My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kelelahan mendalam


__ADS_3

...'Dinginnya cuaca saat ini menenggelamkanku dalam mimpi buruk tentang Brian, dalam mimpiku ... ia duduk termenung sendiri pada salah satu ruangan yang tak kukenali, ingin kuhampiri, namun langkah itu semakin berat dan lebih berat lagi, tanganku menggapai-gapai dan memanggil namanya sekuat tenaga tapi tidak sedikitpun ia menoleh, tidak mendengar, tidak melihatku'...


Saat Susan tersadar dalam kilasan mimpi yang menyakitkan itu, mulutnya berbisik memanggil nama Brian. Dan terbangun mendadak saat tubuhnya terguncang oleh tangan seseorang. Susan membuka mata mendadak dengan napas tersengal-sengal, mendapati Brian sedang duduk bersila dihadapannya pada kursi itu.


"Bri!!" Susan membelalakan mata, sigap memeluk Brian.


"Mimpi ... cuma mimpi 'kan?" balas Brian mengelus rambut Susan dan mengeratkan pelukannya lebih dalam.


"Brian—Adney—William ... " ucap Susan terbata-bata dan kembali menangis "jangan acuh lagi ... jangan pergi ..."


Brian tersenyum hangat, matanya sedikit memerah. Sekilas berkaca-kaca.


"Aku mau kemana memang ...? aku cuma butuh istirahat, sering begadang. Maka itu aku minum kopi ... " ucap Brian mencoba menenangkan.


"Tapi obat itu!" Susan melepaskan pelukannya dan menangkup kedua belah pipi Brian menegaskan tatapannya.


"Hanya panik, harusnya tidak. Calonku Psikiater pribadi nanti" Brian tersenyum mencoba menenangkan.


"Ya—ya ... pasti! aku mau lanjutkan studi! beasiswa yang kamu kasih masih kusimpan, gak expired 'kan?"


"Hahaha, bisa kapan aja. Tapi gak perlu terburu-buru, kejarlah karir ... dan jaga diri baik-baik" Brian menatap dalam


"Maksudnya?" Susan terhenyak.


"Ya buat ku ..., apa lagi?"


"Iya ... aku jaga diri! aku janji akan menjauhi Dicky! pokoknya jangan marah lagi, jangan hindari aku lagi ... aku gak bisa ... a—aku gak mau!"


Brian hanya tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya lebih dekat, semakin dekat dalam hitungan senti hingga hidung mereka nyaris bertemu di satu titik. Lalu Brian berbisik ...


"Janji ini pasti, ... aku gak akan pergi kecuali kamu yang pinta ..."


"Hm"


Lebih dekat lagi dan ... perlahan mata terpejam ... mengikuti hasrat. Dingin cuaca tidak lagi mengganggu bagi mereka berdua, segalanya lebih mencair mengikuti alur ... dari luapan perasaan yang beberapa waktu lalu sangat menyesakan. Bibir yang kini bersentuhan tentunya solusi singkat mengetahui seberapa dalam perasaan mereka. Tidak berpikir panjang pada suatu kekhilafan dua sosok manusia.


Saat langkah terdengar mendekat dari dalam ruangan ke arah mereka berdua, Brian melemparkan jasnya dengan sebelah tangan ke arah suara tanpa menghentikan aktifitasnya yang tak mau terusik.


Yaitu Adam, yang baru saja ingin mengingatkan Brian dan Susan untuk makan, malah terusir karena kode jas yang dilemparkan. Dan ia kembali lagi masuk kedalam.


Tertawa kecil dalam bungkaman yang sama, keduanya masih belum ingin melepaskan kelekatan yang halus pada salah satu bagian wajah itu.


"Dia lagi, selalu ganggu!" bisik Brian.


"Kasian jomblo, hahaha" Susan tertawa kecil "ya udah, mungkin ada yang penting ..." bisik Susan sambil mengusap kening Brian.


"Sebentar lagi ... "


...🌹...


****


Adam dan Leo menunggu sekian lama di area ruang santai, kebiasaan gosip antar pria dan candaan keduanya ditemani dua botol minuman berwarna hijau, sekedar menghangatkan diri dari cuaca, bagi mereka. Kebiasaan yang sulit dicegah.


Brian dan Susan masuk ke dalam ruangan dari arah teras samping, Brian menggelengkan kepala melihat kedua asistennya yang mulai akur akhir-akhir ini.


"Kalian menyetir lho dan belum makan!" tegur Brian.


"Eh, sudah rupanya si Bos? saya mau mengajak makan tadi, ini sudah terlanjur dingin. Lagipula ini kan lain, kalo Tuan sih mungkin, iya, muntah"


"Pasti perutmu kotor" gumam Brian "eh, apa yang sudah? jomblo akut tukang iri " jawab Brian ketus


"Maksud saya ... takut anda udah kenyang Tuan, jadi gak saya tawarkan lagi"


Leo membungkam mulut menahan tawa mendengar bantahan Adam yang terus saja menggoda Brian. Tidak tahan Leo meninju lengan Adam sambil tertawa pelan.

__ADS_1


"Jangan ikuti Adam, dia memang harus ikut kelas attitude, mau kubuat cuti lagi kamu 'Dam?"


"Eh, boleh lah"


"Tapi potong bonus, dan gak ada mobil sport jika tembus nanti!" Brian mengkode kan bonus yang akan diberikan jika strategi bisnis sahamnya berhasil.


"Oh, jangan Bos, eh Tuan ... masa' 10 tahun bonusnya hilang juga"


"Kinerja tingkatkan, jangan bantah-bantah saya ..." jawab Brian santai sambil duduk diantara mereka, diikuti oleh Susan yang sibuk menahan tawa.


"Seumur-umur memang baru aku lihat, asisten semacam Adam, tukang bantah tapi setia".


"Nah, dengar kan barusan?Nona aja bisa bilang begitu"


"Saya lebih percaya mata sendiri daripada kata orang, Susan belum terlalu mengenalmu 'Dam"


"Jangan, kalau kenal takut sayang"


"Bilang apa?" tanya Brian sambil meraih botol minuman dan mengangkatnya tinggi.


"Itu bercandaaa ... itu bercandaa ..." sahut Adam.


...'Rasanya seperti naik rollercoaster, hari ini begitu mudah terbawa emosi Brian yang naik turun. Sesaat dia marah, beberapa lama kemudian berubah dan terus seperti itu'...


...'Tapi aku yakin bisa melewati ini semua, asalkan kami berdua saling mendukung dan mengobati satu sama lain. Setelah lima tahun lalu Brian pernah menyembuhkanku dari Trauma pasca kejadian terburuk dalam hidupku, kini sebaliknya aku akan menjadi orang yang menyembuhkan gangguan kecemasannya yang sesekali datang tanpa diprediksi'...


Hari itu mereka pulang cukup malam, terpaksa menunggu kabut tebal turun yang mungkin saja membahayakan, hingga sulit kemana-mana. Dan benar saja ini adalah hari beristirahat dan bermalas-malasan sebelum esok hari dengan rutinitas full mereka.


****


Senin pagi di kantor


Banyak tugas di awal bulan ini, sehingga Susan harus cukup stamina dan tak menggubris keberadaan Dicky.


'Banyak sekali yang kulupakan, hari ini Training peserta baru dimulai lagi, tingkat kebutuhan semakin tinggi, tapi hatiku jauh lebih lega dari sebelumnya'


Sedikit menghela napas saat memasuki ruangan, saat suasana yang tadinya riuh oleh percakapan peserta satu sama lain, seketika kondusif dengan kedatangan Susan.


Setengah jam sebelum dimulai sambil mempersiapkan beberapa peralatan, gimmick dan laptop diatas meja, Susan merasakan kondisi tubuhnya sedikit lain dari biasanya.


'Ini ... biasanya gak se lemas ini ... apa harus kubuat kopi sebentar ya'


Susan melirik jam tangannya sejenak, kembali keluar ruangan itu dengan berjalan cepat menuju pantry.


"Pak yusuf, minta tolong buatkan saya kopi ya, saya butuh cepat, gak apa-apa 'kan Pak?"


"Oh, Bu Susan di ruang Training atau di ruang HR?"


"Bawa ke HR aja Pak, saya tunggu di ruangan ya Pak makasih ... "


Susan kembali berjalan menuju ruangan kerja nya, kembali duduk dan sedikit menelungkup pada meja, beberapa menit kemudian OB mengantar kopi yang diminta. Perlahan menyeruput kopi agar bisa memfokuskan diri selama tujuh jam kedepan.


Pukul sembilan tepat, Susan sudah kembali berada di ruangan, sedikit perkenalan disampaikan.



"Selamat Pagi sahabat-sahabat sekalian. Perkenalkan nama saya Susan Adriana Zeline, saya HR Trainer yang akan membawakan materi selama tiga hari kedepan. Sekarang boleh bantu saya? kita buat semangat yuk, dengan ulangi serempak jika saya mengucapkan 'Semangat pagi' maka sahabat jawab dengan lantang 'Semangat pagi, Yes!' bisa?"


"Bisa ... (Bisaa .. )" jawab seluruh peserta.


"Kita coba ya, ... 'Semangat Pagi!'" ucap Susan lantang


"Semangat Pagi, Yes!" jawab para peserta.


"Sekali lagi lebih lantang, Semangat Pagi!!"

__ADS_1


"Semangat Pagi, YES!!" balas peserta dengan lantang.


"Terima kasih atas kerjasama para sahabat. Baik ... untuk awalan, saya akan membuat sebuah game perkenalan antara sahabat-sahabat sekalian, yang saya harapkan ... adalah kerja sama ... karena selama tujuh jam kedepan kita akan membahas tentang motivasi dan pengembangan diri dalam perusahaan, membentuk attitude, mindset positif, serta meningkatkan skill para sahabat sekalian. Setiap sesi akan saya buat kelompok untuk mempererat hubungan perkenalan sahabat-sahabat sekalian, mari kita mulai ... dan beri apresiasi untuk kita semua!"


APPLAUSE


Riuh tepuk tangan seluruh peserta memenuhi ruangan, Susan tetap mencoba bersikap professional dalam pekerjaan, diatas segala masalah pribadinya.


Sesi pertama selesai di pukul 12 siang, semua peserta dipersilahkan beristirahat selama satu jam. Susan kembali ke ruangan dan enggan untuk pergi makan siang dengan teman-temannya, kembali menelungkupkan wajahnya di meja kerja untuk beristrahat. Beberapa teman sudah kembali ke ruangan yaitu Haya, Mbak Yuni dan Mbak Wulan. Haya yang melihat Susan datang menghampiri.


"Say ... kamu beneran gak mau makan? say ..." Haya mengguncang pelan tubuh Susan.


"Capek banget kali Hay ... kamu gak gantian aja sama Susan?" ucap Mbak Wulan melihat dari arah mejanya.


"Kasian ... kayaknya emang capek dia ... tapi dia gak mau Mbak" Haya berbalik ke arah Mbak Wulan, tapi seketika kursi putar yang diduduki Susan bergeser sedikit dan membuat tubuh Susan terjatuh hingga kepalanya membentur laci berkas disebelahnya.


"E—eh, Haya, Susan!" ucap Mbak Wulan terkejut.


"San!" Haya berjongkok mengangkat kepala Susan sedikit "Mbak!! Susan pingsan! panggil security Mbak, tolong!"


Mbak Wulan segera berlari ke arah meja security di loby lantai itu.


"Pak! Pak! tolong, Mbak Susan 'Pak!"


"Eh, kenapa Mbak?" Security ikut berlari mengikuti Mbak Wulan.


Saat melewati Ruang IT, di dalam ruangan akibat mendengar suara kepanikan diluar semua tim bangkit melongok dari kaca bagian dalam ruangan.


"Ada apa sih?"


"Kenapa tuh HR?"


Dicky yang sedang bersiap untuk pulang siang ini ikut penasaran dengan apa yang terjadi, saat ia melihat dari dalam ruangan dan melihat security membopong tubuh Susan, sigap Dicky keluar dan menghentikan Pak Security.


"Sini Pak! sama saya!" tegas Dicky.


"Mas Erick, gak usah Mas ini buru-buru lho!" bantah Pak security.


"Sini!! saya yang bawa! nanti bapak cari kesempatan gimana, saya juga lebih kuat!" bentak Dicky.


"Mas Erick, itu bukan karung beras kenapa oper-operan! eh ! kita butuh cepat ke klinik!" tegas Mbak Wulan.


"Erick, jangan macem-macem kamu ya!" ancam Haya.


"Terserah! sini!!" Dicky tidak peduli dengan larangan orang-orang, cepat memindahkan tubuh Susan di kedua tangannya. Mereka berbondong-bondong mengikuti Dicky ke klinik khusus perusahaan.


Dokter Rizal meminta Susan segera direbahkan diranjang klinik, dan memeriksa beberapa hal untuk mengetahui kondisi Susan.


Dicky menatap serius tanpa menghiraukan orang disekitarnya.


"Mbak Susan tadi gimana ini, kliatan lemas gak dari pagi?"


"Dia memang jarang sarapan Dok, tensi nya memang selalu rendah" Dicky menjawab cepat tanpa menoleh.


"Sering pingsan dia memangnya Mbak Wulan?"


"Eh ... Susan ... "


"Dia gak pernah pingsan Pak, dia jarang lemah, dia itu kuat ... " potong Dicky dengan cepat sambil menatap kosong ke arah Susan yang belum tersadar.


"Kok Mas Erick tau? hey, Mas Erick ... darimana tau banyak soal Susan?!" tanya Mbak Wulan dengan curiga sambil menepuk lengan Dicky.


"E—eh, apa ... apa??" Dicky baru tersadar atas ucapannya barusan yang terdengar aneh oleh teman-teman Susan, karena sebagai anak baru, Dicky seharusnya tidak banyak tau hal pribadi Susan.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2