My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Hari yang buruk


__ADS_3

...Brian sayang, ... kamu kenapa ......


Aku menghentak belakang kepalaku ke sandaran kursi mobil, sesaat membaca pesan terakhir Brian. Rasa ingin sekali kupaksa jantungku berhenti berdetak, agar terlupa betapa sakitnya hatiku kali ini. Aku merasa ditolak mentah-mentah dan terbuang tanpa sebab. Seakan beberapa jam tadi hanyalah mimpi atau semata-mata khayalanku saja.


Kak Edo melirikku dari sudut matanya, mungkin ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa ekspresiku seketika berubah sedih padahal beberapa menit sebelumnya masih nampak tersenyum bahagia. Kutahan sakit yang begitu dalam. Hingga dalam nya, aku hanya mampu memejamkan mata erat-erat, sambil menyeka sudut mata yang seketika terasa basah.


Tapi Brian ... semakin hari kupahami seluk beluk tentang dirinya, ia mudah sekali berubah sikap seketika tanpa kuketahui sebabnya, selalu memendam masalah dan pikirannya sendiri, sulit sekali memiliki pasangan yang tertutup seperti ini.


"Aaah, ... hufff ..." aku menghela napas dalam, menahan sakit pada pangkal hidung yang perlahan mulai mengeluarkan cairan akibat tangis yang kutahan. Kupijat pelan seraya mengernyitkan dahiku. Tanpa sadar terus saja aliran airmata itu tak henti membasahi sisi wajahku.


'Apa lagi ini ... apa lagi yang harus kuhadapi selanjutnya ...' batinku.


***


Haya memberitahuku bahwa Pak Anton memutuskan agar aku tetap hadir dikantor tanpa harus melakukan Training, aku bahkan terlupa mengabarkannya bahwa aku masuk hari ini, tapi Haya yang memahami kondisi ku dua hari lalu memaksa menggantikan posisiku sebagai Trainer yang on schedule.


Aku memeriksa beberapa email masuk dari pihak operasional mengenai jadwal Training beserta kandidat untuk sesi selanjutnya. Masih berusaha konsentrasi pada pekerjaan diluar masalah pribadiku yang terasa menggantung tanpa solusi.


Sedikit canda tawa antar Tim HR di dalam ruangan itu tidak sanggup menggiring pikiranku yang sedang kacau. Aku hanya mampu tersenyum, tak ada keceriaan sama sekali.


Di saat-saat yang melelahkan hati dan pikiran ini tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil namaku, langsung saja aku menghela napas kasar sesaat mendengar suara itu berada beberapa meter dari meja kerjaku.


"Mbak Susan ..."


Semua rekanku dalam ruangan menoleh ke arah sosok Pria yang berdiri di ambang pintu. Dicky!


"Hm." jawabku singkat tanpa menoleh atau membuka mulutku untuk bicara.


"Sudah sehat?"


"Ya, Alhamdulillah." jawabku datar, enggan menggubris basa-basinya.


"Masuk aja Mas Erick, kenapa ... perhatian banget sih sama Bu Susan nyaaa ... kok kita enggak ditanya ya?" canda Mbak Wulan.


"Kita kan teman Mbak, teman lama ... ya 'kan, San?"


"Hm." mahal sekali rasanya suaraku menjawab kata-kata nya.


Dicky berjalan menghampiri mejaku. Sigap aku menggeser kursi, menghindari tangannya yang mungkin saja akan berpangku di sandaran kursiku.


"San, kemarin masih sakit emangnya?" jarinya mengetuk-ngetuk mejaku, dan berpura-pura sopan dengan basa-basinya didepan rekan-rekanku.


"Ada apa ya?" jawabku datar. Aku memutar kursi menghadap dan mendongak ke arahnya, yang berdiri sedikit merunduk menopang tubuh dengan kedua tangannya di meja.


"Gak, ya bagus—lah, syukur aja kalau sehat. Nanti makan siang bareng ya, sekalian aku pulang jam dua belas nanti, kita ke kantin lantai tujuh dulu."


"Kenapa gak pulang langsung aja, kan bisa makan dirumah." jawabku ketus dengan wajah masam.


"Aku niat mau traktir, sekalian bahas yang kemarin kita diskusikan, masih mau dilanjutkan atau gak nih?"


Aku pahami kata-katanya yang memberi kode soal perdamaian kami, aku mengangguk tipis, tidak ingin banyak buang energi lagi menghadapinya.


"Oke, dua jam lagi. Nih, untuk DP, biar kamu melek gak lemas-lemas lagi" Dicky menaruh satu cup kopi dingin di mejaku lalu mengacak-acak pucuk rambutku dan berlalu pergi keluar ruangan.

__ADS_1


Kutampakan wajah kesal tanpa berkata-kata terlebih saat rekanku menggodaku atas sikap Dicky tadi.


"Si Erick tuh perhatian loh San sama kamu, aku perhatiin dia pas kemarin maksa bopong kamu tuh kayak gimana ya ..., jangan-jangan dia ehem ehem sama kamu ..." Mbak Wulan tersenyum dengan deretan giginya.


"Halah, basa-basi itu, aku hafal Mbak. Sok-sok baik aja depan orang, lagian gila aja, udah sama-sama punya calon kok."


"Ah, yang kayak-kayak gitu udah biasa San, kamu kayak baru kemarin aja di kantor, urusan affair paling sulit dihindari karena kita ketemu setiap hari, yang udah-udah kan gitu, jangankan yang belum nikah, yang sudah aja masih banyak yang khilaf."


"Ya jangan sampai lah Mbak, lagipula aku sama dia pernah sahabatan makanya sikap kayak gitu sih udah biasa, jangan terlalu dipikirkan." jawabku datar sambil memutar kursi menghadap komputerku kembali.


***


Pukul dua belas kini, saatnya menyiapkan diri menghadapi si Pria yang tiada lelahnya menggangguku dari hari ke hari. Aku anggap saat ini adalah bonus untuknya, jika tidak ada urusan, aku lebih memilih makan siang sendiri atau tidak makan sama sekali. Nafsu makanku pudar hari ini.


Dicky datang menghampiri ruanganku lagi, dengan ransel laptop hitam dipunggungnya, dia hendak pulang setelah bermalam dikantor sesuai jadwal shiftnya. Tapi hendak makan siang denganku terlebih dahulu.



Kami berjalan beriringan menuju lantai tujuh, aku menjaga jarak dengannya sambil memeluk kedua tanganku sendiri. Lebih baik dianggap seperti orang demam ketimbang tiba-tiba tangan Dicky menyambar tanganku untuk bergandengan, hanya jaga-jaga, aku tahu terkadang dia suka menggila.


Bertempat di sudut ruangan kafetaria, meja kami jauh dari pintu masuk area itu, jauh dari pandangan orang yang mungkin saja mengenalku dan melihatku bersama Pria lain, meski seharusnya bersikap biasa saja, tapi itu sangat penting kali ini.


Kami duduk berseberangan pada meja itu, Dicky memesan jus kesukaanku yang ia tahu dari dulu, Strawberry apple mixed juice dan ia memesan Choco Classic ice blended kesukaannya dan ... yang sebenarnya itu kesukaan kami berdua.


"Aku gak pesan ini lho." ucapku sambil mengerlingkan mata tajam ke arahnya. Sesaat minuman itu diletakkan pelayan di hadapan kami.


"Aku yang udah pesan dari tadi, aku kan punya nomor WA nya, jadi kalau kesini gak perlu antri, dia udah tau pesananku"


"Ya udah, diskusi apa."


"Siapa yang mau makan?! aku kesini memenuhi permintaan kamu untuk diskusi, bukan basa-basi makan siang!" tegasku.



"Aku kelihatan jahat ya kalau menawarkan makan? aku paham kondisimu kurang sehat hari ini, wajah kamu pucat." Dicky menyeruput minumannya, "Ngapain aja sih kamu, San. Kok sekarang malah kurang istirahat terus, gak baik lho untuk performance Training kamu."


"Hahaha ... kamu keseringan shift malam ya?! kayaknya ... setan ruangan server suka sama kamu, sampai kesurupan begini, ada angin apa tiba-tiba baik?" ucapku dengan tawa sinis.


"Aku kapan sih nggak baik, kan kamu yang selalu negatif sama aku." gumamnya.


"Ow—Em—Ji. Lagi drama apa kali ini, hm?"


"Drama?? heh, gini, kamu itu orang psikologi, gak pantas menganggap orang gak bisa berubah, apalagi kita sedang buat perjanjian damai. Bukan kah kita bisa mulai dengan cara yang baik seperti ini?"


"Oh, tentu 'Dic, jangan ragukan kemampuanku. Aku saaangat memahami orang lain, untuk itu aku sangat memahami kamu. Kapan kamu bisa dipercaya, atau gak perlu dipercaya sama sekali!"


"Yah, terserah."


"Kembali ke topik. Gimana soal perjanjian? soalnya ... maaf aku gak bisa berlama-lama, takut Brianku menelepon."


"Hahaha, rileks sedikit, San. Gak perlu niat memanas-manasi aku, gak ada gunanya, Sumpah. Sini, minum cokelat ini, biar kamu santai sedikit." Dicky mengangkat gelas minumannya dan menyodorkannya padaku.


"Oh, no, sooo ... thank you! aku kan udah ada minuman sendiri, gak perlu lah minum cokelatmu, nanti ada racunnya lagi!"

__ADS_1


"Minum." ucapnya dengan nada dingin, memaksa dengan menyodorkan gelas itu lebih dekat ke wajahku


"Gak, gak mau!"


"Jadi damai??" matanya menyorot tajam seperti mengancam


Aku merapatkan rahangku menahan geram atas sikapnya yang memaksa.


"Mau kamu tuh apa sih!" tegasku mulai meninggikan sedikit nada bicara.


"Ini cokelat, aku mau kamu rileks. ... Minum!"


"Sini! biar aku aja!" aku hendak meraih gelas itu namun Dicky menjauhkan gelas itu dari jangkauan tanganku.


"Gak usah. Minum, biar gelasnya aku yang pegang aja!"


Mata kami bertatapan diantara gelas yang berada ditengah pandangan kami, aku menatapnya dengan sangat geram namun ia tetap terlihat tenang bahkan menyungging senyum.


"Kamu licik ya ..."


"San, kalau kamu memilih aku jadi musuhmu, aku bisa lebih jahat dari kemarin. Aku menawarkanmu begini supaya aku tahu kita sama-sama tulus berdamai .., Minum?!"


Aku menghela napas dalam-dalam, ingin teriak rasanya, mencaci, melemparkan gelas dihadapanku. Dia berulah lagi.


Aku memajukan posisi tubuhku agar mendekat ke gelas itu, Dicky memajukan gelas ditangannya agar aku dapat meminumnya.


"Setelah ini, pastikan kamu gak akan mengganggu hubunganku lagi dengan Brian!"


"Hahaha, hey, sorry aja. Deal, aku juga mau menikah." jawabnya penuh alasan.


"Oke, ... bagus kalau begitu."


Gelas itu didekatkan ke arah bibirku dan aku menyeruputnya perlahan sambil menatapnya tajam. Dicky tersenyum memperhatikanku meminum minuman itu dari tangannya. Wajahnya terlihat puas hingga ia ikut condong mendekat ke arahku.


"Asal tahu saja, aku sedang tidak sakit saat ini! aku hanya lelah akibat bersenang-senang dengan kekasihku. Malam yang hebat, menggairahkan, dia sa—ngat pandai memuaskanku!" Aku berbisik dengan nada tenang dan sinis seraya menatapnya. Mencoba mengganggu mentalnya saat ini.


"Hahaha. Jangan lupa aku pernah membuatmu hamil ..." Dicky berbisik dan menatap tajam, mengejek balas perkataanku.


Emosiku meledak seketika, aku mendorong keras minuman itu hingga tersiram ke wajahnya.


BYURR


Aku cepat bangkit dari dudukku, Dicky bergeming dan menatapku geram.


"Selamat minum! kita sudah deal sekarang, semoga kamu bisa lebih RILEKS ya 'kan? pulanglah ... dan jangan lupa mandi. Bersihkan dirimu yang ko—tor itu!"


Aku meninggalkannya mentah-mentah dari meja itu. Dicky mengusap wajahnya yang basah akibat siraman es cokelat itu. Aku berjalan cepat menjauh dari lokasi menuju ruanganku kembali.


'Ya Tuhan ... aku ingin sekali pergi meninggalkan ini semua ...'


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2