My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Masalah menanti


__ADS_3

'Apalagi ini' gumamku mendapati situasi asing saat ini.


Kulihat empat orang secara lengkap duduk santai di ruang tamu. Eli, kak Zac, kak Edo, dannn ... Dicky tentunya. Sedikit membuatku tersentak kaget dengan keakraban mereka kali ini. Apakah semudah itu mereka semua melupakan masa lalu kami? Apa semua seakan berkolaborasi menentang hubunganku dengan 'Bri?


"Haaaaai" Dicky menyeringai seakan mengejek.


"Ada apa ini, kalian arisan? Ah, sudahlah ... Aku masuk dulu, capek. Sorry ya tidak bisa menemani kalian, Laaaads" ejek ku balik dan tetap acuh berjalan masuk tak menggubris kata-kata selanjutnya dari mereka.


"San, hey! gabunglah. Sombongnyaaaa yang sudah punya pacar" goda Dicky.


Eli dan kak Zac memilih diam, tanpa menanggapi respon ku kali ini. Nampaknya Dicky memang tidak memberi tahu mereka tentang pertemuanku dengannya.


"Eh, loh. Kalian ... " kak Edo tersentak.


"Hahaha, ya kak." Dicky menjawab singkat hanya mengiyakan maksud yang kemungkinan satu pikiran.


"San ... San!" kak Edo terdengar menyusulku dari belakang


Langkahku terhenti di tangga menuju kamar.


"Apa?" jawabku datar


"San, jangan aneh-aneh. Kamu turun setelah salin pakaian"


"Kak! Aku capek, serius. Ngapain dia datang malam-malam begini coba"


"Tapi dia tamu. Dan mantan suami mu. Bersikaplah yang pantas. Jangan kekanak-kanakan. Kita reuni secara baik-baik, cepat kembali ke bawah kalau ingin hubunganmu dengan Brian aman di mata Papa!" ancam kak Edo.


Aku terhenyak mendengar pernyataan itu. Sekeras itukah hingga wajib kulayani tamu bermasalah ini.


"Okeyyyyyy ... Tapi bilang sama dia, jangan terlalu lama disini. Cuma jadi racun di pikiran kalian" tegasku melanjutkan langkah menaiki tangga.


Aku berlari kecil dan masuk ke kamar. Dengan sengaja ku hempaskan pintu hingga tertutup keras.


BLAMMM


Kujatuhkan sembarang tas ransel kecilku di karpet. Membanting tubuh di atas tempat tidur.


'Aku lelah, tolonglah ... Tidak cukupkah penderitaan hari ini, dia terus saja mengganggu ku'


Sudah pukul sembilan malam, nampaknya kak Edo sudah memanggilku berkali-kali dari lantai bawah. Aku sudah menggunakan piyama menandakan waktunya tidur dan tidak ingin berlama-lama. Saat ini yang kupikirkan adalah menghargai kedatangan Eli dan kak Zac yang sudah lama tidak kutemui akhir-akhir ini.


'Dicky. Kau berulah sekali' ucap hatiku menahan kesal.


Akhirnya kuhampiri mereka kembali.


"Kak. Mama sama Papa kemana? Sudah tidur ya"


"Pergi. Ada acara dengan rekan kerja Papa dulu. Kenapa masih berdiri disitu"


Aku melipat tangan dan bersandar di dinding berseberangan dengan mereka yang duduk di ruangan itu.


"Disini aja, aku udah ngantuk nih. Gak lama ya"

__ADS_1


"Sue" Eli menggerakan kepalanya kesamping, kode menyuruhku agar duduk disebelahnya.


'Demi Eli, sudahlah'


Aku melangkah mendekati Eli dan duduk di sebelahnya. Tapi untuk pertama kalinya aku melihat Dicky tidak terganggu dengan itu semua.


"Jadi kak, Susan dan aku sekarang sudah berada di satu perusahaan yang sama. Ya kan 'San?"


"Hmm" jawabku malas.


"Nah. Kok bisa? Hahaha"


"Gak tau, dia kan dimana-mana ada" jawabku ketus.


"Hah. Itu kan gak sengaja 'San. Mana tau aku kalau kamu kerja disana"


"Masih jodoh kalian, hahaha" kak Edo menghentikan tawanya sekejap saat mataku membulat memandangnya "yaaa maksudnya pertemuan kan jodoh"


"Kalian satu kantor, memangnya kerja apa disana 'Dic?" tanya Eli.


"Kebetulan aku bagian IT, tapi sebenarnya bukan dikantor cabang. Aku dipusat. Hanya sementara saja memperbantukan tim IT disana. Eh, ada Susan" goda Dicky.


"Hahaha, ya. Kebetulan sekali memang" balasku dengan nada sinis lagi.


"Lama juga lho kamu di UK, asik gak?"


"Asik lah, pastinya dingin. Hahaha"


"Kalau jomblo iya dingin, kalau nggak kan gak dingin" goda kak Edo


"Yaaa ada lah, empat—lima kali"


'Ewwww jijik aku mendengarnya, dia mau pamer apa sih' kutahan pikiranku saat ini, kalau saja responku pergi bisa-bisa aku disangka cemburu.


"Haha. Sayang ya kalau begitu. Bisa punya pacar banyaaaak ... Kenapa pulang kesini?" sambungku datar dan sinis.


"Suka-suka aku dong, 'San" Dicky menoleh menatapku seperti mengejek "mungkin benar kata kak Edo, kita semua masih berjodoh bertemu"


Aku membuang muka tidak ingin menjawab lagi. Dia akan selalu punya jawaban seperti biasanya.


Lima belas menit pembicaraan antara kami berlima yang hanya ku ikuti sesekali tanpa nada ramah. Aku memaksa kembali beristirahat ke kamar, tak peduli setuju atau tidak, kak Edo tidak berhak memerintah ku bagaimanapun caranya.


Pesan sudah masuk sedari tadi, Brian mengabari kalau ia sudah sampai dirumah Uncle. Karena usai melakukan penelitian saat terdahulu ia kembali tinggal bersama Uncle nya. Semoga mereka akur-akur saja sejak kejadian sore tadi.


Meskipun berkecamuk pikiranku tentang keberadaan Dicky kembali, ku alihkan pikiranku lagi tentang Brian ... Ya ... Hanya Brian ... Hingga tanpa sadar aku terlelap dalam lelahku malam ini ...


****


Hari-hari berjalan jauh lebih baik dari kemarin, rutinitas ku tak terganggu oleh pihak manapun, Dicky sudah tidak nampak lagi dikantorku karena ia tidak lagi ada keperluan datang ke kantor cabang kami. Hubunganku dengan Brian pun berjalan baik-baik saja sebulan ini.


Beberapa kali Brian harus keluar kota dengan rekan-rekannya untuk menjadi Psikolog relawan bagi anak-anak korban bencana alam di daerah. Jiwa sosialnya memang tinggi, apa yang tidak kubanggakan dari kekasihku ini, sangatlah sempurna bagiku telah memilikinya kini.


Suatu hari, kudapat gosip hangat antar tim divisi HR hari ini.

__ADS_1


"Cong, tau gak. Si Eva pacaran sama siapa?" Ocha membuka pembicaraan pada waktu senggang kami diruangan.


Gosip pagi meluncur dengan antusias dari mulut Ocha.


"Siapa 'Cong?


"Mas Erick!"


Aku sontak kaget nyaris tersedak potongan kue yang baru saja kugigit pagi itu.


Aku dan Haya menoleh bersamaan saling berpandangan.


'Kenapa Eva?! Ia salah satu tim HR Trainer pusat, satu divisi denganku'


Haya sudah tau sebagian hal tentangku dan Dicky. Itupun sebatas kukatakan kalau kami sempat memiliki hubungan pacaran, bukan pernikahan.


"Kamu gak apa-apa kan 'Say, kalian udah sama-sama move on kok" Haya berbisik padaku.


"Jelas. Semakin aku tidak khawatir"


'Yang ku khawatirkan bukan itu. Apakah hubungan Dicky dan Eva benar-benar layaknya kedua orang yang saling suka atau kah ... Ini hanya permainannya lagi'


"Ya ampun, Eva ya 'Cong. Yang kalau disini ngajar fasilitas paginya susu hangat dari OB, segala Laptop sama tas juga dibawain OB" ejek Jeje.


"Lain lah sama kalian berdua. Beda kelasan San ... Hay .... Hahaha. Setelan kalian kan macam begini, kalau dia mungkin takut ototnya putus kalau bawa berat-berat. Hahaha" ujar Ocha.


"Iya ya 'San, kita kalau infocus atas gak fungsi kita yang bawa sendiri cadangan dari ruangan, OB kan pagi juga repot kali, kasian" tambah Haya


"Hussss ... Gibah aja pagi-pagi pada yaaa ... Hahaha" kang Iwan berkomentar.


"Kan sambil sarapan 'kang, biar kenyang gitu sekalian. Hahaha" tambah Jeje.


'Eva ... Apakah benar Dicky yang kelakuannya bar-bar begitu sudah berubah selera wanita, Hah!' gumamku dalam hati.


"Tau darimana 'Cong, kok Eva gak ngomong ya pas bantu training kesini" tanyaku mencoba mengorek info.


"Ya gak lah 'San, diam-diam aja kali mereka. Aku tau juga dari Mas Dwi soalnya nanti Mas Erick mutasi kesini. Naik posisi dia loh, sekarang jadi SPV karena Mas Dwi sekarang Koordinator IT disini, cepat juga ya"


'Wait. Whatt ...?? Mutasi kesini!?? Matilah aku kalau sampai Brian tau. Hancur sudah karirku disini'


"Kok, udah di pusat malah pindah ke cabang 'Cha? Padahal kan naik posisi" tanyaku.


"Ya dong, kamu masa gak tau. Kan kamu PIC 107 nya. Layanan utama ada disini. Karena sering bermasalah jaringan makanya harus cepat penanganan, nah tim IT yang bagus-bagus diposisikan disini" jelas Ocha.


"Ya, maksudnya kenapa Erick gitu loh, dia kan belum ada setengah tahun paling disini" tanya Haya.


"Dia sering kesini pas weekend dipanggil untuk bantu tim IT kita, biar gak repot juga mungkin"


'Aku berhenti mencoba cari tau. kesimpulannya adalah ... Kehadiran Dicky menjadi tantangan baru lagi untukku, karena kami akan bertemu setiap hari lagi nanti'


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2