My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : With you


__ADS_3

Ruangan itu hanya terdengar gema nafas halus kami berdua, bahkan tidak ada satupun suara aktifitas yang terdengar dari luar ruangan atau lantai bawah rumah besar ini, kala Tuan dan calon nyonya muda sibuk sembunyi dibalik kamar pribadi.


"Hhh ... seandainya gak perlu memulangkanmu ..." ucap Brian sambil menatap langit-langit kamar.



"Kan sudah aku bilang, aku naik taksi aja ... aku paham kamu lelah, tapi aku punya batasan waktu."


"Bukan, maksudku ... seandainya saja kita masih disini beberapa jam lagi atau seharian tanpa kemana-mana, berdua tanpa siapa-siapa lagi ..." bisiknya.


"Tidak akan ada yang bisa membayar semua itu kecuali pernikahan, Bri. Jadi, tunggu lah ... begini aja kamu gak sabar."


"Gak sabar itu sudah lama. Coba kamu pikir, berapa perbandingan Pria seusiaku yang tahan tanpa sentuhan wanita hingga usia tiga puluh dua tahun."


"Di Indonesia banyak, asal kuat iman." Tegasku.


"Aku bukan orang Indonesia, dan aku gak kuat iman ... hahaha" candanya.


"Tapi kamu tinggal disini sudah belasan tahun, seharusnya mulai terbiasa dengan budaya dan tata krama kami" Aku mencoba menyadarkan pikiran kami berdua, bahwa hal ini tidak pantas dilakukan.


"Tetap saja, itu semua kembali pada naluri. Kepintaran kami para Pria untuk mengalihkan pikiran, aku gagal kalau sama kamu." Balasnya dengan segala alasan.


"Aduh, kamu belajar banyak hal dari membaca, baca novel dan nonton film apa sih?!" sindirku.


"Banyak. Gak perlu tau ..." ucapnya sambil mencuil ujung hidungku.


"Sudahlah, ini jam empat pagi, aku harus pulang sebelum semuanya sadar aku tidak ada dikamarku." Aku bangkit perlahan dan menyeret selimut tebal untuk menutupi diriku, tanpa kusadari Brian seharusnya turut kututupi, yang kupikirkan hanya satu, jangan berlama-lama dengan penampilan yang sangat tidak nyaman ini.


"Eh, eh. Jangan ditarik."


"Hahaha ... masa bodoh, aku mau ambil pakaianku yang kamu tebar jauh-jauh." jawabku datar.


"Aduh! Jahil!" ucapnya dengan nada canda.


Brian menarik bantal untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Baru saja beberapa langkah aku terduduk karena tidak kuat berlama-lama berdiri memungut pakaian yang tergeletak di permadani.


"Hufff ... ok, harus cepat." bisikku, berusaha tidak terdengar mengeluhkan lututku yang lemas beserta bagian tubuhku yang masih terasa nyeri.


"Kamu diam disitu. Aku ambilkan!" Brian hendak bergegas bangkit dari rebahnya.


"Eh! kamu yang diam, gak malu apa!" bentakku.


"Apanya yang malu!"


Brian menghampiri cepat tanpa basa-basi, mengangkatku kembali dan mendudukanku di sisi tempat tidur.


"Kamu diam, aku yang pakai-kan ..."


'Sial, salfok aku!' batinku gemas melihat kondisi Brian yang tidak risih dengan penampilannya ini, terpaksa ... sangat terpaksa. Meski tidak bisa dibohongi kedua wajah kami berdua seketika nampak merona.


****

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, kami lebih banyak terdiam, sesekali saling menoleh, berpandangan dan tiba-tiba tersenyum malu-malu. Dan berulang kali seperti itu.


Ia menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya, dan satunya sibuk pada kemudi, sengaja tidak melaju cepat kali ini, padahal sangat penting berada dirumah tepat waktu.


"Nanti aku WA ya ..." ucapnya sambil tersenyum.



"Iya, kan biasanya juga begitu. Memang kamu gak sibuk hari ini?"


"Nanti aku mau ... tanya kamu sesuatu, hehe ..." deretan giginya ditampakan, seperti anak kecil yang sedang menyembunyikan kenakalannya.


"Ya, kabari aja. Kalau kamu gak sibuk"


"Kalau aku harus jujur rasanya mau kutunda saja rapat dan jadwal konseling siang ini. Hmm ... alasan apa ya?!"


"Profesional dong! nakal banget sih!"


"Memangnya gak boleh aku tidur, terus ... pinjam kamu lagi"


"Heh! pinjam! enak aja."


"Hahaha ... hahaha ... marah. Ya aku pinjam, kalau aku bilang sewa apa itu gak lebih kurang ajar?"


"Ah, udah, diam lah. Malas aku tanggapin candaan kamu, gak lucu!" ucapku sambil mengerucutkan bibir.


"Bukan maksud gak baik, lalu aku harus apa biar kamu bisa ada disampingku saat-saat ini. Nanti aku bilang sama Mama Papamu mau ajak kamu jalan lagi, begitu bisa kan?"


"Aku gak jamin. Kemarin 'kan sudah. Lagipula aku harus ke kantor. Kamu juga harus profesional dong dengan karir kamu" jawabku ketus.


"Apa liat-liat?! pegang-pe—gang ..." tanyaku ketus.


"Enggak."



'Gila, berlama-lama sama kamu, bisa-bisa aku pakai kursi roda!' gumamku dalam hati.


****


Kami sampai di kawasan perumahanku, Brian menghentikan kendaraannya seperti di posisi awal ia menjemputku.


'Cipika cipiki, cup cup mwahh lagi, tidak ada bosannya kita ini' batinku.


Brian pun kembali melajukan kendaraannya cepat menjauhi lokasi sesaat aku turun dari dalam mobilnya.


Betapa lupanya aku memeriksa ponselku tertanda jam 5 pagi alarm ku berbunyi. Tepat waktu.


Aku duduk dikursi teras sambil memeriksa pesan dalam ponselku. Ternyata Bosku sudah mengirim pesan beberapa menit yang lalu.


Pak Anton [ Pagi San, hari ini kondisinya sudah membaik apa belum, kabari ya bu, supaya segera cari pengganti Trainer untuk Training Softskill hari ini ]


'Aduh, kasian Haya, sudah dua hari menggantikan posisiku di kantor, tapi bagaimana kondisiku saat ini sudah jelas tidak memungkinkan' gumamku dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar pintu depan perlahan terbuka di sebelahku kini, ternyata Papa yang sedang memeriksa teras.


"San? ngapain disini subuh-subuh? kok pintu dikunci?"


"E—eh ... abis jalan pagi 'Pa, capek makanya" aku bergegas bangkit dari kursi mencoba menghindari pertanyaan lebih lanjut.


"Tunggu!" Papa menghentikan langkahku.


"Susan mau istirahat dulu 'Pa ... Na—nanti siap-siap mau ke kantor."


"Kaki kamu kenapa?"


"Gak, gak apa-apa ... kan capek habis keliling komplek"


"Hmm ... muka kamu pucat begitu ... izin kerja dulu sana, daripada sakit"


"Iya 'Pa, badanku emang sakit-sakit, tapi liat nanti aja ..."


Aku berusaha berjalan cepat masuk ke dalam rumah, sudut mata ku merasa Papa sedang memperhatikanku berjalan pelan ke dalam rumah.


'Haduh ... kacau kalau begini caranya, gara-gara Brian.' gumamku dalam hati.


Aku bergegas kembali ke kamarku sekedar merebahkan diri menunggu pagi, dan memahami kondisi lelahku. Apa aku sanggup untuk melanjutkan aktifitas lagi atau tidak, tapi tidak sepantasnya aku minta izin lagi di hari ketiga ini, apa kata atasanku mengenai kinerja, bisa hancur karirku.


Tanpa kusadari aku terlelap, hingga suatu ketika suara pintu kamarku diketuk berulang-ulang oleh seseorang. Aku terbangun mendadak dan menyadari saat ini sudah pukul setengah delapan pagi.


'Mati aku!'


Ternyata kak Edo berusaha membangunkanku sejak tadi, terdengar gumamnya dari balik pintu kamarku dengan nada kesal dan menggerutu. Ia mengajakku berangkat bersama karena ia tahu aku sudah telat waktu.


Tapi setelah aku bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat dengan kondisi fisik ku saat ini, aku teringat untuk memberi kabar atasanku. Tidak ada yang mencoba menghubungiku dari pihak kantor, hanya ada pesan masuk, dan itu dari kekasihku yang hatinya sedang berbunga-bunga.


Aku tersenyum sambil berjalan menuruni tangga membuka pesan dari Brian.


Brian [ Dear, jangan hubungi aku saat-saat ini. Tunggu sampai aku yang hubungi kamu ]


Susan [ Huh, dasar. Terus aku kesannya wanita panggilan, begitu? ]


Kupasang emot marah diujung pesanku.


Beberapa belas menit kemudian ia membalas lagi saat aku berada di dalam mobil bersama kak Edo menuju lokasi kantorku.


Brian [ Aku tidak bercanda ]


Susan [ Ada apa, Bri?? kata kamu mau tanya sesuatu, kok jadi begini? aku butuh penjelasan! ]


Brian [ Urungkan niatmu untuk mencariku, jangan berusaha menemui atau menghubungiku sekali pun, kalau kamu gak ingin hubungan kita jadi lebih buruk lagi! ]


DEG


'Ada apa ini ...'


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2