My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kecurigaan


__ADS_3

'Tidak bisa kubayangkan seandainya saja Brian tau Pria tadi adalah Dicky, entah se-marah apa dia nanti, hingga bisa saja syarat lamaran dariku tadi akan dibatalkannya mentah-mentah ... '


"Aku pulang ya, kamu pasti capek seharian ini"


"Cukup capek sih, tapi lega rasanya bisa ketemu kamu, kejutannya indah, aku mau bawa semua buket bunga itu semua ke kamarku, ah!" jawabku sambil tersenyum.


"Jangan, nanti kamu dimakan ulat" ucap Brian sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Yaaah kali deh, emangnya mawarmu itu ada ulatnya? hahaha, jokes macam apa itu Bri" aku terkekeh mendengar jawabannya.


"Oh, sorry. Nggak ada ya? hahaha"


"Benar-benar ya, ini orang nggak ada lucunya, tapi yang lucu polosnya"


"Percaya aja, aku juga bercanda. Ingin lihat kamu senyum lagi aja"


"Bukan senyum lagi, aku ketawa barusan. Hahaha"


"Gimana kalau aku aja jadi ulatnya?"


"Hahaha ... hahaha ... ulat macam apa sebesar kamu, anaconda atau phyton aku percaya, Hahaha" Aku melepaskan tangannya di pinggangku, karena tidak kuat tertawa terbahak-bahak hingga membungkuk di jalan yang mulai sepi di pukul sembilan malam itu.


"Hiiiishh ... ngatain aku lagi. Apa aku harus mengecilkan tubuh biar kamu nggak menganggap aku raksasa terus?" Brian mengamatiku tertawa hingga jika saja jalan itu karpet sudah pasti aku berguling-guling di atasnya.


"Lagi ada-ada aja sih, Segala ulat lah di bunga mawar, udah begitu kamu jadi ulatnya juga, ada apa dengan dunia ... Hahaha"


"Sudah puas dengan bully nya?" Brian tersenyum dan menampakan deretan gigi kecilnya bak mutiara.


"Yak, sudah. Maaf ya, Pak Konselor hehehe. Terbayang soalnya di pikiranku" aku bersandar disisi mobil, diikuti olehnya yang juga bersandar disebelahku sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Kalau bayangin aku yang benar aja sih, jangan yang aneh-aneh, Bapak pula, aduuuuhhh ... uuugghh gemas aku" Brian menoleh ke arahku.


"Yaaa udah deh, Bri. Gimana? jadi pulang nggak?"


"Jadi, atau kita makan malam dulu sebentar keluar. Minta izin dulu sama orang rumah, gimana?"


"Gak usah deh, Bri. Aku nggak berani minta izin kalau sudah malam begini, kamu aja ya. Pulang deh, segera makan malam, nanti kamu kena sakit maag"


"Hmm ... sebenarnya aku masih mau disini sih, tapi kalau diusir ya sudahlah, aku nggak maksa"


"Aku nggak ngusir ... aku kasian aja sama kamu kalau harus menahan lapar"


"Menahan kangen juga ... " Brian melirik ke arahku, dan memegang ujung daguku.


"Hmm ... lupa ya ini jalanan umum, jangan pegang-pegang begini deh"


"Hahaha, sedari tadi aja nggak ada orang lewat, pantas dimasuki maling kawasan ini"


"Enak aja, jangan berharap maling datang kesini deh"


" ... kan malingnya aku"


"Kamu, maling? maling sebesar kamu mana bisa sembunyi, upsss ... "


"Hhhh ... nge bully lagi ... " Brian membuka pintu mobil belakang dan menarikku masuk kedalamnya. Dengan sangat cepat ia menutup pintu itu kembali.


BLAAM


Kami berdua duduk terdiam seketika setengah berhadapan. Tanpa kata ...


Ia meraih ujung daguku, menatapku dalam ...


Dan mulai mendekatkan wajahnya ...


Lebih dekat ...


Mendaratkan segala kelembutan dari bibir tipisnya


yang kubalas sebaliknya ... dengan halus ... perlahan ...


Meluapkan kerinduan kami ...


...Dan segala masalahku yang terpendam hari ini ......



...🌹🌹🌹...


Song : Capital letters — Hailee steinfield

__ADS_1


****


POV Brian


Aku menyalakan kembali ponselku hendak menunggu informasi selanjutnya tentang Pria yang selama ini sedang kucari tau identitasnya.


'Hampir saja aku gagal menguasai diri, menampakan kemarahanku sampai - sampai membuat Susan takut sikapku berubah kembali'


Segala hal yang kuketahui untuk sementara ini hanya bisa kusimpan dalam hati, tindakan selanjutnya kuserahkan kembali pada Adam dan Leo.


'Si Preman itu sudah ada di Jakarta sejak lama, tapi dimana dia sekarang ... ' batinku semakin berat dari hari ke hari.


Beberapa klien yang mengganggu kubiarkan ditangani kedua Asisten kepercayaanku, pikiran ini tidak fokus pada banyaknya pekerjaan yang kutunda demi mempercepat proses pernikahanku dengan Susan.



Pesan masuk saat aku hendak bangkit dari tempat tidurku.


'Susan ... hmm ... benar saja dia nekat menghubungiku'


Susan [ Sudah tidur kamu? ... benar udah tidur? ]


Brian [ Belum, susah ... ]


Susan [ Susah kenapa? Mau aku nyanyikan nina bobo? ]


Brian [ Jangan, nanti aku makin sulit tidur 😥]


Susan [ Oh, begitu ya. Emang sih suaraku menakutkan ya ... 😅 ]


Brian [ Pasti sedang salah mengerti ]


Susan [ Kamu itu kalau ngomong suka setengah-setengah sih, suka buat double meaning makanya aku bingung jalan pikiranmu kayak apa, uh ]


Brian [ Bukan cuma suara kamu yang membuat tidurku terganggu ]


Susan [ Lalu apa? ]


Brian [ Sudahlah, kamu tidak akan mudah mengerti bagaimana pikiran Pria ]


Susan [ Teman-temanku rata-rata Pria loh, ayo ... apa? ]


Susan [ Ditanya kok jawabnya begitu lagi? 🤔 ]


'Susah sekali menghadapi wanita cerewet ini, banyak tanya sekali dia'


Brian [ Ya begitu ]


Susan [ Oke, selalu bikin penasaran ya ]


Brian [ Kamu perlu penasaran supaya kangen selalu ]


Susan [ Kangen? kapan aku nggak kangen, kan aku yang telepon kamu terus, kamu aja yang jawabnya setengah-setengah ]


'Kirim pesan saja dia bisa sepanjang ini bicara apalagi kudengar langsung, benar-benar wanita begini buatku gemas saja'


Brian [ Perlu kuutarakan kalau aku tidak bisa tidur gara-gara tadi? ]


Susan [ Apa ya? salahku dimana? ]


Brian [ Ya kalau sudah menikah kuberi tau, thank you ... it's so amazing ]


Susan [ Bikin capek mikir aja Bri ... ]


Brian [ Sudah ya, aku mau cari Adam ]


Susan [ Gantung nih ya, oke. Dasar curang ... ]


Brian [ Sabar sedikit, nanti kuhubungi. Tidurlah 😘 ]


Susan [ Ya sudah, makasih lho udah buat aku penasaran ]


Brian [ You're welcome, selamat mimpi🥰 ]


Susan [ Ih, parah ]


Aku bangkit dari tempat tidurku, bergegas turun ke bawah, area ruang keluarga. Situasi nampak sepi tidak nampak satu orang pun berada di salah satu ruangan, kucoba menghubungi Adam tapi nampaknya sinyal sangat tidak baik akhir-akhir ini akibat hujan.


Saat aku berjalan menuju dapur, sepintas kulihat ruang kerja paman dengan pintu yang sedikit menganga.

__ADS_1


'Uh, Sial! Dia sedang bersama teman Prianya. Sangat mengesalkan menemui situasi ini berulang-ulang, entah kenapa paman lebih memilih Pria ketimbang normal berhubungan dengan wanita, untunglah tidak ditularkan padaku, menjijikan sekali'


Pemandangan itu memang sudah biasa bagiku, tapi sekali saja kulihat dia bermesraan dengan kekasih Pria nya tentu saja memuakan. Ingin rasanya segera pergi dari sini. Untuk itu aku harus segera melaksanakan persyaratan yang diajukan Ayah kekasihku tadi.


Aku mengambil air es di dalam lemari pendingin dan sebuah apel untuk sekedar mengisi perut kosong, minat makan malamku hilang melihat aktivitas paman tadi.


Aku duduk diruang keluarga yang tembus ke halaman belakang yang terdapat kolam renang, aku berdiri di sisi jendela besar sambil memandang kearah luar.


'Ada disitu ternyata Adam' cepat kuraih gelas dan apel yang masih ku makan dalam genggaman, berjalan menghampiri Adam yang sedang bersantai duduk dengan Leo dalam situasi yang tidak formal.


'Sedang bergosip rupanya dia' batinku mengendap-endap mencuri dengat percakapan mereka.


Aku menyimak keduanya yang sedang seru berbincang dengan dua botol minuman berwarna hijau gelap, kebiasaan mereka diwaktu luang setelah lelah ku suruh-suruh mencari barang dan bunga seharian tadi.


"Payah kau kalau soal wanita, harusnya belajar dari aku, jangan kau ikuti Tuan, mana ngerti dia, Hahaha'


'Kurang ajar dia sedang bergosip tentangku, pintar sekali, awas' gumamku dalam hati.


"Emm ... wanita Indonesia itu seperti apa, mereka cantik, cuma ... masih sulit bicara dengan beda bahasa"


"Cari yang bisa bahasa Inggris, biar paham dengan kamu, Nona Susan pintar bahasa Inggris, sayang ... , kau tau sendiri kan?"


"Apa? Berisik?" tanya Leo.


"Iyaaa ... Hahaha" jawab Adam sambil tertawa terbahak-bahak.


"Aku bicara penting-penting saja dengannya, bukan tidak mau, pasti cerita tidak cukup sejam kan? Hahaha"


'Bagus sekali, sekarang mereka membicarakan Susan'


"Tapi ... aku bingung menyampaikan pada Tuan, Informasi ini sangat membahayakan jika sampai dia tau" Adam mengecilkan suara, hingga aku harus lebih dekat menyimak pembicaraan yang mulai serius.


"Soal Pria itu?"


'Apa? jadi Adam dan Leo selama ini sudah dapat info tanpa memberitahu!'


"Plat nomor mobil yang digunakan sesuai dengan identitas yang kamu berikan waktu itu"


"Jadi, siapa dia"


"Orang lama, cukup berbahaya bagi Nona"


"Berbahaya, apa ini terkait kasus terdahulu?"


"Sebelum kau datang, ya. Aku yang turun tangan saat itu, dia memang cukup lancang dan berani, hampir saja kuhabisi dia jika tidak dihentikan oleh Tuan"


"Jadi dia ... "


Aku tidak sabar lagi menunggu penjelasan, segera kubuka pintu yang berada tepat disamping Adam untuk meminta informasi yang sesungguhnya.


"Untuk apa kalian rahasiakan pada saya selama ini!" tegasku memandang keduanya dengan geram.


"A—aa ... eh, Tuan. Bukannya anda sudah tidur?"


Leo hanya mampu terdiam melihat kemarahanku disaat Adam berusaha menjelaskan maksud dari kata-katanya barusan.


"Satu bulan kuminta informasi yang tidak kunjung pasti kebenarannya, jadi selama ini kau tau Adam!" bentakku.


Adam terdiam dan agak panik.


"Saya ... " Leo berusaha meredam


"Leo, kau juga! sejak kapan kau menuruti Adam menyembunyikan informasi?!"


"Tolong, tenang sebentar Tuan, saya tidak bermaksud ... "


"Tidak bermaksud apa?! cepat katakan siapa Pria yang selama ini mengganggu Susan!!"


...Suasana menjadi tegang karena luapan kemarahanku saat ini, bahkan mereka terlihat pucat tidak mampu membantah lagi ... ...


.


.


Bersambung


Mohon maaf visual siluetnya gak dapet cewe rambut pendek, sesaat tadi buyar imajinasi Author krn naro visual itu. Hahaha.


Ditutupin, soalnya cewenya pake behel🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2