
Kami berdua keluar dari dalam ruang baca, dikejutkan dengan keberadaan Uncle yang sedang duduk diruang keluarga sambil menyilangkan satu kakinya dan memainkan ponselnya.
Uncle bahkan sepertinya tau tentang keberadaanku dirumah keponakannya itu.
"Kalian sudah lama di dalam?" tanpa basa-basi dan menoleh sedikitpun kepada aku dan Brian.
"Ada hal apa hingga datang tanpa memberitahuku?" Brian berjalan menghampiri Uncle yang masih terlihat tenang. sedangkan aku masih berdiri mematung di depan pintu ruang tadi memperhatikan situasi canggung ini.
Uncle menoleh tepat dimana Brian berdiri beberapa meter darinya.
"Ini, pakaian yang kau minta pada Leo. Aku yang bawakan, bajumu basah katanya?" uncle menyodorkan satu paperbag berisi pakaian ganti miliknya.
"Aku yang minta Leo kesini, dan bukan cuma ini yang kuminta"
" Soal yang lain bukan urusanku, aku hanya membawakan pakaian keponakanku"
Brian tertawa sinis.
"Heh, dan aku baru tau kalau Leo bisa menerima perintah dari oranglain selain aku. Jujur saja Dave, ada perlu apa?"
"Kamu Bri, sejak kapan Asisten setiamu hanya patuh padamu?"
"Setauku Adam ataupun Leo memang gak pernah membelakangiku, Dave. Kecuali itu memang mengancam buatku"
"Briiii bri ... kita bicara lagi nanti, ada oranglain disini" Uncle mengalihkan pandangannya ke arahku. "Susan, apa kabar?"
Brian membalikan badan dan mengulurkan tangannya agar aku mau bergerak maju dari tempatku berdiri.
"Hai, Uncle. Aku baik" sambutku sambil melangkah maju dan menyambut tangan Brian.
"Dear, sebaiknya kita makan siang keluar. Yuk!"
"Tapi Uncle ... " aku sedikit bingung atas sikap Brian yang terkesan menjauhkanku dari pertemuan ini.
"Oh, jangan khawatir Sue. Bri memang selalu begitu kalau merasa terganggu. Mungkin saja aku telah mengganggu waktu kalian"
Uncle tersenyum sinis memandangiku dari ujung kepala hingga kaki.
"Gak apa-apa sayang, aku belum lapar" jawabku pelan
"Jangan bercanda, kamu belum makan apapun dari awal kita datang" Brian menegaskan pandangannya padaku.
"Jangan merasa terganggu dengan kedatanganku, aku hanya mau mengontrol sedikit hasil kerja orang kepercayaanku pada rumah ini" saut Uncle dengan nada acuh.
"Tapi aku lapar." Brian berbalik menghadapku, ia mengangkat alis seraya menatap dalam seperti mengajakku memahami maksud dari kata-katanya. aku menatap balik bola mata abu-abu yang nampak dingin juga tanpa senyuman.
'Aku takut sekali melihat Brian yang seperti ini, mood nya berubah drastis lagi' batinku. sikapnya membuatku tertunduk takut kali ini.
Baru saja kami hendak beranjak dari ruangan itu tanpa menggubris Uncle yang berpura-pura acuh tapi seakan mengawasi gerak gerik kami. Security datang membawa satu paper bag dan memberikannya pada Brian.
"Mister Brian, ini tadi ada ojek online yang kirim kesini" Pak Syaiful memberi info dengan logat daerahnya.
"Apa ini?" Brian membuka sedikit paper bag berwarna peach itu, "Ah, oke. terima kasih pak"
Brian memberikan tas itu kepadaku.
"Kok, buatku?"
"It's Leo," Brian berbisik "cepat gantilah pakaianmu dikamar atas"
__ADS_1
Ternyata Leo mengirimkan pakaian yang dibelinya di mall tadi melalui jasa ojek online.
"Kamar mandi terdekat saja Bri"
"Kuantar"
Brian mengajakku ke ruangan sebelah ruang baca tadi yang dimaksudkan akan menjadi ruangan Adam. Ruangan kosong itu terdapat kamar mandi pribadi. Dan baru ada beberapa fasilitas yang ada. Intinya aku hanya mau salin baju.
Brian membukakan pintu kamar mandi itu dan aku masuk lebih dulu. Ia berdiri di ambang pintu bersandar sambil melipat tangannya.
"Sudah, salin deh"
"Ya kamu ngapain? aku mau tutup pintu, mau kujepit apa!" aku berbalik menunggu Brian beranjak dari ambang pintu kamar mandi.
"Jepit coba, pintunya bisa kubuka lagi kok"
"Sudah jangan banyak ngomong ah, aku serius lho"
"Gak bisa diajak bercanda banget sih kalau nervous"
"Kamu juga nervous"
"Nggak. Rumahku ya Hak aku, Uncle mau berapa lama disini ya tergantung aku"
"Sudah sana! aku serius. Soal ini privasi ku" aku memasang ekspresi datar, mungkin mood ku juga sudah hancur sejak beberapa saat tadi.
"Aku hanya berusaha menghiburmu Sue ..." Brian menampakkan senyum kecut dan beranjak dari tempatnya berdiri. menyingkir beberapa langkah agar aku bisa menutup pintu.
BUUG
Aku menutup pintu dan bersandar dibaliknya.
'Aku jahat sekali'
Aku kembali membuka pintu, ternyata Brian juga masih berada di depan pintu menunggu dan membelakangi.
"Cepat sekali, sudah belum?" ia berbalik melihatku yang mengintip sedikit di pintu yang terbuka.
"...." aku menatap tanpa menjawab apa-apa.
Kubuka sedikit lebih lebar pintu itu, separuh badanku keluar dari sela-sela pintu yang terbuka dan menarik kemeja Brian kuat hingga ia tertarik masuk ke dalam.
Bersamaku ...
"Eh, hei hei ... Hahaha, astaga. Kuat sekali tenagamu"
BLAMMMMM
Pintu tertutup kembali.🌹
****
POV Author
Sekitar dua puluh menit kemudian Susan dan Brian keluar dari ruangan. Mereka tertawa bercanda satu sama lain, sepertinya mood mereka sudah pulih kembali.
"Kenapa? masih pusing?" tanya Susan sambil tersenyum-senyum
"Gila kamu" Brian menggelengkan kepala, nampak tersenyum kesal.
__ADS_1
"Hahaha" tawa puas Susan melihat ekspresi Brian karena wajahnya memerah.
"Curang"
"Loh, kan hiburan"
"Hiburan apa, kalau aku nekat gimana?"
"Ya ampun sayang, marah dia"
"Enggak, aku gak marah. Cuma gemas saja, awas kamu ya"
"Hahaha ... "
"Kamu mau makan apa?" tanya Brian mengalihkan susan yang masih tertawa.
Uncle menyambut Susan dan Brian dengan ekspresi curiga, memicingkan mata memandangi mereka berdua.
"Kenapa tidak makan disini, diluar masih hujan. Aku sudah pesankan untuk makan siang, atau sudah terlalu sore?"
"Dave ... "
"Iya, kitaaa ... makan siang disini saja 'Bri" Susan memotong kata-kata Brian yang lagi-lagi berusaha membantah Uncle.
"Terserah" ucap Brian singkat dan nampak merengut.
"Kita tunggu sebentar lagi"
***
Makan siang menjelang sore kembali berlangsung canggung, Uncle tetap saja memberi pertanyaan yang secara sadar seperti mengorek informasi tentang Susan secara personal. Dari asal keluarga, pekerjaan sebelumnya, hingga pertanyaan bagaimana Susan da Brian sampai kenal dan dekat hingga memutuskan berpacaran.
Tidak lolos, kalau saja Brian tidak memotong jawaban susan yang nyaris kelepasan bicara. Brian malah dibuat geram dengan sikap Uncle yang bertanya tapi selalu saja mencari titik kesalahan dibalik jawaban Susan.
Makan sore itu terasa panjang dengan sedikit debat kecil yang saling menyindir. Susan semakin paham kenapa Brian juga dulu hampir memiliki karakter yang sama seperti Uncle nya. Ternyata ia di didik oleh orang yang salah. Mungkin inilah yang dimaksud Brian kala itu, bahwa ia telah bergantung dengan orang yang salah.
Padahal, masih lebih jauh lagi. Tindakan Uncle yang selama ini menjerumuskan Brian dalam masalah yang berkepanjangan, bahkan mampu mengancam nyawa.
Dan mampukah Susan menolong Brian yang masih terikat dengan Uncle karena amanat sang Ayah?
Brian sedang mencari tau apa dibalik kebaikan Uncle selama ini, yang sekian lama merekomendasikan Psikiater palsu demi membuatnya berpikir bahwa dirinya seorang OCD (Obsessive Compulsive Dissorder), memberi sugesti kuat mengkonsumsi obat penenang bertahun-tahun. Hingga Brian sendiri tidak berhasil menganalisa dirinya sendiri.
Apa yang dicari Uncle, dan kenapa Uncle berusaha mencelakai Brian secara perlahan, sedangkan ia yang telah menjaga Brian sejak umur 15 tahun. Brian dan Adam sedang mencari tau motif dibalik ini semua, karena bisa saja membahayakan keselamatan kekasihnya.
.
.
Bersambung
Nah nah nah, teka teki tanpa silang.
Kira-kira apa yang dilakukan Susan dan Brian selama 20 menit?
🤣🤣🤣
capedeeee
yuk, Thor mau nulis next eps. silahkan menjejak yaaa🤗🤗🤗
__ADS_1