
pengenalan tokoh
...—Leo akan jemput kamu jam 2 siang, ada beberapa barang yang kukirim untuk acara hari ini, salam untuk Mama Papa—. Brian....
"Nona, sudah terima pesan dari Tuan?" tanya Leo. Dalam perjalanan pulang siang itu.
Minus ketiga sebelum hari pernikahan. Susan meminta cuti satu hari sebelum akhir pekan. Setengah hari izin untuk persiapan pengajian calon mempelai wanita. Didampingi Leo, Susan kembali fokus pada rangkaian acara, tidak ada ritual adat, semuanya berlangsung dengan susunan acara yang di syaratkan dalam Agama.
"Iya, sudah, Leo. Kamu nggak bantu Brian untuk persiapan?" jawab Susan.
"Tuan ... meeting terakhir bersama Adam, sebelum rencana cuti beberapa waktu ke depan. Peralihan sementara," ungkap Leo. Kesibukan Brian harus sangat terjadwal, sehingga tidak mudah mempercayakan hal penting jika tidak dengan orang utama kepercayaannya.
"Kamu nggak penting emangnya~, ikutan meeting?"
"Sementara ini yang penting itu Anda, Nona, Haha. Yang harus ekstra dijaga oleh Tuan," ungkap Leo singkat. Sepertinya tanpa diberitahukan oleh Brian, Leo begitu menangkap bagaimana Tuannya protektif pada calon Istrinya. Kejadian-kejadian yang secara langsung dengan target orang yang sama, sepantasnya kedua Asisten itu tahu bagaimana Brian terlihat gusar belakangan ini.
Susan terkesiap saat Leo mencetuskan kata-kata tadi. Sejenak ia berpikir, apakah Brian telah membuka cerita kemarin pada Leo dan Adam hingga bisa berucap begini. Itu mengingatkan Susan pada percakapannya dengan Brian dini hari tadi. Setelah kedatangan Dicky yang membuatnya sempat Trauma, ia baru menyadari beberapa panggilan tak terjawab pada ponselnya. Dan ia 'pun memberanikan diri menelepon balik kekasihnya.
Sesungguhnya tidak siap menghadapi suasana hatinya yang tidak baik. Tapi Susan cepat meluruskan masalah, sebelum kekasihnya benar-benar murka, dan menghancurkan rencana.
"Aku nggak mau memperpanjang masalah. Tapi mulai sekarang, pikirkan posisimu dan aku. Kejadian semalam, menurutmu, aku harus bagaimana?" Tanya Brian dengan sikap dingin.
"Kamu jealous ...?" lirih Susan. Sebisanya bersikap layak orang yang tahu kesalahan, agar Brian tidak melihat kejanggalan karena sesuatu terjadi beberapa saat sebelum ini.
"H—hah, pertanyaan apa itu?!" cetus Brian. Membuang napas kesal. "Lalu kemana pikiranmu? Kupercayakan calon istriku bersama mantannya, lalu kau bilang—, jealous? Aku nggak habis pikir, tiga hari menjelang pernikahan, sikapmu, raut wajahmu semalam membenarkan pikiranku. Tepat kuminta kamu resign, masih ada cinta untuk dia, bukan?"
"Kami mengenal lama 'kan Bri~. Bukan cinta. Yang kamu lihat sekadar rasa iba-ku sama dia, bukan apa-apa," ucap Susan dengan nada merajuk.
"Iba? Untuk apa?" tanya Brian dengan nada siap mencecar.
"Ya iba— "
Brian tidak memberikan kesempatan Susan untuk bicara lebih lanjut. Ia sangat memahami keraguan yang terasa pada ucapan kekasihnya.
"Iba karena berpisah, atau apa? ... Sue, aku nggak pandai pacaran, aku hanya peka. Kalau saja sabarku hilang, risiko-nya rencana kita hancur. Nggak peduli semua yang kupersiapkan hingga matang. Segalanya bisa berubah tergantung kamu. Jadi, sekali lagi, harus bagaimana aku, Sue?" Brian seketika bertubi-tubi meluapkan isi hatinya, memandang dirinya yang merasa dipermainkan oleh sikap yang tidak tegas sama sekali dari Susan saat berhadapan dengan Dicky.
"Jangan gegabah, Bri. I-iya ..., aku salah. Maaf jika sikapku berlebihan." Susan tidak berani menyangkal jika persoalan itu semakin menyulitkannya meredam kemarahan Brian. Mengingat kelengahannya tadi malam, yang tidak diketahui Brian sama sekali.
"Aku nggak ta—nya maafmu! Aku harus bagaimana sekarang?!" Brian semakin meninggikan intonasi suaranya, bila saja saat ini mereka berhadapan, mungkin lagi-lagi satu benda menjadi pelampiasan.
__ADS_1
"Bri, udah— , mohon ... hentikan. Kita fokus pada rencana pernikahan kita. Jauhkan keraguan kamu, apa selama ini nggak cukup yang kubuktikan?" lirih Susan.
"Bukti? Karena kamu setuju menikah lebih cepat?! Ini bukan soal siapa yang kamu pilih dan aku nggak se-lengah itu memperhatikan kamu. Sedari awal hubungan kita, kamu bimbang! Apalagi saat kamu mulai bertemu Dicky, dari hari ke hari kamu sema—kin aja labil," tukas Brian.
Kata demi kata yang semakin menuduh 'pun mengalir, memojokkan posisi Susan saat ini. Wanita itu semakin sulit mengimbangi kemarahan calon suaminya. Tuduhan yang diperjelas bahwa hatinya kini tidak hanya untuk Brian melainkan pria lain.
"Bukan itu, Bri! Aku bimbang dengan karirku. Ini bukan tentang perasaanku ke dia. Aku juga berniat menikah sama kamu, semuanya soal waktu!" Ungkap Susan dengan nada semakin pasrah.
"Semua itu keputusanmu— lah," suara merendah."sampai kapan kamu nggak mau mendengar dan terus menyangkal. Dari cara halus sampai aku harus menegur kamu kayak gini, kamu pikir aku nggak bijaksana dan selalu egois," cetus Brian.
"Ya, aku, aku yang egois! Suatu saat kamu akan liat, dari perjuanganku yang nggak mudah hingga sejauh ini. Aku sepenuhnya siap melupakan masa laluku hanya untuk kamu, aku dan keluarga kita."
"Lakukan aja, aku gak mau menelan janji." ucap Brian dengan kata-kata cepat.
"Harus kubuktikan apa lagi—, aduh ...," balas Susan.
"Ya lakukan! Buat apa janji!" tegas Brian.
Susan terdiam tidak mampu membantah lagi, perdebatan semakin sia-sia kala ia memahami kesalahannya sendiri, telah membiarkan dirinya masuk dalam jebakan perasaan pria lain. Seharusnya tidak, karena perasaan sesaat yang sempat muncul kembali.
"Ya sudah, aku harus kembali kerja, semua sudah diatur untuk acara sore, kan? Hati-hati, dan jangan lupa makan. Maaf aku enggak bisa jemput kamu siang ini."
"Iya sayang, kamu juga ya ... fokus, jangan berpikir macam-macam. Jaga kesehatan kamu."
"Bri~ ... " bujuk Susan dengan nada merayu memanggil nama kekasihnya. "Love you," tambahnya. Ia ingin memastikan Brian telah melepas kemarahannya.
"Hm." jawab Brian tanpa satu kata manis 'pun sebagai balasan acuh.
Klik!
Seketika panggilan dihentikan sepihak oleh Brian.
Hancur rasanya atas diri yang terabaikan, Susan hanya menunggu kekasihnya kembali dalam keadaan tenang. Brian mungkin saja tengah berpikir terlalu banyak menuju hari pernikahan, serta segala pekerjaan yang harus ditunda.
Susan kembali tersadar dari lamunannya, kala Leo memanggilnya kesekian kali.
"Nona??" panggil Leo.
"Eh, ya Le- ," jawab Susan sedikit terhenyak.
"Apa ada yang kurang untuk persiapan sore ini?" tanya Leo. Memastikan segalanya sesuai, atas permintaan Brian yang ingin acara sore itu berlangsung lancar tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1
"Ya, sudah beres, biar keluarga saya yang urus. Ini 'kan— acara pihak wanita. Brian enggak perlu memikirkan segalanya."
"Baik, Nona." Leo menjawab singkat.
"Eeh— di belakang, barang-barang apa sih, Leo? Banyak banget." Susan menoleh ke bagian kursi belakang mobil. Terdapat beberapa box kue, juga beberapa paper bag yang menampakkan logo produk pakaian terkenal pada kedua sisinya.
"Untuk Nona tampil cantik malam ini," jawab Leo. Dengan senyum sedikit menggoda Nona nya agar tidak terlalu tegang.
"Haha, apa?" tanya Susan terheran-heran. Ia tidak menerima informasi apapun, mengenai rencana setelah sore ini dari Brian.
"Nanti buka setelah sampai."
'Malam ini? Bukannya ... nanti sore acara pengajian dirumah? Ada apa lagi malam ini?' batin Susan.
***
Susan melangkah takjub menuju rumahnya, beberapa aktifitas terlihat dari kesibukan para pekerja dekorasi yang sangat sempurna merangkai jajaran buket-buket bunga di sekitar rumahnya.
'Brian ngerti gak sih, ini acara pengajian bukan ulang tahun, buat apa ada dekorasi bunga begini coba,' gumam Susan dalam hati.
"San, cepat salin baju sana! Sebentar lagi acara pengajiannya mau mulai. Calon pengantin jangan kucel begitu, mandi sana," ucap Mama yang segera menghampiri kedatangan Susan.
"Eh, iya 'Ma ... tapi ini ramai orang aku nggak enak kalo nggak bantu-bantu."
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun dibalik busananya yang tertutup dan sopan, menghampirinya dari belakang.
"Udah sana, biar Tante yang bantu Mama-mu. Dah deh~, cepet—cepet!"
"Eh, Mama Inka ..., aduh. I-ini ...," jawab Susan gugup. Sempat terkesiap melihat keberadaan Mama Inka yang turut melibatkan diri dalam persiapan acara pernikahannya.
"Udah ah, kayak sama siapa aja." Mama Inka tersenyum hangat. "Sekalian 'kan bisa sambil ngobrol sama Mama-mu."
"Tauk nih, si Susan, ih ..., " tambah Mama.
"Iya ... iya ... permisi ya Mama Inka. A-aku siap-siap dulu ...," ucap Susan seraya membalas senyuman.
'Mama Inka memang baik, dia bahkan nggak tau anaknya telah berbuat apa semalam kepadaku dan telah kubalas apa perlakuannya itu,' batin Susan.
.
.
__ADS_1
Bersambung
otw next part