My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Pertemuan Dadakan 3


__ADS_3

Leo berjalan melintas ke arah pintu depan sambil tersenyum lebar dan mengacungkan ibu jarinya tinggi ke arahku. Sedangkan aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa bangun dan memasak sesuatu untuk Brian nanti, kukira bubur tidak akan merepotkan. Baiklah ...


Setengah jam kemudian Leo kembali membawa beberapa barang belanjaan, dan memberiku kode untuk mengikuti langkahnya ke dapur. Aku perlahan bangun dan mengganjal kepala Brian dengan bantal, dia sejenak terbangun tanpa membuka mata.


"Mau kemana?"


"Ke kamar kecil sebentar, perutku gak enak"


"Hmm ... jangan lama-lama" bisiknya, tapi karena begitu lelahnya ia kembali lelap dalam hitungan kurang dari satu menit atau barusan setengah sadar.


Aku mengangguk, berjalan mengikuti Leo ke arah dapur, sebentar lagi pukul tiga dan akan ada kesibukan dari beberapa asisten rumah tangga yang akan segera datang. Lebih cepat lebih baik.


Aku mengganti blouse ku dengan kaus polos berwarna putih yang kupakai didalam lapisan bajuku tadi, setelahnya segera membuka resep yang ada pada ponselku, sesuai arahan Leo.


Leo duduk memperhatikanku memasak sambil sesekali memainkan ponselnya. Sesekali tertawa saat mengetik pesan dan dengan santai meminum minuman soda dihadapannya.


Menu spesial rekomendasi selesai dibuat ...


Tinggal menunggu si Birthday Man ...


Aku kembali duduk diruangan keluarga, Brian tampak masih lelap dan bergeming.


Pukul lima sore Adam datang, beberapa asisten rumah tangga sedang sibuk menata dan membersihkan beberapa area utama. Brian perlahan bangun mendengar percakapan antara aku, Adam dan Leo di ruangan itu. Akupun sigap menghampirinya.


"Honey, jangan buru-buru bangun!"


"Jam berapa ini?" Brian mengangkat tangan kirinya dan melihat kearah jam tangannya "uugh, jam lima. Kenapa aku gak dibangunkan?"


"Aku gak tega, kamu capek banget keliatannya"


"I'm okay, come here ..." aku membantu punggungnya saat ia mencoba bangun dan duduk di sebelahnya.


"Kamu belum makan siang 'kan?"


Adam dan Leo nampak tersenyum-senyum tidak jelas maksudnya.


"Apa jomblo? iri?" ejek Brian sambil menyandarkan kepala di bahuku.


"Ya eng—gak lah, ya ampun ... tinggal sebut wanita model apa, aku cari nanti, Bos" jawab Adam santai


"Bas–bos—bas—bos ... persiapan sudah sampai mana?"


"Sudah hampir seratus persen, lagipula ... memang gak terlalu banyak yang hadir kan kita-kita aja"


"Selamat Ulang Tahun ya sayang" aku menyalip kata antara percakapan Adam dan Brian. "segala doa tebaik aku ucapkan dalam hati setulus-tulusnya buat kamu" aku menoleh ke arahnya mengecup keningnya yang berada dibahuku.


"Apa ini? siapa yang ulang tahun?" Brian kembali menegakkan posisi duduknya, sambil menuangkan air kedalam gelas dihadapannya kemudian meminumnya.


"A—aku eh kamu, ulang tahun hari ini 'kan? gak usah bohong deh ... ngapain sih rahasia-rahasiaan!"


Brian memandang kearah kedua asistennya, dan tersenyum kembali menoleh ke arahku.


"Dibohongi siapa kali ini?"


"Aku gak dibohongi siapa-siapa ... aku tau sendiri kok"


"Oh, okay. Ulang tahunku kemarin, baru sadar ya? hmm ... " ucapnya sambil mencubit kecil ujung hidungku.


"Maaf ya, susah banget tau info tentang kamu, curang gak pernah kasih tau, semuanya juga pada diam aja, ih!" jawabku sambil mengerucutkan bibir dan melirik kesal.


"Gak apa-apa, aku memang gak mau kamu tau, apalagi kemarin kamu sibuk dan sedang sakit, nanti merepotkan ..." Brian meraih daguku dan mencium kening dan kedua belah pipiku "Thank you ... thank you ... thank you ... and ..."


Aku menahannya dengan jari telunjukku ditengah bibirnya.

__ADS_1


"Sst ... sisanya nanti!" bisikku sambil menatap matanya.


"Aaaaaah ... penonton kecewaaa ... kenapa gak diteruskan, hahaha ... anggap saja kita lagi nonton Drama" ejek Adam dan disambut tawa oleh Leo.


"Abaikan mereka, dasar nyamuk!" ledek Brian kepada dua asistennya.


"Wait, ikut aku ... " aku bangun dari duduk dan menarik tangan Brian.


"Kemana? wah, apa ini ... " Brian tersenyum malu-malu.


"Sesuatu yang spesial ..." aku mengerdipkan sebelah mata, sambil menuntunnya ke arah ruangan lain.


Kami berjalan menuju ruangan lain, dan mengarah ke area dapur.


"Dapur? gak ada tempat lain?"


"Emangnya apa?!"


"Haha ... No, nothing"


"Tutup mata ya ... duduk disini!"


Aku menyuruhnya duduk pada kursi yang berhadapan dengan mini bar kecil disekitaran dapur, menutupi makanan yang kubawa dan kuletakan pada meja dihadapannya.


"Taraaaaa ... buka mata!"


Brian terfokus otomatis pada mangkuk putih kecil dihadapannya.



"I—ini? Ke—kejutan?" ucapnya terbata-bata.


"Hm? hm?!" aku mengangkat kedua alisku sambil tersenyum "maaf ya aku cuma bisa buat makanan kesukaanmu, habis mendadak"


"Tau darimana? uhuk! ... ehm" ucap Brian dengan sedikit batuk sambil menutup mulutnya.


"Ma—kan! ma—kan! ma–kan" sorak Adam dan Leo sambil menepuk kedua tangan bersamaan.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"A—aku ... ah sudah, feelingku benar ini sudah pasti salah, kubuang ya!"


Saat aku hendak mengambil mangkuk kecil itu, Brian menahan tanganku.


"Jangan!! ... ini buatanmu kan? yakin ini buatanmu??" ucapnya cepat



Aku mengangguk pelan


"Semangat!!" Adam menepuk-nepuk punggung Brian. Sedangkan Leo terlihat menahan tawanya yang terkekeh.


"Ya tuhan ..." bisik Brian halus sambil perlahan mengambil sendok yang berada disamping mangkuk "Bismillah" bisiknya lagi. Dan membuatku sedikit terhenyak namun tetap membiarkannya makan bubur di mangkuk itu pada suapan pertama.


Matanya terlihat berair dan wajahnya memerah, namun Brian tetap melahapnya dengan sangat cepat.


"Bri, you okay?"


Brian tidak menjawab, hanya mengangkat ibu jarinya ke arahku sambil tetap menunduk menghabiskan cepat hidangan itu. Sesekali ia mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat. Hingga akhirnya bubur itu habis disantap ...


"DONE!!" Brian sigap bangun dari duduknya sambil mengangkat kedua tangannya. Ia segera berbalik ke arah dua asistennya.


"Woooh hebaaat!" ucap Adam sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


"You okay, Sir?" ucap Leo sambil tersenyum khawatir.


Brian berjalan keluar area dapur sambil membuka kancing kemejanya.


"Adam!! Brian gak suka 'kan?! kamu jahat, ih. Kasian kan kalo dikerjain gitu!"


"Dia kuat, tenang aja, Nona ..." ucap Adam santai.


"Not my idea ..." jawab Leo sambil melipat kedua tangannya.


"Ya tapi kalo dia sakit gimana!! bercandanya kelewatan ah!" bentakku


"Gak, gak apa-apa ..."


"Siapa tau dia ada alergi!"


"Dia gak alergi, cuma trauma, hahaha"


"Benar-benar kamu ya ..., bisa mencelakakan dia, tau! bahaya kalau anxiety nya kambuh!"


Brian terlihat kembali, mengambil air mineral dalam lemari pendingin dan meminumnya berkali-kali. Ia menghampiri kami kembali.


"Bri, maaf honey. Aku ..."


"Aku tau ini ide siapa," Brian melirik Adam "Cuti minggu depan tidak saya Acc ya!"


"Ahhhh ... saya sudah pesan tiket konser dan pesawat, ya ampuuun"


"Biar tau, usia saya tiga puluh dua tahun, Adam. bukan tiga bulan, saya gak makan MPASI!"


"Ah, payah payah payah!" Adam berlalu dengan kesal meninggalkan kami. aku, Brian dan Leo.


Brian melirik kearah Adam yang pergi keluar dapur sambil tersenyum.


"Kemari, Dear ..."


Aku berjalan kearahnya dan ia segera melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Serius, kamu gak apa-apa? gak cemas?" ucapku sambil mengusap keringat tipis di dahinya.


"Thank you, itu enak sebenarnya. sayang ... aku masih trauma, jadi maaf, besok-besok jangan tawarkan aku makanan itu lagi"


"Yaaahh ... kasian ...tapi kamu gak muntah 'kan?"


"Gak, aku hanya berkumur menghilangkan rasanya disekitar mulut dengan penyegar, aku gak akan muntahkan hasil masakan perdanamu" ucapnya sambil menatapku.


"Hi hiii ... makasih"


"Sampai dimana kita tadi ...? oh ya, aku minta ... sisanya ..." bisiknya halus dan semakin mendekatkan wajahnya kearahku. Melekatkan bibirnya ...


Dan ... menciumku lebih dalam ...


Batinku berbisik.


'Aku tidak mampu menolak ... '


"I'm Out!" ucap Leo sambil mengangkat tangan dan meninggalkan dapur.


Sejauh yang kurasakan hari ini Brian dan aku sangat menikmati waktu yang bergerak cepat menuju waktunya makan malam nanti, tidak ada satupun pikiran khawatir karena sikapnya yang selalu menenangkan dan begitu hangat. Bahkan nyaris terlupa ...


Siapa orang yang ingin bertemu denganku malam ini ...


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2