
‘Eli nampaknya belum mengerti apa yang kurasakan, bukan semata-mata kebutuhan hasrat manusiawi, tapi sosok pelindung sejati adalah yang kuharapkan.’
‘meskipun saat ini kau satu-satunya pria yang kucintai, namun kegagalanmu saat ini mampu membinasakan keinginanku untuk bersamamu lagi.’
Dini hari itu Eli seakan tidak bisa menguasai dirinya lagi, tangan Susan menggenggam keras Sprei menahan perlakuan Eli saat itu terhadapnya.
Eli yang kini mulai melancarkan sentuhannya ke area lain dan nyaris menarik satu-satunya tali dari penutup salah satu bagian tubuh wanita itu, seketika terhenti saat Susan mencoba memaksa mengendalikan dirinya lagi untuk kembali sadar.
‘AKU TIDAK MENGINGINKAN INI!!’ Batin Susan mencoba menguatkan diri untuk menyadarkan Eli dari ke khilafannya saat ini.
“STOP IT!!” Pekik Susan dengan suara semampunya.
BUKKKK
Satu pukulan mengenai wajah Eli dari tangan Susan yang bangkit melawan dengan tenaga maksimal yang tersisa, Eli sontak terhenti, tercengang memandang wajah Susan yang perlahan berusaha membuka mata yang terasa berat dan pandangannya yang samar.
Kini wajah Eli yang tadi memerah dan dipenuhi peluh, seketika seperti air yang turun dari lempengan kaca, wajah Eli seakan membeku, tersadar akan keegoisannya kala itu.
Eli berbalik duduk membelakangi Susan, yang terdiam memandanginya dengan wajah kecewa berurai airmata, dengan cepat ia menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya yang masih dalam keadaan seadanya tadi.
“I’m sorry ... “ Eli berbisik pelan menunduk sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
“I’m sorry ... Hhh ... ,**** !” tambah Eli mengulang perkataannya lagi, suaranya mulai terdengar lebih jelas dibarengi dengan desahan kemarahan pada dirinya saat itu.
Ia memukuli kepala dengan kedua tangannya, kemudian bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar itu seraya memandangi Susan tiada hentinya menangis tanpa kekuatan suara
DUUGG DUG!
Eli memukuli dinding seraya membenturkan dahinya sendiri berulang kali.
“I’m sorry ... !! so ... sorry!! “ seru Eli dengan lantang, hanya kata berulang itu yang mampu ia keluarkan saat ini yang mewakili penyesalan terbesarnya pada orang yang dicintainya saat ini.
“Aku menjadi sama seperti Pria-pria itu yang mencoba memanfaatkanmu ... maafkan aku ... “ lirih Eli dengan suara bergetar dan tubuhnya yang kini terduduk di lantai memeluk lututnya.
“Aku menyesal ... telah membuatmu lupa diri ... jadi ... sementara ini ... tahan dirimu ... untuk menemuiku lagi” lirih Susan, memaksa bicara. Susan meremas sprei diatas tempat tidur dan menekannya untuk membantunya bangkit duduk.” Hhhh ... eeegghh!”
Eli terhenyak melihat Susan yang mencoba bangun dari posisi tidurnya tadi, dengan cepat Eli bangun dan menahan tubuh Susan yang masih terhuyung kemudian terjatuh terlentang kembali ke tempat tidur.
Susan merasakan mual yang begitu kuat, tidak tertahankan sehingga muntahan berupa air keluar dari mulutnya.
“Uuueekkk ... Hhh ... uuhukk”
Eli berusaha spontan mengusap punggung Susan dan segera Susan menggelaknya kembali.
“Please let me ... “
“Dont—touch me!! ueekkkk ... “ kembali memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya.
Eli segera mengambil handuk untuk membantu membersihkan bekas muntahan itu, Ia tidak memperdulikan tepisan tangan Susan lagi, Eli memaksa menarik selimut yang sudah terkena muntahan tadi dan membersihkan tubuh Susan dengan handuk, dengan cepat memakaikan kaus miliknya tadi.
__ADS_1
“Terserah dengan kemarahanmu ... kau harus segera memakai pakaian ini!”
****
POV Susan
Dalam waktu yang lama kami berdua hanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing, Eli kembali terduduk pada karpet disamping tempat tidur, dia sama sekali tidak berani menoleh ke arahku, hanya suara isakan yang aku mampu keluarkan tanpa sengaja juga Eli yang terlihat sesekali mengusap air di ujung matanya tanpa bersuara.
‘Saat ini kurasa ia menunggu responku untuk memulai bicara, ia takut menyakitiku lagi ... oh Eli ... kenapa kau juga ... ‘ Batin Susan menyesali perbuatan mantan kekasihnya.
Eli memeluk lututnya dan terlihat satu tanda yang memancing pandangan yang kini semakin jelas dan membaik.
‘Ia terluka’ Batin ku berbisik, melirik tanpa berani menggerakkan kepala melihat Pria yang tertunduk disebelahku terluka panjang di bagian lengannya.
Seandainya saja situasi tidak menyakitkan seperti ini, mungkin saja aku sudah panik atas apa yang di alami Eli, entah perasaan dingin macam apa yang timbul sehingga sama sekali tidak mengiba kepada mantan kekasihku itu.
‘Semua lelaki sama saja bagiku, kau yang kukenal sopan dan hangat ternyata tidak dapat mengendalikan hawa nafsumu sendiri, bagaimana jika aku wanita lain, apa tidak mungkin akan kau manfaatkan juga’. Batinku, yang sudah dipenuhi prasangka.
****
‘Yang kulakukan itu semua karena itu adalah kau, bukan wanita lain yang tidak ada artinya untukku’ Batin Eli, seakan saling terhubung dengan perasaan yang terpancar dari sikap dingin Susan terhadapnya.
****
Pagi itu juga Susan yang sudah kembali merasa lebih baik dan mampu berjalan mencoba menyelinap masuk melalui pintu samping, namun masih terkunci rapat karena si penghuni belum pada waktunya bersiap melakukan aktifitas.
‘Kalau sampai Kak Edo menemuiku sedang berada diluar, aku akan bilang kalau aku sedang berolahraga dari sejak habis subuh tadi, ya... begitu saja’
Sebenarnya Susan mampu untuk kembali ke kamarnya dengan memanjat lagi melalui balkon, namun kondisinya saat ini sangatlah tidak memungkinkan. Susan menunggu diluar rumah duduk di kursi teras sambil mencoba melihat notifikasi di ponselnya ... yang lupa dimatikan ....
‘Untung Dicky tidak mengikuti ku juga ke Club, ponselku aktif dari semalam!’ Batin Susan, mengecek beberapa pesan.
Susan terkejut grup BEM yang notifikasinya mencapai ratusan, dan beberapa pesan dari teman-teman kampus yang sepertinya bersifat mendesak.
Mengulur deretan pesan dari awal mencari apa yang membuat notifikasi begitu penuh secara mendadak.
* Kepada seluruh anggota BEMF yang terdaftar dan menghadiri rapat terakhir diinformasikan untuk dapat berkumpul besok pagi pukul 10.00 di sekret terkait event acara musik grup ‘Kera Putih’ yang dimajukan mendadak dari pihak EO atas beberapa kendala. maaf mengganggu malam rekan-rekan sekalian.
Susan membaca dengan seksama obrolan-obrolan dari malam tadi.
‘Aduh, schedule Band ini ditukar waktu dengan Band lain! harusnya minggu depan ini!’ Susan bermonolog.
merasa setengah yakin dengan kondisinya saat ini yang masih agak lemas. Ia kembali membaca pesan pribadi beberapa teman kampusnya.
* San, dicariin sama ‘bete’(wakil ketua BEMF) itu, digrup baca! (Urip)
Pesan lain lagi
* Besok jangan kesiangan San, besok nih Bandnya tampil, jadi giliran tim dari Psikologi yang jadi LO! mendadak sekali ini! (Chica)
__ADS_1
* Susan, besok hadir ya rapat, mohon baca grup detailnya. Sorry dadakan mohon bantuannya rekan. (Andre- bete)
‘Mati aku’
Susan menyiapkan diri dengan waktu yang sangat terdesak saat itu, menyempatkan sedikit 1-2 jam untuk sekedar tidur, memasang Alarm persis dekat telinganya di kamar itu.
Pagi itu caranya menyelinap masuk berhasil, Kak Edo untungnya tidak mendadak masuk ke kamar Susan seperti biasa, antisipasinya bagus semalam, ia tidak lupa mengunci pintu kamar, karena ia lolos melalui balkon.
Pukul 9 Alarm berbunyi, Susan tersigap bangun dan terhuyung, tubuhnya terasa sedikit menggigil kedinginan karena istirahat yang terlalu singkat pagi itu, namun Ia memaksakan dirinya untuk segera bersiap membersihkan dirinya untuk pergi ke kampus.
‘Aku merasa seperti mimpi buruk dalam satu malam, banyak sekali kejadian yang tidak bisa kulupakan, Eli sepertinya tidak berani membantah kemarahanku, ia tidak berani mendekatiku saat kucegah mengikutiku ke rumah tadi pagi.’
****
Kampus
Kampus pagi ini hiruk pikuk dengan aktifitas mahasiswa dan beberapa alat berat yang dibawa masuk ke lokasi kampus untuk sebuah set panggung acara. benar saja Band itu akan tampil malam ini.
‘Mungkin aku harus menggunakan softlens ku lagi agar lebih terlihat segar hingga malam nanti.’ Tanpa menyadari wajahnya yang agak sedikit pucat pagi itu menahan lelah teramat sangat.
Rapat pembentukan Tim dibuka kembali dan masing-masing dari anggota menyetujui kesediaannya untuk menjadi bagian dari Tim-tim pengamanan bagi Band Artis yang akan tampil malam ini.
Walkie Talkie disiapkan untuk masing-masing dari kami, kaus sponsor salah satu perusahaan rokok akan dibagikan mendadak siang ini. saat mendapati kaus yang ukurannya dua kali lipat dari tubuhnya Susan terpaksa memakai double pada bagian luar hoodie yang dipakainya hari ini. Hoodie berwarna biru benhur kesukaannya sangat cocok dengan logo sponsor rokok berwarna biru itu. Softlens biru juga melekat kini di bola matanya. sehingga Susan dapat lebih merasa segar di penglihatannya yang agak minus kali itu.
Beberapa mobil masuk diiringi bunyi sirine kendaraan pengamanan masuk ke area kampus, Band ‘Kera Putih’ yang sedang Booming kala itu mulai masuk area dan tim LO bersiap untuk melakukan pengamanan di gedung utama A mencegah fans berkerumun.
“Tim LO ready! yang laki-laki bentuk barisan berjajar untuk pagar pengawalan dan ... Susan, Nurul, Ade, nanti langsung bantu arahkan artisnya ke ruangan sebelah sekjur ya! sudah siap disana, kalau ada apa-apa HT ready semua ya! jangan ada yang missed!” tegas Wakil ketua BEM memberi pengarahan.
Band memasuki area, Susan dan beberapa teman bersiap untuk berdiri berada dibagian depan, seperti keeper yang hendak menjaga bola masuk dalam gawang, personil band masuk, Vokalisnya yang bernama Sonny dan Guntur si keyboardist , dan lainnya masuk dan digiring menuju ruang yang disiapkan, saat melewati ruang sekjur Kak Brian keluar membawa beberapa berkas. sigap saat Susan melihat sosok yang tingginya paling menonjol diantara manusia disitu menyapa sambil berjalan melewatinya.
“Kak Brian! Apa kabar!” pekik Susan, dalam gema gedung A, tersenyum melambaikan tangan sambil berjalan cepat menggiring masuk artis itu.
Brian menoleh ke arahnya tapi tidak menampakkan ekspresi apa-apa, seperti kembali ke awal, orang ini seperti beda lokasi beda sifat. jaga image nya Naudzubillah.
Sepintas senyum kecil diujung bibir Brian muncul saat ia berjalan membelakangi Susan yang memasuki ruangan tadi.
Diruangan itu, Susan terduduk sambil meminum air mineral yang ada ditangannya, sepintas memandangi artis-artis yang sedang berbincang sesamanya, keringat muncul dan sedikit rasa melilit di bagian perutnya.
terlintas dalam pikirannya ... tertegun sejenak ...
Aku nyaris terlupa ...
Kapan terakhir kali aku menstruasi ...
Bukankah ini sudah terhitung hampir satu bulan ...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung