My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Wedding night part 1


__ADS_3

"Bakteri. Bukannya kamu benci bakteri?"


Susan memandang pantulan dirinya membelakangi sang suami pada cermin wastafel di depannya. Sekilas candaan canggung terlontar karena Brian yang dulu sempat anti dengan debu sekalipun.


"Bakteri itu ada dua. Bakteri baik— bakteri jahat. Jenis bakteri apa yang menyenangkan?" bisik Brian. Ia mengalihkan wajahnya ke bagian tengkuk Susan, mulai tidak sabar mengecup bagian kulit yang tersibak helaian rambut istrinya yang tergulung dan di jepitkan ke atas.


"Ah, serius. Kita pasti udah kotor berada di antara kerumunan tamu. Seharusnya kita mandi dulu sebelum tidur, itu kan kamu paham banget."


"Ah, itu aja pake dibahas, ckk!" Brian menaikkan wajahnya yang sedari tadi sibuk menempel di belakang tengkuk, kemudian memandang cermin. "Bersih itu harus, tapi kan ... debu juga akan luntur dengan keringat ...," bisiknya lagi semakin menggoda dengan hembusan napas yang mulai tidak beraturan di belakang kepala.


'Hhh ... sial! Merinding aku.' batin Susan merespon gelagat Brian yang semakin saja memacu jantung. Karena kecupan itu kini mulai merambat turun ke pundaknya.


"E-eh ... okay— , ta-tapi ... aduh!" Semakin dihadapkan situasi menggoda, Susan semakin gugup dengan langkah Brian selanjutnya. "Aaa ... nggak! Gak!" Susan menundukkan kepalanya, kemudian berbalik mendorong pelan dada Brian dengan kedua telapak tangannya.


"Loh?" Brian tersentak heran, bukankah seharusnya istrinya sudah siap digoda habis-habisan malam itu. Meski dalam hal ini pantas saja mereka bisa dianggap amatiran, tapi naluri tidak pernah salah menggiring kedua sosok sah itu untuk perlahan melancarkan sedikit pemanasan.


"Give me five minutes! basuh-basuh dulu gitu ... a—pa kek, yak! apa-lah ... pokoknya gitu." Susan menyerocos tidak jelas seperti merapal mantra, mantra menghindari gerak tubuh Brian yang kian merapat kembali tanpa basa-basi.


"Nervous?" tanya Brian tersenyum simpul, ia mulai lagi melakukan analisis pada wajah wanita yang mulai pias menghadapi tatapan menggoda darinya.


"Umm ..., e-eh! ke WC!" jawab Susan cepat, ide terakhir yang meluncur agar Brian segera menyingkir.


"Haha, okay, five minutes." Brian menyentak tawa kecil, dan mundur selangkah memerhatikan Susan yang banyak sekali alasan untuk menghindar.


"Lah, trus ... kamu ngapain berdiri aja?"


"Ya aku tunggu disini, emangnya salah?" Brian melangkah mundur dan bersedekap menyandar pada bibir wastafel dibelakangnya.


"Orang mau buang air kok, iseng amat ditunggu segala! aku risih lho."


"Hahaha, ya udah silahkan. Gak usah sungkan." Brian tertawa dan menggeleng, tidak beranjak satu senti pun dari tempatnya berdiri.


"Heleeh, gak jelas banget kamu," protes Susan yang berlalu ke sisi kamar kecil yang hanya tersekat kaca es tebal sebagai dinding pembatas antara ruang mandi dan toilet.

__ADS_1


'Mulai besok kupasang tirai sekalian! bikin risih aja toilet kok transparan begini, apa bagusnya!' batin Susan kesal.


***


Usai berpura-pura dengan buang air kecil dan penuh ke risihan gerak-geriknya sendiri, akibat dinding transparan yang membuat suaminya sesekali menoleh mengawasi aktifitasnya. Seakan ia mampu sembunyi, Susan mengintip menyembulkan kepala dari balik dinding kaca.


"Kenapa ngintip?" tanya Brian yang hanya memandang dari sudut matanya.


"E-eh ... gak, aku—." Susan melangkah pelan seperti orang ketahuan melakukan pengintaian, meskipun itu hal yang tidak mungkin.


Brian menyambut tangan istrinya, kemudian beralih posisi ke balik punggung Susan. Tangannya kini mendekap ringan tubuh kecil itu, seraya menutup kedua mata istrinya dengan satu tangan, menuntun untuk kembali ke kamar.


"Close your eyes ... so ... just enjoy it." bisik Brian halus.


Mungkin rasa itu sangat berbeda saat sebelumnya mereka pernah sekali berhubungan. Sensasi yang menjadi unik karena mulai saat ini mereka bebas melakukan segalanya, kapanpun, berapa kalipun tanpa harus tergesa-gesa dan khawatir akan kemungkinan di kemudian hari.


Brian memutar tubuh Susan dan mengangkatnya menuju tempat tidur. Sudah mulai tidak berani merespon kabur, Susan yang merebah kini membiarkan Brian yang kembali menggoda dengan kecupan halus pada punggung tangannya, dan dahinya seakan meminta dengan sopan untuk tindakan selanjutnya.


Susan tidak menjawab, hanya menurunkan pandangannya menyetujui keinginan Sang suami. Lampu itu pun dimatikan otomatis dengan satu tepukan tangan. Tapi tidak total! Seharusnya tidak se-gelap itu suasana romantis, lampu tidur di atas nakas sebaiknya menyala untuk dapat sedikit melihat samar sosok pasangan di hadapannya.


'Brian membingungkan, emangnya gelap begini bisa keliatan.' batin Susan keheranan.


Meski begitu, ia tetap mengikuti permainan Brian. Hanya diam, cukup merasakan. Sebuah cumbuan halus mendarat lekat di bibir, keduanya saling memagut mesra seiring napas yang mulai bertautan tak berirama. Menyambut hasrat yang mulai meningkat tanpa kendali.


Helai pakaian yang semula dikenakan perlahan tidak lagi menempel di tubuh pemiliknya. Sang Suami begitu pandai melucuti pakaian luar Istrinya, meski bukan pemain lama dalam percintaan, tapi ia cukup paham bagaimana memberikan kelembutan. Dalam larut suasana yang memancing adrenalin, segalanya berjalan sesuai keinginan, yang tak henti menjalar ke seluruh tubuh mereka.


Sangat logis tubuh wanita itu merespon setiap sentuhan, tangannya hendak memeluk tubuh bidang suaminya kini. Kepalanya menggantung pada bahu Brian, ia merengkuh kuat saat mulai merasakan hentakkan yang mengenai tubuhnya.


"J-just don't touch. Eh-Hhh ... tutup matamu aja, okay." bisik Brian dari balik pelukan.


Susan seakan tidak mendengar, matanya tetap terpejam, hanya mampu menggigit bawah bibirnya tanpa berani mengeluarkan suara dalam kesunyian dini hari itu. Saat sekian kali gerak Brian yang mulai mendominasi tubuhnya, ia sempat melihat sekilas, samar punggung suaminya, dan semakin jelas saat ia membuka mata. Pantulan cahaya lampu yang menyorot masuk kini seakan membuka rahasia yang ditutupi Brian selama seharian ini.


Susan terkejut dan sigap mendorong kuat tubuh Brian.

__ADS_1


"Wait! Bri! ...," ucap Susan yang mulai kembali menyadarkan diri.


"What's wrong?" bisik Brian seraya mengusap halus peluh di pelipis Istrinya.


"Berhenti dulu, aku mau liat punggung kamu."


"Udahlah ... gak perlu, kan kubilang tutup mata aja, ok." Brian seakan tidak ingin langkahnya berhenti begitu saja, ia kembali berusaha menyatukan diri pada Istrinya.


"Gak bisa! Hhuuff ... berhenti sekarang!" bentak Susan dengan sedikit lirih, hatinya ragu untuk melanjutkan aktifitas itu.


Dengan sedikit panik awalnya dia lupa bagaimana Brian mematikan lampu. Susan menoleh kiri kanan mencari saklar yang mungkin saja ada di dinding untuk coba ia gapai. Atau remote, seperti biasanya ia mengaktifkan fasilitas elektronik di rumah itu, termasuk tirai. Lalu Brian dengan desah kesal menepuk kedua tangannya hingga seketika lampu ruang kamar menyala seluruhnya.


"Ah!" Brian memundurkan tubuhnya dan menarik kasar selimut tebal yang tergulung acak di ujung kakinya. Dan menggulingkan tubuhnya ke sisi sebelah Susan.


Susan mendelik, matanya membulat memerhatikan bagian kiri tubuh Brian yang kini nampak terdapat beberapa lebam yang sangat jelas dalam cahaya terang seperti ini. "Jadi ini alasannya kamu mau aku tutup mata?!" Susan merangkak kecil mendekati Brian yang membungkus separuh tubuhnya dengan selimut. "Separuh badan kamu memar kayak gini kamu mau kita terusin berhubungan? Gak mungkin kan kamu gak ngerasain sakit tersentuh sedikit aja, gak deh!"


"Dear, aku gak apa-apa! Ah!" Brian mulai menaikan nada bicaranya, menunjukkan kekesalan meyakinkan Susan akan apa yang dirasakannya kini.


"Udah cukup, kita ... lain kali aja. Maaf aku menolak. aku ambil handuk hangat dulu. Kamu diam, aku kompres memarmu!" tegas Susan. Ia kemudian hendak bangkit kembali mencari dress yang sempat ia gunakan, karena sama sekali mereka berdua belum berganti pakaian tidur.


"Gak usah, aku tadi dipijat! dan ...."


"Aku gak mau berdosa, tapi kalo kayak gini, sama aja aku nyiksa kamu namanya." Susan menegaskan maksudnya dengan lirih, ia menyesali dirinya yang hingga beberapa saat lalu tidak mengetahui kondisi fisik suaminya yang bahkan memaksakan diri mengajak berhubungan. "Benar aja kan feelingku ... aku tadi ragu, Bri ...." Sudut bibirnya menurun, bergetar menahan sedih.


"Kita bisa pelan-pelan, kamu gak percaya." Brian sigap duduk kembali menyandar pada headboard, seraya mengusap pelan lengan Susan.


"Aku gak ragu kalo kamu mampu, sayangnya aku gak tega liat kamu begini. Please!"


"Jadi seperti ini malam pengantin kita akan berakhir?"


Brian memandangi Susan yang masih nampak khawatir atas tindakan dan ucapannya barusan. Ia masih bergeming lalu memundurkan tubuhnya yang masih memeluk bantal menutupi diri, tertunduk kaku kala tak mampu menjawab tegas, bungkam saat diminta mengulang penolakannya tadi.


"Aku mau ke ruang baca!" tegas Brian.

__ADS_1


__ADS_2