
Motor itu berhenti tepat di depan rumah ku, selama perjalanan tidak sempat protes dengan kecepatan laju motor yang membuat jantung berdebar dengan hebat akibat pengemudinya yang tidak memperdulikan bahaya pada kecepatan.
'Sepertinya Dicky terlihat sangat marah melihatku tadi dengan Adi dan se-posesif itu sikapnya terhadapku, namun kenapa ekspresi wajahnya kini lebih tenang ketimbang tadi ... senyum konyolnya nampak lagi' batinku
Aku turun dari motor dan mengembalikan helm itu ke Dicky.
Dicky melepas helmnya dan merapikan rambut coklat yang terjuntai tipis didepan wajahnya, potongan rambut barunya yang diterpa sinar lampu jalan itu terlihat berkilau.
'Sial, dia berpose!! biar kamu memang berniat tebar pesona didepanku, baru kali ini dia terlihat sangat tampan' batin Susan.
Tiba-tiba muncul suara kaset kusut dipikiranku.
'Iiishhh apa sih! ternyata dia memperhatikan ekspresiku'
"Kenapa??" Dicky tersenyum "Jangan lihat lama-lama nanti kau mimisan, pesek!" mendorong hidung ku dengan telunjuknya.
"Jadi kau seminggu menghilang hanya untuk potong rambut, alasan menjemputku tadi cuma buat pamer begini" Aku melipat tangan didepan dada dan mengembalikan kesadaran kalau itu cuma seorang Dicky.
"Potongan rambut apapun untuk orang tampan sepertiku memang tak ada batasnya" ucap Dicky, tersenyum bangga.
"Uh, tampan! faktor beruntung saja karena kamu keturunan bule! waktu pembagian tampan kayanya kamu begadang ambil antrian paling depan!"
"Hahaha ... kalau cuma faktor beruntung wajahmu tidak akan memerah seperti itu lah, San" Dicky tertawa puas.
"Apa sih gak jelas, sudah... aku mau masuk ke dalam "
'Rasanya seperti ditampar bakiak, malu sekali ini'
"Hahahaha ... Saaaan ... San" Dicky menggelengkan kepala dan masih tertawa puas sambil menenteng motornya masuk ke halaman arah rumahnya.
****
Dicky terlupa menyampaikan sesuatu dan berniat kembali memanggil Susan. tapi Susan sudah terlanjur masuk kedalam rumah.
'Baiklah ... biarkan ini menjadi kejutan ... aku akan membuatmu enggan meninggalkanku lagi' Dicky tersenyum-senyum sendiri dengan rencananya.
Susan berjalan menuju masuk ke dalam rumah tidak ingin banyak berpikir lagi tentang Dicky.
"Assalamualaikum ..." sapa Susan, langsung masuk kerumah menyeret kakinya serta ransel dengan lunglai, tersentak kaget karena menemui pangeran tampannya yang sudah kembali ke tanah air sedang duduk dan bercakap-cakap dengan orangtua Susan. "Eli??? "
"Oh Hi ... you're back" Eli bangun dari duduk dan membentangkan tangannya untuk memeluk.
"Aaaa ... kamu dari kapan disini?" Susan juga menghampiri tanpa sadar saking senangnya.
"Eee heemmmm ... " Mama berdehem dan bangun dari duduknya.
Susan menghentikan langkahnya begitu juga Eli yg menurunkan tangannya drastis, tidak berani memeluk.
"Duh, mama haus ambil air dulu ya, Susan ... salin baju dulu sana ... "
"Eehh iya iya 'mah, santai ... hehehe ... "
__ADS_1
Susan bergegas berjalan ke menaiki tangga untuk ke kamarnya sambil tersenyum-senyum sendiri, berbenah diri, mandi dan berpakaian rapi, tidak ingin berlama-lama membuat pangeran menunggu.
****
Susan sudah terlihat rapi tapi tetap menggunakan kaos oversize favoritnya serta celana jeans. menuruni tangga dengan berlari nyaris menabrak kak Edo yang sedang menuju kamarnya.
"Ettttsss ... santai dong ... buru-buru amat" kak Edo memperhatikan adiknya.
"Hehehe sorry kaaakk ... sudah sana! ganggu-ganggu saja" Susan mengusir kak Edo yg terhenti ditangga.
Terlihat Eli sedang duduk asik memainkan ponselnya.
" Hei, seru sekali." Susan tiba-tiba mengagetkan Eli.
"Oh hahaha ... nothing" mematikan ponselnya. "apa kabar kamu ... masih lelah habis latihan ya?" tersenyum manis.
"Gak ... gak lah ... hanya latihan sebentar kok ... "
'Padahal lelahnya minta ampun ini lho ... rasanya hilang sekejap melihat mata biru itu' Susan, mengambil duduk di sofa lain yang berdekatan dengan sofa Eli.
"Hmmm ... jam berapa ini ya ... " Eli melirik jam tangannya "kira-kita terlalu malam tidak kalau aku ajak kamu keluar? ehhhh tapi ... i'm okay, if you ... "
"Gak ... gak kok, mau kemana kita?" sambut Susan cepat.
"Benar nih? ya sudah, kita lihat saja nanti" Eli mengedipkan sebelah matanya ke Susan yang jadi tersipu malu. "Oh iya aku sudah izin ke mama kamu by the way, aku juga bilang Zac dan Edo nampaknya mereka juga mau ikut"
'Hiiiiiiii si kakak galak mau ikut juga!' ekspresi Susan berubah tersenyum berat tapi berusaha tidak memperlihatkannya pada Eli.
"Iya ... iya ... kak Edo dan Kak Zac mau ya" terlihat semangat
Eli berbisik mengecilkan intonasi suaranya. Bergeser duduk lebih merapat mendekati telinga Susan.
"Padahal kalau tadi tidak diizinkan aku rencana bawa kabur kamu saja tadi"
'Aaaaaaa kuterkam juga mahluk ini' Susan.
'Hormon yang berbicara itu lho bukan aku. Serius!'
"Hahaha ... tidak ... mana berani aku"
'Iiiiiisssh orang ini minta dijambak' Susan
"Hehe iya lah, iya ... kak Edo kan kamu tau sendiri" kecut.
Meraih tangan Susan dari samping.
'Tanganku dingin' batin Susan
" Bukan itu maksudnya ... bagiku Perempuan seperti kamu kan harus kuminta dengan sopan ... " Eli tersenyum manis sambil memandang ke arah mata Susan.
'Gila! aku bisa gilaaa ... tolong psikolog toloooooong ... orang ini juara gombal sekecamatan!' batin Susan.
__ADS_1
"Eee heemm !" Kak Edo pun datang sudah berganti pakaian, sempat melihat Eli yang memegang tangan Susan.
Eli melepaskan genggamannya.
"Yuk! kemalaman nanti kita" tambah Kak Edo datar melirik dingin ke arah Eli dan berlalu keluar ruangan.
Susan dan Eli yang canggung sempat saling melirik satu sama lain melihat kak Edo bersikap tiba-tiba dingin.
"Okay" Eli bangun dari duduknya diikuti Susan dan berpamitan kepada mama papa didalam.
****
Kami berjalan menuju mobil, dan masuk ke dalamnya, Kak Zac duduk di posisi kemudi didampingi Kak Edo yang duduk di depan. Adik-adik duduk di belakang saja, mantapp!
Tenaaang ... mereka tetap duduk berjarak sesuai peraturan pemerintah.
Sebelum berangkat Eli meminta sesuatu kepada Susan.
"Sue, eh ... boleh matikan ponselmu saja?"
"Ahh iya ... tapi kenapa El?" Susan meraih ponsel dari dalam tas dan mematikannya.
"Tidak ... tidak apa-apa ... nanti kamu tau sendiri"
"Ohhh okay" tanpa menaruh curiga apa-apa.
****
Dicky baru saja masuk kekamarnya pukul delapan karena sedari tadi dia sibuk menyiapkan sesuatu di taman belakang, bergegas mandi.
Dicky masih berlilitkan handuk dipinggangnya sambil menggosok kepalanya dengan handuk kecil, ia merogoh ponsel dalam jaketnya dan seperti memeriksa sesuatu, muncul notifikasi didepan layar yg masih terkunci.
Connection lost
Dicky dengan cepat membuka password ponselnya dan mengecek satu aplikasi di dalamnya.
Phone tracker, Inilah rahasia kenapa selama ini Dicky selalu bisa menemukan posisi keberadaan susan, tapi kali ini tidak dapat dideteksi keberadaannya, terputus.
Dicky menggoyang-goyangkan ponselnya dan berkeliling kamar seperti mencari sinyal, keluar balkon melongok ke seberang rumahnya.
Terlihat lampu kamar Susan memang menyala tapi Dicky tidak tau kalau orang yang dicarinya tidak berada dilokasi.
'Mungkin baterainya lowbatt' Dicky berusaha berpikir positif.
Dicky bersiap-siap berganti pakaian. menutupi tubuh atletisnya dengan kaos berwarna putih, melekatkan jam tangan sport berwarna hitam, menggosokan gel ke rambutnya dan menyisir rapi rambutnya yang gelap kecoklatan, memakai parfum ke seluruh tubuhnya hingga ke kaki cuma tidak ke dalam mulut saja disemprotkan wangi parfum itu.
Segera ia menyiapkan segala sesuatunya dengan nyaris sempurna menurutnya.
Hanya faktor orang yang dituju yang membuat segalanya tidak sempurna. tapi Dicky belum mengetahui itu.
Setengah berlari kecil ke arah rumah Susan memanjat ke arah balkon membawa tas kecil berisi satu pot keramik kecil berisi satu tangkai bunga putih yang cantik.
__ADS_1
Menemui calon kekasihnya ... malam ini
Menurutnya ...