
...—BMW black **** series, plat B 1214 N, rombongan pengantin pria berangkat pukul setengah 7 dari Kota Wisata Cibubur menuju masjid ** , kerjakan dengan baik! —...
...🌹Saya terima nikah dan kawinnya Susan Adriana Zeline binti Hendra Dharmawan dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!🌹...
...🌹Bagaimana, sah?🌹...
...🌹Sah! — Sahut semua orang di dalam mesjid menyatakan ijab qabul yang di ucapkan Brian tanpa kendala.🌹...
...Alhamdulillah...
"San!"
"Eh? Oh ... ya?"
"Kamu begadang sih semalaman ya?" tegur Mama.
"Iya Mbak~, pengantin banyak istirahat ... kasian suaminya nanti, hahaha." Canda seorang penata rias, menyahut perkataan Mama yang baru saja menepuk pundak Susan untuk membangunkannya saat terlelap sejenak.
"Nanti make-up nya jadi miring, kan gak lucu, hahaha."
"Aduh, hoaaam ... iya aku belum ngopi." Susan sedikit menguap menutup mulutnya, baru tersadar karena sempat terlelap saat sedang di rias.
Ia mengerlingkan mata kembali memandang cermin besar dihadapannya. Mengembangkan senyuman takjub memandangi dirinya yang terlihat pangling dengan riasan pengantin.
'Dan ... inilah aku ... pada akhirnya ....' batin Susan.
Susan meraih ponsel pada meja rias di hadapannya. Sekadar ingin tahu bagaimana situasi terkini calon suaminya.
Susan [ sayang, sudah berangkat ya? ]
Brian [ Setengah jam lagi, aku relax dulu minum kopi, lagi hafalkan ijab qabul nya, hahaha ]
Susan [ Ya ampun, itu kan sedikit. Gak perlu sebutkan isinya ]
Brian [ Ya tetap butuh konsentrasi, sedikit tapi situasinya beda bukan hafalan materi. Eh, kamu udah siap? boleh liat gak. ]
Susan [ Gak-lah! Pantangan ]
Brian [ Percaya banget, sedikiiiiit aja ]
Susan mendesah risih karena harus berswafoto menunjukkan penampilannya kini, tapi ide jahil seketika muncul untuk memfoto si asisten rias pengantin yang berada tidak jauh darinya.
Cekrek!
Foto pun terkirim, tak menunggu lama pesan bergambar itu berubah jadi centang biru, pertanda telah dilihat oleh Brian dengan cepat.
Susan [ Cantik gak? ]
Brian [ Astaga, jadi aku nikah sama dia? ]
Susan [ Kamu mau? Amphibi loh itu. Paginya Mbak, malamnya Mas, hahaha ]
Brian [ Jangan bercanda, Dear. PANTANGAN ]
Susan [ Dih, ikut-ikutan! hahaha. Makanya sabar sedikit ... nanti kita ketemu disana, rombongan dari sini satu jam lagi berangkat, Bri ]
Brian [ Oke, ya udah. Mama-ku mulai cerewet minta segera berangkat ]
__ADS_1
Susan [ Ya udah sana ]
Brian [ Biar mereka berangkat duluan, aku masih nervous, hahaha. Mama nanti sama Uncle, tapi aku di mobil lain bersama Leo. Adam memaksa bawa mobil, dia gak percaya sama drivernya, hahaha ]
Susan [ Dedikasi tinggi ... dia itu, kasih-lah satu saham hotel buat dia ]
Brian [ Indeed, dia pasti dapatkan lebih dari itu, suatu saat. He's my Brother. Ya udah, see you there. Cannot wait to see you, Lovely ]
Susan [ Bye, sayang. Jangan lupa baca doa sebelum berangkat ]
Brian [ Pasti, you too, Dear ]
Pesan diakhiri dengan emoticon cium dari Brian.
****
Kini semua pihak telah berada di dalam mesjid untuk menunggu saatnya prosesi akad nikah dilangsungkan. Tepat pukul 8, penghulu bersama kedua Wali nikah dan saksi telah siap berada di tempat. Namun Sang calon mempelai pria urung juga datang.
Panik bukan main, Uncle dan Mama Anne terlihat gusar dan sesekali saling berbisik. Telepon genggam pun tidak lepas bolak balik menempel dari tangan ke telinganya, tanda mencoba berkali-kali menghubungi seseorang atau mencari tahu kabar keberadaan Brian kini.
Sebagian pihak keluarga Susan yang menunggu di aula menemani sang mempelai wanita terlihat gelisah. Dan sudah pasti Susan yang hanya mampu diam dalam balutan busana akad nikah saat ini, terlihat cemas akan keterlambatan Brian yang tidak ada informasi sama sekali.
'Kenapa belum sampai ....' batin Susan cemas.
Sedikit riuh dalam aula ruang tunggu tepat disebelah, dalam lingkungan mesjid. Dari awal kehawatiran muncul karena rombongan Brian yang telah sampai lebih dulu hadir, sedangkan sang mempelai pria malah belum juga nampak batang hidungnya, padahal seharusnya dia datang lebih awal bersama keluarganya.
Dua jam berlalu tanpa hasil, terus mencari informasi hingga kepanikan pun meningkat karena gagal mencoba hubungi. Samar terdengar ke telinga, Susan kini terkejut kala mendengar sekilas beberapa orang berbisik tidak jauh dari posisi duduknya diantara keluarga inti.
"Astagfirullah!"
Susan melirik ke arah suara bisikan itu, jantungnya berdegup kencang bertanya-tanya apa yang terjadi pada calon suaminya kini.
"Hah! Ma' ... Mama ... ada apa sebenarnya sih?? I-itu ... kenapa ada yang Istighfar?? Ada kabar apa dari Brian? Aku gak bisa hubungi!" ucap Susan panik. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan ada yang tidak beres dengan keadaan Brian kini.
"Eh-eh ... gak apa-apa. Udah kamu tenang aja, kendala di jalan, mereka ... terjebak macet katanya tadi ada kecelakaan." wajah Mama terlihat pias, karena informasi yang didapat belum jelas kebenarannya. Semua pihak yang mengetahui pun bungkam agar tidak membuat suasana semakin tegang.
"Siapa?! Brian ya?? gak ada apa-apa, kan??" Susan berusaha memastikan tanpa ingin menebak kemungkinan buruk terlontar dari mulutnya.
"B-bukan dia ... kemacetan karena ada kecelakaan di jalan. Adam sedang cari jalur alternatif makanya lama, udah, tenang aja. Banyak berdoa aja ya, San."
"Ma ...." Susan sigap mendekap tubuh Mama yang berdiri tepat di sampingnya kini
'Ya ampun, kenapa sih mereka maunya terpisah dari rombongan! Bandel banget sih!' gumam Susan kesal dalam hati.
Untungnya sang pengulu masih bersedia menunggu, karena jadwal yang seharusnya terulur hingga pukul 11 siang mendekati tengah hari.
Pada akhirnya pada pukul 11.15, terlihat kendaraan si calon mempelai pria telah masuk ke area parkir masjid. Brian yang kini berjalan masuk perlahan dari pintu utama, terlihat tegang karena seisi ruangan masjid semua memandang ke arahnya. Adam dan Leo yang mengikuti terlihat tidak jauh di belakang Brian nampak sesekali menunduk menghindari pandangan. Mama Anne dan Uncle pun dirundung perasaan lega bercampur kesal memandangi kedatangan ketiganya.
Prosesi ijab qabul akhirnya terpaksa dipercepat tanpa banyak berbasa-basi. Namun tetap saja, semua terasa khidmat saat Brian dengan mantap menjabat tangan Ayah Sang mempelai wanita sebagai wali nikah, dan mengucap ijab qabul dengan tanpa kendala.
Kini keduanya pun telah dinyatakan sah sebagai suami istri. Di sambut dengan ucap syukur yang menggema di seisi ruangan masjid oleh keluarga, kerabat dan tamu undangan yang hadir pada saat itu.
Perasaan lega bercampur rasa haru saat kedua mempelai saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing.
__ADS_1
Senyum terkembang dari keduanya, saat kecupan manis mendarat di dahi si mempelai wanita dari sang mempelai pria, membuat perasaan itu semakin hangat atas kesatuan status yang dimiliki saat ini. Suami - Istri.
Sesaat setelah pembacaan doa-doa, serta nasihat pernikahan yang disampaikan oleh penghulu. Kini waktu mulai menginjak tengah hari. Brian serta sebagian pihak yang hadir turut menyempatkan waktu beribadah sejenak saat Adzan Dzuhur telah berkumandang. Terkecuali, pihak keluarga mempelai pria dan beberapa pihak yang memiliki perbedaan keyakinan, mereka semua segera menuju lokasi restoran terdekat untuk menikmati makan siang yang telah disiapkan.
Dalam situasi itu, Eli yang berada di halaman parkir tengah sibuk dengan ponselnya.
"Idiot!" umpat Eli saat mengetik sebuah pesan dalam ponselnya.
Tiba-tiba Kak Zac menghampiri Eli, mendekat ke arah tempat dimana mereka memarkirkan kendaraan di sebelahnya.
"El, kamu berangkat besok pagi, atau ke lokasi acara malam ini," tegur Kak Zac.
Eli sedikit terkejut, tapi tetap berusaha bersikap biasa. "A-aku menyusul yang nanti malam. Atau ... belum tau, liat aja nanti." jawab Eli yang tiba-tiba terlihat gugup.
"Oke, makan siang dulu gak? lokasi restonya gak jauh. Edo menunggu di luar, semua udah kesana."
"Sebentar, aku mau hubungi pacarku dulu," ucap Eli beralasan.
****
Siang itu semua kedua belah pihak keluarga berkumpul pada restoran yang telah di sewa khusus untuk makan siang semua undangan yang hadir dalam prosesi Akad nikah. Brian masih bungkam mengenai kejadian pagi tadi, meski berulang kali pertanyaan meluncur karena kecurigaan Susan atas keterlambatan Brian, Adam dan Leo.
Sepertinya tidak ada satupun yang berani membeberkan musibah yang sempat di alami oleh ketiga pria itu, agar semua tetap terlihat normal dan nampak baik-baik saja.
Brian duduk terdiam memandangi situasi keramaian dari meja makan khusus mempelai. Bahkan Susan yang sempat menawarkan untuk menyuapi suaminya itu pun tidak digubris sama sekali. Adam yang masih mengawasi kondisi Brian, sesekali membisikkan sesuatu.
Sampai akhirnya Brian tidak ingin lagi berlama-lama di lokasi. Setelah satu jam berada di dalam resto, ia memutuskan bangkit dari duduknya dan saat itu ia terlihat seperti orang yang mengangkat beban berat di atas tubuhnya sendiri. Berjalan perlahan, diikuti Susan yang mulai mencurigai sikap suaminya kini. Keduanya pun terpaksa memohon diri oleh seluruh pihak keluarga dan para tamu undangan yang hadir untuk pulang lebih awal.
Sesaat berada di mobil menuju pulang ke kediaman Brian, Susan mengawasi suaminya dengan rasa khawatir. Dilihatnya Brian tampak pias dan lelah memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya hingga sedikit mendongak pada kursi. Dan seakan enggan berbicara.
"Bri~ ," panggil Susan dengan suara pelan. Seraya meraih tangan Brian dan menggenggamnya erat atas kekhawatirannya. "Ada apa? ... aku harus tau lho ...," bujuk Susan perlahan agar Brian tidak lagi merasa risih atas pertanyaannya yang bertubi-tubi sejak tadi.
Brian membuka matanya perlahan dan tersenyum. Ia menoleh pelan dan mengangkat genggaman tangan itu, lalu mengecup punggung tangan istrinya.
"Husband?" ucap Brian.
"Yes, ... Husband." Susan mengembangkan senyuman, menyandarkan kepalanya pada lengan Brian.
Tiba-tiba Brian berdehem. Menarik napasnya dalam-dalam. Adam yang memperhatikan sesekali melalui kaca spion, tiba-tiba turut ambil bicara.
"Nanti jam 3 Pak Bisma jadi datang, Tuan."
"Oke, Adam. Thank you."
"Siapa Pak Bisma?" Susan dirundung rasa penasaran yang dalam. Bagaimana bisa Brian masih saja membuat janji dengan seseorang di hari pernikahannya kini. Padahal sudah jelas Susan mengetahui bahwa Brian telah menyatakan cuti untuk segala urusan pekerjaan hingga satu minggu ke depan. Lalu siapa Pak Bisma ini?
"Temanku, nanti— kamu istirahat di kamar kita aja, aku ada keperluan. Sebelum acara nanti malam aku juga udah kembali ke kamar, ya," pinta Brian dengan lembut.
"Masih belum mau cerita?" bujuk Susan dengan nada merajuk.
Brian menggeleng pelan. Kemudian meraih wajah istrinya. "Don't worry, i'm okay." ucap Brian seraya tersenyum.
Kemudian ia perlahan mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman lembut pada bibir istrinya. Keduanya bahkan tidak mempedulikan keberadaan Adam maupun Leo yang berada di dalam mobil yang sama. Kebahagiaan itu terasa lengkap saat ini, terluapkan melalui sebuah ciuman pertama dengan status sah keduanya.
.
.
Bersambung
__ADS_1
otw next part