
...'Bagaimanapun caranya ... aku bersikeras mempertahankan karirku disini'...
Brian menjemput Susan sore ini, banyak hal yang harus mereka bicarakan agar segalanya lebih imbang dalam membuat keputusan. Keduanya bersikeras mempertahankan prinsip yang tidak mungkin dapat di selaraskan. Antara perasaan dan logika.
Karir adalah yang terpenting bagi Susan di lingkungan kerja yang sudah sangat nyaman untuknya. Terkecuali, gangguan kecil dari seorang Dicky. Brian hanya menginginkan ketenangan bagi mereka berdua, tanpa dibayangi oleh orang dari masa lalu yang bisa saja menghancurkan pernikahan mereka.
"Kita sama-sama tau, gimana Dicky berusaha membuat kita cek-cok setiap waktu, kurang sabar apa aku selama ini, Dear ...," lirih Brian sambil mengiris kecil sepotong steak di hadapannya.
"Satu-satunya alasanku hanyalah karir, Bri ..., tidak lain. Sedikit aja, kasih aku kepercayaan menghadapi ini sendiri. Sebenarnya, aku lihat kamu gak percaya kalau aku bisa bersikap dewasa, aku bukan mahasiswa kamu lagi ...," ucap Susan mencoba meyakinkan Brian.
"Maaf kalau aku kasar tadi sama kamu," Brian meletakkan kembali pisau kecil yang ia genggam di atas piringnya, kemudian meraih tangan Susan yang masih memegang sebatang sedotan dari gelas juice dihadapannya. "Kamu gak berpikir aku serius 'kan?" Brian mengusap halus ibu jarinya pada punggung tangan Susan, seakan mengharap iba dari sikap Susan yang sudah siap akan segala kemungkinan.
"Aku sudah hafal mood kamu yang labil semacam itu, Bri ..., hafal betul," sindir Susan.
"Iya— , aku tau ...," Brian merendahkan suara, mencoba mengalah atas kesalahan perkataannya beberapa waktu lalu dalam sebuah pesan.
"Aku cemas tau nggak!" gumam Susan, "satu minggu sebelum pernikahan kita masih begini-begini aja. Apa perasaan kita sekecil itu hingga gangguan dari orang semacam Dicky aja kamu khawatirkan? li—hat aku!" tegas Susan.
Brian menatap Susan dengan wajah serius, sesaat kemudian ia menghela napas dalam-dalam menahan diri untuk membalas perkataan Susan. Ia kemudian menurunkan pandangannya untuk kembali melanjutkan makan malamnya, melepas genggaman tangannya pada Susan.
"Untuk seorang pria yang pernah melecehkan sahabatnya sendiri, dia gak pantas dapat kepercayaan. Tapi sayangnya, calon istriku sendiri yang sangat protektif dengan orang itu," cetus Brian, yang menyindir masa lalu Susan .
"Kita harus coba, Bri ..., bukan protektif. Setiap orang masih punya kesempatan untuk berubah," Susan mencondongkan sedikit posisi tubuhnya ke arah Brian, berusaha mencuri pandangan Brian agar menatapnya kembali. "Percaya— sama aku, Dicky gak akan seburuk itu. Dia orang yang paling benci dan menentang perselingkuhan, apa kamu pikir dia akan berani mengganggu istri orang?"
Brian mengerlingkan matanya ke arah Susan, baru kali ini dia mendengar sendiri hal yang tidak diketahuinya tentang Dicky.
"Begitu?" tanya Brian singkat.
"Aku masih punya keluarga yang akan mendukung kita sepenuhnya, mereka sangat kenal dengan keluarga Dicky. A-ku pas-ti-kan! Gak akan ada yang terima kalau Dicky macam-macam. Yang dia lakukan selama ini hanya karena cinta dan kegagalan hubungan kami di masa lalu. Tapi aku yakin ... Dicky orang yang paling pengertian soal pernikahan," Susan menghela napas pelan saat Brian masih menyimak dan menunggu perkataan Susan selanjutnya. "Saat dulu dia menceraikanku, dia mengira aku berbuat selingkuh dengan Eli. Kamu tau soal itu 'kan?" Susan mengangkat kedua alisnya seraya menatap Brian. Brian membalasnya dengan anggukkan kecil tanpa membalas tatapan Susan. "Meski itu bukan pernikahan yang sesungguhnya ...," Susan seketika merendahkan suara, seakan mengingat masa-masa pahit kala itu.
Brian menatap Susan dengan iba. Di saat inilah ia melihat langsung kekasihnya yang nampak lelah menahan perasaan, di atas problema masa hidupnya.
Pada akhirnya Brian kembali berpikir, sangat tidak adil membuat Susan berada dalam tekanan yang bersamaan, atas sikapnya yang mengekang. Sedangkan Brian adalah sosok penolong bagi Susan, di kala dulu saat masih menjadi salah satu mahasiswinya, dan kini, sebagai kekasihnya sendiri.
Segalanya sudah jauh berbeda. Selayaknya kini Susan mendapatkan kebahagiaan lain bersama Brian, sebagai hasil pengorbanan perasaan dan harga dirinya yang terdahulu. Perjuangan melepaskan diri dari trauma.
Sebagai pria yang lebih dewasa, Brian tidak perlu lagi memaksakan kehendaknya apabila satu langkah terakhir dapat mereka lalui. Yaitu, sebuah pernikahan.
__ADS_1
"Okay, segalanya aku percayakan sama kamu. Tapi ingat satu hal, katakan apapun yang berkaitan tentang dia. Jangan sembunyikan apapun rencanamu, atau sekali saja dia mencoba lagi mengganggu. Karena itu pertanda dia berani berbuat sesuatu dibatas kewajaran, dan disaat itu pula aku gak akan tinggal diam," gumam Brian.
Makan malam yang dibalut suasana romantis pada sebuah resto rooftop kala itu, telah mengungkap banyak hal. Masa lalu Susan dan Dicky yang tidak Brian ketahui selama ini.
Susan hendak merubah pandangan buruk Brian terhadap Dicky, yang sengaja membuat masalah semata-mata dendam atas masa lalu mereka.
Kesalahpahaman harus segera diluruskan, Susan tidak ingin hidup serba dalam ketakutan dari pihak ketiga.
****
Mobil ditepikan pada sisi jalan depan rumah Susan. Keduanya sempat terdiam sekian lama dalam perjalanan pulang, masih berkutat pada pikiran tentang cerita masa lalu Susan.
Sesaat menghentikan kendaraan, Brian kemudian memiringkan badan hendak memeluk Susan dari kursinya. Susan membiarkan diri membalas pelukan pria yang dalam waktu dekat akan menjadi suaminya.
"Sudah tenang?" bisik Susan.
Brian mengusap halus punggung Susan dalam pelukannya.
"Hm. Ya," Brian menjawab singkat dalam gundah, seakan masih terbawa pikiran dan tidak sepenuhnya fokus pada ucapan Susan, "mimpi indah, Dear ...," lanjutnya.
"Ada yang masih mengganjal?" tambah Susan.
Brian melepaskan dirinya dari pelukan itu, namun sigap sebelum Brian kembali di posisi duduknya, Susan menangkup kedua pipi Brian.
"Aku tau gak akan mudah membuat kamu melepas kepercayaan besar semacam itu. Tapi aku tau, kamu pasti lebih bijaksana menanggapi semua masalah kita. Ayolah ... kamu kan dulu konselor aku, dosen aku, masa segitu aja gagal berpikir logis," ucap Susan pelan dengan nada merayu. Susan mengembangkan senyum kecil dengan tatapan mata yang mencoba meyakinkan kekasihnya. Brian pun seakan menyadari posisinya kini, bahwa Susan membutuhkan kepercayaan penuh darinya, yang memang jauh berusia lebih dewasa dari Susan.
"Okay," bisik Brian sambil membalas senyuman.
Kini matanya turun menatap bibir kekasihnya, begitupun Susan yang mulai merasakan kehangatan dan kelegaan begitu dalam, mendapati ekspresi Brian yang lebih tenang dan tulus dari sebelumnya.
Suasana dalam kabin mobil saat itu terasa senyap, hanya terdengar napas halus dan bisik keduanya yang saling berbalas kata ...
"I love you ...," ucap Brian dengan bisikan yang sangat halus.
"Love you so much, too ...," balas Susan, dalam bisikan yang semakin terasa dekat kala ujung hidung keduanya mulai bersentuhan.
Hingga kini, wajah yang semakin dekat itu membuat bibir keduanya bersentuhan.
__ADS_1
Ketulusan mendalam itu kini diungkapkan keduanya melalui sebuah ciuman yang hangat dan halus tanpa emosi. Eksplorasi tanpa hasrat berlebihan, yang sulit diutarakan kala keduanya merasakan kelegaan, bukan semata-mata godaan hawa *****.
Kerinduan akan kedamaian di saat-saat mereka tidak terganggu oleh pikiran apapun, selain mereka berdua. Memberikan rasa hangat itu kini menjalar jauh ke dalam hati keduanya, untuk melupakan segala pertentangan akibat orang ketiga. Saling memberikan kepercayaan sepenuhnya, demi rasa sayang dan cinta yang selama ini selalu dibalut oleh kecurigaan dan keraguan.
****
Susan berjalan perlahan menuju rumahnya. Sesaat yang lalu melambaikan tangan pada mobil hitam mewah milik kekasihnya yang melaju pelan kemudian perlahan cepat meninggalkan lokasi itu.
Bibirnya masih mengembangkan senyuman, melangkah pelan karena perasaan yang terasa berbeda kali ini. Susan terus mengusap halus bibirnya sendiri dengan ibu jari, sambil sesekali tersenyum bahagia dan lepas.
Sesaat hendak melangkah masuk, Susan menyadari bahwa pintu utama rumahnya nampak terbuka lebar. Susan menghentikan langkahnya di ambang pintu, dan terhenyak saat mengangkat wajahnya kembali, memandang sosok pria yang tengah duduk, dan balik memandangnya dari arah kursi tamu.
"Assalamualaikum," ucap Susan pelan.
"Waalaikumsalam. San, baru sampai? ... Brian mana?"
Seorang pria membalas salamnya dengan senyum yang tidak asing baginya selama ini.
"E-eh, udah pulang dari tadi, kita makan malam dulu. ... Dari jam berapa kamu disini?" ucap Susan dengan nada pelan dan gugup.
"Baru satu jam, aku jemput mamaku dulu di Bandara tadi, langsung kubawa kesini," jawab pria itu dengan tenang.
"Ka-kamu ..., eh, maksudnya ... Mama Inka disini? di-dimana dia sekarang?" tanya Susan terbata-bata.
"Iya, lagi ngobrol sama Mama Papa kamu. Duduk dong— , aku mau ngomong sama kamu,"
Susan menuruti perkataan pria itu, perlahan duduk di kursi tamu dan tetap merendahkan volume suaranya yang hampir setengah berbisik.
"Kenapa harus malam-malam kesini?" Susan melirik arloji berwarna hitam di lengan kanannya, "sudah jam 9, besok kan masih ada waktu, kasian mama mu. Ada apa sih?" cecar Susan dengan nada datar.
"Mau melamar kamu,"
.
.
__ADS_1
Bersambung