My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Bye ... Submisif


__ADS_3

Seketika laju kendaraan itu lepas dari pandangan mereka. mama papa dan Kak Edo turut masuk lebih dulu ke dalam rumah, tanpa basa-basi Dicky menarik Susan ke sisi depan rumah Eli, tetap berusaha memaksa untuk bicara.


“Hei istriku! berapa lama kamu diluar sana bersama pria itu, Ada hubungan apa kalian berdua!”Dicky bertanya serius, ekspresinya seakan menentang kedekatan Susan dan Brian .


“Dia konselorku, apa masalahmu! kenapa kau begitu risih dengan kedekatan ku dengan pria manapun, kau sendiri mendapatkanku dengan cara yang curang tapi kau tetap bangga dengan semua itu!”


Dicky cukup terperanjat melihat sosok Susan yang kini berani bicara dan menentang keras.


“Jangan berusaha menentang, saat ini kau terikat pernikahan denganku, kau tidak pantas pergi dengan pria manapun tanpa seizinku!” Dicky mencoba menahan intonasi suaranya.


“Oh, sejak kapan ya aku ini menyetujui pernikahan kita ... nampaknya aku hanya menjalaninya dengan terpaksa!” Susan mulai berani meninggikan suara.


“Pelankan suaramu! kalau sampai orang lain tau, pastinya kau akan benar-benar menjadi istri sah ku! itu yang kau inginkan? haha ... tapi dengan senang hati aku akan menerimanya”


Kini Susan yang sedikit terhenyak dengan perkataan Dicky, kembali merasakan bahwa ia tidak pernah punya pilihan.


“Kau!”


“Meski sampai detik kepastian tentang kehamilanmu, jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu!”


“Tentu saja! akupun bersumpah kau tidak akan pernah bisa menyentuhku!”


Susan membuang muka dan bergegas masuk ke dalam rumah seraya membanting pintu.


Dicky tercengang dengan sikap Susan kali ini yang dengan agresif menyerang setiap perkataannya, seakan menemui hal baru yang perlahan tumbuh didalam diri Susan.


‘Serendah apapun caramu melihatku, tidak sedikitpun aku pernah berhianat dibelakangmu, dan yang menyedihkan bagiku adalah tetap menerima hatimu yang masih membeku seperti es’


****


‘Aku merasa menjadi perantara ego bagi Kak Edo dan Dicky yang tidak pernah tau perasaan terkekang ini, aku hanya sekedar meluapkan keresahan ku pada Eli dan Kak Brian dengan cara sewajarnya ... lalu dengan siapa aku harus mengadu lagi ... bukan kuingin menutup perasaanku dan bersikap arogan terhadapmu Dicky. caramu yang salah telah membunuh perasaan itu hingga tak ada yang tersisa lagi ... seandainya semua bisa terulang ... aku ingin mencintaimu dengan cara yang berbeda ..,’ Susan membenamkan wajahnya ditempat tidur dan menguraikan airmatanya yang terdalam.


‘Aku ingin segalanya usai ...’


****


Brian kembali ke hotelnya masih dalam pikiran yang sama selama dalam perjalanan tadi, memasuki ruangan tempat ia bersama tadi, melihat beberapa potong pizza. ia mendekat.


‘Ahh aku lupa menyuruhnya membawa ini semua,’ melihat sisa potongan yang sudah termakan sebagian milik Susan tadi. ia hendak mengambil tissue dan terhenti mengurungkan niatnya, ia meraihnya dengan tangannya sendiri.


’ I’m okay with this ... okay ... I’m okay ... it’s clean ... Hhh ... ‘ mendekatkan potongan pizza itu ke depan matanya dan memejamkan mata untuk mencoba memakan pada bagian bekas gigitan itu.


Brian mengernyitkan dahi sesaat menggigit dan memakannya.


’Ini tidak apa ternyata ... Ahhhhh tapi ini pedas sekaliii’ segera bangkit mencari segelas air.

__ADS_1


‘Sedikit lagi aku mampu .., yaa aku mampu.’ batin Brian mencoba menguatkan dirinya.


Apa yang terjadi sebenarnya pada Brian. dan kenapa selama ini dia membantah keinginannya untuk berhubungan dengan seorang wanita... hanya ia yang tau.


juga Author tentunya


****


Minggu pagi itu Susan masih terlelap dalam tidurnya. Tenggelam dalam mimpi indah tentang seseorang yang memperlakukannya dengan hangat tanpa tau siapa sosok pria dalam mimpinya yang terlihat samar, dan sekejap segalanya berubah menjadi kesedihan dalam ketika sosok itu menghilang dari hadapannya, Susan tanpa sadar menangis terisak dalam tidurnya hingga ia terbangun oleh suara ponselnya yang semalam sudah ia aktifkan.


Drttt... Drtttt...


“Hoaaaam ... hmm ... siapa sih ini pagi-pagi” Susan baru menyadari ada bekas aliran airmata serta merasakan sakit dalam hatinya, tapi ia lupa apa yang menyebabkan itu semua


‘Mimpi apa aku ya semalam... tidak nyaman sekali perasaanku ini’ meraih ponsel dan melihat panggilan tak terjawab pada notifikasi layar ponselnya.


‘Eli ...’ Moodnya langsung berubah drastis mendapati nama itu yang menghubunginya melalui Video call.


Susan balik menghubungi.


“Hai, kupikir kau sudah bangun... tidurlah kembali kalau masih mengantuk” Ucap Eli.(read i-lay)


“Hooahh ... ya ngantuk sih, maaf aku lupa tadinya ingin menghubungimu semalam, kau kenapa masuk cepat sekali sampai aku tidak lihat”


“Sepertinya kau terlalu bersemangat hingga lupa keberadaanku, jadi... aku lebih baik masuk”


“Cemburu? ah apa sih, ti—tidak ... aku kan mau bersiap pergi ke club semalam”


“AAHH ... Cemburu ayooo kamu cemburu ... lihat wajah malu-malu itu ... ayoo ... ayoo ... ayoo”


“Kututup ya Video Callnya”


“Eh ... gak mau ... aku mau lihat wajah cemburumu itu ... kalau mau tertawa ya sudah tertawa saja, bibirmu itu cemberut tapi sudutnya sedikit bergetar tandanya kamu menyembunyikan sesuatu kaan”


“Sejak kapan kamu pintar membaca ekspresi wajah orang, tapi itu sok tau namanya”


“Instingku yang mengatakan begitu”


“Lalu kalau aku cemburu, kau senang?”


“Hahaha ... tentu saja aku senang!”


“Aku matikan ya!”


DISCONECTED

__ADS_1


“EH!” Susan bergegas bangun dari tempat tidurnya. berjalan menuju balkon kamarnya.


“Hei tampaaaan ... aku tau kamu disitu!”


Susan berteriak dari arah balkon.


Eli tersentak Susan muncul dari balkon kamarnya, karena memang Eli sedari tadi sedang berolahraga depan rumahnya.


“Sstttt ... kamu mau buat semua tetangga keluar rumah ya!”


‘Ceria sekali dia pagi ini’ Batin Eli.


“Biarkan saja mereka keluar! Biar mereka lihat ada orang yang sedang cemburuuuu ... hahaha” Susan tertawa puas, terus mengejek Eli yang mulai kelihatan risih.


“Turun kamu! Awas ya!” tersenyum-senyum malu.


Tiba-tiba muncul suara yang tidak asing masuk dalam polusi suara tadi.


“EEEHH .... Apa awas awas ... mau apa sama adikku ayo! mau apa!” Kak Edo muncul dari teras bawah.


‘Hhh ... satpamnya keluar ini’ Eli bergumam dalam hati.


“Hahaha aku cuma bercanda Edo, santai sajaa”


Kak Zac menyusul keluar rumah sambil menggigit sepotong roti.


“Ada apa ramai sekali kelihatannya, si Susan habis makan apa dia tertawa-tawa begitu” ucap Kak Zac serius menunjuk dengan sepotong roti ditangannya, tapi sebenarnya dia sedang bercanda.


Ketiga Pria itu merapat memperhatikan tingkah Susan dari bawah teras, bak Dono, kasino, indro yang sedang mengomentari seorang wanita.


“Kesurupan dia kayaknya ... ” melihat serius ke arah Susan yang mencoba mencuri dengar percakapan mereka.


“Kesurupan apa??!” Eli dan Kak zac serentak bertanya.


“Kesurupan Konselor!” Kak Edo berlalu tanpa dosa.


****


Bersambung


lg males, sedih, galauu nih Thor milih lakinya siapa...


ok cari yang lebih roti sobek, tapi ga pake abon.... Hiiiiiih


jaringan kacau, ganti OP jg nih

__ADS_1


woy woy woy blom tau kl mamah2 muda ngomelin operator ni yaaa... ga kok kesian mereka... aku tau banget nasibnya😢


__ADS_2