
Keputusan tidak dapat diganggu gugat, dalam 3 hari ke depan pernikahan sudah harus segera dilaksanakan. Kak Edo mencari informasi tercepat dan menggunakan jasa-jasa orang tertentu agar semua berjalan lancar, tentunya dengan dana yang tidak sedikit dalam takaran pernikahan tanpa pesta, hanya ada mempelai, wali dan saksinya pada masing-masing pihak. Tapi Eli ... memilih untuk tidak hadir ...
‘Aku harus kuat ... ini hanya sebulan.’ Susan dan Eli dengan batin yang sama.
****
“Ingat, kalian berdua sekarang sudah menikah, dan jangan lupa ... ini hanya akan berlangsung sampai saatnya kita tau pasti Susan memang tidak dalam kondisi hamil! jadi jangan menyentuhnya! atau kau akan tau sendiri akibatnya.” Tegas Kak Edo.
Dicky mengangguk pelan.
‘Seharusnya aku tau ini memang hanya untuk formalitas saja.’ Dicky
“Susan, tidak juga untukmu ... selama dalam ikatan pernikahan kau kularang untuk tetap berhubungan dengan Eli, apapun bentuknya.”
“Kenapa bukan kamu saja yang menikah Kak!.” Susan berjalan melewati Kak Edo dengan acuh.
‘Sayangnya ikatan kami hanya untuk sementara padahal ini pertama kalinya aku melihat dia berpakaian dan di dandani seperti layaknya perempuan, ternyata ia cantik juga, iya ... istri ku cantik juga.’ Batin Dicky.
Penuh drama hari ini didepan penghulu, mulai dari kenapa wajah si mempelai pria terlihat banyak lebam hingga pengantin wanita yang menolak mencium tangan suaminya. Sepertinya pak penghulu paham.
Kami pulang bergerak cepat masuk agar segera semuanya kelihatan normal. kami duduk bersama dalam satu ruangan, saling menjaga jarak. Kak Edo pergi kekamarnya mengganti kemejanya saat aku mencuri-curi waktu ... menghubungi Eli ...
“Hai, apa kabar ... kamu baik-baik saja kan?.” Wajah Eli memenuhi layar ponsel tersenyum memaksa
“Baik ... semoga ... kamu juga baik-baik ya disana ... “ Susan mengusap perlahan wajah dilayar itu.
“Shh ... i know what you’re thinking ... “ Eli menenangkan.
“Iya ... hanya satu bulan” bernada datar
“Satu bulan ... lama ..., tapi tak apa ... bersabar lah!” Eli menatap, menenangkan dari seberang sana.
‘Satu bulan kepalamu! hahaha’ Dicky tertawa dalam hati saat mencuri dengar dari seberang sofa.
“Kamu berapa lama di surabaya?”
“Ahhhh entahlah ... seharusnya hanya 3 hari, tapi berat juga jika pulang tidak bisa menemuimu”
“Aku juga ... aku juga ... “ Mata Susan mulai berkaca-kaca dan ia membisu.
“Heeii ... sudah, lihatlah ... kau sudah cantik hari ini, kau beda juga ya ... ah ... rasanya ingin kulihat langsung kau tanpa kaus-kaus besar dan sweater hoodie itu, apa itu namanya ...”
“Kebaya ... “
“Hmm ... ya, nanti kau pakai lagi ya”
“Hahaha ... masa aku pakai kebaya untuk menemuimu nanti”
“Ya pakailah ... dengan model yang berbeda pastinya, saat aku menggantikan posisinya ...”
__ADS_1
Tersentuh sekali rasanya, hangat itu kembali menjalar dari dalam hati menuju ke wajahku yang mulai memerah. Susan
“Eheemmmm ... Kak EDOOO, bisa kemari sebentar tidaaak ... “ Dicky memberi kode mengadu.
“Diam kau! Awas ya!!.” Susan melotot ke arah Dicky yang pura-pura tidak dengar.
‘Sudah mulai berani mengadu dia .’ Susan
“Kenapa? Suamimu?? Hahaha ... “
“Eliiii ... !!” Susan melotot balik ke arah Eli
“Hahaha ... suami kontrak maksudnya, aku juga enggan menyebut kata itu, Hih!.” Eli kembali serius
“Ya kenapa kau sebut! illfeel aku!.”
“Tidak apa-apa Love ... kamu lucu kalau marah” Eli tersenyum memandangi dalam-dalam ke layar ponsel.
‘Ya ampun ... kenapa bukan kau saja tadi yang mengucap ijab qobul.’ Batin Susan
“Ya Dear, jangan kau sebut kata itu lagi mendengarnya bisa MUNTAH aku ... “ Susan membesarkan suara sambil menoleh ke arah Dicky yang sedang berpura-pura memainkan ponsel.
“Apa?? kamu Muntah? wahh ... berita bagus!.” Dicky tersenyum menjawab tanpa menoleh.
“Eh dengar! muntah liat wajahmu!.”
“Pokoknya muntah.” Dicky tersenyum-senyum mengejek melihat Susan.
“YUUK!!!” Kata Dicky mengejek lagi
“APA KAMU!! pergi sana!” bentak Susan
“Kak EEDOO ... !!” Dicky berteriak lagi.
“Ya sudah ... lanjutkan pertengkaran kalian!” ucap Eli bernada dingin.
Sambungan Video Call diputus.
“El ... Eli??.” Susan terperanjat melihat ponselnya, lalu menoleh ke arah Dicky, mengepalkan tangan dengan geram, kemudian melempar bantal kursi ke arahnya.”Sial kamu!!!.”
Bukkk
“Hahahahaha ... “ Dicky bangun dari duduknya lalu melewati Susan sambil mengusap kepalanya cepat, tertawa puas.
Susan menepis dengan geram
****
Malam minggu itu adalah malam pertama kami sebagai suami istri, kami diperbolehkan tidur satu kamar meski dengan larangan satu tempat tidur, aku menentang keras Dicky berada dikamarku.
__ADS_1
‘Kak Edo ini bagaimana sih maunya, kan aku saja masih belum lepas dari trauma.’ Susan
Dengan alasan bahwa Susan harus belajar untuk memaafkan Dicky perlahan karena biar bagaimanapun ia adalah suaminya.
‘Ini mental terbaikku saat ini sudah menyanggupi diriku menjadi istri orang yang kubenci. Setidaknya hanya hari ini, ketika besok mama papa kembali semua akan harus terlihat normal.’ Susan
Susan duduk bersila di atas tempat tidur, mengecek beberapa pesan masuk.
“Wahhh banyak sekali ini! dari ketua BEMF, dari grup fakultas, teman-teman geng kampus dan Ibu Ike!! ... aduh ... mati aku!,”
Susan mengingat saat ia menandatangani surat perjanjian konseling yang tidak boleh ia lewatkan meski hanya satu sesi, sedangkan ini sudah berjalan 3 minggu.
“Bisa tidak ya ... kususul saja mengikuti sesi itu, minggu ini aku masih belum boleh keluar kemana-mana.”
Kak Edo menyuruh Susan untuk tes kehamilan secara berkala ke dokter dan selama itu juga tidak boleh melakukan perjalanan ataupun aktifitas berat.
‘Kalau sampai kau benar hamil kan kasian anakmu nanti’ Ucap Kak Edo saat itu.
‘Meski dia mungkin ada di dalam tubuhku, rasanya aku lebih baik meniadakannya dari awal saat ini masih berbentuk gumpalan darah.’ Susan
Pikiran jahat timbul mengingat betapa ia tidak menginginkan itu benar-benar terjadi, mencegah kemungkinan terburuk jika sampai itu terjadi maka pernikahan kami harus diresmikan atas nama negara.
Dan ia harus benar-benar berpisah dengan Eli.
Dalam kondisi merenung memegang ponselnya Susan terperanjat dengan sosok pria yang muncul dari balik pintu balkon yang terbuka lebar.
“Dicky!!! kau sudah kularang masuk ke kamarku ya!!!.”
“Loh, memangnya kenapa ... kan aku boleh menumpang tidur disini kata Kak Edo!” berjalan masuk ke dalam kamar sambil berkacak pinggang.
‘Sial, aku lupa hanya mengunci pintu kamar, dia kan biasa naik lewat balkon dari dulu.’ Jantung Susan mulai berdebar hebat.
“Kau mau aku teriaki maling!!.” Susan cepat bangun dari duduknya berdiri ke arah pintu kamar bersiap kabur.
“Hahaha ... security perumahan ini saja hafal dengan wajahku ... dulu-dulu kau kan yang suka membelaku saat mereka menegur takut ada apa-apa, lagipula kan rumahku di seberang, mereka juga tau kok!.”
‘Entah kenapa perasaan takut ini timbul lagi, harusnya Kak Edo jangan ambil keputusan seperti ini, dia tidak tau benar Dicky itu paling susah diatur.’ Susan
“Jangan macam-macam ya! maju selangkah lagi kupecahkan kepalamu dengan lampu tidur ini, ingat perjanjiannya!! mau mati kau ya!.” Susan meraih lampu tidur di meja kamar dan memeluknya erat terpojok dekat pintu kamar saat Dicky berada satu meter mendekat ke arahnya.
“Hahaha ... sampai segitunya.” Dicky
‘Persetan dengan perjanjian, kau kan Istriku sekarang.’ Batin Dicky
Dicky terlihat menggigit bibirnya sambil memandangi Istrinya yang ketakutan.
‘Ya Tuhan ... ekspresi itu menyeramkan sekali’ Susan
__ADS_1
Visual Dicky
Bersambung