
...Weiiiitttsss bentar yaaaa ... Konten berisi 18+, semoga yang author sampaikan tetap aman buat isi kepala🤣...
...Baiknya sudah cukup dewasa ya membaca ini, no judge, no debate. Kl malu baca klik like aja dan support terus, krn dr keseluruhan part, hanya 4 part yg terdapat adegan implisit. Dan ini Season 2 dengan beda setting waktu....
...Happy reading...
...🌹...
'Magnet nya kuat ... Magnetnya kuat ... Ini darurat ... Tolong!'
Kali ini Bri mencoba sama sekali tidak bergeming untuk memancing keadaan. Dia tidak mencoba mendekatkan diri untuk menguji kesabaran. Senyum kecil tersungging pada ujung bibirnya dengan tatapan mata yang tidak bisa berbohong, seakan menantang Siapa yang kuat kali ini.
'Sial, dia senyum-senyum begini apa maksudnya coba?'
Aku menahan gemetar tubuhku yang bercampur aduk antara kedinginan dan salah tingkah. Kucoba alihkan dengan percakapan dari hal terkecil hingga paling tidak penting. Sedangkan gerak nafas Brian yang terasa di punggungku tidak bisa berbohong bahwa ia menahan sesuatu dengan obrolan yang mulai tidak ada koneksinya.
Deru napasnya yang berhembus di sebelah leherku mampu membuat keram otak sesaat ia menyibak bagian rambutku yang panjang se bahu. Datar ekspresinya saat keadaan diam jadi tidak sesuai saat kudengar ia seperti menelan ludah. Sekedar analisa tipisku.
Aku beranikan diri untuk menoleh perlahan merasakan kejanggalan respon.
Bodohnya aku, malah memperhatikan detail wajahnya lebih dekat, mulai dari mata, hidung, bibirnya yang tipis dan belahan dagunya yang terpahat sempurna sebagai sosok pria yang tampan.
Seakan baru sekali ini kulihat wajahnya dari dekat, kemarin-kemarin kemana coba?
Dari dekat? Sedekat ini?! Apa yang terjadi selama sekian detik tadi, kenapa kini wajahku sudah berada nyaris kurang dari lima senti pada wajahnya. Dan aku terus saja gagal fokus kini tidak lagi menatap matanya melainkan pada bibir tipisnya yang perlahan mulai terbuka.
"Siapa yang menang kali ini?" bisiknya
"You win" jawabku halus.
Jenis setan mana yang merasukiku kali ini hingga aku berani maju duluan menciumnya. Ia menahan tawa kecil seperti menunjukan kemenangan tanpa melepaskan kedua bibir yang masih melekat.
Kini mungkin panas itu bukan berasal dari perapian, dalam kondisi pakaian yang masih lembab terkena hujan bahkan seharusnya tetap saja membuat tubuh kami kedinginan. Tapi, panas yang kami buat sendiri. Hingga aku mulai terbuai jauh dan lebih jauh lagi.
Aku menengadahkan kepalaku yang kini rebah diatas lengan kirinya. Ia menatap lekat sambil menggenggam kuat tangan kami yang menyatu dalam kondisi sedikit berkeringat karena panasnya perapian. Situasi kontras, karena pakaian ini lembab dan kami kedinginan.
Bagaimana bisa? Mungkin muncul saat permainan hebat beberapa menit tadi. Tunggu dulu! itu hanya sebuah ciuman tentunya. Praktisi psikologi ini benar-benar mengeluarkan instingnya. Tanpa cacat. Agar lawan jenisnya kali ini tidak merasa takut beranjak ke langkah selanjutnya.
"Are you sure?" ia menatapku sambil memainkan jari tangannya disela-sela jariku yang kecil.
"...." aku terdiam membisu dibawah kegagalan prinsip yang kuterapkan berulang-ulang. Goyah perlahan.
Bagaimana aku bisa bertahan dengan tempaan situasi mendukung seperti ini. Jangankan ia yang seorang pria Asing bahkan yang lokal bisa saja gagal total. Ditambah porsi belum pernah menyentuh wanita? lengkap—Sudah.
"Tidak ada jawaban?" ia berbisik halus dan mengusap dahiku, kini ujung jarinya turun menyentuh hidung kemudian mencubit kecil bibirku.
"...." Aku menatapnya lebih dalam, kemudian memejamkan mataku pelan dan membukanya kembali.
Brian tersenyum kemenangan.
Napas yang baru saja sedikit mereda perlahan kini bangkit lagi meningkat cepat, kala ia mendaratkan ciuman lebih lagi dan aku mulai mengikuti irama tubuhnya yang mendekapku lebih erat.
__ADS_1
Keinginan penyatuan ini semakin lebih besar. Tanpa halangan. Tanpa gangguan.
Wajah kami yang memerah diiringi desah napas halus yang saling menggoda. Membuat tubuh kami berdua kini jatuh pada permadani ruang baca dalam posisinya yang mendominasiku.
Tawa kecil keluar saat kami sedikit berdua saling bercanda, menggelitik, seperti tanpa beban apa-apa.
'Benar-benar rumah ini isinya setan' tapi hatiku tidak mengindahkan pikiran barusan.
Entah sangat cepat segalanya berlangsung diluar batas kesadaran, kini hasrat kami meningkat cepat seperti kilat. Kemeja slimfit biru muda yang ia kenakan kini sudah tergeletak sembarang, jauh dilemparnya tadi.
Nampaklah dihadapanku tubuh bidang dari kekasihku yang selama ini hanya kukira-kira bagaimana proporsional tubuhnya. Salah berat, bukan pria berotot dengan tubuh kotak-kotak ala ketupat. Tapi nampak jantan sempurna selayaknya seorang Pria yang tidak terlihat dengan otot berlebihan.
Sedangkan aku, tidak tau bagaimana penampilanku kini. Seperti mangsa yang terkoyak! maksudku ... Eh, tidak sempurna karena dress selutut yang kukenakan kini nampak kusut dan tersibak, jauh dari kerapian. Tak beraturan.
Brian mencoba meyakinkan dirinya kembali apakah aku membiarkan situasi ini mengarah pada penyatuan.
"Jika kau tak ingin, jangan paksakan" ia menghela napasnya dalam-dalam.
"Ikuti saja alurnya" jawabku pelan. Mengusap peluh pada dahi ke pipinya.
"Benar? Kau yakin?"
"...." aku menjawab dengan anggukan kecil.
"Aku tidak akan menyakitimu, perlahan ... Okey"
"Aku percaya"
Aku memejamkan mata kuat-kuat, seakan ini baru pertama kalinya bagiku. Tentu saja, ini tanpa paksaan. Lain dengan masa laluku.
Brian pun mencoba menahan semangat berlebihan agar tetap rileks pada keadaan. Aku tetap merasakan kecanggungan pada sikapnya, aku paham, ini pertama kali untuknya.
Ia mendaratkan kiss mark yang tersebar dibeberapa bagian. Jika saja titiknya lebih kecil ... aku takut seperti orang kena campak.
Dan semakin kusadari Brian mulai kehilangan kontrol diri.
'Oke, semoga aku sanggup' batinku.
"Dear ... i ... " bisiknya.
GRREEEEKKK
Aku dan Brian mendengar pintu pagar depan terbuka dan kendaraan masuk kemudian terparkir.
Kami berdua terhenti.
"Blimey (oh my god), Wait" Brian kembali duduk tegak menyimak suara tadi, begitupun aku, "apa itu Leo?! ..." ia terdiam kembali.
"Cek saja, sudahlah. Mungkin kita harus berhenti disini"
"No no, it's okay. Kalau itu memang Leo. Tapi ... " ia mengernyitkan dahi, "ini bukan suara mobil yang kukenal, wait. Aku khawatir ini seseorang ... "
__ADS_1
Brian bangun dan meraih kemejanya. Berjalan cepat keluar dan sambil menggunakannya kembali. Aku pun sudah memilih menghentikan ini meski mungkin saja rasa yang sudah sampai diujung kepala padam begitu saja.
Beberapa saat kemudian ia kembali kedalam ruangan sedikit tergesa-gesa dan nampak kesal.
"Bri ... "
"Apa kau mau tetap menunggu disini, aku akan segera menyuruhnya pulang!"
Brian menghampiriku yang kembali duduk dengan pakaian lengkapku lagi.
"Siapa? Aku rasa gak perlu, kita sudahi saja. Aku gak apa-apa"
"No! Maksudku ... tunggulah, sebentar saja kutangani orang ini" ia memegang kedua lenganku dengan tatapan meyakinkan.
"Bri, siapa!"
"it's ... Uncle"
"Kau mengundangnya?"
"Tidak sama sekali, aku hanya memerintahkan Leo, tapi dia yang datang. Ada apa ini, Sial!"
"Hari ini sekian kali kudengar kamu mengumpat, tenangkan dirimu sedikit"
"Bagaimana bisa, orang ini datang tiba-tiba tanpa memberitahuku, darimana dia tau kita disini!"
"Sudahlah, kita hadapi bersama"
"Jangan, dia akan melihatmu dengan keadaan ini, sayang. Jangan buat dirimu dipermalukan lagi olehnya"
"Aku tidak masalah, suatu saat ia harus bisa menerima keadaanku yang seperti adanya, Uncle adalah keluargamu. Apapun itu!"
Brian menghela napas kasar mencoba menerima keputusan ku.
.
.
Bersambung
...Gocek kiri gocek kanan Brian gagal satu langkah menuju benteng pertahanan pemirsaaaaaaah ... 🤣🤣🤣...
...Pemain keceeeewwaaaaaa ..... Pengen ketawa takut dosa, lah udah bener! 😂😂...
...Susan and Brian be like :" Ah, shoooot you, Author!!"...
...Author : Ampuuuuunn ... Ampuuuuuuunn...
(ngibriiiiiit ... ) Maaaaaap yaaaaa ... 🤣
Maap ya😭🙏, author moodnya lagi naik turun, jadi butuh kebucinan high level karena tiba-tiba berubah haluan. Hehehe🤣🤣🤣
__ADS_1
Please like dan feedback ya, teman2 🤗🤗