
Sekitar Pukul tiga sore, sambil menunggu kondisi gangguan Internet stabil selama hampir tiga jam dalam pemantauan. tim HR kali ini mengalami masalah pada line telepon, sedangkan dalam kondisinya mereka sama sekali tidak boleh putus komunikasi kantor pusat mengenai laporan pada akhir bulan ini.
“Mas Dwi ... “ Ocha melongok ke dalam ruangan IT.
“Ya, mba Ocha kenapa? gimana Internet udah aman gak di HR?”
“Lebih baik sih mas, cuma masih agak lelet koneksinya, ini jalur telepon kok gak ada nada sambung ya, repot kita mau koordinasi sama pusat.”
“Waduh apalagi nih, line nya kenapa mbak? teleponnya udah diganti belum kemarin?”
“Kan baru sebulan mas Dwi ganti sama yang punya sini, tapi ini tiga line telepon gak fungsi. Dibantu ya mas.”
“Oke nanti kesana.”
Sesaat Ocha berlalu, mas Dwi menepuk pundak Dicky.
“Heh ‘Bro, break dulu sana gih biar aku yang pantau, sekalian cek line telepon ke HR, kan tadi mau liat yang namanya Susan. Siapa tau benaran kenal.”
“Hah? nah ini gimana kalau tiba-tiba Down lagi?”
“Kan gak lama, iseng-iseng aja biar matamu gak sakit, pencerahan sedikit ke ruang HR. Hahaha, asik-asik kok orangnya.”
“Okaayy ... uughhh ... “ Dicky memijat-mijat lehernya sendiri dan melepaskan kacamatanya. Kemudian bangkit dari kursi dan segera digantikan oleh Mas Dwi.
Dicky berjalan menuju ruangan tim HR saat itu. Dan saat membuka pintu respon yang keluar pertama adalah dari Jeje.
“Permisi ya” Dicky melongok dan masuk ke dalam ruangan.
“Eh, mas Erick yaa ... wah senang sekaliii ... maap yaaa ruangan kita berantakan, maklum deh akhir bulan.”
“Hahaha gak apa-apa mbak, gimana teleponnya tadi?” Sambil mengecek masing-masing unit telepon yang ada.
“Iya ini awalnya satu dua tapi jadi hampir semuanya putus, itu kenapa ya”
“Oke coba aku cek kabelnya”
“Alamak si Gedong ‘Cong” Jeje berbisik dan menyikut Kang Ridwan yang sibuk mengisi laporan.
“Apa sih ‘Jepri, gak bisa liat lekong (laki) langsung deh nge zoooom aja tuh mata ‘Cong” ucap Kang Ridwan yang tanpa basa-basi menjawab kata-kata Jeje.
“Iiiihh rese nih si Bantet” ejek Jeje ke Kang Ridwan yang bertubuh pendek.
Dicky sibuk memeriksa satu-persatu line yang berjalur di bawah belakang meja kerja dari mereka masing-masing.
‘Sial, ini orang ada disini bikin malas saja’ Gumam Dicky dalam hati.
“Boleh numpang sebentar ya, maap kabelnya mau dilihat sebentar,” Dicky memeriksa jalur kabel telepon dari masing-masing meja.
“Oh, ehh iya ... minggir-minggir eh, mas Erick nya mau cek kabel”
Dicky memeriksa satu persatu jalur tersebut di bawah meja kerja itu.
“Astaga ‘mak, dia masuk kolong coba ... akikaah gemetar bikin travelling ini otak deh. aku kotooor ... .” bisik Jeje ke arah Ocha kali ini.
‘Breng*ek, ini bukan cuci mata namanya, ini amphibi masih bicara terus’
Kang Ridwan tiba-tiba menyahut tanpa melepaskan pandangan dari layar komputernya.
“Maap ya mas, jangan diambil hati memang anak-anak HR kecentilan, apalagi perawan satu itu si Jeje emang gak bisa liat laki. Untung kamu bukan Gadun (Pria paruh baya)”
“Hahaha gak apa-apa mas.” Dicky mencoba menahan rasa kesalnya.
Tiba-tiba Susan masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa surat lamaran dari para calon pegawai tadi.
“Haduh ... selesai juga Ocha, ini gimana mau dimasukin coba, rata-rata pendidikannya D3 gak sesuai spesifikasi semua.” Susan menaruh berkas CV tadi ke meja Ocha.
“Yah, gimana dong ya, pemenuhan buat layanan Telgo gak bisa harus S1.”
“Dan speakingnya juga kurang, ini buat yang Australia itu ‘kan?” Susan duduk kembali ke belakang meja kerjanya.
“Nah, itu kan ... makanya aku minta kamu yang wawancara hahaha”
“Sial, jebakan betmen ini ya, hmmm ... “
__ADS_1
“Kali ini aja Bu Susan”
Seketika Dicky bangun dari kolong meja dan terbentur karena saking kagetnya.
DUG
“Ugh ... “
“Eh ... pelan-pelan mas Erick”
Susan menyadari ada orang lain selain tim nya diruangan itu.
“Eh, ada apa nih? oh, ada orang ya?”
“Iya, ini mas Erick, lagi bantuin cek line telepon kita, coba kamu cek line kamu nyala gak ‘San”
“Sebentar.” Susan mengangkat gagang telepon di mejanya “mati juga, ini sih paling bukan teleponnya Cha, jalur kabelnya ini.” Susan beralih meraih ponselnya dan mengetik pesan.
“Iya ini lagi di cek sama mas Erick”
Sesaat kemudian kini Dicky mengarah ke bawah meja kerja Susan. dan Susan sigap memundurkan kursinya membiarkan Dicky memeriksa jalur kabel dibawah meja dengan posisi membelakangi. Sedangkan Susan terlihat tidak fokus dan perduli karena masih mengetik pesan untuk Brian.
Tiba-tiba keisengan muncul mengalir begitu saja, Susan menyeletuk kata candaan tanpa melihat ke arah orang yang berada satu meter didepannya kursinya.
”Mas-nya jangan meriang gitu dong sama kita, sweaternya sampe nutup setengah muka, Jeje emang setengah-setengah kalo yang lain tulen kok mas. hahaha.”
“Bercanda ya mas Erick ... biar cepet akrab sama anak-anak sini hahaha“ sambut mba Wulan.
Serentak teman-teman Susan ikut tertawa.
Dicky tetap diam tidak menjawab, sesaat kemudian ia bangkit keluar dari dibawah meja, dan memandang langsung ke arah Susan.
Berbisik halus sambil membuka hoodie yang menutupi kepalanya.
“Yakin kamu tidak meriang melihat aku?”
Ekspresinya datar dan dingin,
‘DICKY!!’
Susan terkejut bukan main, benar-benar jantungnya berdetak kencang dan seketika wajahnya berubah pias melihat sosok pria di depannya.
Bibirnya serasa kaku kini tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Yang ia hadapi adalah orang dari masa lalu yang selama ini ia cari.
Dicky menaruh kabel yang digenggamnya barusan kembali ke lantai berlapis karpet pada ruangan itu. Dan berbalik berjalan menuju luar ruangan.
“Mba Ocha, sebentar ya. Nanti dicarikan kabel ganti dulu, aku tanya ke mas Dwi”
“Oh, iya mas Erick, makasih yaaa ditunggu lagi sama kita” goda Ocha.
Sesaat Dicky berlalu keluar dari ruangan. Susan bertanya pada Ocha.
“Siapa namanya tadi? Erick?” tanya Susan datar karena masih shock.
“Iya, kenapa ‘Cong? cucok kaaan ... tapi rebutan sama Jeje nanti kamu” jawab Haya.
“Namanya Dicky Erickson Neville Dobson ... “ ucap Susan lagi datar.
“Bule ya ‘em? apa belasteran anggora doi ya” jawab Jeje.
“Huuuufff gak tau” Susan memajukan kursinya ke arah meja. Dan memegang kepalanya dengan kedua tangan sambil menunduk.
“Kenapa kamu ‘San? eh kenal ya?” tanya Haya yang menyadari Susan yang terlihat canggung.
“Gak, eh ... gak” Susan mencoba menyadari dirinya yang sempat shock sesaat tadi.
“Itu dia yang kita bicarakan tadi lho, anak IT pusat yang katanya ganteng itu.”
Susan hanya mampu menghela napas berat sambil terpaku.
“Jadi dia tadi yang ada di lift ya ... “ ucap Susan dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar orang lain disekitarnya.
”Beb, kita break sebentar ke lantai tujuh deh yuk” ajak Haya yang sepertinya memahami partnernya itu.
__ADS_1
“Iya, nanti ya Hay”
Susan langsung bangkit perlahan dan berjalan tanpa menjawab apa-apa
Sesaat melewati ruang IT Susan menoleh kaku dan matanya mencari-cari keberadaan Dicky. Ia terlihat sedang berdiri melihat ke arah monitor di sebelah Mas Dwi yang sepertinya sedang fokus bicara sambil menunjuk-nunjuk layar monitor di depannya.
‘Dicky ... bagaimana bisa kamu berada disini, kenapa kamu hadir lagi di kehidupanku setelah sekian lama pergi tanpa kabar’
Susan kembali membuang pandangannya setelah beberapa waktu melihat Dicky. Sedangkan setelahnya dari dalam ruangan pun Dicky menyadari yang baru saja lewat itu adalah Susan.
“Mas, bentar ya aku ke WC dulu”
“Oke, jangan lama-lama ya”
“Sip”
Dicky berjalan cepat mengikuti Susan dan perlahan melambat saat mulai berada dekat dengan Susan yang mengarah ke toilet.
Susan membasuh wajahnya dengan air dan seketika tangisan pun terluap.
“Kenapa kamu datang lagi sial*n, kenapa aku harus bertemu lagi denganmu”
Beberapa menit Susan menatap wajahnya sendiri di depan kaca. Mengusap pelan sisa uraian airmata dan membasuhkan air lagi ke wajahnya. Saat baru saja Susan keluar dari toilet, Dicky sigap menggenggam tangan Susan dan menariknya ke gudang kecil penyimpanan alat kebersihan.
****
“Dicky lepas! mau apa kamu!” Susan mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Dicky.
“Kamu kaget aku ada disini, akupun begitu” kedua tangan Dicky kini memenjarai Susan yang tersandar di tembok ruangan.
“Lalu untuk apa kamu menarik ku kesini!”
“Hei mantan istri ku, aku hanya ingin sedikit bicara saja tanpa ada orang yang tau masa lalu kita” Dicky menatap Susan dengan tajam.
“Ya! akupun begitu, tapi kenapa kamu menghilang selama ini?”
“Yah, akibat kegagalanmu menjaga rahasia aku terpaksa harus pergi, tapi kali ini aku kembali, surpriseee ... “ Dicky menyeringai.
“Sebaiknya kita saling menjaga jarak”
“Tenang saja, hmmm ... “ Dicky meraih ujung rambutku dan memandanginya “mungkin sekarang kau jauh lebih cantik, tapi maaf ... aku kesini karena untuk mengejar karir ... bukan untuk mengejarmu.”
Dicky mencubit ujung hidung Susan sambil tersenyum licik, kemudian meninggalkannya di dalam ruangan itu.
****
Setelah kejadian tadi Susan kembali dengan perasaan yang semakin tidak nyaman dan kacau.
Ruang IT
“Gimana mas Dwi? masih ada problem?”
“Stabil, cuma tinggal kecepatan Internet belum kembali normal, tapi ini progress, biasanya bisa seharian begadang kita cek bolak balik ke ruang server, keren lah!”
“Jadi gimana? kira-kira bisa dipromosikan gak nih? kalau salary nya cocok ... boleh lah” Dicky tersenyum smirk.
“Tenang, itu mudah lah. Kalau trouble ini berhasil pulih maksimal 2x24 jsm aku pastikan kamu bisa dapatkan dua posisi sekaligus”
“Deal!” Dicky menyeringai puas.
‘Ya, terlebih lagi ini semua karena ... ada dendam yang harus aku balaskan’
‘
.
Bersambung
Latar belakang cerita, posisi Ruangan saling berhadapan satu sama lain, kedua ruangan itu berdinding kaca full disekelilingnya, setengah kaca kebawah nampak seperti kaca es, dan tepat disebelahnya adalah Ruang server.
untuk kali ini cerita yang menyesuaikan situasi nyata 😁🙏
__ADS_1