
Brian dan Susan tersentak dengan kedatangan Dicky yang secara tiba-tiba. Rupanya dia sedang mencari karena tau Susan masih ada di sekitar kampus pada jam tersebut, dan imbas sorakan penonton tadi lah yang membuatnya tahu keberadaan Susan.
“Susan. Yuk, pulang sekarang! Sudah malam begini, ngapain sih! ingaatt ... “ ucapan Dicky terputus, lidahnya seperti tercekat, hampir terlepas mengucap sesuatu yang menjadi rahasia mereka selama ini.
“Apaan sih! sakit tau!” Susan melepaskan tangannya dari genggaman Dicky.
“Saudari Susan akan pulang bersama saya demi keamanan, apa anda bisa jamin keselamatannya?” sindir Brian, seraya melipat tangan didepan dada.
“Loh, Bapak ini kan hanya konselor, ya, Pak. Gak perlu jauh-jauh mengurusi urusan pribadi orang! pakai segala gendong-gendong! bapak tidak takut reputasi bapak hancur karena itu!” tegas Dicky sambil menunjuk ke arah Brian.
‘Hhhh ... Bodoh! Konselor memang fungsinya apa! Bapak!! Bapak!! sejak kapan saya menikah dengan ibumu dasar anak preman!’ Brian geram dalam hati. lupa kalau aksi menggendong tadi juga berlebihan.
“NPM berapa?!” tanya Brian masih melipat tangan sambil memandang tajam ke arah Dicky.
NPM (Nomor Pokok Mahasiswa)
“Kok!! tanya-tanya NP ... “
“NPM BERAPA ... ???!!” tanya Brian lebih keras lagi memotong ucapan Dicky.
Dicky menoleh ke arah Susan keheranan, tidak mengerti maksud dari perkataan Brian.
“Sudaahh makanya kau jangan cari masalah!” ucap Susan dengan suara berbisik, sambil merekatkan giginya.
menyenggol lengan Dicky dengan cepat.
“Saya menunggu ... “ ucap Brian dengan ekspresi sok nya yang muncul kembali. Dicky masih mengernyitkan dahinya menganggap sepele perkataan Brian, “Baiklah ... kalau begitu, biar saya yang cari anda!” tambah Brian dengan tegas.
‘Aaaah ... mati kamu Dicky!’ gumam Susan dalam hati.
“Bapak mau mengancam saya?!” balas Dicky, mulai sok menantang.
“Saya tidak mengancam, apa gunanya saya mengancam Mahasiswa semacam anda, Hhh ... saya hanya ingin memastikan. Apabila terjadi sesuatu yang membahayakan Saudari Susan, Anda orang pertama yang akan saya minta pertanggung jawaban,” balas Brian dengan intonasinya yang ringan.
‘Padahal ingin sekali aku melihat ekspresi wajahnya jika besok pagi dia dinyatakan Drop Out dari kampus ini’ gumam Brian dalam hati.
“Memangnya Bapak pikir, Bapak siapa!” tanya Dicky berusaha melawan.
“Lalu anda pikir anda siapa?” balas Brian tanpa berpikir panjang.
Dicky terdiam tanpa berani membantah Brian, ia bingung harus menjawab apa, padahal dengan satu kata kunci saja bisa melepaskan ia dari perdebatan ini, yaitu kata Suami.
‘Seandainya tidak berpikir panjang melihat situasi rasanya aku ingin meninju wajah sombongnya ini’ Batin Dicky dengan perasaan geram.
“Kalau masih laam ... “ ucap Susan terputus, tubuhnya terhuyung tidak bisa tertahan lagi, Susan nyaris terjatuh sebelum Brian segera menangkap tubuh Susan .
TAPPP
__ADS_1
“Missorry!!” Brian menangkap bagian punggung, dan kepala Susan yang nyaris membentur pelataran parkir.
“Susan!!” Dicky ikut tersentak namun kurang cepat menangkap tubuh Susan.
‘Apa dia sebut tadi?! Miss apa??’ Dicky sontak menoleh sekilas ke arah Brian sambil ikut sigap hendak meraih Susan yang sedang terhuyung jatuh dan ditangkap cepat oleh Brian.
****
“Hhhh ... sakiiit ... ya ampun ... egghhh ini sakit sekali! ya Tuhaaan ....“ Susan mengerang kesakitan pada bagian perutnya yang seperti bergejolak dan sangat melilit.
“Bawa ke mobil saya, cepat! buka pintunya!!” teriak Brian sambil merogoh kunci mobil di sakunya dan melemparkannya ke arah Dicky, sigap Dicky menangkap.
“Mobil Bapak yang mana?!” tanya Dicky segera bangkit berdiri, dan panik kebingungan.
“Kemari!!” Brian membopong Susan dengan kedua tangannya.
Dicky mengikuti dari samping memecah kerumunan orang yang berada di sisi mobil Brian, dia membuka pintu belakang mobil, dan duduk sambil memangku kepala Susan yang masih menggeliat kesakitan.
Brian menyalakan lampu hazard, dan mengklakson beberapa kali pengunjung yang belum menyadari akan kondisi genting kala itu. Dia tidak sempat berpikir untuk menghubungi pihak security mengamankan situasi tersebut. Seketika itu, salah satu security yang berada tidak jauh dari lokasi, melihat mobil Brian yang terhambat kerumunan orang. Karena belum ada yang menyingkir, dia berlari menghubungi rekan security lainnya.
“Ujang di posisi!! mohon bantuan mobil keluar darurat!! mobil Pak Brian, dekat panggung!! merapat ... merapat!”
Security pertama berlari mendekat, ikut menyingkirkan orang-orang di bagian depan mobil untuk segera dapat keluar. Lima orang security lain turut membantu mengurai kerumunan, dan berlari cepat membantu kondisi saat itu.
Mobil dengan mudah melaju keluar dari parkiran dan melaju di jalan raya kala itu. Brian sesekali melirik kaca spion tengah melihat kondisi Susan yang berada bersama Dicky di kursi belakang.
“Kondisikan tangan anda, ya!!” tegas Brian dengan suara keras, ke arah Dicky yang berusaha menenangkan Susan dengan mengusap dahi dan rambut wanita itu.
“Sempat-sempatnya sih, Pak!!” balas Dicky dengan nada tinggi.
*‘Ini orang *kenapa sih ikut campur terus!’ gumam Dicky gemas dalam hati. seketika Dicky panik dikejutkan oleh cairan yang membasahi celana jeans Susan dengan cepat dan meresap ke seluruh bagian paha.
“Darah!!” pekik Dicky.
“Apa?Darah?!” tanya Brian terkejut, dan langsung menoleh sekilas ke kursi belakang. Dia melihat sejumlah darah yang banyak kini ikut mengenai jaket serta bagian bawah kaus Susan yang berwarna putih.
Tangan Brian gemetar di balik kemudi. Seketika keringat dingin muncul disekitar wajah piasnya, dan membasahi kedua tangannya yang berbulu pirang halus. Meski suhu ruang mobil dingin dengan AC saat itu.
Dia dengan panik merogoh tabung kecil berisi pil dalam sakunya, dengan satu tangannya mengendalikan kemudi. Membuka paksa penutup tabung dengan gigi, dan mengambil satu buah pil kemudian menelannya. Setelahnya dia menaruh sembarang tabung tadi di atas dashboard.
Dicky mengernyitkan dahi saat sempat melirik tindakan Brian.
‘Apa dia mengkonsumsi obat-obatan? kenapa dia itu?’ Batin Dicky tanpa mau berpikir panjang karena kekhawatirannya akan kondisi Susan.
Dicky memperhatikan Susan yang kini semakin lemas. Saat memasuki gerbang Rumah Sakit terdekat, Susan tidak mampu menahan sakit hingga sekadar menggerakkan tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Dicky meraih dan menggenggam kuat jari jemari Susan yang gemetar dan berkeringat.
‘Kalau memang benar apa yang aku perkirakan saat ini, entah akan sehancur apa perasaanku nanti’ Batin Dicky meratapi kondisi Istrinya saat itu, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.
****
Mobil terparkir persis di pintu utama lorong menuju Ruang IGD, Beberapa petugas medis maju mendekat membawa brankar pasien, dan segera membawa Susan ke dalam ruang IGD.
Dicky memberanikan ikut masuk ke dalam ruangan untuk memberi keterangan, bagaimana kronologisnya pada dokter jaga malam itu.Sesaat memberikan data, dia pun kembali ke luar ruangan setelah diminta menunggu.
Brian memandangi Dicky dengan iba, saat pria itu keluar dari ruangan, dan terduduk sambil menangis dalam bungkam.
‘Anak ini kelihatannya benar-benar mencintai ‘Missorry’ku tapi dimana mantan pacarnya itu kini’ Gumam Brian dalam hati.
Dicky teringat kembali dengan tas Susan masih tertinggal di area kampus. Dengan inisiatif, Dicky berusaha menghubungi Kak Edo melalui ponselnya yang kala itu sudah menginjak pukul 11 malam.
* Halo\, Kak ... (Dicky dengan suara lirih)
* Dicky\, kamu dimana? bisa tolong ‘track’ ponsel Susan tidak\, dia lagi di mana?! nomornya dihubungi tidak diangkat ... (Kak Edo)
* Susan di Rumah Sakit Kak\, a-aku ... (Dicky memotong pembicaraan kak edo)
* Gimana? Rumah Sakit?! ada apa? Rumah Sakit mana?! (Kak Edo memberondong pertanyaan)
* Rumah Sakit XX Kak ... ruang IGD ... (Dicky terisak sesekali tidak mampu berkata banyak)
* Ok\, aku kesana sekarang!! (Kak Edo terdengar panik)
Brian berusaha melawan ketidaknyamanannya duduk di area Rumah sakit. Sedangkan ini dirinya duduk berhadapan dengan tanpa saling bicara, tidak satu patah kata pun keluar dari mulut mereka.
Brian banngkit dari duduk, dan berjalan ke arah pintu ruang IGD. Dia sedikit mengintip pada kaca kecil di pintu ruangan itu. Dicky seakan mengawasi gerak-gerik Brian, yang akhirnya kembali duduk di tempat semula sambil menghela napasnya dalam-dalam. Keduanya kembali diam, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing,
‘Khawatir banget dia dengan keadaan Susan, aneh. Jangan-jangan dia tau segalanya tentang masalah itu, apa Susan sudah banyak cerita tentang aku ... ‘ *Batin Dicky, ia masih tertunduk menggenggam kedua tangannya.
‘Sebenarnya aku tidak ingin berada disini, cuma tidak tahu kenapa berat sekali melangkahkan kaki tanpa tau keadaan Susan saat ini. Apakah aku sudah terlalu jauh ....‘ Batin Brian, sekali lagi menghela napasnya dalam-dalam.
Sesaat kemudian salah satu tim medis keluar dari ruangan.
“Suami Nyonya Susan ....“
Brian dan Dicky sontak bangkit dari duduk bersamaan.
“Yaa!!” Tanpa disadari keduanya. Brian, dan Dicky menjawab bersamaan.
Bersambung
Nah lho! ada yang kelepasan ngaku-ngaku🤭🤣🤣
__ADS_1