
Dua hari berlalu dalam ruang rawat inap, tidak sedikitpun Dicky mencoba untuk datang kembali menjenguk, hanya beberapa kali mencoba mengubungi melalui video call, mungkin sekedar kepedulian basa-basi yang ia lakukan, itupun jarang sekali kami tatap muka langsung, hanya Kak Edo yang menjadi perantara.
Eli, masih tetap seperti biasa, tidak ada sikap lebih yang ia tampakkan kala itu, ia sedikit mencoba datang dua tiga kali selama dua hari itu, sedikit membantu menggantikan posisi Kak Edo yang tiba-tiba harus ke kantor dengan terpaksa meski sudah mengajukan cuti, karena harus melakukan beberapa meeting dengan para kontraktor dari perusahaan tempatnya bekerja.
Sore itu Susan pulang dengan dijemput Kak Edo sendiri tanpa memberitahu siapapun, mungkin Kak Edo sedang sangat risih untuk melibatkan siapa-siapa di dalamnya.
****
‘Aku memang merasa lebih baik dari sebelumnya, terlebih kehadiran Eli yang sempat membuat amarah ku kembali hilang seperti sedia kala, tapi ada yang janggal, ada yang kosong dalam hariku’
‘Kenapa aku tidak mendapati sikap Dicky yang antusias untuk melihat keadaanku beberapa hari itu’ Batin Susan
Kak Edo membiarkanku untuk beristirahat dikamar, tidak dibiarkannya pintu balkon kamarku terbuka, mungkin ia tidak ingin Dicky datang tiba-tiba dan mengganggu istirahatku.
Seharusnya ini minggu kedatangannya menumpang nginap seperti minggu sebelumnya.
Tapi nyatanya tidak, seseorang mengetuk pintu kamarku, dan kubiarkan masuk tanpa kuhampiri.
****
Tokk Tokk...
“Ya ... Ada apa? masuk Kak, aku belum tidur” jawab Susan
Ia meyakini itu adalah Kak Edo meski janggal kalau kakaknya kali ini dengan sopan mengetuk pintu kamar.
Pintu terbuka dan Susan mendapati wajah yang akhirnya mengisi kekosongan hatinya saat itu, Dicky.
“Hai, bagaimana kabarmu?” tanya Dicky, berjalan masuk kedalam ruangan dan duduk di sisi tempat tidur. memperhatikan Susan.
Susan bangun dan duduk bersandar ditempat tidur, terlihat sigap saat keberadaan Dicky,
“Aku—jauh lebih baik” jawab Susan. mencoba menghindari tatapan Dicky, sedikit menabur rasa gengsi takut Dicky membaca rasa kehilangannya saat itu.
“Santai saja, kau sudah makan?” tanya Dicky ringan.
“Ya” jawab Susan singkat.
“Kau sudah minum obat?” tanya Dicky, seakan ia masih memikirkan kondisi Susan saat itu.
“Ya, Sudah” jawab Susan singkat, mulai memberanikan pandangannya untuk menatap balik ke arah Dicky.
‘Ia masih tersenyum, menatapku dengan hangat, aku nyaris membuang pandanganku lagi, kenapa aku jadi malu menatapnya begini’ Batin Susan
Dicky dan Susan terdiam sesaat entah apa yang mereka pikirkan, mungkin sejumlah kata yang tercekat di lidah mereka.
“Aku ... “ ucap Susan dan Dicky berbarengan, sejenak terjadi kecanggungan.
“Ya, kau duluan bicara ... “ ucap Dicky,
“Ehh ... , terima kasih sudah menolongku” jawab Susan, menggigit bibirnya.
“Hmm ... tidak apa, kau kan Istriku ... dan itu adalah anakku ... “ ucap Dicky, sebelah tangannya sedikit mengepal.
’Ya, anakku ... yang kalian biarkan terbunuh’ batin Dicky. “lagipula, ada Pak Brian yang turut membantu, sepertinya dia menyukaimu” jawab Dicky dengan senyum yang mulai sinis.
“Dia memang selalu membantu, tidak lebih ... jangan berpikiran macam-macam” jawab Susan dengan nada merayu, tanpa sengaja.
“Kalau ternyata iya, bagaimana?”
“Hhhh ... , apa maksudmu ... aku tidak pernah memikirkannya dengan perasaan seperti itu, jadi biarkan saja, kenapa kau masih risih?” tukas Susan
__ADS_1
“Kenapa aku risih? Hhh ... ternyata kau memang masih tidak perduli ya dengan perasaan orang lain”
“Sudah, katakan apa yang ingin kau ucapkan tadi” Susan memotong cepat.
Dicky maju mendekatkan posisi duduknya ke arah Susan, Susan sedikit agak mundur di posisi duduknya yang bersandar di sandaran tempat tidur.
‘Duh, Kak Edo mana ya, kok dia malah mengizinkan Dicky ke kamarku sih, tumben sekali’ batin Susan
“Hmm ... kau masih takut ternyata denganku ya” tukas Dicky, memicingkan matanya dan menatap lebih dalam.
“Apa, tidak!” ucap Susan mencoba membantah
‘Kau ini bagaimana ya, kau ini pelaku! lupa kau pelaku ya! setakut-takutnya dengan Pria lain, wajahmu yang seperti ini masih menyisakan trauma untukku’ Susan bermonolog
“Dengar, aku akui ... aku jahat! hingga telah membuatmu takut seperti ini, dan kau mungkin tidak akan lepas dari trauma itu sepanjang hidupmu, jadi semacam sulit ya dirimu menerimaku!”
Susan membisu menyerap perkataan Dicky.
Dicky menghela napas dalam menyentuh dadanya sendiri sambil menunduk, seperti menahan sesuatu.
“Kamu kenapa?” tanya Susan, agak terhenyak.
“Tidak ... abaikan itu ... “ ucap Dicky pelan sambil menunduk sekilas memejamkan mata.
Susan mencondongkan tubuhnya dalam posisi duduk tadi, mendekat mencoba melihat jelas ke arah Dicky.
‘Kenapa aku merasa khawatir’ batin Susan
Dicky membuka mata, cepat menoleh ke arah Susan yang wajahnya berada tepat disamping lengannya sedang memperhatikan Dicky yang tadi terpejam.
Dicky meraih tubuh Susan dan cepat memeluknya erat.
‘Kenapa aku tidak ingin berontak’ bisik Susan dalam hati.
‘Kenapa dia’ Susan bertanya-tanya.
Perlahan tangan Susan yang tadinya tetap tidak bergerak, kini naik meraih punggung Dicky, membalas pelukannya, hingga akhirnya Dicky lebih erat lagi memeluknya, dan seguk itu mulai terdengar lebih kencang, ia menangis.
Dicky menaruh kepalanya di bahu Susan, terdengar isak tangis halus ditelinga membuat Susan ikut meneteskan airmata.
“Kenapa kau tidak bisa mencintaiku... ” bisik Dicky dengan halus diantara isaknya.
‘Aku akan mencoba Dicky ... aku sedang berusaha ... bersabarlah sedikit lebih lama ... ‘ batin Susan
Dicky mengangkat wajahnya dari bahu Susan, meraih wajah Susan yang kini ia lihat juga berurai airmata.
‘Ia menangis ... untuk apa ia menangis, ia hanya iba kan? benar kan? jangan pasang wajah pura-pura mu itu Susan, jangan mempermainkanku lagi’ Dicky bermonolog
Dicky kembali memeluk Susan dengan erat, membisikkan kata
“Kau bebas sayang ... kau bebas ... “ Dicky berbisik halus ditelinga Susan, Susan mendelik terperanjat.
‘APA MAKSUDMU!’ batin Susan, terkejut.
“Aku ... , Menceraikanmu ... “ bisik Dicky
Seketika bibir Susan semakin tergetar hebat tidak mampu menahan tangis lebih kuat lagi, ia meraung memeluk Dicky dengan lebih erat, tapi semua sia-sia karena kata-kata itu terlanjur meluncur dari mulut suaminya.
Susan mendadak melepaskan pelukan itu dan bangkit dari tempat tidurnya. berjalan dua langkah cepat berdiri tanpa melihat wajah Dicky.
“Keluar kau!” pinta Susan, membuang muka sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka lebar.
Dicky tertegun dengan sikap Susan, tidak paham kenapa kali ini Susan sangat terlihat marah, yang ia tau selama ini Susan selalu berharap segera berpisah dengannya.
__ADS_1
“Keluar kau sekarang!” Susan mengulang perkataanya kembali dengan nada lebih tinggi.
Seketika tangis Dicky terhenti, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Susan. ia meraih wajah Susan lagi memaksakan pandangan wanita itu untuk melihat ke arahnya.
“Kau menginginkan ini kan? jawab!! aku sudah memberimu talak! kenapa kau marah padaku!” tegas Dicky dengan nada tinggi.
Susan menggelengkan kepala seraya menangis lebih kuat lagi.
‘Kau bohong ... kau hanya belum puas menyakitiku’ batin Dicky menolak fakta yang berada didepannya.
“Maaf, aku tidak bisa lagi mempercayaimu, aku tidak lagi mengharapkanmu, karena kalian pengkhianat besar!”
“Apa maksudmu?” tanya Susan dengan tegas
“Kalian membunuh calon bayiku, terutama kau... dengan sengaja tidak memperdulikannya... hingga ia mati!!”
PLAKKK
Susan menampar Dicky dengan keras.
“Cukup!! hentikan perkataanmu!! aku tidak sekeji itu!” pekik Susan
“Ya kau keji!! karena kebebasanmu kau telah mengabaikannya, aku mencoba menahan hasratku untuk mengganggumu, kubatasi diriku untuk tidak menyentuhmu sejauh itu! seperti yang kau lakukan bersama Eli!!” tegas Dicky
“Apa!! Apa ini?? apa yang sedang kau tuduhkan?”
“Sudah! cukup bersikap naif didepanku! kini puaskan dirimu dengan Pria lain selain diriku! Eli... atau mungkin Pak Brian??” tukas Dicky sambil tersenyum sinis dengan uraian airmata.
PLAKKK PLAAKK
Kini dua tamparan mendarat cepat di kedua pipi Dicky yang memerah.
“Kau jahat!! kau telah menganggapku serendah itu!! pergi kau!”
Mereka saling bertatapan penuh amarah, Susan menengadahkan wajahnya menantang Dicky untuk segera pergi.
Dengan cepat Dicky meraih wajah Susan kembali, dan mencium bibir wanita itu.
Emosi yang meluap seketika berubah menjadi hasrat yang mendalam, mereka tenggelam dalam cumbuan yang bergairah, tanpa ada salah satu yang mencoba menolak aktifitas itu.
Keduanya sedikit terengah saat sesekali mengambil napas dan tetap dalam kondisi berdiri kaku memulai ciuman hebat itu kembali, terlupa kemarahan dari perdebatan panjang tadi.
Hingga tiba-tiba Dicky melepaskan ciumannya, memandang wajah wanita yang masih terpejam mata oleh hasratnya saat itu.
Kemudian Dicky mengucap dengan halus...
“This is a perfect goodbye”
Dicky berlalu cepat keluar kamar meninggalkan Susan yang masih tercengang dengan kata-katanya.
BRAKKK
kemudian membanting pintu.
Susan terduduk dan tertegun, merasa terbuang, wajahnya kini basah berurai airmata, menerima kegagalan dari perjuangan yang baru saja hendak ia mulai.
Bersambung
Thor sakiiiit pengen peluk dicky....tapi yang beneran dipoto itu🤪
tuh kan jd kebawa🙈
listening Bloom ; troye sivan
__ADS_1