
POV Dicky
Aku tidak bisa mengartikan sehancur apalagi perasaan ku kali ini, rasa panas dari hati ini menjalar seketika menuju kepalaku, kalau saja kulihat wajahku di kaca mungkin menyeramkan sekali pantulan itu. Hanya dalam waktu beberapa jam saja kulihat pagi ini Susan mendatangi seseorang di dalam Hotel! Apakah benar selama ini juga diam-diam Susan menaruh rasa terhadap Pak Brian? Itu pasti dia.
Kulihat kembali notifikasi ponsel yang sangat mengganggu pikiranku saat ini, tapi buat apa kupikirkan lagi, sudah bulat keputusan ku untuk pergi, mungkin tidak terlalu jauh, karena mama belum apa-apa sudah menghubungiku berkali-kali. Nampaknya berat kalau aku harus juga turut meninggalkan dua wanita kesayanganku yang tersisa, Mama dan Kak Dheta, sorry Susan tidak ada namamu lagi.
Pesan masuk ke ponselku pada akhirnya.
* Dicky, kamu bisa pulang sayang?
* Dicky, Mama mohon ini penting, kamu dimana? pulang lah ... .
* Kalau kamu tidak mau pulang, kamu yakin akan melihat mama seperti apa nanti ... .
Aku menutup lagi kolom pesan di ponsel itu, berpikir ulang untuk tetap mengintip notifikasi kumatikan saja tombol power kali ini, biarkan aku sedikit berpikir Ma’ ... ini bukan tentang mama ... ini tentang hal lain yang aku hindari, berhenti mendesak ku.
****
Siang ini juga ku laju kan motor dengan malas, antara malas bertemu dengan siapapun atau menghadapi kalian para manusia munafik di sekitar rumah ku itu.
Kuhentikan kendaraanku dan membawanya ke dalam, melirik sekilas situasi sekitar yang nampak sepi aktifitas, mungkin karena panasnya siang ini mereka lebih nyaman berdiam diri di rumah masing-masing, bersama atau hanya berdua sedang mentertawakan dan merayakan kemenangan mereka atas hubungan pernikahan ku yang sudah kuanggap kandas dalam se malam.
Ya, mobil Pria pendek itu ada terparkir berada di depan rumahnya mungkin dia enggan kemana-mana saking senangnya. Baik nya aku bergegas masuk ketimbang hatiku terus-menerus mengutuk tanpa rasa iba.
“Assalamualaikum, Ma’ ... “ Mata ku menyapu ruangan tengah dan tidak ada siapa pun di sana, tanpa jawaban dari siapapun ... satu kata pun.
Sambil melewati beberapa ruangan kudengar ada aktifitas di kamarku yang berada di lantai dua. Segera ku hampiri sumber suara itu dan benar saja, kulihat Mama sedang terduduk di sisian tempat tidurku sambil memandangi beberapa lembar kertas di tangannya.
__ADS_1
“Ma ... ada apa? kenapa mama ada disini? apa ... “ ku tanya berulang hingga akhirnya Mama bangkit dari duduknya memandangku dengan penuh amarah.
PLAKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri ku, aku terkejut saat mama melemparkan lembaran kertas itu pula persis di depan wajahku.
“Apa ini!! Aaapa ini!!” Pekik Mama seraya membelalakan mata ke arahku. Sudah terhitung tiga kali dalam se-malam aku menerima tamparan dari wanita dan kali ini Aku menerima dengan lapang dada, sepertinya aku tau ini perihal apa.
“A ... apa Ma’ ? maksud Mama apa ?.” Mata ku menatapnya ngeri seraya ku pungut lembaran kertas yang kini jatuh tepat di depan kaki ku.
Ku baca perlahan tertera nama ku dan nama seseorang, juga nama ... Susan! ya, ini adalah surat laporan dari pihak kepolisian tentang tuduhan ... ah, aku tidak ingin mengingatnya lagi meski itu hanya dalam bentuk tulisan.
“Apa benar kamu telah melakukan perbuatan itu, Nak? Dicky ... !! Lihat Mama!!”
Aku memberanikan diri memandang perlahan ke arah mata nya yang kini mengeluarkan cairan bening di tiap sudut nya. Dan aku tetap membisu, menelan saliva.
“Iya Ma’ ... sesuai dengan yang tertera di dalam surat ini ... memang benar, aku tidak akan menyangkalnya ... aku memang benar telah melakukannya!”
Mama sergap memeluk tubuh ku seketika, meraung menangisi kebodohan Anak lelaki nya yang kini menjadi tersangka pelaku pelecehan, memang bukan tersangka, memang aku pelakunya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan pada Mama, Nak? kenapa kamu bertindak sejauh ini ... ? kamu menyukai nya ... Iya kan ... nanti Mama lamar dia untuk mu segera, Ya? Ya ?” Aku menunduk melihat wajah Mama yang masih dalam ke adaan memeluk ku, kata-kata nya mengalir meracau kemana-mana, tapi entah bagaimana lagi ... aku harus benar-benar mampu menceritakan keadaan sebenarnya.
“Kami ... sudah menikah Ma’ ... .” jelas Ku.
“Apa ?? kalian sudah menikah ?? Haha ... kapan ?? siapa yang menikahkan mu sayang ? ini solusi sayang ... kamu bisa bebas dari tuntutan !” ekspresi Mama berubah drastis seperti menaruh sebuah harapan, muncul senyum dari wajah nya yang basah usai deraian airmata yang di usapnya dengan cepat. Seakan ia terlupakan bahwa kami sudah bertindak segalanya sendiri.
Ia melepaskan pelukan nya dan memandangku hangat seraya menyentuh kedua belah pipi ku, tapi aku harus siap lagi untuk mendapati sikap selanjutnya setelah aku menyatakan kepahitan keadaan sebenarnya.
__ADS_1
“Ma ... sudahlah ... Maaf aku telah mengecewakan Mama ... “
“Tentu tidak ... Mama sangat merestui kalian ... kalian sudah dekat lama ya kan, memang terdengar aneh serta mendadak dan ... Mama tidak suka kenapa kamu tidak meminta restu Mama dan melewati masa-masa itu bersama kalian ... nanti kita buat pesta ,Ya? lagi ... tidak apa lah jika kalian terlalu muda, toh, buat apa berlama-lama juga kan ... Mama dan Mama Hanna juga sudah lama akrab dan ... memang berencana menjodohkan kalian juga kok sayang “ ucap Mama dengan nada senang.
Aku tersentak mendengar pernyataan Mama yang kubiarkan sedari tadi meracau kemana-mana, meluapkan kelegaan hati nya sesaat, bodoh nya Aku, terlalu takut kehilangan hingga melakukan kesalahan fatal. Andai saja aku mau menunggu hingga kami berdua di jodohkan sudah pasti jalan nya tidak seburuk ini.
“Ma ... apa aku sudah boleh bicara ?”
“Ya, ada apa sayang ? kamu mau kita menemui istri mu itu sekarang ? dia juga nampaknya bingung saat ... “
Aku memotong bicara, tidak sanggup lagi mendengar kata ‘istri’ serta angan-angan dan harapan Mama pada hubungan kami berdua.
“Ma ... Aku ... aku ... sudah menceraikannya “ ucap ku gemetar.
Mama seperti tercekat tidak mampu mengucap kata-kata lagi, Ia menghela napas dalam karena sepertinya wajah nya lagi-lagi terlihat pias dan sangat tidak bersahabat. Mungkin tamparan kelima, keenam dan berkali-kali lagi akan siap dilayangkan nya padaku.
Namun seketika tubuhnya melemas dan nyaris terjatuh jika tidak segera kutangkap. Mama tidak sadarkan diri.
“Ma ... Mama ... bangun Ma ... “
Tanpa berlama-lama ku baringkan Mama di tempat tidurku, dan mencoba mencari sesuatu untuk mengembalikan kesadaran nya, apa ... minyak, parfum atau apa? nyatanya aku hanya mampu mondar-mandir tanpa kejelasan, seandainya saja aku bisa menghubungi Susan, sudah ku lakukan dari tadi. Aku butuh sosok wanita lain untuk menangani ini, ah ... dia lagi masuk ke dalam pikiran ku, apa pentingnya dia!
Aku duduk kembali sambil memandangi wajah Mama, mengusap kening nya perlahan yang bahkan belum muncul tanda-tanda menua, Mama ku memang cantik bahkan untuk wanita seusianya masih terlihat awet muda. Papa memang bodoh, meninggalkan wanita cantik dan setia seperti Mama.
.
.
__ADS_1
Bersambung