My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Uncle dan Mama Anne


__ADS_3

Perasaan ragu ku seketika berubah mendapati sikap Mama Anne yang mendukung hubungan kami berdua, untuk hal lain yang tidak kuketahui, sebaiknya aku berpikir yang positif dulu didepan mata ku ini.


"Terima kasih Nyonya Anne, aku akan berusaha menjaga Brian dengan baik, dan selalu setia mendampinginya hingga kami menikah dan setelahnya nanti"


"Panggil saya Mama Anne mulai dari sekarang, ... aku calon ibumu juga nanti ..."


Mama Anne kemudian memelukku erat sambil mengusap pelan lenganku sambil tersenyum. Disusul kedua Asisten pribadinya, Leo dan Adam yang memberi salam dan ucapan selamat kepada Brian, berpelukan selayaknya sahabat Pria. Uncle yang ikut menghampiri pun turut menjabat tangan ungkapan selamat dan menepuk-nepuk lengan Brian.


Saat Adam dan Leo bersalaman denganku, aku hanya mengucapkan ...


"Jangan pernah khawatir lagi dengan keputusanku, atau ragu dengan sikapku setelah ini, Adam"


Adam tersenyum, akan tetapi sinar matanya seakan siap mencecarku jika saja aku berbuat yang tidak sesuai dengan perjanjian kami.


"Tapi saya tidak akan berhenti menagih janji Nona, buktikan saja kepada kami semua" ucap Adam pelan dengan senyum memaksa.


"Selamat Nona Cantik, jadilah calon nyonya kami yang baik" sambil mengerdipkan sebelah mata padaku.


Sedangkan Uncle ... ah, sudahlah. Dia hanya memberi selamat sambil berlalu pergi meninggalkan kami semua.


Makan malam usai, Uncle mengajak Mama Anne ke salah satu ruangan lain. Brian dan Aku duduk diruang keluarga untuk menikmati waktu berbincang santai berdua, sedangkan Adam dan Leo berada di kawasan samping rumah untuk melihat halaman sambil bersantai dengan dua botol minuman persegi yang digenggamnya.


***


POV Author


Di salah satu ruangan, yang akan direncanakan sebagai ruang kerja Brian, Uncle dan Mama Anne sedang terlibat percakapan serius tentang hubungan Susan dan Brian.


"Kenapa kamu membiarkan anakmu mengambil keputusan secepat ini tanpa bertanya lebih dulu tentang pendapatmu, Anne!" tegas Uncle.


"Kupikir Ian sudah cukup dewasa, dan ia anak yang cerdas. Aku membiarkannya mengambil keputusan apapun selama itu baik baginya"


"Tapi kau lihat sendiri, wanita itu sepertinya masih ragu  menerima lamaran anakmu, apa kamu yakin ia benar-benar mencintai Brian?"


"Aku tidak akan kembali mengulang masa laluku, tidak untuk anakku, Dave!"


"Baik, aku mengerti sikapmu saat ini, tapi jangan salahkan aku jika suatu saat anakmu tersakiti oleh wanita yang tidak sepadan, dia hanya seorang HRD, belum banyak pengalaman. Bagaimana bisa dia mendampingi Brian yang berpendidikan jauh lebih tinggi dengan karirnya saat ini! sudah pasti bukan wanita yang pintar 'kan? hanya seorang lulusan S1, Anne ..."


"Aku menerima calon menantu, bukan mencari pegawai kantor, selama ia bisa membahagiakan anakku, itupun cukup membahagiakanku, Dave!"


"Jangan membuat dirimu merasa bersalah lagi, Anne ..., jangan sampai itu terjadi karena kamu menyetujui hal yang salah!"


"Bagaimanapun Ian adalah anakku dan Henry, tidak ada kaitannya denganmu, kau hanya membantuku menjaganya selama aku sakit bertahun-tahun. Jadi jika kamu tulus menyayangi anakku, terima keputusannya"


"Aku tau ambisi besarmu, Anne. Kamu hanya tidak ingin anakmu bernasib sama seperti perjodohan dengan kakakku, dan kau pikir jadi apa aku sekarang?"


"Itu pilihan bodohmu sendiri, Dave! itu salahmu tidak bisa mencari yang lebih baik dari Aku!"


Dari balik pintu ruangan itu, Brian menunduk sambil menghela napas dalam, kemudian menggenggam tangan Susan.


"Maaf buat kamu sampai mendengar hal ini, Dear. Ki—kita ... keluar ... ah, kita keluar saja, tidak perlu pamit"

__ADS_1


Brian menarik tangan Susan dengan tergesa-gesa dan nampak panik.


"Bri! gak bisa begini! kita harus pamit, aku gak mungkin pulang gitu aja!" sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang cukup keras tanpa sengaja.


Brian berlalu berjalan ke arah halaman belakang dan berteriak memanggil Adam.


"Adaam ... Adaaam ...!" teriaknya keras hingga menggema dalam ruangan.


Adam tergesa-gesa menghampiri.


"Sampaikan pada Mama ku, kalian semua pulang ke rumah Uncle, biarkan saya disini sendiri!"


"Ada apa, Tuan?" tanya Adam sedikit khawatir..


"Antarkan Susan, Leo!" Brian tidak menjawab perkataan Adam, dan segera memerintahkan Leo untuk mengantar Susan pulang.


"Bri ..."


"Dear, aku minta maaf, nanti kuhubungi kamu, ini sudah malam, nanti kamu sakit. Maaf aku gak bisa mengantarkan kamu pulang!" Brian mengecup dahi Susan dan berlalu pergi ke lantai atas.


Secepat kilat membuat keputusan akibat emosi. Brian mulai merasa tidak nyaman dengan kondisinya yang mulai kembali panik dan gemetar dengan kedua tangannya yang berkeringat.


BLAMM


Terdengar suara bantingan pintu yang keras dari salah satu ruangan di lantai atas, memancing beberapa orang di dalam rumah itu seketika mendongak ke arah suara bersamaan.


Mama Anne terlihat panik keluar dari dalam ruang kerja, disusul Uncle.


"Bri ..."


Belum sempat Susan memberitahu keberadaan Brian, Adam memotong kata.


"Sebaiknya Nyonya sekarang ikut dengan saya, Tuan Brian meminta kita untuk kembali ke rumah Tuan David" sahut Adam.


"Kenapa buru-buru? kita baru saja selesai makan malam"


Mama Anne menepuk pelan lengan Susan.


"Apa tadi itu Ian? beritahu saya dimana letak kamarnya?"


"Di atas 'Ma ... dari atas kamar kedua sebelah kanan ..."


"Aku harus bicara dengan anakku!" Mama Anne bergegas menaiki tangga tanpa ada yang berusaha mencegahnya. Dalam hal ini bahkan Adam dan Leo tidak akan berani menjadi penghalang jika berkaitan dengan Ibu dari Tuannya sendiri.


Wanita berambut cokelat keemasan itu tak berpikir banyak untuk segera menemui anaknya, karena baru saja dalam hitungan kurang dari satu jam tanpa pembicaraan apapun Brian meminta semua untuk segera pulang, Mama Anne diliputi rasa khawatir dan kecurigaan yang besar menemui kejanggalan sikap anaknya.


Ia berdiri didepan salah satu kamar yang dimaksud adalah kamar Brian nantinya. Mengetuk perlahan tanpa jawaban yang diharapkan dari sisi dalam ruangan.


"Ian ... Ada apa ... Mama ingin bicara sebentar, bukalah pintunya ..."


Brian tidak menyahut, hanya berjalan mendekati pintu dan bersandar dibaliknya, tubuh lemasnya dipaksakan untuk berdiri hingga akhirnya ia hanya mampu terduduk bersandar.

__ADS_1


"Ian, kenapa kamu meminta kami semua pulang tanpa bicara langsung, katakan ada apa ..."


Brian berusaha menahan dirinya untuk bicara, napasnya masih terasa tidak stabil untuk sedikit saja mengeluarkan kata.


"Ian sayang, ada apa ... jika ada masalah ... mari kita bicarakan ..."


Brian menyahut dengan menempelkan pelipisnya pada daun pintu, perlahan dengan kesulitan bernapasnya.


"Pulanglah ... Ma ..." sahut Brian.


"Buka pintunya, sayang, mama khawatir denganmu!" lirih Mama Anne.


"Tidak perlu khawatirkan keadaan—ku ... M—mama Ss—sudah cukup berada disini, sem—patkan waktumu bersama Uncle, aku tidak ingin kal—ian disini" ucapnya pelan dan terbata-bata.


"Tapi kenapa Ian ... kamu baik-baik saja 'kan? Ian ... buka pintunya dulu! Mama harus pastikan kamu dalam keadaan yang aman!"


Tiba-tiba Adam yang mengikuti Mama Anne yang terus memaksa untuk menemui Brian pun akhirnya terpaksa menegur dengan lebih tegas.


"Nyonya, saya minta maaf, sebaiknya ikuti apa keinginan Tuan untuk sendiri saat ini, dia hanya butuh ketenangan, dia biasa menangani ini sendiri"


"Kamu!" Mama Anne mendelik dan menatap marah kepada Adam, "kamu mungkin yang paling tahu keadaan Brian selama ini, tapi jangan coba-coba melarang saya menemui anak saya sendiri!"


"Maaf jika saya lancang, saya hanya tahu ini untuk kebaikan anak Nyonya sendiri, Tuan Brian. Apa anda sanggup menerima konsekuensi atas perbuatan anda yang memaksa seperti ini, jika itu semakin membahayakan anak Nyonya?"


Mama Anne terdiam mematung, betapa Asisten anaknya sedang berusaha melindungi, sedangkan ia yang selama ini tidak banyak tahu perkembangan Brian di Indonesia mampu membahayakan keselamatan dengan sikap yang memaksa.


Kami semua pun pulang mengikuti arahan Adam, Leo mengantarkan Susan pulang sedangkan Adam bersama Uncle dan Mama Anne.


Susan dengan berat hati menahan ego untuk tetap melihat kondisi Brian saat ini, nyatanya Adam tetap memantau situasi melalui CCTV aktifitas dalam rumah itu melalui ponselnya.


Selama perjalanan Susan terdiam dalam kegelisahan yang tidak ada hentinya memikirkan keadaan Brian di rumah itu. Leo mencoba sesekali menenangkan bahwa Brian sudah terbiasa menangani hal ini sendiri dan tetap dalam pengawasan kedua Asistennya dari jarak jauh.


"Nona, anda juga harus memikirkan diri anda, Tuan Brian cukup pandai mengontrol emosi dalam keadaan apapun"


"Ini kan lain Leo, saya takutkan gejala itu timbul lagi dan dia hanya sendiri disana!"


"Segalanya akan baik-baik saja, dia orang profesional yang mampu mengatasi kondisinya sendiri, bagaimana tidak? dia bahkan pernah terjebak dalam kondisi diluar pengawasan kami"


"Kami tau betul Tuan seperti apa, jangan bersedih Nona ... nanti cantiknya hilang"


Susan melirik Leo dengan wajah malas.


"Pesta usai, Leo. Aku kembali menjadi Susan yang hanya orang biasa diantara kalian, ini memang kehidupan yang jauh dari dunia saya, mengejutkan sekali rasanya ini"


"Biasakan saja Nona, kami pun orang biasa, hanya saja ... Tuan terlahir dari keturunan orang terpandang dalam darah keluarganya, tapi di Indonesia mereka tetap sama, apapun itu"


"Maksudnya?"


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2