My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Wedding party 2


__ADS_3

"Ian!"


Ucap wanita berambut cokelat yang duduk menyilangkan kaki di ruang VIP khusus keluarga. Brian menghampiri cepat dan memeluk wanita paruh baya yang kini sudah menjadi mertua Susan—Mama Anne.


Dengan berbahasa inggris dan aksen asalnya


"I am so sorry, i ...,"


"Is there something?" Mama Anne sedikit membulatkan mata tidak suka dengan keterlambatan Brian.


"No, Mom. Susan and I ...."


"Hello, Ms. Anne ...," ucap Susan menyalip perkataan Brian.


"Hi, darling ...,from now on, call me Mom. And you both get hurry! All the guests were waiting. Do not waste more time, okay!"


"Yes, Mom. I am sorry ...,"


"Ah, shoooo ... shooo ... get hurry, darling. I know— ,okay? I know."


Mama Anne mendorong halus kedua lengan anak dan menantunya itu agar membalikkan badan menuju ruang ganti, di sebelah ruangan.


Beberapa penata rias yang telah siap sedari tadi memandang kedatangan keduanya dengan raut wajah kesal, tapi menahan diri dan tersenyum tipis memaksa. Bernapas lega karena si pelanggan yang dianggap orang penting malah membuat pekerjaan mereka tertunda dan kini malah diburu oleh waktu.


Brian memasuki ruang ganti diikuti seorang asisten yang membawakan setelan jas untuk digunakan resepsi nanti. Begitu pula Susan yang dipersilakan untuk duduk di hadapan meja rias, dan siap diberikan sentuhan make up oleh seorang penata rias yang professional.


Satu jam persiapan itu berlalu, Brian dan Mama Anne berlalu menuju lokasi photo shoot di area pantai dan berkumpul dengan para pendamping pengantin pria untuk sesi foto, tanpa Susan si pengantin wanita.


"Ini harus ya, Dam?" bisik Brian yang merasa malas harus berpose sesuai arahan fotografer.


"Begitu katanya, ya udah, Tuan ikut saja lah," sahut Adam.


"Saya harus pose-pose, astaga! Foto-fotoan nanti cukup sama kalian, saya tunggu saat foto sama Susan aja. Apa-apaan!" Brian mulai terpancing mood karena harus di atur dengan gaya. Sedangkan Brian yang tidak terbiasa di foto, kali ini malah di minta untuk berpose.


Mama Anne menghampiri Brian yang terlihat kasak-kusuk bicara dengan Adam. "Ian. What are you doing?"


Dengan bahasa inggris yang hanya dikuasai Mama Anne, Brian pun menanggapi serupa saat berbincang dengan mamanya.


"Mama, sesi foto apa ini? Aku merasa tidak perlu hal-hal semacam ini. Ya Tuhan ... bagaimana aku bisa tidak tahu ada ide seperti ini! Sekarang mereka sedang apakan istriku, tolong seseorang untuk memanggil Susan. Aku mulai tidak nyaman," protes Brian sambil berbisik.


"Ini-yang-namanya-pernikahan, Ian. Jangan protes, lakukan saja," tegas Mama Anne. Sedangkan Brian menghela napas kasar karena dipaksa mengikuti aturan fotografer.


Sesaat kemudian wanita yang diharapkan berjalan menuju ke arahnya. Dan langsung menepuk punggungnya dari belakang. "Bagaimana kelihatannya?" ucap Susan. Brian terhenyak dan membalikkan badan, memandang takjub penampilan istrinya kini.


"My god—," ucap Brian menghela dengan takjub.


"Gak usah foto-foto atau resepsi lah, kita langsung ke kamar aja, yuk, yuk," canda Brian dengan alis terangkat, menyungging senyum nakal dengan sorotan matanya.


"Inget memar kamu!" jawab Susan sambil mencubit kecil tangan Brian.


"Whatever," Brian memutar bola matanya, seperti tahu jawaban yang akan didapatnya.

__ADS_1


Sesi foto-foto dan video momen pernikahan pun dilanjutkan dengan lancar. Seluruh tim fotografer, para pendamping, keluarga, beserta kedua mempelai dirujuk ke lokasi pesta untuk memulai resepsi.


Sebuah lahan luas berpasir putih sisi pantai. Terdapat aula terbuka yang dihias sedemikian rupa, terlihat indah oleh sejumlah rangkaian bunga-bunga bewarna putih, serta segala peralatan pesta senada dengan paduan biru muda.


Remang lampu-lampu hias menemani suasana detik-detik pergantian waktu, saat tampak sang surya mulai tenggelam dari balik hamparan laut yang membentang. Cottage pribadi itu diselimuti aura romantis, minimalis, namun tetap terlihat mewah.


Sejumlah meja makan bundar tertata rapi mengelilingi sebuah pelataran area dansa. Meja dengan rangkaian vas bunga lily, tempat lilin bertahta kristal menjadi sentral gelas wine dan alat makan eksklusif di sekelilingnya. Karena sebagian peralatan itu terukir tinta berwarna emas inisial—Brian dan Susan.


Malam itu tampak semua tamu undangan hadir, hanya kemungkinan sisanya berhalangan datang atas alasan khusus.


Kedua mempelai yang telah resmi sebagai suami istri itu memperlihatkan raut wajah bahagia. Tanpa satu orang pun tahu saat-saat malam pengantin yang dilalui tidak terasa sempurna bagi Brian maupun Susan. Setidaknya tidak mengurangi kehangatan keduanya untuk sebuah kata 'puas'.


"Kita gak perlu lama-lama di sini, kan?" bisik Brian menundukkan kepalanya untuk lebih mendekat.


"Maksud kamu?" tanya Susan menatap tidak paham rencana selanjutnya sang suami.


"Harus berapa jam kita di sini? Satu-dua jam cukup, ya, kan?"


"Kita belum lama sampai, lagipula rundown WO udah tersusun, jangan ngacak-ngacak schedule, dong, Bri ...," bujuk Susan dengan nada risih.


"Hm ... aku kan masih sakit ...," bujuk Brian dengan ekspresi manja.


"Alesan." Susan mencubit kecil pipi suaminya yang mulai jenuh dan sedang berusaha mempersingkat waktu acara dengan banyak alasan.


"Ya udah, hum ... oke, deh. Tapi, kamu jangan kabur-kaburan lagi. Now, kita temui para relasi." Brian menoleh lalu menekuk sebelah tangannya dan menaruhnya dipinggang, menawarkan Susan untuk melingkarkan tangan padanya.


Pasangan pengantin itu mulai berjalan pelan sesuai arahan tim organizer menuju ke pelaminan dan mengikuti acara utama pesta tersebut.


Lantai dansa yang dikelilingi para tamu menjadi sentral perhatian sepasang pengantin yang berdansa dengan tenang dan terlihat bahagia.


Wajah pria itu tampak lesu, sangat bertolak belakang dengan rasa di dadanya yang sangat bergemuruh penuh cemburu.


'This is the end, right, Sue ...?' batin pria bernama Dicky itu.


Para tamu mulai masuk ke area lantai dansa satu persatu, sebagian tamu muda dan para relasi mengikuti acara dansa yang diawali oleh sang pengantin.


Salah satu rekan kerja menghampiri dan menepuk lengan Dicky untuk mengajak bicara, namun tetap saja seakan sudut senyumnya tak mampu lagi terangkat. Bibir kakunya yang tertutup bergetar tipis berusaha menahan diri.


"Ngelantai gak, Sob? Mantan sendirian, tuh! Ngapain lo mojok di sini?" ucap pria itu disertai tawa canggung melihat Dicky yang nyaris tidak menggubris kata-katanya.


"Siapa?" jawab Dicky sekadarnya.


"Yah elah, Eva. Mantan lo banyak, mantan mana lagi, nih?" sahut pria itu masih berusaha melemparkan candaan.


Dicky hanya mengangguk pelan mengiyakan.


"Duluan, lah. Gue capek abis lemburan."


"Halaah ..., sini gabung sama anak-anak. Kelamaan!" Pria bernama Wira itu menarik lengan Dicky untuk mengajaknya menghampiri Eva, sang mantan.


Wanita berparas cantik dengan dress selutut berwarna peach yang tengah berdiri di antara teman-teman sekantornya, seketika canggung akan kedatangan Dicky yang masih memegang gelas wine dalam genggamannya.

__ADS_1


"Erick?" Mata wanita itu tertuju sekilas ke arah gelas yang digenggam Dicky. Dia nyaris tidak pernah tahu tentang kekasihnya yang pernah minum alkohol seperti itu.


"Hai," sapa Dicky.


Wira menyikut pelan pinggang Dicky, memberi kode agar temannya segera mengajak Eva untuk ikut dalam sesi dansa.


"Erick mau ngajak lo dansa, cuma malu." Wira berinisiatif menyatakan hal yang sama sekali tidak ada niat apapun dari Dicky.


"Hah, apaan?" balas Dicky sambil mengernyitkan dahinya kebingungan memandang pria yang tingginya tidak lebih dari sebatas telinga di sebelahnya.


"Apaan, sih, Wira ..., Ericknya aja bilang enggak," Eva ikut menyahut dengan malu-malu. Seketika itu pun ekspresi wajahnya tersirat kekecewaan, karena Dicky terlihat menyangkal ajakan itu.


Karena tidak enak hati, Dicky pun terpaksa mengiyakan perkataan Wira.


"Eh, tadi ... maksudnya bentar dulu, aku masih capek. Tapi, ya udah. Daripada sesi dansanya selesai, yuk, Va!" Dicky mengulurkan tangannya agar disambut Eva yang wajahnya mulai kembali merona karena senang.


"Tapi kamu ... gak mabuk, kan? Duh, kamu segala minum wine ...," tegur Eva halus.


"Ya ampun, Eva. Aku tinggal lama di UK, please, lah. Gak usah lama-lama, mau gak, nih?" balas Dicky sambil memutar matanya mendengar ucapan Eva.


Eva mengangguk mengiyakan menyambut tangan Dicky dan berjalan menuju lantai dansa di mana tamu-tamu mulai berdansa berpasangan.


Dicky mulai kembali melancarkan otak berbuat satu aksi, dia berjalan mendekat ke arah Susan dan Brian. Lalu, berdansa dekat dengan sang pengantin yang tengah menikmati suasana dansa romantis dalam pesta pernikahan mereka.


Susan dan Brian yang melihat keberadaan Dicky di sebelah posisi mereka kini seketika canggung, hingga Brian berhenti sejenak dan membisikkan Susan untuk kembali ke meja khusus pengantin.


Susan mencegah Brian dengan menahan tangan suaminya yang masih melekat di pinggang.


"Jangan berhenti!" bisik Susan sambil menatap Brian, karena menurutnya justru meninggalkan situasi bukan balasan yang manis.


Brian menghela napas dengan berat, menghindari sikap yang mulai memancing emosi. Dia pun akhirnya mengangguk pelan menyetujui ide yang terdengar konyol.


Situasi keduanya cukup aneh dipandang Eva yang tidak memahami situasi di balik itu semua. Karena tujuan utama adalah saling memanas-manasi.


"Hai, Mbak Susan. Congrats, yah!" Eva menoleh menyapa sambil tetap berdansa dengan Dicky. "Serasi banget, deh, Mbak. Cantik banget kamu ...," ucap Eva melempar pujian pada Susan yang membalas senyum, dibarengi Brian yang wajahnya mulai kembali tersenyum menang.


Dicky yang merasa canggung berusaha menetralkan emosinya untuk terlihat biasa dan menoleh sekilas saja pada Susan. Lalu, dengan cepat kembali menatap Eva "Kamu juga gak kalah cantik."


Wajah Eva tampak merona, sedangkan Dicky membalasnya dengan senyum paling pura-pura yang pernah dia lakukan.


"Kalian cocok, deh. Semoga langgeng, ya!" ucap Susan.


"Oh, terima kasih. Susan." Dicky menjawab cepat dengan senyum yang terkesan sinis.


Padahal Susan tahu betul Dicky tidak lagi menjalin hubungan dengan Eva, atas informasi mama Inka waktu itu. Tapi, respon Dicky begitu mengejutkan


"Kalian lanjutkan saja, terima kasih sudah hadir." Brian menepuk pelan lengan Dicky untuk mengajak Susan kembali duduk. Namun, baru saja Susan mengiyakan dan keduanya hendak berbalik. Dicky menghentikan langkah kedua pengantin itu.


"Eh, Pak! Eh ... sorry, Brian ... Bro. Apa boleh saya menyela berdansa sama sahabat saya?"


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2