
Hari itu Susan jauh merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, serasa berbalik 360 derajat yang bukan cuma di aplikasi ponsel saja, sedikit merasakan kebebasan yang nyaris membuatnya ketagihan.
Susan merasa berhasil membungkam orang yang membelenggu nya selama ini, ia jadi merasa terlalu mudah untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan yang sulit dihentikan.
Perubahan itu bahkan sempat membuat Eli sedikit khawatir dan kewalahan, Susan memang terlalu cepat beradaptasi dengan segala hal yang diterimanya, pada hal yang baik ataupun buruk.
Siang itu Susan menghampiri Eli dirumahnya. sedikit melanggar aturan tak apa, lagipula Bodyguard KW itu sedang tidur siang.
“El, malam ini kamu ada jadwal dimana?” tanya susan
“Hmmm ... Club xx, kenapa?”
“Aku ikut!!” Susan menjawab cepat
“You’ve got to be kidding me!(km pasti bercanda?) “ ucap Eli sambil menggelengkan kepala”No ... way!!”
“Jangan menolak okay ! ... Hmm?!” ucap Susan, mendekat ke arah Eli dengan ekspresi dingin, mengangkat alisnya dua kali, menaruh jari telunjuknya di bibir Eli.
‘Benar ... dia kesurupan konselor, menakutkan sekali dia’ Batin Eli
“Hello ... ada Susan disana ...?? tolong aku mau ... “ ucap Eli, mengetuk dahi Susan seperti mengetuk pintu.
“Ssst ... “ menepis tangan Eli “Aku serius!” Ucap Susan.
“Tidak!” ucap Eli, mendekatkan wajahnya menantang balik.
“YA!!”
“Tidakkk!!”
“YAA!!” Ucap Susan semakin dekat menantang ke arah wajah Eli.
‘Benar-benar dia menguji kesabaranku’
Fokus mata Eli bukan lagi ke arah mata karena wajah mereka sudah berdekatan dengan jarak kurang lebih sejengkal tangan.
Ia menatap bibir perempuan dihadapannya itu. tidak sanggup menahan diri Eli mendekat ingin segera menciumnya.
“Jangan cari kesempatan ya!” Ucap Susan sambil mendorong bahu Eli.
“Kita jalan-jalan saja” ucap Eli sambil menghela napas menahan kegagalannya barusan.
“Club!” ucap Susan bernada datar.
“Dinner??” tanya Eli lagi.
“CLUB!!!” Ucap Susan meninggikan suara.
”Mall?” ucap Eli bernegosiasi.
“Aku bukan anak Mall!”
Eli menggelengkan kepala melihat sikap Susan yang seperti singa lapar baru dilepas dari kandangnya.
“You know nothing! (kamu gak tau apa-apa)itu tidak baik untukmu!”
“Dan kenapa itu baik untukmu?”
“Aku bekerja disana, bukan untuk main-main!” Tegas Eli.
“Kalau begitu anggap aku menemanimu bekerja, deal!” ucap Susan menyodorkan jabatan tangan
“Hhh ... kau ini kenapa?” ucap Eli khawatir.
“Aku kan ... belum pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu ... selama ini aku selalu dirumah, kampus, ke tempat latihan karate saja sudah tidak karena kau larang waktu itu, aku hanya ingin tau kan El ... nanti tidak lagi kok! “ Susan merayu, memelas seraya mengetuk-ngetuk dada Eli dengan ujung jarinya.
“Jangan ... ,“ Eli mengusap sisi rambut di telinga Susan “kau tau kenapa aku dulu menyukaimu?”
“Kenapa?” ucap Susan berusaha memasang ekspresi polos pura-pura.
__ADS_1
“Karena kau bukan bagian dari mereka, maka pertahankan itu”
“Hhh ... kau membosankan!” ucap Susan membuang muka.
“Hei kemarilah” ucap Eli berusaha merangkul Susan yang tidak bergeming. akhirnya ia hanya mengusap rambut Susan.
“Sana! biar aku pergi sendiri, atau kuminta Kak Brian menemaniku”
“Hah ... Jangan bodoh, Kak Brian yang kau sebut itu belum tentu juga akan mengijinkanmu”
“Ya tentu saja dia mau, dia bilang mau melindungiku kok!” ucap Susan
‘Polos boleh Susan ... Bodoh jangan’ Ucap Eli dalam hati.
”Apa kau tidak berpikir seandainya kau kuperbolehkan ikut kali ini tidak akan ada yang menghabisiku nantinya”
“Maksudmu? Kak Edo?”
“Hmm yaaa ... dan suami statusmu itu”
“Ahh kan kalau tidak ketahuan juga tak apa, lagipula kalau kamu berangkat pukul 10 malam seperti biasanya dan sudah kembali Pukul 4 pagi, jadii... mereka juga tidak akan tau aku ikut atau tidak, ya kan?”
‘Huhh pintar membantah sekali dia’ gumam Eli dalam hati.
“Terserah apa alasan dan caramu, aku tidak ingin ambil resiko mati muda”
“Lagipula siapa yang akan membunuhmu ... ini kan kemauanku sendiri! sudahlah ... kalau kau tidak mau biar aku pakai caraku sendiri! daaah ... “ ucap Susan.
Eli terpaku memperhatikan Susan yang berlalu pergi keluar rumahnya. ia tidak berani memikirkan apa yang akan dilakukan mantan kekasihnya itu.
****
Susan segera menghubungi seorang teman.
“Halo nye’ , kamu sedang sibuk tidak?”
Yeni adalah salah satu sahabatnya semasa SMA yang kini bekerja paruh waktu sebagai Sales Promotion Girl kosmetik di salah satu Mall.
“Wah, bagaimana ya ... aku butuh bantuanmu sedikit, apa kau punya pakaian yang bisa aku pakai untuuukk ... ke Club?”
“Hah??? mimpi apa aku, Santo! kamu mau ke Club?? dengan siapa??”
“Ah, tidak perlu tau, aku hanya butuh pakaian yang tidak biasa aku pakai, bajuku kan ... besar semua, sedikit terbuka tak apalah, tapi jangan terlalu ya!”
“Sebentar! i—ni benar kau kan, Susan?”
“Haduh, tentu saja ... siapa lagi ya ampun ... ayolah aku butuh sekali untuk malam ini”
“Hmm ... baiklah, biar aku pilih dulu ... karena percuma kalau aku beri kamu yang macam-macam, ujung-ujungnya kau akan pakai hoodie juga, nanti aku kirimkan fotonya”
“Yesss!! makasih ya beb! muaah”
Siang itu Yeni dan Susan bertemu di dekat pintu gerbang perumahannya, mirip orang sedang transaksi narkoba saja Susan memakai hoodienya dan topi saat menerima paper bag berisi pakaian dan beberapa alat kosmetik.
****
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, Susan sengaja beralasan tidur lebih awal ke kamarnya untuk bersiap-siap menuntaskan keinginannya.
‘Hmm ... lipstik, maskara, pensil alis?? oh, ini tidak perlu kurasa ... alisku sudah cukup tebal ... Ah, apa aku bisa menggunakannya ya ... kalau aku malah seperti badut akan jadi pusat perhatian saja, Eli pasti malu nanti!’ Gumam Susan dalam hati,
Susan mengingat kembali saat ia didandani di salon pada hari pernikahannya dengan Dicky waktu itu, ia mencoba satu persatu dengan sangat hati-hati dan beberapa kali gagal dan dihapus ulang.
‘Hhhh ... kenapa si menye ini warna lipstiknya mencolok sekali sih, tidak suka aku, aku pakai tipis-tipis saja cukuplah’
DONE
****
Susan mengintip dari arah balkon yang sudah dimatikan lampu terasnya agar Eli merasa Susan saat itu memang sudah terlelap tidur.
__ADS_1
Eli terlihat keluar rumahnya dan kembali masuk sekedar memanaskan mesin mobil. Seketika itu Susan yang ikut belajar cara Dicky turun melalui balkon menyusup masuk ke dalam mobil Eli yang tidak terkunci, ia segera bersembunyi sesaat Eli kembali.
Saat mobil melaju ke arah keluar gerbang perumahan Susan muncul dari belakang kursi kemudi.
“Kemana kita malam ini?” Susan berbisik halus.
“WOAA S**T!!”
“Aaaa!!”
BUKKKK
Eli yang terkejut sigap menginjak rem hingga Susan nyaris terjungkal ke bagian kursi depan. separuh tubuhnya jatuh ke bagian tengah dengan posisi kepala jatuh dipangkuan Eli.
“Sedang apa kamu!!” Eli terlihat shock.
‘DAM*... kenapa harus begini posisinya!! Hhh ... wanita ini buatku gemas semakin hari!’ gumam Eli dalam hati
“Aduh, kan aku bilang mau ikut!”
“Kenapa kamu memaksa! kan aku sudah bilang tidak mengijinkanmu ikut!”
‘Sial! bisa rusak pikiranku, apa perlu aku izin malam ini, biar kutuntaskan saja sekalian!’ Eli terus berkecamuk dengan pikirannya merasa semakin menggila melihat bahu Susan yang terbuka dan bersih itu selalu tertutup jaket selama ini, karena bentuk potongan kaus itu yang lebar pada bagian leher hingga bahu sedikit merosot hingga lengan.
“Aku sudah disini, lanjutkan saja!”
‘MELANJUTKAN APA MAKSUDMU?? Aaargh tolong jangan ambigu!!’ Eli hanya terpaku tidak menjawab dan wajahnya mulai memerah seperti tomat.
“Hey Yo!” Susan menjentikkan jari didepan wajah Eli. “Sudah ... jalankan mobilnya hingga keluar gerbang, nanti terlihat security, biarkan aku sembunyi!”
‘Jangan sembunyi disini ... ya ampun ... kalau juniorku tidak mau sembunyi kau mau tanggung apa!’
“Okay, diam kau jangan bergerak!! Security beberapa meter didepan melihat kearah kita!” berbicara pelan dengan gerakan bibir yang samar-samar.
Eli mengambil jaketnya dan menutupi kepala Susan.
“SIAP!!” Susan menelungkupkan wajahnya dipaha kiri Eli.
‘Hhh ... yang benar saja! ... this is crazy!!’ Eli pusing mengacak-acak rambutnya sendiri. napasnya mulai tidak beraturan.
Setelah melewati gerbang, Susan yang ditutupi jaket bangkit perlahan dari pangkuan Eli.
“Sudah lewat?”
“Belum, diam saja disitu!” Eli membenamkan kepala Susan lagi dengan tangan kirinya.
‘Ya diamlah disitu, baiklah ... ini mulai menyenangkan ... this is so dam* good baby yea ... ’ Eli tersenyum-senyum jahil.
Beberapa saat kemudian Susan sigap bangun mulai merasa tertipu.
“Heh! sudah terlalu lama, tidak mungkin lewat gerbang saja lama begitu, kau sengaja ya!!” Susan memukul dada Eli.
“Hahaha ... kan harus tidak terlihat dulu baru kau bangun, kalau belum jauh pasti kelihatan kan!”
“Aku mau pindah ke depan, jangan ngebut nanti aku terjungkal!”
Susan bangun dan melangkah ke arah kursi depan melalui bagian tengah mobil. Eli memandang ke arah b*k*ng wanita bertubuh kecil itu.
‘Ow Shoooot !! That’s a nice!! Bring it on baby! Kini aku paham kenapa Dicky semakin tergila-gila padamu’
Eli kembali sigap memandang ke arah jalan lagi saat Susan sudah duduk di kursi depan.
“Nampaknya kita harus berhenti ke pom bensin dulu”
“Kenapa? bensinmu full tank” ucap Susan sembari merapikan baju atasnya.
“Aku ... aku harus ke toilet!!”
Bersambung
__ADS_1