My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Fight back!


__ADS_3

Aku berjalan menghampirinya dengan sedikit keraguan, Dicky berdiri menungguku masuk ke dalam saat aku sejenak mematung di ambang pintu ruang utama rumahnya. Mataku tidak henti-hentinya menyapu sekeliling hingga langit-langit ruangan itu.


'Sebaik apapun sambutannya ... Dicky tetap pantas untuk dicurigai!' batinku


"Berdiri? cari apa?" tanya Dicky dengan nada datar


"Gak, cuma mau tau bagaimana kelihatannya rumah yang ditinggali pria macam kamu" jawabku sinis


Aku berjalan perlahan dan tetap menjaga jarak posisi dudukku dengannya, kami duduk berseberangan pada ruangan itu, harapan negosiasi pasti lebih mudah, tidak perlu takut karena posisiku terdekat dengan pintu.


"Coba utarakan niatmu, ehm ... kuberi waktu lima belas menit, setelah itu aku mau tidur, jangan salahkan kalau tidak bisa keluar dari sini jika lebih dari waktu yang kutentukan" ucapnya santai.


Dicky kembali memainkan ponselnya tanpa beban, sesekali melirik ke arahku menunggu satu kata keluar dari mulutku memulai pembicaraan ini.


"Bisa fokus?" tegurku melihat sikapnya, "kalau pandanganmu melihat ponsel terus-menerus apa kamu bisa menanggapiku serius"



"Mataku tidak ada hubungannya dengan pendengaran, kamu yang datang tapi banyak minta ini—itu! kamu menghabiskan waktumu sendiri!" tegas Dicky


Aku membuang napas kasar, harus sedikit bersabar menghadapinya demi kepentinganku.


"Hh! baik. Memang gak mudah ya bicara dengan kamu, tapi oke lah ... aku kesini ingin mengajakmu berdamai, jangan lagi ada dendam atau sikap yang tidak menyenangkan antara kita berdua, tidak sulit 'kan?"


"Tidak sulit, bukannya selama ini aku cuma mengerjaimu sesekali, toh ... kamu selalu ada perlawanan, dimana letaknya aku terlihat jahat?"


"Jahat—lah! beberapa kali sikapmu nyaris merusak hubunganku dengan Brian, padahal aku gak pernah menolak permintaanmu di kantor, kopi lah ... apa lah ... jangan keterlaluan! terakhir kamu berusaha mendekapku dalam mobil, apa itu bukan kurang ajar namanya!" jelasku sambil meninggikan suara.


"Munafik! lalu siapa yang tiba-tiba merenung saat pacarku datang, hm? sudahlah San ... aku tau betul kamu kok"


"Dan aku juga tau betul bagaimana kamu!" jawabku cepat.


"Sepertinya kita berdua masih ada hati ... gak lelah berpura-pura begini?"


Dicky membungkukan sedikit tubuhnya sambil memandangku dengan tatapan yang dalam.


"Jangan memulai ... kita sedang bernegosiasi, bukan bicara tentang perasaan!"


"Ngaku!"


"Hh! apanya!?"


"Kamu masih mencintaiku!"


"Gak!"


"Maa—sa ..." ejeknya.


'Ya tuhan ... dia menguji kesabaran' batinku


"Hhh ... aku mau menikah!"


Wajahnya nampak terhenyak, tapi tetap berusaha terlihat tenang dihadapanku.

__ADS_1


"Hahaha ... secepat itu?" jawabnya dengan tawa paksa.


"Ya! jadi kita usaikan permasalahan kita, aku gak mau lagi hidupku terganggu" tegasku.


"Hmm ... gimana ya ..." Dicky mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuk pada lututnya, kembali menyandarkan perlahan punggungnya pada sandaran kursi, "aku ... belum puas bermain-main denganmu"


"Dic, apa lagi .., aku lelah ... sumpah ... " tanpa kusadari suara ku sedikit bergetar, hingga tak sanggup kutahan kuat agar tidak sampai menangis di hadapannya, akupun tertunduk memejamkan mata.


Aku kembali membuka mata seraya mendongak saat kudengar langkah mendekat ke arahku, terkesiap melihat Dicky berdiri dihadapan sambil memperhatikan sikapku.


"Kamu membingungkan ..." ucapnya dengan lebih tenang, "akupun bingung dengan diriku sendiri ..." Dicky membungkuk kearahku yang tengah duduk dalam keadaan sedikit was-was, meski wajahnya tidak menunjukan ekspresi mengancam, aku harus tetap berjaga diri dengan spontanitasnya.


Perlahan ia turun dan duduk memeluk lutut dihadapanku, ia menunduk kemudian kembali menatapku dalam.


"Jangan dekat-dekat!" cegahku.


"Aku gak akan macam-macam ... gak perlu panik" bisiknya pelan "sampai detik ini aku tidak benar-benar bisa membencimu, sangat disayangkan ..."


"Kenapa harus menanamkan kebencian, masa lalu kita adalah kesalahpahaman yang kau yakini terus-menerus, mari kita sudahi ... jangan buat berlarut-larut ..."


Dicky membisu ... ia menggenggam erat kedua tangannya sendiri dan menunduk, tiba-tiba terlihat ia mengusap hidung dengan punggung tangannya, dia menarik napas dalam sesekali.


Kami terdiam beberapa saat, kemudian ia menyeret posisi duduknya lebih maju dan menaruh dahinya di ujung lututku dalam posisi dudukku saat ini dikursi itu.


Aku mencoba mendorong kedua bahunya agar Dicky sedikit mundur dari posisi tidak nyaman untukku ini, tapi ia menahannya lebih kuat bahkan nekat menaruh kedua tangannya dan menelungkupkan wajahnya diujung pangkuanku.


"Dic, jangan begini ..." pintaku.


"Dic ... kamu harus ngerti ... aku akan menjadi milik oranglain, mulailah belajar menjaga sikap" tegasku.


Dicky mendongak memandang mataku seketika, wajahnya terlihat memerah, diselimuti peluh tipis. Ada apa dengan perasaannya kini akupun tidak ingin mencoba peduli, jika semakin dalam kucoba peka dengan situasi ini, pasti saja tidak tega melihat wajahnya yang nampak sedih dengan sorot mata yang redup, tanpa keceriaan.


"Kamu harus tau sesuatu ... ini mungkin hanya perasaanku. Tapi ... aku selalu merasakan ikatan emosional yang kuat terhadapmu, jangan disangkal lagi, kamu juga begitu 'kan?"


"A—aku ... aku ... "


"Berat 'kan? itu tandanya kita sama!" ucapnya memastikan kegugupanku.


"Dic, kita luruskan niat pembicaraan ini, itu dulu ... aku memang pernah mencintaimu, tapi perasaanku sudah berpaling pada Brian, dan aku memilihnya. Kamu pun punya Eva, jadi jauhkan pikiran-pikiran untuk membahas masa lalu kita ..." ucapku lirih.


"Kenapa sih masih menyangkal? sekuat apapun kamu menghindari pertanyaanku, aku paling tau bahwa kamu tidak bisa berbohong!"


Bagaimanapun Dicky memang bukan orang yang asing bagiku. Meski dia bukan seorang yang ahli membaca perasaan, dia pun tau kapan aku terlihat ragu dengan pikiranku sendiri.


Aku terdiam sesaat, Dicky pun bangkit dari duduknya dan berusaha meraih tanganku yang secepat mungkin kucoba hindari. Tapi kali ini dia tidak memaksa lebih dengan sikapnya.


"Dic, gak ada deh aneh-aneh. Dari awal kita tujuannya adalah berdamai, tapi jangan sedikitpun bersentuhan!"


Aku sedikit mengerucutkan posisiku dikursi, mencoba menjauhi diri dari sentuhan tangannya.


"Kita berdamai, tapi kita menikah lagi!" ucapnya cepat dan sedikit nada memaksa.


"Kita gak pernah menikah! ga—k pernah! pernikahan kita dulu tidak sah secara agama!"

__ADS_1


"Ya udah, kita menikah yang sebenarnya kali ini ..."


"Heh, bisa waras sesekali gak sih Dic, aku mau menikah—dengan Brian, bukan kamu! menikahlah dengan Eva!"


Aku meninggikan suara, menegaskan bahwa situasi telah berubah jauh dari masa lalu kami, menyadarkannya tentang perasaan yang tidak mungkin tumbuh kembali.


"Hahaha ... Eva hanya sebagai perantara kekesalanku untuk membalas kamu, terbukti kamu cemburu" ucapnya yakin.


"Darimana kesimpulan macam itu, aku hanya ..."


"Merasa kehilangan! 'kan?" ucapnya memotong kata-kataku.


"Sudahlah, kita bicara lain kali, atau sebaiknya aku tidak perlu izin sama kamu! minggir!" aku berusaha mendorong tubuhnya di hadapanku, namun hanya sedikit bergeming.


"San!!" Dicky menahan lenganku dan cepat kutangkis tangannya, spontan aku melompat dari sisi samping kursi menghindari dirinya yang bisa saja memenjarakan diriku di kursi itu.


Nyaris ia kembali menangkap tanganku lagi hingga terpaksa kulayangkan tamparan keras ke bagian pipinya.


PLAKK


Aku berlari cepat keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi.


***


POV Author


Dicky berdiri tertegun menghadapi sikap Susan yang berani melawannya tanpa rasa ragu lagi. Ia perlahan kembali menutup pintu sambil tetap memandang ke arah Susan yang berlari masuk ke dalam rumahnya dengan cepat.


Sesaat pintu tertutup perasaan hancur itu datang kembali setelah sekian tahun, saat ia pernah mengucap talak kepada Susan. Lututnya terasa lemas dan ia terduduk bersandar dibalik pintu, hingga tak terasa bulir airmata jatuh setetes dari sudut matanya.


Ia terdiam beberapa saat, dan perlahan lebih tenang, sudut bibirnya kini mulai terkembang perlahan.


"Haha. Hahaha ... Ha—hahahaha ... " tawa nya yg sedikit demi sedikit mulai lebih kencang lagi sesaat ia meraih ponsel dalam sakunya.



Kemudian ia mengusap jarinya pada layar ponsel.


CCTV Paused


.


.


Bersambung


Like Trailer My Complicated Love ku yaaa, receh krn masih coba2, ni aku share buat yg pnasaran penampakan kisah mereka di season 2 ini, tp blm pasti kejadiannya begitu🤭, cm biar feel pembaca ada ttg mereka. aku akan cb buat visual terus selama ketemu scene nya dengan wajah mereka. jd ikuti terus yaaa ... 😘😘😘


btw aku ga bs like komen kalian sementara kendala sensitif hp ku , jadi aku akan balas komen kalian dan cb balik like, baca tulisan kalian bertahap, Real Life tdk bs ditinggal 'kan? 😊😘


ini Link Trailernya : dr FB Arw Author, selamat menikmatii


https://www.facebook.com/sue.elritchie.5/videos/215905450337255/

__ADS_1


__ADS_2