
'Ya ... jangankan kalian, tanganku sendiri ingin sekali mencekik lehernya ...' gumam Brian dalam hati.
"Jangan sampai lolos lagi Pria itu mengajaknya pulang, kebiasaan buruknya tidak bisa menolak, saya tau betul bagaimana dia ... " gumam Brian pada Leo.
****
Hingga sore hari antara perasaan aman dan penasaran, Susan melongok dari balik kaca ruangannya, mencari keberadaan Dicky di seberang Ruangan.
'Oke, lolos juga dia hari ini ... tapi gak akan lolos beberapa hari kedepan' batin Susan.
Susan membereskan meja kerjanya, serta berkas yang mulai datang dari hasil Training Haya hari ini untuk di input keesokan hari. Terdengar sayup-sayup tawa beberapa Pria dari seberang ruangan, nampak Pria dengan ransel laptop dan sweater berwarna hitam berada di dalamnya berbincang dengan beberapa lainnya.
'Ah, itu dia si Setan!'
Susan merampas tas kerja nya di meja, mengambil ancang-ancang berjalan pelan mengawasi Dicky dari kejauhan. Tidak lama kemudian Dicky keluar dari ruangan untuk pulang setelah seharian di kantor pusat untuk memberikan laporan. Susan mengikuti dari belakang untuk mencari situasi aman berniat mencaci Dicky jauh dari keramaian.
'Hahaha, ngapain dia ngikutin dari belakang ... dikiranya aku nggak tau dia mau macam-macam, senjata makan tuan kamu nanti Susan' gumam Dicky dalam hati.
Situasi mulai ramai dengan para karyawan yang mulai berjalan keluar dan memadati lift. Susan hampir kehilangan jejak Dicky yang menuju arah parkiran. Bahkan lupa diri karena emosi hingga mengambil tindakan gegabah menghadapi Dicky yang lebih gesit.
'Plat nomornyaa ... hmm ... ok ... ok ... F*rd ... ya ... warna hitam ... hmm ... ' Susan berjalan mendekat bersembunyi dibalik salah satu mobil yang terparkir berjajar.
Perlahan menyelinap mendekat, situasi aman.
'Mana dia? tadi duluan dia masuk lift ke basement, apa salah mobil ya ... plat nya ... Hmmmmmppp'
Sebuah tangan mendekap mulutnya, tubuhnya digiring perlahan ke arah mobil yang dituju.
"Hmmmppp ... lepas!" pekik Susan dibalik dekapan tangan Pria itu.
"Diam! ngapain pake teriak!" bentak Dicky pelan.
"UGHhh!!"
Buggg ...
Ujung siku didaratkan kuat ke bagian hulu hati Pria yang mendekapnya itu. Kemudian menginjak kuat bagian kakinya hingga Susan terlepas dari dekapan itu
"AH!! berani kamu!" Dicky meringis kesakitan.
Kini mereka berdua berhadapan dan Susan menjaga jarak mengetahui itu adalah Dicky.
"Jangan macam-macam ya!"
"SINI!"
Dicky menarik lengan Susan dan menjebloskannya masuk ke dalam mobilnya, ia pun sigap masuk kedalamnya sebelum Susan sempat melarikan diri.
"Mau apa kamu!"
"Kamu yang mau apa! mengendap-endap mengikutiku dari belakang!"
"Aku mau menegur perilakumu kemarin! apa yang kamu lakukan tidak sesuai dengan perjanjian!"
"Tidak usah teriak, bodoh sekali kamu!"
__ADS_1
"Hmmp"
Dicky kembali mendekap mulut Susan dengan tangannya.
"Kamu dengar baik-baik permintaanku, atau kamu sendiri yang merugi. Aku bahkan tidak menampakkan wajahku kemarin, seharusnya kau tidak usah panik dan marah-marah seperti ini!"
Tangan Susan menggapai perlahan sepatunya, melepas dan menghempaskannya ke wajah Dicky.
PLAKK
"Sekali brengs*k kau tetap saja brengs*k!"
"****!!" Dicky menepis tangan Susan hingga sepatu ditangannya terpental kebagian depan kursi mobil.
Tangan Dicky memenjarakan bahu Susan dan satunya mencengkram dagunya hingga wajah Susan sedikit mendongak.
"Kamu lupa aku bisa melakukan apa saja, ha? lupa kesalahan fatalmu yang memancing kemarahanku lagi?!"
"Hhh ... kamu keterlaluan! kamu menyakitiku lagi!" wajah Susan memerah karena dagunya tertahan cengkraman Dicky.
"Aku? menyakitimu?? bahkan aku tidak memukulmu sedari tadi kamu berusaha memberontak dan menyakitiku! sekarang diam, jangan membuatku lebih marah lagi!"
"Karena kamu mendekapku seperti itu! perilakumu seperti penculik! dasar Pria asusila!"
"Mulutmu tidak bisa diam rupanya!"
"Hmmp"
Susan mendelik terkejut atas apa yang dilakukan Dicky kali ini, ia berani mendaratkan ciuman yang dalam ke bibir wanita yang tubuhnya sengaja dijegal penuh sebagian lengan Dicky pada kedua bahunya.
Menghindar sekuat tenaga dari apa yang dihadapinya, Susan menggelengkan kepala menyingkirkan posisi wajah yang ada dihadapannya. Meski berkali-kali gagal menghindar karena wajahnya tertahan oleh tangan yang menahan rahang dan dagunya.
"Aku seharusnya bisa menahan rasa cintaku yang selama ini tulus kujalani, tapi dendam atas perbuatanmu membuatku tidak ingin memilikimu lagi!"
"Aku bosan dengan kebodohanmu Dic! aku juga tidak akan pernah ingin bersama dengan Pria jahat sepertimu!"
"Bisa kau jamin ucapanmu itu? kalau sampai kubuat kau mengganti kembali calon anakku itu!!" tegas Dicky.
Susan kali ini sangat takut dengan ancaman yang pernah dibuktikan Dicky di masa lalu.
"Ja—jangan, kumohon ... Dic, aku ingin menjalani kehidupan baruku lagi ..." bulir airmata kini turun membasahi pipinya, ia sangat takut kegagalan hubungannya dengan Brian akibat Dicky yang berulah semakin jauh.
"Kau paham sekarang!" tegas Dicky yang seketika ekspresi wajahnya berubah menahan kesedihan.
Susan mengangguk pelan.
"Aku paham, tapi jangan tampak kan dirimu lagi dihadapan Brian ... atau Asistennya, kamu akan membahayakan dirimu juga"
"Masih terselip 'kah rasa peduli untukku? mengerti perasaanku saja tidak, kamu itu"
"Lepaskan aku, aku tidak akan mengganggumu ... "
Dicky mengernyitkan dahi kemudian melepaskan tangannya yang menahan tubuh Susan, mengusap wajahnya yang sedikit berpeluh karena emosi tadi.
"Tunggu"
__ADS_1
Dicky kembali meraih dagu Susan dan menciumnya kembali dengan kasar. Sigap Susan mendorong tubuh Dicky dengan tendangan dari kedua kakinya. Hingga Dicky terhempas ke sisi berlawanan bagian kursi mobil. Susan mencari tombol manual kunci pintu mobil disebelahnya dan segera keluar membanting keras pintu mobil.
Dicky bangkit dan melangkah ke sisi depan bagian kursi kemudi melalui bagian tengah mobil. Memperhatikan Susan yang berjalan menjauh dari pandangannya.
'Kau memperlakukanku seperti penjahat, selalu saja keburukan yang ada dimatamu saja, tanpa memandang segala yang kulakukan bukan berniat semena-mena terhadapmu. Semakin aku tidak percaya bahwa kau pernah menungguku bertahun-tahun'
Dicky menelungkupkan wajahnya dibalik lengannya yang berada di atas kemudi. Sesaat kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari parkiran.
Sementara itu Susan yang merasa lemas berdiri menyandar pada dinding didekat lift, tanpa beralaskan sepatu, bergegas kembali lantai atas menuju ruangannya mengambil sepatu pantovel yang hanya digunakan untuk Training di kelas. Sedangkan satu sepatunya yang ia masukan dalam tas, karena pasangannya masih berada di kursi depan mobil Dicky tadi, tertinggal saat kejadian barusan.
Ponsel bergetar dalam tas nya, dan tanpa sadar ada panggilan tidak terjawab hingga delapan kali dari Leo. Susan segera menanggapi panggilan dari ponselnya
"Ya, Leo. Maaf saya habis dari toilet. Ya ... kembali saja kesini, saya masih di lantai dua puluh satu ..., oke Leo"
Susan kembali meraba kolong meja kerjanya mencari sepasang sepatu agar Leo tidak curiga. Sembari duduk kembali menangisi kejadian tadi.
'Aku tidak menyangka Dicky kembali nekat menciumku tadi, tapi kenapa ... dia bilang dendam juga benci ... apakah kami tidak bisa berdampingan secara wajar ya Tuhan ... '
"Nona??"
Susan terhenyak dan mengusap wajahnya dengan tissue kering di atas meja, kemudian bangkit menghampiri Leo yang berdiri di ambang pintu ruang kerja nya.
"Ya Leo, apa kabar?" Susan berusaha tidak menatap ke arah Leo yang sedang memperhatikannya.
"Baik. Ada apa Nona?? ada masalah apa?"
"Eh, nggak Leo, biasa lah ... masalah kantor, mungkin saya sedang lelah ... " Susan mencoba perlahan melihat ke arah Leo sambil tersenyum paksa, dan berjalan mendahului Leo keluar ruangan.
"Katakan jika terganggu lagi Nona, semua penjahat wajib diberi jera" ucap Leo pelan, sambil berjalan menyusul Susan dari belakang.
"Maksudmu?" Susan berbalik dan berhenti menunggu Leo yang berjalan mendekat.
"Saya dan Adam sepakat untuk menjaga anda dari orang itu, tidak perlu anda jelaskan. Kami sudah tau semuanya"
"hm ... " Susan menunduk berpikir sesaat "saya sudaj sampaikan ke Adam soal ini, Leo. Biar ini saya tangani sendiri, saya yakin bisa. Saya satu-satunya orang yanh mengenalnya lebih lama dari kalian, dan saya yakin dia hanya memberi gertakan saja. Itu tidak akan mengubah keputusan saya melanjutkan pertunangan saya dengan Brian. Tenanglah"
Leo mendengarkan Susan dengan seksama, kemudian mengangguk pelan.
"Mari, saya antarkan Nona pulang"
"Bagaimana kabar Brian hari ini, Leo. Dia terlihat sibuk, benarkah?"
Sambil kembali berjalan menuju lift.
"Soal Tuan ... dia memang sibuk Nona, jangan khawatir"
"Tapi ... Leo, apa dia kelihatan mood nya berubah?"
"Tenang saja" Leo tersenyum.
'Baru kali ini kulihat Asisten kaku nya tersenyum, semoga tidak ada apa-apa dibalik sikapnya yang mencoba menenangkanku' batin Susan.
'Seandainya dia tau, bahwa tunangannya sedang mengambil langkah berbahaya dalam bisnis yang mempertaruhkan sejumlah besar uang, pasti dia paham ada kemarahan besar yang tersembunyi dibalik langkah gegabah Tuan'
.
__ADS_1
.
Bersambung