
...'Perjalanan kami cukup membosankan, entah apa yang dipikirkan Brian, kepekaanku timbul karena rasa nyaman berubah menjadi kehampaan'...
Susan mengerucutkan diri pada kursi, menyandarkan pelipis pada kaca jendela mobil disebelahnya. Pandangannya menyapu setiap lalu lalang kendaraan yang melaju dalam kecepatan, tapi pikirannya tak bisa menghindar dari situasi canggung saat ini.
Brian melirik tipis kepada sosok kekasih disebelahnya, rasa iba perlahan muncul tanpa alasan lagi untuk tetap diam. Brian mencoba melepaskan ego tentang kemarahannya pada kejadian tadi pagi.
Tangannya menggapai pelan ke kursi sebelahnya, meraih ujung rambut yang terurai di bahu Susan. Mengusapnya pelan.
"Kamu sudah sarapan?"
" 'Dah" jawab Susan singkat.
"Huuuff ... temani aku ngopi ya?" tanya Brian.
"Hm!"
"Sebentar aja kok ... " Brian membujuk pelan
"Dari tadi aku kan temani kamu, kamu yang gak anggap aku ada, kok" jawab Susan ketus.
"Aku agak lelah ... " Brian tersenyum tipis
"Pantas mood nya begitu"
"Ini bukan soal mood, maaf ... soal tadi"
Susan terdiam tidak menjawab, tak sedikitpun menoleh.
Kendaraan menepi pada salah satu Cafe dan Resto yang terdapat di sisi jalan.
Mereka berdua duduk berdekatan pada salah satu kursi di dalam ruangan Cafe dan Resto itu, dengan lampu temaram yang mencerminkan suasana romantis, bagi pasangan yang tidak sedang berselisih tentunya. Tapi cukup untuk mencairkan suasana hati mereka berdua.
"Kopi? sejak kapan kamu ngopi?" tanya Susan yang tidak pernah melihat Brian meminum kopi, selain teh, air putih, dan susu.
"Ya, baru beberapa minggu ini, kenapa?" jawab Brian sambil menyeruput kopinya.
"Gak, gak apa-apa. Tau begitu tadi kubuatkan dirumah"
"Lalu?"
"Cuma beli kopi, ke Resto?"
"Mereka jual, kita beli. Masalahnya?"
"Gak lah, horang kayah mah bebas" ejek Susan.
"Pesanlah sesuatu, nanti lapar, Dear ... "
"Kan tadi kubilang aku sudah sarapan 'Bri ..." jawab Susan ketus.
"Marah?" tanya Brian pura-pura acuh.
" .... " Susan diam tak menjawab.
"Kok diam?" tanya Brian pelan menatap ekspresi Susan.
"Yang dari tadi diam selama perjalanan siapa?"
"Aku? ... Enggak." jawab Brian acuh
"Oh, kalau cuma mau minum kopi kita ke warkop aja deh"
"Warkop? yang ada kursi-kursi kayu itu 'kan?"
"Ya ada 'lah, emangnya cuma kafe dan resto aja yang ada kursi nya"
"Iya, yang ada pramusaji nya kan?"
"Duh, apa sih 'Bri ... , salah tempat nih"
"Tempat gak pernah salah, yang salah kita yang datang"
"Yah, Ini nih ... aku gak tau ya kamu udah berapa lama di Indonesia atau gak pernah keluar selain kerja ... aku harus bilang apa coba ... " gerutu Susan.
Brian tersenyum tipis sambil melirik kearah Susan.
"Hmm ... bete ya?"
" 'Dah—lah"
"Hahaha," Brian tertawa kemudian menarik lengan Susan dan merangkulnya dari samping "ya maaf, ... aku bercanda"
__ADS_1
"Kesel aja ... dari tadi ... " Susan tersenyum simpul menahan kesalnya.
"Aku jawab sesuai 'kan?"
"Ya tapi gak gitu!" gumam Susan manja.
"Yaa ... yaa ... sudaah ... " Brian mengacak-acak rambut Susan.
"Huuuh ... "
Brian kembali menyeruput kopinya.
"Jadi ... Warkop itu jualan apa?"
" ..., aku tunggu di mobil!"
****
Mereka melanjutkan perjalanan kembali dalam suasana hati yang lebih baik. Beberapa kilometer jarak perjalanan dari lokasi Resto tadi kendaraan mulai melambat saat mulai mendekat menuju lokasi.
Pandangan mereka disambut oleh jajaran bangunan Villa yang beragam gaya eksterior dan warna saat memasuki jalur yang lebih kecil dari jalan Raya tadi. Sampailah mereka pada sebuah bangunan yang separuh tertutup tembok dengan gaya minimalis.
Terdapat satu mobil terparkir dalam garasi yang sedang terbuka saat kendaraan mereka memasuki gerbang dari bangunan Villa tersebut. Ternyata Adam dan Leo pun belum lama sampai.
Adam menyambut kedatangan Brian dan Susan.
"Bos!" sapa Adam saat mobil memasuki lokasi dan menepi untuk parkir.
"Bas—Bos—Bas—Bos ... " gerutu Brian sambil menarik rem tangan, memandang dari dalam mobil.
"Ini, Bos? Hahaha " ejek Susan sambil tertawa puas.
Brian melirik kesal ke arah Susan.
"Jangan ikut-ikut ..." ucap Brian ketus.
"Impas!"
"Hm! ah ... sesuai ekspektasi ... " gumam Brian.
"Wow, makasiii ... Bos tampan ... "
"Sudahlah Sue ... , ayo" Brian meraih tangan Susan "Our Villa"
"Belum lah 'Bri ... "
Brian hanya tersenyum kemudian menyapa Adam yang segera menghampiri dan memberikan kunci akses seluruh ruangan dalam Villa itu.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Brian sambil memandang sisi luar bangunan.
"Masih sama, sedikit perbaikan karena lama tidak di huni"
"Serem dong ya 'Dam?" tanya Susan mencoba membuka pembicaraan semenjak seminggu lalu pertemuan dengan Adam.
"Haha, mungkin Nona" jawab Adam dengan sedikit tawa.
"Takut? katanya tomboy ... " goda Brian.
"Lain hal dengan yang satu itu kan 'Bri!" gumam Susan
"Aku masih ingat kamu sebut aku Yeti, jadi jangan takut sama hantu, kamu aja galak sama aku"
"Galak, makanya jangan jail"
"Hahaha ... "
Mereka ber-empat memasuki Villa bersama-sama untuk melihat interior dan kondisi furniture yang sudah tersedia beberapa. Lelah berkeliling ruangan, mereka duduk bersama di salah satu ruangan. Berbincang-bincang seputar rencana perbaikan Villa tersebut, beberapa ide untuk ruangan yang kurang fungsi turut menjadi pertimbangan, hingga waktunya makan siang, Brian meminta Leo dan Adam untuk membeli makanan keluar dan beberapa cemilan di mini market.
Tidak berapa lama kedua Asistennya pergi, Brian merebahkan diri di salah satu sofa panjang, menaruh kepalanya dipangkuan Susan. Sedikit demi sedikit membuka permasalahan sesungguhnya yang ingin ia ketahui langsung dari mulut Susan.
"Salah satu syarat sudah kulakukan, tapi belum aku sampaikan ke kamu" ucap Brian sambil menengadahkan kepala memandang Susan.
"Ya ... sebenarnya itu ... akan bisa kamu lakukan kalau saja bisa punya waktu lebih, tergantung niat sih"
"Bicara niat, aku yang kelihatan kurang niat 'kah?"
"Iya ... aku ngerti 'Bri ... cuma ... akuu ..."
"Masih ada yang mengganjal 'kan?"
__ADS_1
"Hm ... gak, sejujurnya nggak seperti itu. Hanya ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan"
"Aku mengambil keputusan tercepat supaya masalah bisa bertumpu pada solusi, tapi yang kulihat kamu ... semakin hari memberi sikap tidak wajar"
"Tidak wajar gimana?"
Brian bangun dari rebahnya dan kembali terduduk disebelah Susan.
"Langsung saja, kita sama-sama tau apa yang sedang ingin aku bicarakan sejak awal"
"Mengenai?"
"Siapa Pria itu" ucap Brian dengan nada dingin.
"Pria apa? 'Bri, jangan ambigu" Susan mengernyitkan dahi.
Brian melirik tajam dan kemudian berbalik menghadap Susan.
"Aku tidak perlu mengulang dua kali kan?!" bentak Brian meninggikan suara.
Mata Susan terbelalak mendapati Brian yang jauh dari sikap sabarnya, tatapannya yang tajam dan wajah yang mulai memerah seperti menahan amarah besar sekian lama.
PRANNGG
Sebuah vas kecil yang menjadi pemanis meja dihadapan mereka kini terhempas karena tepisan tangan Brian yang mulai terpancing emosi. Terpental jauh dan hancur membentur lantai hingga berserakan.
Susan semakin bergetar ketakutan melihat kemarahan Brian yang sempat dikatakan Adam bisa muncul tidak terduga.
"Aku gak pernah meragukan kamu sebelumnya, tapi se—jak kemunculan Pria misterius itu sikap yang kamu tunjukan sangat lain denganku!"
"Bri ... apanya yang lain?? a—aku ... "
"Kamu tunanganku, dia hanya mantanmu!" bentak Brian.
"Ya! dia Dicky, 'Bri! aku ingin mengatakannya jika tepat saatnya" jelas Susan.
"Apa? sedang belajar menyembunyikan sesuatu dariku?" Brian menurunkan volume suaranya, nyaris seperti berbisik pada ruangan yang menggema.
"Aku akan menanganinya sendiri!" ucap Susan sekuat tenaga menguatkan getaran suaranya.
Brian menunjuk lurus ke arah vas tadi. Dan mendekatkan wajahnya ke telinga Susan sambil berbisik.
"Kamu lihat vas itu?? aku akan menghancurkan masa depannya seperti itu ... kecuali jika kamu yang ingin aku yang hancur seperti itu pula, pilihlah!"
"Hhh ... hhh ... " napas Susan semakin berat tidak stabil menahan ketakutan yang begitu besar menghadapi Brian yang sempat bersikap kasar "aku —aku akan ceritakan 'Bri ... s—sabarlah ... " wajah Susan yang memerah kini dialiri tetesan airmata yang jatuh tanpa terasa.
"Dan jangan sekalipun aku tau jika Dicky benar-benar menyentuhmu! atau ... kubiarkan namanya tertanam di hatimu tapi jasadnya terbenam jauh dalam tanah oleh tanganku sendiri"
"Bri ... wake up! aku gak akan kemana-mana!" Susan menangkup kedua belah pipi Brian. Berusaha menegaskan maksudnya.
"Aku tau betul bagaimana mantanmu! dia orang yang siap bertindak kapanpun dia mau! aku menahan diriku untuk bertanya berharap kamu jujur sejak awal. Kenyataannya, kamu memilih bungkam"
"Aku minta maaf, benar-benar maaf 'Briii ..., aku hanya butuh waktu ... " Susan menaikan kedua kakinya diatas sofa dan meringkuk menutup wajahnya, bergeser menjauhkan diri dari Brian di sofa itu. Menangis kuat dan semakin takut menghadapi kekasihnya kini.
"S**t!!" Brian mengumpat keras, duduk kembali menjauhi Susan, kemudian mengusap wajahnya sendiri "kamu tidak tau rasanya menyimpan rasa seperti ini 'Sue ... bahkan sengaja kuselesaikan masalahku sendiri tanpa menyentuhmu, sedikitpun ... tidak seujung jari pun ... hanya untuk melindungi kamu, tapi ini yang kudapatkan ... " gumam Brian sedikit merenung.
Brian menoleh kembali melihat Susan yang masih dirundung ketakutan dan tangis yang begitu dalam, menjadikan saat ini adalah hal terburuk yang ia alami selama hubungannya dengan Brian.
Brian kembali cepat bergeser mendekati dan meraih tubuh Susan, memeluknya erat memberikan kembali perlindungan dan mencoba menenangkan.
"Maafkan sikapku, berhentilah menangis ... jangan takut padaku ..." bisik Brian.
"Aku sadar memang aku yang salah ..."
"Aku sudah berhasil menghilangkan trauma hidupmu, tolong jangan sampai terulang lagi"
"Aku mengerti ... "
"Ini sekian kali kamu membantunya lolos, satu kali lagi aku mendapati info tentang sikap buruknya terhadapmu ... jangan harap bisa kamu lihat wajahnya lagi, dia tidak akan kubiarkan kali ini ... " ucap Brian dengan nada dingin.
Susan membenamkan wajahnya dalam pelukan Brian, perlahan memudarkan tangisnya sesaat tadi. Brian terus mengusap halus punggung Susan.
"Ceritakan dengan jelas ... Tanpa kecuali." ucap Brian dingin.
'Tidak mungkin kukatakan Dicky berhasil menjebakku kemarin ... tapi aku tidak berani berbohong lagi' batin Susan.
.
.
Bersambung
Bimbang ya ... mereka gak selingkuh, Susan berjuang menghindari Dicky yang terus mengganggu dengan ancaman, karena sekali aja Brian bertindak cepat, Dicky gak akan lolos lagi. Dan Susan seperti biasa ... atas dasar gak tega karena dulu selalu menyia-nyiakan Dicky, hingga Rasa bersalah masih sangat tertanam bagi Susan.
__ADS_1
Saan san, kasih Thor aja san. Tak' unyeng2 si Dicky.