
Pria ini sigap menangkap lengan dan meraih punggungku saat berbalik dan terkejut akibat kurang keseimbanganku karena pantovel ber-hak 5cm yang ku gunakan. Sangat berbahaya memang kalau tidak segera ditangkapnya karena posisiku yang tepat sekali berdiri di belakang jendela kaca full di ruangan pada lantai 21 itu.
Tepat wajahku kini berada menempel pada dada bidangnya yang tertutup kemeja berwarna biru muda. Wangi parfum yang khas kukenal semakin mengembalikan masa terdahulu.
“Kak—Brian?” aku mendongakan kepala melihat wajahnya yang menunduk tersenyum melihatku dalam pelukan tangannya.
“Kamu berbeda ... ” ia mengusap rambutku dengan halus.
“Kenapa kakak bisa ada disini?”
“Aku sudah kembali ... “
Waktu seakan terhenti sesaat tidak ingin berjalan lagi pada saat ini seperti berulang kembali pada lima tahun yang lalu, hanya bedanya kami berdua sudah sama-sama lebih jauh dewasa.
Kalau saja security lantai kami tidak masuk memanggil mendadak entah berapa lama kami tenggelam dalam momen itu.
“Bu Susan ... ” Pak security melongok dari luar pintu yang terbuka sedari tadi.
Aku tersentak segera melepaskan diri dari pelukan kak Brian, dan berjalan ke arah pintu menghampiri pak security yang muncul tiba-tiba tadi, sedangkan kak Brian pun langsung berpura-pura menatap keluar menghadap ke arah jendela, sedikit salah tingkah.
“Eh maap Ibu ... ini kalau nanti ruangan mau dikunci apa Ibu yang mau pegang kuncinya apa saya tunggu saja Bu, sudah jam 6 Sore.”
“Astagfirullah jam 6 ya pak ... aduh sudah pada pulang ya teman-teman saya?”
“Ehh ... eh ... ya Bu “ pak security nampak bingung menjelasakan sesuatu.
Aku semakin maju berjalan keluar ruangan dan kutemui beberapa temanku bersandar didinding luar ruangan meeting itu sedang tertawa kecil sambil bersembunyi.
“Heh!! ngapain pada disini ya ampun kalian itu ... “
“Bu Susan ... gimana Bu Susan ... ganteng gak ... kok lama banget hahaha “ Ocha tertawa menggema pada lantai yang sudah mulai kosong dari para pegawai saat itu,
“Lagi asik cha, udah biarin aja yuk pulang, biar dikunciin aja Pak security ya, orangnya didalam suruh camping” ejek Rio seperti biasa.
“Kalian tuh apa-apaan deh” aku yakin wajahku sangat merah karena menahan malu. “aku lagi ... ngobrol kok”
“Saaayy ya ampun, itu lama loh ... aku bertiga sama ocha dan rio bisa sempet liat kalian dari jendela, itu ngapaaiiin kok bisa dipeluk gitu sih, coba kalau Agent yang ngeliat dikira ngapain hahaha” Haya ikut berkomentar tentang momen yang mereka intip tadi.
“Ehh jangan miskom, tadi aku mau jatuh karena hak sepatu aku” mencoba memberi penjelasan yang nampak sia-sia saja.
__ADS_1
“Deeehh halaaahh ya udah ya ... tidak menerima alasan hahaha, sudah ah yuk balik yuk Bu Haya ... Pak Rio kita biarkan Bu Susan dalam romansa hahaha, besok cerita ya cooong ... “ ejek Ocha.
“Ihh apaan sih !” aku tertawa malu mendorong Ocha agar segera pergi dari lokasi.
“Eh say, tapi kok mukanya memang familiar ya” ucap Haya sedikit curiga.
“Iya besok aku cerita, atau nanti malam ya Beb aku WA kamu”
”Hahaha oke, dah ya aku duluan sayaang ... muaccch”
Haya, Ocha dan Rio berjalan terburu-buru menuju lift yang terhenti pada lantai itu, biasanya berebut karena selalu penuh di jam pulang kantor pada gedung itu.
Aku menerima kunci ruangan dari pak security untuk kukembalikan nanti, dan kembali masuk ke ruangan meeting menemui kak Brian yang tengah memasukan laptopnya untuk segera kembali pulang.
“Kak, sudah mau pulang?”
“Ow, ya ... kamu masih lama?”
“Eh ... masih mau cek beberapa catatan hasil meeting kakak tadi disini”
“Hm ... okay”
“Aku—aku ke ruangan dulu ya”
Aku berjalan cepat kembali ke ruanganku merapikan beberapa berkas hasil Meeting yang diletakkan Haya dimeja kerja ku dan kuesioner peserta Trainingku menghitung kesesuaian dengan jumlah absensi tadi. Selesai dengan segala kepentingan tadi tidak terasa sudah 10 menit selama aku di dalam ruangan, aku meraih tas hitam kecilku, berjalan dan melambaikan tangan kepada beberapa orang teman-teman tim IT dari seberang ruanganku. Kuhampiri ruang meeting ternyata kak Brian memang sudah pulang, dan ku kunci ruangan itu lalu kuserahkan kembali pada security.
Saat berjalan menuju lift, seseorang mengikuti dari belakang.
“Aku pikir kamu lama, aku tunggu di dekat ruang training tadi”
“Loh, eh kakak bukannya sudah pulang tadi?”
“Aku menunggu kamu pulang, kita pulang sama-sama ya” meraih dan menggenggam tanganku, memindahkan blazer yang kupegang ke tangannya.
Aku sedikit terhenyak dengan sikapnya kini jauh lebih berani mengambil sikap ketimbang dulu, sambil berpikir apakah terlihat profesional kalau begini, sedangkan dia adalah partner yang bekerja sama dengan perusahaan kami.
“Eh ya kak, tapi memangnya kakak ... “
“Sudahlah, kita bicara sambil makan malam dulu bagaimana?”
__ADS_1
“Eh ... ya baiklah”
‘Apa yang aku rasakan ini sangat aneh, sedangkan aku selama ini selalu memposisikan dirinya seperti kakak pelindung di masa lalu, tapi sejenak hal itu membuyarkan statusnya bagi diriku saat mengingat terakhir kali pertemuan dulu saat ia menciumku ... apakah ini suatu kebetulan bertemu dengannya lagi?’
Kami memasuki lift dan turun ke lantai basement arah parkiran dengan tangan yang tidak terlepas tergenggam satu sama lain. Hanya sesekali ia lepaskan saat menekan tombol lantai dalam lift dan ketika ia mengambil kunci kendaraan dalam sakunya.
****
Dalam perjalanan yang cukup macet kala itu, sesekali aku melihat ke arahnya yang sedang mengemudi disebelahku, rasa penasaran ingin berbicara jauh lagi tentangnya tapi entah kenapa berat sekali karena diliputi rasa malu dalam hati.
“Ada yang ingin kamu tanyakan?”
“Kak ... eh ... “ sejenak berpikir basa-basi tapi segera kak Brian memotong kata-kataku.
“Sebentar, boleh aku minta sesuatu?”
“Meminta apa? minta tolong lagi ... hahaha”
“Hahaha kau masih ingat rupanya, maaf kalau aku banyak meminta, tapi ... mulai sekarang jangan panggil aku ‘Kakak’ lagi, ya?”
“Kenapa? kan usia kita memang jauh, aku berusaha menghormati seperti kakak meminta untuk dipanggil begitu dari awal ... daripada ‘Bapak’ ya kan hahaha”
“Tidak ... hanya saja ... kita sudah sama-sama dewasa, kamu pun bukan mahasiswi ku lagi, kenapa masih formal? call me Bri ... okay ... “ ia melirik tersenyum sambil mengusapkan tangannya lagi dipucuk kepalaku.
“Bri ... just Brian?”
Ia mengangguk pelan kembali fokus mengemudi.
“Yah, bagaimana ... tadi mau bicara apa?”
“Eh ... sebenarnya tadi ... aku mau ke mushola sebentar tapi jadi lupa, boleh kita cari masjid sebentar ehh ... ,Bri? takut waktunya habis”
“Oh! maaf ya ... kalau begitu kita cari yang terdekat saja”
“Makasih kak ... eh maksudku Bri ... “
“Hm? mulai sekarang biasakan lah ... “
.
__ADS_1
.
Bersambung