My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Private Party


__ADS_3

...'Apa yang Brian sembunyikan ... '...


Sesampainya di kediaman Brian. Di antara suasana hiruk pikuk para pekerja dan pelayan yang sibuk mendekorasi serta mempersiapkan pesta privat antara keluarga dan kolega nanti malam di kediamannya. Brian dan Susan yang mulai lelah bergegas menuju kamar, hendak beristirahat sejenak dan berganti pakaian.


Baru saja keduanya berjalan beberapa langkah menuju tangga, tiba-tiba Brian meraih punggung kemudian mengangkat tubuh Susan pada kedua tangannya.


Brian sempat terhentak dan meringis, tapi kembali tersenyum saat Susan terhenyak melihat ekspresinya. Namun ia terus memandangi wajah istrinya dengan sedekat itu dalam rengkuhan kedua tangannya. Hingga kini mereka berada di kamar, lalu ia mendudukkan istrinya pada sisi tempat tidur kini.


Tatapan keduanya masih saling melekat hingga detik itu. Terungkap segala rasa sayang, ketenangan batin serta bahagia atas pencapaian status pernikahan mereka berdua.


"Finally, Dear." Brian menghela napas, duduk berjongkok di hadapan Susan sambil menaruh kedua tangannya di pangkuan sang Istri.


"Wife?" balas Susan kali ini mengingatkan.


"Hahaha, yes. Wife," jawab Brian yang belum terbiasa dengan panggilan baru. "Umm ... gak apa-apa kan, kalau kutinggal dulu? ... I promise you, i will be ready for our night," bisik Brian.


"What? Enak aja, terus orang mau tidur gimana kalo malamnya punya kita? Hahaha," ejek Susan mengalihkan dengan canda.


"Sewa. Masa' kita bagi-bagi, rugi dong aku."


"Ih-ih, lagian apa sih!" ucap Susan dengan wajah tersipu.


"Mukanya merah gitu, sih. Hahaha," goda Brian.


"Udah ah. Malu tauk! Sana, kan mau ketemu teman."


"Belum datang sih ... . Tapi, 15 menit dulu bisa kayaknya." Brian berbisik sambil perlahan berdiri mendekati. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, hingga kedua ujung hidung keduanya nyaris bersentuhan. Susan pun berbisik ...


"Dasar gak mau rugi ...."


Tok! Tok!


Keduanya terhenyak saat mendengar ketukan pintu pada kamar itu, kemudian suara Adam pun muncul dari sisi luar kamar.


"Maaf, Tuan. Pak Bisma sudah datang!" ucap Adam.


Brian memutar matanya, sedikit mendes4ah kesal. "Ah!Ganggu aja, baru aja orang masuk!" gumam Brian.


"Udah sana~ . Temui dulu, kalau udah selesai urusannya kan bisa lebih cepat kesini," ucap Susan pelan.


"Ughh! benar-benar ...," gumam Brian. "Ya— , nanti saya turun." sahut Brian pada Adam yang masih menunggu di depan kamar. "Be right back! Love you, Wife." bisik Brian. Sambil mengecup cepat bibir Susan.


***

__ADS_1


Susan segera membersihkan diri untuk merebah sejenak di kamar itu, beberapa jam sebelum pesta dimulai. Brian yang sedang bersama Pak Bisma dan di dampingi Adam di ruangan lain pun tidak tampak keluar sama sekali. Hingga tiba waktunya sebagian keluarga datang kembali ke kediaman Brian untuk menghadiri acara pesta malam ini.



Acara hendak dimulai, dan tamu mulai berdatangan. Brian yang merasa jauh lebih baik akhirnya bersiap menuju ruang utama menemui para kerabat dan koleganya.


Susan baru saja terbangun dari lelapnya, menyadari dirinya masih dalam kamar tanpa kehadiran Brian, dan dibiarkan sama sekali. Brian memang memerintahkan agar tidak seorangpun yang membangunkan Susan hingga ia benar-benar terbangun sendiri. Tapi Susan tak ingin lengah sejak awal, ia memasang alarm pada ponsel yang ditaruh tepat disebelah bantal.


Dengan cepat Susan secara diam-diam bersiap menyiapkan diri dengan barang-barang yang telah disiapkan di dalam ruangan untuk penampilan yang terbaik malam ini.


Susan berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan mendekati kerumunan para tamu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, masih terlihat kebingungan mencari keberadaan Brian.



'Aku berlagak gila deh. Ini semua tamu undangan penting! Pantas aja Brian gak bangunin aku.' gumam Susan dalam hati.


Sesaat kemudian sosok yang dicarinya meraih lengannya dari belakang. "Kenapa bangun, Wife?" tanya Pria itu.


Susan menoleh, dan mengangkat wajahnya.


"Eh, maaf. A-aku pikir ini acara keluarga aja lho, Bri."


"Husband." tambah Brian mengingatkan. "Gak, ini acara keluarga juga kolega bisnisku, orang-orang Yayasan, dan ... rekan-rekan dari LSM."


"Mau ngapain?" tanya Brian terheran.


"Ya ... nggak, nunggu kamu aja."


"Aku sengaja gak bangunkan kamu karena kamu keliatan lelah. Bukan gak boleh, sensi." ucap Brian sambil mencuil ujung hidung Susan. "You look beautiful, by the way," bisik Brian.


Susan mengangkat kedua alisnya. "Hm? Gak enak ah, malu aku."


"Ckk! Ayo, aku senang kamu disini. Maunya aku kan kenalkan kamu ke semuanya, kamu salah satu pemilik Yayasan 'kan? Tapi ... kayaknya sebagian mata mereka udah liatin kamu terus," ucap Brian sambil mengerlingkan matanya ke beberapa rekannya. "Jangan dibalas ya, mereka buaya-buaya tua, hahaha," tambah Brian sambil sedikit terkekeh.


"Apa sih!" ucap Susan ketus sambil mencubit kecil lengan Brian.


"Gak boleh ada yang gak kenal, kamu istriku sekarang."


Brian melingkarkan tangannya pada punggung Susan, menuntunnya untuk diperkenalkan ke beberapa teman dan rekan bisnisnya sebagai istri.


Pesta pribadi malam itu membuat Susan canggung. Berada di antara para petinggi, dan orang-orang penting lainnya dalam keadaan formal yang meriah namun terasa kaku. Memang inilah dunia baru bagi dirinya yang harus siap berada dalam lingkaran orang-orang yang berbeda kelas dengan kehidupannya.


Dimulai dari tatapan beberapa rekan bisnis yang terasa tak sesuai dengan lontaran basa-basi mereka. Serta pujian manis yang Susan anggap sebagian hanya terdengar untuk menjilat Sang anak tunggal. Namun tidak sedikit pula yang terlihat tulus dan turut bahagia, karena Brian yang selama ini terlihat tanpa kekasih, seketika menikah dan memperkenalkan istrinya. Ya, mereka orang-orang LSM yang turut menjadi Tim kerja dibawah perintah Brian.

__ADS_1


Malam itu pesta pun berlangsung dengan cukup meriah dengan alunan piano yang menyajikan lagu klasik kesukaan Brian. Formal dan berkelas. Serta menu-menu ala Eropa dan Amerika menjadi pilihan sebagai sajian makanan pembuka, utama hingga penutup. Tentu saja, minuman yang tersaji pun beragam, tentunya tidak semua bisa dikatakan halal. Sulit memang sulit, sudah menjadi kebiasaan diantara orang-orang golongan mereka.


Khusus keluarga, terdapat sisi ruangan lain yang agak terpisah dan lebih pribadi namun tidak kalah mewahnya sajian yang diberikan. Bedanya, semua dipastikan halal bagi keluarga.


Usai acara tepat waktu tengah malam. Para tamu serta keluarga satu-persatu pun kembali pulang. Brian dan Susan yang mulai terasa lelah untuk memulai hari esok lagi, bersiap menuju luar kota, atau lebih tepatnya ... sebuah pulau pribadi yang disewa khusus untuk pesta pernikahan mereka.


Pasangan yang baru saja menikah itu kini berjalan menuju kamarnya.



Saat baru saja membuka pintu kamar, Susan tertawa baru menyadari suasana itu. Tidak ada satu pun dekorasi, yang mengisyaratkan sebuah kamar pengantin baru.


"Hahaha, kok se—pi— ya ...." gumam Susan.


"Hm? maksudnya?" tanya Brian yang setengah mendengar gumaman Susan.


"Baru kali ini ... kuliat kamar pengantin gak ada bunga." Susan berdecak sambil tersenyum, sepertinya ada yang terlewatkan dari semua dekorasi indah pada pesta pernikahan mereka. Bertanya-tanya dalam hati, apakah ini salah Wedding Organizer atau pemilik kamarnya sendiri.


"Aduh, aku pusing liat bunga dari kemarin. Maaf ya."


"Gak, gak apa-apa sih ... cuma ya— mana romantisnya. Hahaha."


Brian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gitu ya? Hehe. Harus gimana dong? hehe ..." Brian semakin canggung. "Kusuruh orang beli bunga ya!" ucap Brian dengan rasa bersalah.


"Gak usah-lah, itu kan formalitas aja, mungkin takdirnya orang gak romantis ya begini," sindir Susan sambil menyungging senyum, mengangkat sebelah alisnya melirik Brian.


"A-ah ... i promise! Honeymoon kita nanti romantis! Sorry, Wife." lirih Brian.


"Ya ... ya ... buktikan aja, aku gak mau menelan janji." ucap Susan datar sambil berlalu menuju kamar mandi, namun saat membelakangi Brian, ia menyungging senyum jahil karena kata-katanya barusan adalah sindiran yang sama dilontarkan Brian beberapa hari lalu.


Susan bergegas menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat tengah membasuh wajahnya, ia terkejut saat kembali melihat ke arah cermin. Karena Brian kini berdiri tepat dibelakangnya.


"Eh!"


"Umm ... yakin mandi lagi sekarang? Jangan buat diri kamu sakit, Wife. Karena— ," ucap Brian pelan. Kemudian merapatkan dirinya lebih dekat di belakang Istrinya, lalu ia menunduk dekat ke telinga Susan. "Aku akan membuatmu mandi berkali-kali ...," bisik Brian.



.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2