
Brian memulai kembali membuka bebeberapa berkas yang sebelumnya ia abaikan, beberapa lembar sesi pertama saat Susan mengikuti konseling, hanya sepenggalan cerita yang tidak lengkap
Closed question
*Apakah lingkungan keluarga anda mendukung setiap kegiatan anda? iya
*Apakah anda pernah mengalami bullying? Iya
Open question
*Apakah yang anda lakukan apabila di depan anda ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak anda sukai ?
Jelaskan : saya lebih baik pergi menjauhi orang tersebut atau membiarkan saja.
dll
Brian bergegas menuju laptopnya kembali, membuat file baru yang pernah dihapusnya.
DATA PENELITIAN
NAMA SUBJEK : SUSAN ADRIANA
Senyum kecil muncul ketika ia memandangi file yang diberi nama
* MisSorry *
****
Pagi itu Susan bersemangat sejak pagi untuk berangkat ke kampus, setelah berpamitan dengan mama papa, Susan dikejutkan oleh pemandangan pagi itu sesaat keluar dari pintu rumah, Eli yang sedang membuka kap mesin mobil MINI Co- merahnya melirik tersenyum dan menganggukan kepala seperti kode mengajak ikut.
Kak Edo yang sudah standby dengan motor matic besarnya.
Diseberang terlihat Dicky sedang duduk diatas Motor Sport nya sedang memainkan helm yang biasa Susan pakai dulu ketika dijemput pulang latihan, melambaikan tangan. gerak bibirnya seperti berkata ‘Istriii’ Hih!
‘INI OJEK SEMUA?’ Susan bergeleng dan tertawa dalam hati.
“San, masih lama? sudah setengah 8 ini, nanti terlambat kekantor nih, mampang macet kalau pagi!” Kak Edo.
Mata susan masih sibuk memandangi kedua pria, satu suami kontraknya dan satu pacar ya ... oh pacar yang tertunda maksudnya, Kak Edo ikut melihat sekelilingnya dan sontak kedua pria itu pura-pura sibuk dengan aktifitasnya.
“Apa liat-liat?? Susan ikut denganku!”
Instan keduanya menyelesaikan basa-basi, Eli menutup kap mobil depan dan mematikan mesin. Dicky menaruh helm kedua itu kembali dibangku teras rumahnya.
Susan berlalu menaiki motor Edo sambil tertawa memukul helm Kak Edo yang jadinya tersenyum melihat kejadian tadi.
“Bodoh kau Kak ... hahaha ... Kasian dong jangan begitu”
Kak Edo tersenyum lebar setengah tertawa.
__ADS_1
“Kan sudah kuingatkan ... hahaha”
Diperjalanan.
“Lagian apa sih yang mereka cari dari kamu, pendek, cantik gak, putih gak, pintar apalagi ... jauh ... Hahaha! seperti bumi kehabisan stok perempuan saja!”
“Heh ya ... itu bukan patokan, akutuh orang yang menyenangkan, baik dan tulus, Weekkk ... ! nah, Kak Edo sendiri sampai sekarang masih jomblo, katanya ganteng, katanya laku dimana-mana, buktinya gak punya pacar, nikah apalagi ... “
“Buat apa pacar, tanpa jadi pacar mereka juga mau saja jalan denganku, tinggal bilang saja”.
“Masa, aku ga pernah liat”.
“Ya ngapain jadi jagoan kandang, ngerti kan? jakarta itu luas ... kita kan cuma kota kecil yang berdampingan dengan jakarta, kalau mau bebas jangan rusak kampung sendiri”.
“Oooh jadi Kak Edo diluar suka macam-macam ya ... sama perempuan!”
“Gak lah, aku kan punya adik perempuan, mana mungkin aku berani merusak anak orang”.
Susan segera memeluk erat Kak Edo dari belakang, tersenyum haru.
‘Duh ternyata kakakku ini punya prinsip sendiri soal wanita, dan itu karena alasan dia takut karma itu terjadi denganku’.
“Kecuali mereka yang mau sendiri! Hahahaha ... “ Kak Edo menambahkan.
“Bodoh kau! Hahahaha ... “ Susan memukul helm Kak Edo lagi sambil tertawa.
****
‘Entah kenapa meski terdengar konyol, aku menerima julukan aneh semacam itu, hanya karena sering bercanda dan berucap kata-kata yang membuat mereka tertawa, tapi ya itulah diriku, aku senang membuat mereka tertawa dan bahagia, meski aku terkadang menaruh beban di pikiranku sendiri dan tidak ada orang yang tau.’
Waktunya istirahat siang Susan bergegas menuju ruang sekjur untuk mengkonfirmasi kedatangan dan membuat janji pertemuan dengan Ibu Ike perihal nilai. Sore ini aku akan menemuinya. Pesan masuk.
‘Kepada seluruh rekan anggota BEMF Psikologi harap hadir siang ini pukul 14.00 di ruang sekret untuk rapat pembentukan Tim LO(Liaison Organizer) band ‘Kera Putih’ (disamarkan :p) dalam event konser musik kampus minggu kedua awal bulan, Terima kasih, ANDRE ‘BETE’ wakil ketua BEMF ‘
‘Wah... boleh juga nih, rumayan bisa melepas kepenatan dengan menambah kegiatan lagi seperti dulu’ mengingat lagi perkataan Eli agar aku mulai bisa membuka diri melalui banyak kegiatan kecuali karate.
****
Siang itu setelah menghadiri rapat BEM selama satu setengah jam, Susan kembali ke ruang sekjur untuk menemui Ibu Ike. setelah bernegosiasi masalah nilai yang bisa di perjuangkan dengan bersyarat, kami membahas pertemuan untuk wawancara.
“Jadi begini mbak Susan, ini kan sebenarnya sesi sudah selesai ya, tp kata Pak Brian gak apa-apa nanti tetap akan dilakukan wawancara, cuma saat ini beliau kan tidak ada ditempat ya, nanti saya hubungi dia kapan waktunya, kalau besok kira-kira ada waktu mbak?”
“Besok ... saya ada sih Bu, cuma nanti ada kuis jam 10 dan jam 3 praktikum di lab, tapi kalau memang mendesak gak apa-apa sih ... bagaimana baiknya menurut ibu saja ... “
“Oh jangan, kalau kuis dan praktikum itu kan wajib, semester depan praktikum psikodiagnostik padat, kamu gak akan bisa dapat materi yang sekarang, kecuali kamu ngulang kelas”
“Wah, gimana ya bu ... saya bingung ini jadinya, kalau begitu bebas sajalah bu, terserah Kak Brian punya waktu kapan dia yang tentukan saja, weekend pun gak apa-apa saya datang kesini kalau memang diperlukan”.
“Hmmm ... besok lusa sabtu, beliau biasanya gak ada dikampus, tapi ya sudah saya nanti kabari dia aja ya, biar dia yang tentukan waktu, soalnya minggu depan ini sudah harus dapat hasilnya mbak”
__ADS_1
“Baik bu, saya siap kapanpun”
“Ya sudah, nanti dikabari ya mbak ya”
“Baik Ibu Ike, terima kasih yaa ... maaf jadi merepotkan”
“Iyaa ... jaga kesehatan mbak, nanti malah gak bisa hadir lagi, bisa kena marah terus saya sama Pak Brian”
‘Kena marah terus?? jadi selama ini karena dia marah-marah, makanya satu ruangan jadi geger kemarin itu’ Susan
Tidak berapa lama Susan berlalu pergi Ibu Ike mengirimkan pesan ke Brian,
*Sore Pak Brian, tadi saya sudah konfirmasi ke mbak Susan soal jadwal Wawancara nanti, besok mbak nya ada kuis dan praktikum, jadi apa Bapak bersedia datang sabtu untuk Wawancara di kampus?
*Ibu tau kan saya tidak mau ada urusan kampus saat weekend Ibu Ike, berikan saya nomornya saja biar saya yang hubungi langsung
*Baik Pak Brian, ini nomornya : 0811 3*****
* Terima kasih Ibu Ike
‘Dapat! Hmm ... kalau begitu ... baiklah’ Brian menyimpan nomor kontak Susan dengan nama yang sama ‘MisSorry’.
Pesan masuk
*Selamat sore, Saudari Susan Adriana, diwajibkan kehadirannya perihal Wawancara konseling, sabtu pukul 13.00 di kediaman saya saat ini, MC Hotel, Executive Suite Room no ***, atas nama Brian Adney W. status : Wajib”
‘Hih! pesan macam apa itu! wajib ... wajib! dan kenapa harus di hotel? tidak punya rumah memangnya... cafe atau semacamnya ... kenapa harus di kamar hotel??’
Seketika membaca pesan itu rasa takutnya muncul lagi, kebimbanganya untuk menolak kali ini sulit sekali karena ini adalah tentang nasib nilainya nanti.
Kalaupun Susan mengatakan ini ke Kak Edo atau yang lain, akan otomatis dilarang keras, karena seperti tidak profesional saja wawancara di kamar hotel... wawancara apa wawancara...
Mengingat status pada pesan itu kata ‘Wajib’ menjadi seperti membaca kata ‘Bahaya’ bagi Susan di saat-saat begini
‘Hotel ... Hotel ... ‘
dan kata itu terus berputar dikepalanya ...
Sedangkan Brian yang sedang berada di tempat LSM miliknya sedang tersenyum-senyum melihat pesan yang baru saja ia kirimkan ke Susan.
‘Pasti dia tidak berani menolak ... ‘
Bersambung
True story inside, menjadi bagian dari 10 orang terpilih dari banyak orang dalam konseling asertif itu pengalaman unik, hahaha apalagi kamu salah satu yang punya obedience (kepatuhan) tinggi, ga bisa mengungkap perasaan...
tapi Thor udh sembuh kok... perlahan kita belajar disini🙏😆
__ADS_1
Pendek, gak cantik, gak putih, gak pintar tapi suka beruntung🤣👍