
...Tujuan kami memang searah, membentuk rumah tangga yang sempurna, mengesampingkan segala masa lalu kami dan memandang terus kedepan....
...Memantapkan hati demi orang yang dicintai....
Adam membawa Susan ke Rumah Sakit yang tidak berada jauh dari lokasi Cafe. Dia meratap kebingungan, sebesar ini efek kecemburuan hingga menjatuhkan mental seorang wanita. Adam sendiri yang selama ini melajang dan tidak pernah serius dalam hubungan akhirnya menyadari, betapa besar perasaan Susan terhadap Tuannya, Brian.
Sepuluh tahun lamanya ia mendampingi Brian sebagai asisten pribadi yang mengurusi kepentingan bisnis dan personal, tidak sedikitpun peduli dengan hubungan antara Brian dan Susan, yang belum genap satu tahun. Karena Adam cenderung memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan atasannya, ketimbang kehidupan pribadinya sendiri.
Adam duduk memangku wajahnya di ruang tunggu IGD, memutar pikiran apakah hal ini perlu ia sampaikan pada Brian, sedangkan sebelumnya ia dilarang memberi info apapun tentang keberadaan Brian saat ini. Tapi hatinya tergugah untuk memahami kondisi Susan yang terlanjur tertekan mendengar informasi yang disampaikannya tadi. Kini Adam harus menunggu kondisi Susan yang terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit karena belum juga siuman selama beberapa jam.
Dia meraih ponsel, dan mulai mengetik satu-persatu kata, meski ragu akan tindakan yang mengancam pekerjaannya, rasa bersalah Adam mengalahkan itu semua.
Adam [ Tuan, apa anda sedang sibuk? ]
Brian [ Kenapa Adam? saya sedang memeriksa Pdf pembatalan perjanjian kerjasama kemarin, biar saya analisa. Kenapa perusahaan yang menuju kolaps sekian lama ini, grafik perkembangannya meningkat signifikan dalam waktu satu minggu. mungkin ada penyokong dana besar disini. coba cek info-info, apa ada Investor asing yang turut terlibat ]
Adam [ Ya Tuan, tapi ini urusan lain lagi yang ingin saya sampaikan ]
Brian [ Oh, sebentar. Direksinya berubah lagi, Adam? ]
Adam [ Ya, itu sudah saya sertakan lewat email juga kan ]
Brian [ Ya maaf, saya baru lihat, besok zoom meeting jam 9, kabarkan Leo. Ini harus ada alasan jelas kenapa mereka tidak mau ada investor perorangan. Pembatalan tidak boleh sepihak, itu melanggar kode etik ]
Adam [ Baik Tuan, ]
Brian [ Klien saya mau menunda dulu kan 'Dam? saya belum tahu kapan bisa melakukan konseling, atau serahkan salah satu Tim kita dari LSM untuk menangani subjek, minta observasi awalnya dulu ]
'Terus saja pesanmu yang menumpuk, Tuan. Didengar pun tidak dari tadi aku yang kirim pesan dia yang panjang informasi, ughh ... si*l.' gumam Adam geram dalam hati.
Adam [ Ya, siap! Siap, Tuan bos ]
Brian [ Bos!! ]
Adam [ Iya, besok. Meeting, beres, Sip! ]
Pesan terhenti, tidak ada balasan lagi. Adam semakin bingung mengutarakan situasi ini saat Brian mungkin saja sedang sibuk dengan urusan pekerjaan, hingga menghiraukan pesan awalnya tadi.
CEKREKK
Adam mengambil gambar dan mengirimkan langsung pesan gambar itu ke Brian.
Sesaat kemudian Brian mengirim pesan.
Brian [ Siapa yang sakit? Adam, kenapa tidak bilang! ]
Adam [ Scroll ke atas pesan saya Tuan, kalau sudah bisa mendengarkan saya, anda telepon saya saja ]
Beberapa detik kemudian
__ADS_1
...Boss BriBri Calling ......
_______
Atas informasi Adam, kedua orangtua Susan menyusul datang menuju ruang IGD bersama Leo. Ketika itu telah menginjak pukul 10 malam, saat Susan mulai siuman dan segera dipindahkan menuju ruang rawat inap.
"Kamu ..." ucap Papa berusaha mengingat-ingat.
"Adam, Pak." jawab Adam. Ia segera bangkit dari duduk dan menyalami Papa.
Beberapa kali Adam memang pernah berkunjung ke rumah Susan saat bersama Brian atau pernah sesekali menjemput saat berangkat kerja. Mungkin karena tidak terlalu banyak interaksi itulah Papa seringkali lupa nama Adam.
"Susan dimana, 'Nak Adam? kamu tadi sama dia, kenapa bisa pingsan?"
"I—iya, nanti saya jelaskan, Pak. Satu orang bisa masuk ruangan, pihak rumah sakit minta beberapa data tentang Nona Susan untuk proses rawat inap."
"Rawat inap??" tanya Papa sambil mengernyitkan dahi. Dan tidak menunggu banyak penjelasan dari Adam, ia bergegas masuk ke ruang IGD. Mama pun mengikuti dari belakang.
Di dalam ruang rawat IGD, Susan nampak terbaring lemas enggan membuka mata, bahkan masih saja airmata tak henti-hentinya menetes dari sudut matanya.
"San! kamu pingsan kenapa?!" tanya Papa panik saat menghampiri Susan yang terbaring di ranjang rawat.
"Pa—Pa??" Susan menoleh terkejut, dan mengucap dalam suara yang terbata-bata.
"Tadi berangkat kamu gak kenapa-napa, eh, Papa pikir kamu pergi sama Brian. Brian mana??"
Seorang perawat memanggil
"Keluarga Nona Susan Adriana ... "
"Ya, saya."
Papa sigap menghampiri meja perawat untuk memberikan data lengkap Susan.
Mama yang sedari awal berusaha tenang tiba-tiba terlihat menangis, mendekat ke arah Susan sambil mengusap rambutnya.
"Kamu kenapa, 'Nak ..., badan kamu tambah kurus Mama lihat, muka-mu pucat begitu, Mama 'ngeh loh dari kemarin. Kamu bergadang terus ya, apa di kantor juga lagi banyak kerjaan?"
"Ya— iya sih, ya, itu. Susan sering minum kopi dan jarang tidur siang juga 'kan, 'Ma ..."
"Brian lagi dimana? tadi dia sama kamu atau ..."
Hidung Susan kembali memerah, tidak kuat mendengar nama itu lagi, berusaha menahan diri agar tidak nampak kesedihan di balik raut wajahnya. Namun, airmata tidak pernah bisa berbohong kala sakitnya perasaan terbendung dalam hatinya.
"B—Brian ..., ada."
"Kenapa kamu ..., bertengkar ...?" lirih Mama pelan.
"Gak 'Ma ..., biasa lah namanya juga orang mau nikah, kan ada aja"
__ADS_1
"Nak Adam dan Leo menunggu diluar, tadi kak Edo mau kesini sama Eli tapi dicegah sama Papa, biar tunggu kamu pulang aja. Jelas panik karena kamu gak pernah bilang apa-apa, ngeluh juga gak pernah, kamu ngurung diri terus sih di kamar dari kemarin ..., dan Oh, ya ... 'Nak Dicky juga baru Mama lihat tadi, dia itu udah tinggal di seberang lagi ya?"
"I—ya 'Ma ..., tapi gak usah ya kasih tau dia, tau 'kan orangnya itu ribet, nanti panik gak jelas. Biar kita-kita aja yang tau Susan nanti dirawat, Eli juga gak apa-apa kalau mau kesini."
Mama mengangguk pelan, dan maju mendekat hendak berbisik.
"Eh, San. 'Nak Dicky itu kayaknya suka sama kamu ya?"
Susan menghela napas malas menanggapi.
'Astaga si Mama, anaknya lagi dirawat sempat-sempatnya ngajak gosip, dia bahkan tidak tahu selama ini masalah yang aku alami itu banyak sekali melibatkan Dicky. Kemana aja dari kemarin baru tebak-tebakan sekarang.'
Susan hanya mengangguk pelan, dan kembali memejamkan mata tidak ingin membahas lagi.
______
Satu jam kemudian Susan dipindahkan ke ruang rawat inap kelas President Suite yang tersedia di Rumah Sakit itu, Hal itu dianggap terlalu berlebihan oleh pihak keluarga Susan. Tapi, Adam telah mengatur segala biaya yang akan ditanggung atas perintah Brian, meski pihak rumah sakit menyatakan ini hanya memakan waktu antara 1 atau 2 hari, tapi saking terkejutnya Brian mendengar kabar itu, tidak ada satupun yang boleh lengah mengawasi kondisi Susan.
'Hasil observasi dokter mengatakan bahwa HB ku rendah sekali, mungkin itu akibat pengaruh hormon katanya ...'
'Kenapa dokter tanya-tanya kapan terakhir datang bulan? bukan-kah ini masih observasi? tapi sudah langsung transfusi darah begini'
Susan terus berpikir keras kenapa kondisinya begitu lemah akhir-akhir ini. Bahkan sudah terhitung dua kali mengalami pingsan.
'Kapan aku terakhir ..., hari kamis sebelum ke Villa. Ya, ya itu, tiga minggu lalu.'
'Aku 'kan ... baru satu kali melakukan hal itu sama Brian ... jadi gak mungkin kalau terjadi apa-apa. Kecuali ...' batin Susan, berkutat dalam pikiran.
Susan berpikir ulang, mengingat kembali beberapa waktu sebelumnya saat ia bersama Brian. Entah dari mana pikiran itu, tapi tiba-tiba Susan sangat khawatir oleh terkaannya sendiri.
...'Brian gak mungkin bohong! Brian gak pernah berbohong 'kan ..., dia bilang saat pulang dari Villa, tidak terjadi apa-apa.'...
...'Kalau sampai dia berbohong ... artinya ...'...
...'Yang terjadi dua minggu lalu saat kami berhubungan dirumahnya adalah yang kedua kalinya!'...
.
.
Bersambung
Mampir ke ceritaku yang lain ya, baru meluncur 3 bab, update segera lagi😘
Glo In the Dark (21+)
Author Ann R Wood
di NT/MT
__ADS_1