalan Brian nyaris mengenai rahang, namun meleset mengenai dada kiri karena Dicky sigap mengelak dari pukulan itu.


"Get out!" Brian membulatkan matanya dan mengacungkan telunjuknya persis di depan wajah Dicky.


"Bri, ada apa, sih?" ucap Susan terkejut dan cepat menarik lengan suaminya.


Dibarengi dengan Eva yang juga menahan pundak Dicky agar tidak mencoba balas. Dicky hanya menyeringai dan tertawa sinis seakan tanpa dosa mengatakan hal yang sangat pribadi.


"Gak, gak kenapa-napa, aku cuma kasih saran, kok."


"Silakan coba mengganggu privasi kami. Siapkan diri untuk menjawab pertanyaan di persidangan nanti, kasus lama akan saya usut!" tegas Brian dengan suara bergetar menahan emosinya di antara tamu-tamu undangan yang mulai menyadari ada ketegangan di antara keempat orang itu.


Dicky bergeming dan wajahnya sedikit pias, sepertinya permainan ini memang sudah keterlaluan hingga hal buruk bisa saja berulang dan dia tak akan bisa lolos kali ini.


"Kasus?!" tanya Eva sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Gak. Ya udahlah, Eva ajak Dicky menikmati hidangan, ya ...." pinta Susan mencoba mereda situasi yang mulai memanas.


"Mantanmu sudah keterlaluan, dia sebaiknya keluar dari sini!" Brian sedikit meninggikan suara memandang Susan.


"O-Oh, okay! Kayaknya aku deh yang harus minggir. Terima kasih aku permisi, ya, mbak Susan,"


Eva tanpa basa-basi membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat ke sudut Ballroom di mana teman-temannya berkumpul saat tadi. Dicky yang tersenyum kecut, berusaha tak meladeni ancaman Brian. Dia pun memilih menghindari keramaian pesta dengan berjalan lalu ke luar mencari udara.


Pesan pun masuk, saat Dicky tengah menghela napas melegakan diri. Bibirnya tengah mengapit sebatang rokok kala tangannya merogoh ponsel dari dalam saku jas, kemudian dia memeriksa apa isi pesan itu.


[Mantan? Kenapa aku baru tau, ya, rahasia kalian]


"Bullsh*t," gumam Dicky setelah membaca pesan dan memasukan ponselnya kembali ke saku.


Kini Brian dan Susan berada di ruang khusus keluarga pengantin. Yang untungnya tidak ada satu orang pun, karena semua pihak keluarga sedang menikmati suasana pesta.


Mendengar kabar, Adam berjalan cepat menghampiri ruangan itu dan mengetuk pintu yang sengaja dikunci, Susan bangkit dan membukakan pintu. Adam dan Leo menyergap masuk menghampiri tuannya yang tengah menderita kali ini, tentu saja kejadian tadi telah memunculkan anxiety yang diderita Brian bertahun-tahun lamanya.


"Sudah berapa lama?" Adam menatap Susan yang dijawab dengan gelengan kepala.


Wanita itu tidak mampu lagi menahan air mata, karena tidak diperbolehkan menyentuh suaminya sendiri saat berusaha menolong.


Adam bergegas mengambil setelan pakaian Brian yang dikenakan sebelum berganti pakaian tergantung dalam lemari, kemudian mengambil tabung kecil berisi obat penenang yang selalu berada di saku celana Brian.

__ADS_1


Brian tengah meringkuk dan terbatuk-batuk karena masih merasakan sesak napas yang meningkat. Keringat di wajahnya yang memerah semakin membuat ketiga orang lainnya bergerak panik. Adam meminta Brian untuk duduk dan menelan pil penenang, sembari tetap memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan.


Leo kerap menghubungi dokter pribadi Brian yang masih berada di perjalanan. Dokter yang sengaja dihadirkan selama pasangan pengantin berada di sana untuk situasi darurat sang pengantin pria.


"On the way!" ucap Leo sambil menoleh ke arah Adam.


Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan, tampaknya pihak keluarga sedang mencari keberadaan Brian dan Susan yang tiba-tiba menghilang dari area pesta. Sesaat kemudian Leo menghampiri dan membuka pintu sedikit untuk menahan orang masuk, yakni Mama Anne.


Dia memohon maaf karena melarang Mama Anne masuk, dengan beralasan bahwa Brian dan Susan sedang beristirahat, dan butuh sedikit ketenangan.


Mama Anne pun menolak permohonan maaf itu karena menurutnya tidak masuk akal, serta meninggikan suaranya.


"Let me in! He is my child, how dare you stop me to see him!"


"I'm sorry, Ma'am. I'm just doing my job," jelas Leo.


"Mom, please. We just need to break, i am coming over soon, please wait." Brian menyahut dari dalam mencoba menstabilkan suaranya.


"I am not sure that you're okay, Dear," ucap Mama Anne.


"This is good for him, please, Ma'am. I beg you to stop pushing up the door." Leo dengan sangat bersabar membujuk Mama Anne yang berusaha masuk mendorong pintu, hingga akhirnya dia pun mau menuruti Leo sesuai permintaan Brian.


Susan kini tengah memijat-mijat pelan dahi Brian, situasi sudah lebih baik setelah hampir setengah jam ke empat dari mereka berada di dalam ruangan.

__ADS_1


"I can't believe that we invite this guy, he's the true home wrecker," gumam Brian. Dia meratap ke arah langit-langit ruangan dalam rebah tubuhnya yang lemas saat ini. "Keputusanku memang benar. Segera tinggalkan perusahaan itu, minggu depan tidak ada lagi alasan kamu menginjakkan kaki di sana," tambahnya.


Susan terdiam menundukkan kepala, baru saja dirinya berencana membujuk sang suami agar membiarkannya untuk tetap bekerja di kantornya kini. Namun, demi keselamatan Brian yang sudah tidak tahan dengan konflik bertubi-tubi, wanita itu pun pasrah kala melihat sorot kesedihan Brian akibat kekacauan pesta pernikahannya kini.


__ADS_2