
Aku menundukkan wajah yang nampak masih merah saat kembali ke ruangan ku. Syukurlah beberapa teman tidak terlalu menggubris kedatanganku yang cepat dan terkesan buru-buru menduduki kursi kerja ku. Haya sekejap mengalihkan pandangan matanya dari monitor ke arah ku, sesaat mendengar aku mengusap hidungku yang basah.
Aku tersentak saat melihat minuman yang Dicky berikan ada di mejaku saat kutinggalkan tadi didekat ruang meeting.
Ia menggeser kursi nya mendekat dan menepuk punggungku.
"Say, ada apa?" Haya berbisik halus.
"Eh" aku tersadar rekanku memperhatikan ekspresi ku. "apa? Hehe gak apa-apa beb" aku menjawab pelan.
"Flu? Halaaaahh ... Gak usah bohong, aku tau kamu habis nangis kok" bisik Haya semakin menurunkan volume suaranya.
"Gak apa-apa beb, serius" aku membuang muka mencoba menutupi ekspresi wajahku.
"Say. Kayaknya kamu harus cerita deh sama aku. Ada yang mau aku tanyain tentang kamu dan Erick"
"Eh. Apa?"
"Ckk!" Haya berdecak kesal "pokoknya kamu harus cerita, aku udah ngebaca bahwa kalian ada sesuatu, aku tau kamu dari dulu. Gak mungkin gak apa-apa"
"Eh, 'San. Tuh minuman tadi dari Mas Erick, katanya ketinggalan" mbak Wulan
"Iya 'Mbak. Makasih"
Haya mengusap pelan punggungku, dan menatapku iba. Kemudian berbalik kembali bergeser ke arah mejanya.
Aku memandang minuman dingin itu. Saat kuputar Cup kopi itu tertera tulisan namaku 'Mrs. Susan'.
'Jadi ... dia sudah berencana membelikan ini untuk ku'
***
Pukul setengan dua belas waktu menjelang makan siang pesan masuk ke ponselku. Brian.
Brian [ Dear, kau sudah selesai? Ini sudah jam makan siang, kau mau apa? ]
Susan [ Gak, hon. Nanti siang aku lanjutkan lagi laporannya ]
'Aku mau kamu disini Bri ... Sumpah aku ingin memelukmu dan menangis dihadapanmu. Aku tidak sanggup'
Brian [ Makan lah, aku kesana sekarang. Boleh kan? Aku sudah di lobby ]
Susan [ Ya, kemarilah. Bebas kok, sudah break makan siang ]
Sesaat kemudian kulihat Brian nampak dari kaca berjalan menuju ruangan.
"Hai, aku lagi" Brian tersenyum menyapa teman-teman se ruanganku.
"Haaiii Pak Briaan, masuk sini. Mau makan siang yaaa" sambut Mba Wulan
"Hmm iya, boleh masuk?"
"Iya, masuk aja. Bebas kok sebentar lagi sudah break"
"Okay, makasih"
Aku tersenyum menyambut kekasihku yang tampan masuk ke ruangan menghampiri meja ku yang berada di sudut ruangan. Ia mengambil salah satu kursi kosong dan duduk disebelah ku.
"Hai" Brian mencium pucuk kepala ku "lelah ya. Mau makan siang apa? Kita keluar?"
"Aku— mau disini saja"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Hmm ... Gak, gak apa-apa, lelah aja"
"Ah, okay. Kita pesan makanan ya."
Brian meraih ponsel di saku nya. Dan membuka aplikasi makanan pesan antar.
"Jangan yang berat-berat"
"Heeii energi mu harus ekstra kalau sedang sibuk begini. Harus yang berat, nanti sakit"
"Apa, batu? Hahaha"
"No. Tapi pakai nasi, harus" Brian sibuk melihat aplikasi memilih makanan.
Tanpa sengaja kulihat dari balik kaca jendela, Dicky keluar dari ruangan memakai ranselnya. Nampaknya ia pulang siang ini karena semalaman menginap dikantor dengan tim mereka. Kucoba mengalihkan pandangan agar Brian tidak melihat Dicky yang juga memandang balik ke arah ku dari balik jendela. Ia tersenyum sinis.
"Aku mau pasta saja, honey" dengan sengaja kedua tangan ku bergelayut pada bahu Brian, bersikap manja se akan-akan sedang melihat Brian yang sibuk dengan ponselnya. Kulirik Dicky senyumnya seketika hilang, terlihat sorot matanya tajam memandang ku. Dan berlalu pergi. Huuuuff.
"Ah, ya. Teman-temanmu mau apa kira-kira?"
"Tanya aja"
"Hmm Mbak, Mas, rencana makan siang apa? Saya pesan sekalian ya, mau apa?"
"Eh, kita dibeliin?! (Asikk) " teriak beberapa temanku.
"Hahaha, tentu. Yuk, ayo apa. Nanti keburu habis waktunya"
Kami memesan pasta dari resto yang tidak jauh dari kantor kami, mempersingkat waktu agar bisa kembali bekerja di waktu padat saat ini. Brian menaruh ponselnya lagi menatap layar monitor ku dan matanya melirik minuman yang berada di mejaku.
"Kapan kamu turun? Sudah beli minuman. Gak apa-apa 'kan kalau aku pesan lagi tadi sekalian untuk temanmu?" Ia meraih cup minuman itu, dan melihat tulisannya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Eh—eh iya. Aku titip sama OB tadi"
"Bisa aja, semuanya juga ditulis Mrs dan Mr kan kalau memesan ini" sebenarnya ia mungkin tau, hanya ingin menguji respon ku atas maksud perkataannya.
"Oh, iya. Hhmm aku lupa"
Ekspresi ceria nya sempat padam. Ada yang ia pikirkan. Namun ia kembali mengalihkan pembicaraan lain. Mencoba tetap tersenyum dengan tatapannya yang canggung.
(backsong : Pink Sweat - At my worst)
Kami makan siang bersama dalam ruangan hingga usai waktu makan siang, Brian kembali keluar ruangan dan mengatakan akan menunggu di area lantai tujuh sambil menyelesaikan pekerjaan juga dengan laptopnya.
Entah aku yang tidak banyak tau, tapi ia sudah terbiasa menata waktu. Seakan-akan santai di depanku, tapi sedikit luang kosong diluar waktu bersamaku selalu digunakannya memperhatikan hal-hal penting tentang pekerjaan. Aku tau ia bersama kedua Asisten pribadinya kini.
Brian memang sangat cerdas dan professional sedari dulu.
Tiba sore hari jam pulang kantor, kami janji bertemu di lantai dasar, sepertinya ia bertemu dadakan dengan seseorang di salah satu kafe di dalam gedung kantor ku. Ia memintaku datang, ingin memperkenalkanku dengan orang itu.
Aku berjalan menuju kafe yang dituju. Kulihat Brian sedang berbicara dengan Pria paruh baya usia kisaran empat puluhan akhir. Nampak elegan dengan jas rapi, dan memunculkan Aura ala kelas atas.
Malu sekali rasanya menampakkan diriku yang tampil kusam termakan hari padat kerja ala pegawai biasa.
"Bri ... " panggil ku saat mendekat ke meja mereka.
"Hei Dear" Brian menoleh ke arahku dan bangun dari duduknya "kenalkan, ini Uncle ku" Brian tersenyum
Pria itu ikut bangun dari kursinya,
"Hai, David!" menjabat tanganku tanpa senyuman. Mata nya menatapku datar. Bahkan tanpa senyuman.
"Susan ... " aku memaksa tersenyum sekuat hati melihat sikap dinginnya.
__ADS_1
'Masa bodoh dengan gaya ber-kelas mu, namamu pasaran!' aku mengumpat dalam hati saking kesal melihat sikapnya yang acuh.
Brian terlihat canggung, mungkin ia paham dengan ketidaknyamanan ku mendapati sikap Uncle nya yang kurang ramah.
Ia menarik kursi dan membiarkanku duduk di sebelahnya.
'Uncle kau dapat dari mana sih ini Brian, rambutnya saja tidak pirang seperti mu, uuhh sombong sekali orang ini!' masih saja aku mengumpat dalam hati.
Mungkin salah satu orangtuanya memang berambut cokelat utuh, karena berbeda dengan Brian yang berambut agak pirang.
Pertanyaan pertama meluncur dari mulutnya.
"Ini kantor perusahaan apa, Susan?"
"Eh ... Ini bukan gedung perusahaan kami, ada kantor cabang di salah satu lantai disini"
"Oh" wajahnya nampak tidak tertarik. Sesederhana itu tanggapannya.
Brian meraih sebelah tanganku yang kutaruh diatas pangkuan, menggenggamnya. Kemudian ia menaruh genggaman kami diatas meja. Aku terhenyak dia malah berani menampakan sikapnya begini di depan Unclenya.
"Sayang, kamu mau pesan apa? Apa ... Kita mau pulang saja?!" Brian menatapku penuh arti. Memberi tanda sebaiknya kami menghindari percakapan ini.
"Apa posisi mu disini? Manager? Atau apa? " sesaat melirik tangan kami dan tersenyum sinis.
'Iisshhh ini orang, mana ada manager pakai kemeja begini, senang sekali nampaknya dia membuatku jatuh harga diri'
"Aa ... " belum sempat aku mengucap.
"Dia HRD, 'Dave" Brian menjawab sigap.
"Oh, HRD ..., Psikologi?"
"Ya, 'Uncle" aku melirik sepintas ke arah Brian.
"Magister, Doktor?"
"Saya baru sarjana S1, 'Uncle. Usia saya baru akan menjejak 26, tahun ini"
"Brian sudah Ph. D di usia dua puluh tujuh tahun. Hanya beda setahun 'kan?"
"Iya, saya harap bisa melanjutkan lagi. kebetulan saya adalah mahasiswa di kampus Brian mengajar"
"Kampus itu milik nya juga, Susan. Mendiang ayah nya adalah bagian dalam Organisasi pendiri Universitas itu. Kakak ku. Itulah alasannya dia di Indonesia, dan Brian ... seharusnya tidak mengajar, ya 'kan Bri?" tegur Uncle David dengan acuh.
"Ah, maksud Susan ... Kami bertemu saat konseling, pada penelitian terakhir ku lima tahun lalu. Aku hanya sesekali membantu pihak fakultas" Brian mencoba menjelaskan.
Aku terdiam menggigit bawah bibirku mendapati cecaran pertanyaan yang selalu menjatuhkanku.
'Apalah aku, hanya remahan sisa di bungkus mie instan, senang kamu Uncle!'
"Apapun itu. Dia masih muda untuk mengejar jenjang tertinggi dalam pendidikan. Jelas fokus kalian berbeda dengan selisih usia yang jauh begini"
"Ya Uncle, saya ada rencana melanjutkan. Hanya ... Masih padat dengan pekerjaan"
'Ini orang apa sih. Papa ku saja tidak pernah se ribet ini' gumamku dalam hati.
"Haha itu bukan alasan. Jangan cuma rencana. Bisa kalah dong dengan mereka yang lulus lebih muda, tidak ingin punya posisi yang lebih tinggi? Atau yaaa ... Sebaiknya memimpin perusahaan sendiri"
'Ada dukun terdekat disini gak ya Brian, hhhuuuuf ' tidak kuabaikan pikiranku yang mulai kemana-mana. Enak sekali orang ini bertanya macam-macam.
.
Bersambung
__ADS_1