
‘DICKY??... Ya Tuhan... Apa ini’ Mama Inka bermonolog
Mama Inka tiada hentinya membolak balikan lembar demi lembar surat laporan yang ia baca saat ini, surat yang menyatakan tuduhan tindak pemerkosaan yang dilakukan Anak laki-laki satu-satunya itu.
Parasnya yang cantik pada usianya yang menginjak 50 tahun terlihat pias dengan mata yang masih terbelalak tidak percaya dengan apa yang ia baca pada surat itu, nyaris tidak percaya bagaimana mungkin anak nya yang selalu bersikap sopan dapat melakukan tindakan seburuk itu.
Dicky memanglah anak hasil perceraian kedua orang tuanya, Ayahnya yang kembali ke kota london sudah tidak diketahui keberadaannya.
Pernikahan Mama Inka dan Mr. Dobson menghasilkan dua orang anak, hingga akhirnya kegagalan membina rumah tangga itu terjadi saat Dicky masih menginjak usia 7 tahun.
Ia sudah lupa wajah Ayahnya, yang pernah ia ketahui hanyalah ketika Mama Inka mengatakan bahwa Dicky memang sangat mirip dengan Ayahnya saat muda.
Keretakan Rumah tangga orang tua Dicky terjadi karena perbedaan prinsip budaya, serta sebuah skandal yang membuat pihak keluarga besar Dicky yang berdarah betawi tidak menyetujui pernikahan itu untuk berlangsung lama, kabarnya Ayahnya yang seorang General Manager pada salah satu Bank swasta melakukan affair dengan salah satu pegawai di perusahaan itu.
Itulah sebabnya Dicky paling benci dengan perselingkuhan dan dia menjadi sangat protektif pada wanita-wanita yang disayanginya.
****
”Perkenalkan nama saya Adam” seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, namun di acuhkan oleh Mama Inka “Kami harap Bunda bisa bekerja sama dengan kami, saudara Dicky hanya akan kami mintai keterangan terlebih dahulu mengenai kasus ini, jadi anda tidak perlu takut, dia tidak akan kami langsung penjarakan Bunda!” lanjut Adam mencoba menenangkan Mama Inka.
“Jadi kamu yang melaporkan anak saya??” tanya Mama Inka dengan nada tinggi.
“Benar Bunda, kami mendapat laporan serta bukti rekaman pengakuan dari pihak korban, bahwa saudara Dicky telah melakukan pelecehan Sek*sual terhadap korban bulan lalu”
“Tapi anak perempuan itu sahabat Dicky, Pak! ini tidak mungkin bahwa kami sama sekali tidak mengetahui kejadian tersebut!”
“Apa saudara Dicky pernah cerita sesuatu pada Bunda?” tanya Adam
“Dia tidak pernah bercerita tentang apapun pada kami, Pak, saya yakin Bapak-bapak ini pasti sudah salah menuduh, saya akan coba hubungi anak perempuan itu” Mama Inka masuk ke dalam rumah dan mengambil ponselnya.
.....
* “Susan, halo sayang... nak... kamu bisa kerumah tante sebentar sayang?”
* “Ya tante, maaf aku baru bangun hehe... ada apa ya?” jawab Susan dengan suara sumbang.
* “Kerumah ya... penting! sekarang ya, San” bujuk Mama Inka dengan halus.
DEG!
‘Apa yang begitu penting hingga tante Inka begitu memaksaku begini, aku sebenarnya malu menampakkan wajah sembab ku ini, apakah Dicky menceritakan sesuatu pada Mamanya??’ Batin Susan, jantungnya berdebar akan kabar pagi ini yang ia belum tau permasalahannya apa, ia hanya sanggup mengira-ngira ini semua tentang Dicky
__ADS_1
‘Atau... Sesuatu telah terjadi dengannya!’ Batin Susan
Susan segera bangkit dari tempat tidurnya dan segera membasuh wajahnya, masih menggunakan piyama Susan setengah berlari ke arah Rumah Dicky.
Susan terkejut saat melihat mobil polisi yang terparkir dijalan depan Rumah Dicky, airmatanya nyaris menetes lagi akan kemungkinan terburuk yang sedang menimpa Dicky pagi itu.
“Assalamualaikum tante, tante... ??ada apa tante...” Benar saja Susan terkejut melihat orang berseragam polisi bersama dua orang pria menggunakan jas dan pakaian rapi.
“San... duduk sayang... “ pinta tante Inka yang selalu menyayangi Susan seperti anaknya sendiri.
“Ya tante... ada apa ini? dimana Dicky tante? apa dia ada dirumah?” tanya Susan bertubi-tubi dengan nada khawatir.
“San... coba kamu baca ini... “ menyodorkan beberapa lembar kertas yang terletak di atas meja ruang tamu. “Apa kamu tau tentang ini? ini ada nama mu sayang... katakan pada bapak-bapak ini kalau ini adalah kesalah pahaman”
Mama Inka nampaknya sangat yakin ini suatu kesalah pahaman.
Susan meraih lembaran kertas itu dan membaca isi dari pernyataan di dalamnya.
DEG
‘Oh, tidak! bagaimana ini bisa terbongkar! siapa yang telah menuntut Dicky seperti ini, siapa orang bernama Adam ini!’
“Nona? Saudari Susan, maaf... ijinkan saya perkenalkan diri, saya Adam Nona, ini partner saya seorang pengacara yang mendampingi anda nanti, Bapak Wildan, dan ini Bapak Sutoyo selaku aparat yang akan membantu kami untuk menyelesaikan kasus hukum ini, anda tidak perlu khawatir... kami ada dibelakang anda Nona!”
“Nanti anda bisa jelaskan dengan kami dan bersaksi di persidangan, tidak perlu tergesa-gesa, bukti-bukti yang kami miliki sudah cukup kuat, jadi anda tinggal menunggu hasil setelahnya, tidak perlu takut nona” jelas Adam
“Siapa Bapak sebenarnya? saya tidak mengenal Bapak, bahkan saya tidak tau... ,Hhh... bisa saya bicara sebentar dengan anda Pak?”
Susan bangun dari duduknya, diikuti oleh Adam yang juga bangkit dari duduknya sembari merapikan jas, mereka berdua berdiri di halaman depan rumah itu.
“Siapa yang telah menyuruh Anda? katakan!” tegas Susan sambil mendongak memandang Adam dengan tatapan sinis.
“Untuk apa Anda membela Si pelaku Nona, kami sudah susah payah datang kesini untuk membebaskan Anda!” tersungging senyum kecil yang sinis turut diperlihatkan Adam.
“Membebaskan dari apa? aku sudah tidak ada masalah dengan ini semua, jangan ikut campuri urusan pribadi kami, cepat katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini!!” ucap Susan memaksa sambil tetap berbisik, menahan intonasi suaranya
Adam tetap bungkam dengan pertanyaan yang diajukan, mengingat perkataan Brian bahwa Susan sama sekali tidak boleh mengetahui sosok orang yang memerintahkannya.
“Anda tidak perlu tau Nona!” tegas Adam yang kini sekejap ekspresinya berubah menjadi dingin.
“Anda ingat ya!! saya akan berusaha menyangkal dengan sekuat tenaga tentang peristiwa ini!“ ucap Susan dengan nada mengancam sambil merekatkan giginya karena geram.
“Silahkan Nona, bukti kami cukup kuat, lagipula... untuk apa anda melindungi Si Pelaku, Nona, bahkan Anda sudah kami fasilitasi dengan pengacara handal untuk menangani kasus ini!”
__ADS_1
‘Jadi inilah yang disebut-sebut oleh Tuan Brian, Missorry, perempuan yang tidak menarik ini?? orang seperti ini apa bisa mengobati Tuan Brian hingga begitu semangatnya dia memerintah ku dengan tergesa-gesa’ Adam bermonolog dan menatap aneh ke arah Susan seraya mengangkat sebelah alisnya.
“Hei, Yo!” Susan menjentikkan jari di depan wajah Adam “Apa yang Anda lihat, hah?! sedang menilai penampilan saya?? jawab pertanyaan saya, siapa yaaang... “ ucapannya terputus mendengar Mama Inka memanggilnya.
“Susan... kemari... bicara lah saja disini, apa yang sedang kalian bicarakan?” ucap Mama Inka seperti menaruh kecurigaan.
Mereka berdua masuk kembali ke dalam dan duduk bersama ketiga orang lainnya disitu.
“Jadi bagaimana Bunda? tolong jangan sembunyikan saudara Dicky dari kami, atau kami akan geledah sendiri?” tegas Adam.
“Anda dengar kan?! Susan pun mengatakan ini sebuah tuduhan palsu, Pak!”
“Ok, jika anda memaksa!” Adam mengeluarkan ponselnya dan menyalakan salah satu rekaman suara wawancara “ bagaimana dengan ini?”
Susan terkejut dengan bukti yang diperdengarkan, Mama Inka kini wajahnya berubah memerah memandang ke arah Susan.
“Dan ini? bagaimana, anda kenal dengan suara anak anda kan, Bunda?”
Rekaman suara Dicky saat terjadi pertengkaran dengan Eli di rumah sakit. meski tidak ada satupun suara Brian di dalamnya, Susan langsung bisa menangkap kesimpulan darimana informasi ini berasal.
‘KAK BRIAN!! Tidak Professional!’ dengan hati geram Susan bangkit dari dudukny sebelum Mama Inka bermaksud meminta penjelasan.
“Maaf tante! Bapak-bapak... saya harus pergi! saya tidak punya waktu untuk omong-kosong ini!” tegas Susan berjalan cepat keluar dari rumah itu, tidak menggubris panggilan orang-orang dibelakangnya, membawa emosi yang meledak dalam sekejap tadi.
****
Susan bergegas pulang kerumahnya dan berbenah diri dengan sangat cepat, kemudian memanggil seorang ojek online kerumahnya, segera ia berangkat menuju hotel kediaman Brian.
Tanpa basa-basi dan bertanya dahulu, mengkonfirmasi kedatangan seperti sebelumnya, Susan berjalan cepat melewati lobby hotel menuju lift dan bergegas menuju kamar Brian.
Dug.. Dugg!
Pintu kamar yang dipukul dengan kepalan tangan Susan, terdengar bergema di antara lorong hotel itu.
Seketika saat pintu kamar itu terbuka Susan menerobos masuk ke dalamnya hingga orang yang membuka pintu itu terdorong masuk kembali.
“APA YANG KAK BRIAN LAKUKAN TERHADAP DICKY!!” ucap Susan dengan suara lantang dan mencoba mendorong Brian hingga termundur.
Brian kaget dengan kedatangan Susan dan tenaga yang dimilikinya, hingga ia hampir membuat Brian tersungkur.
“Miisss... eh eh... ,SUSAN!!”
Bersambung
__ADS_1
(Adam plis deh jgn sok jaim, aku tau kamu gesrek sebenenya🤔)