My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Permintaan Terakhir part 2


__ADS_3

...'Dia benar-benar ... '...


Trik apa lagi yang akan dibuat Dicky kali ini, mendekati momen penting bagi masa depan Susan. Suatu pilihan berat membiarkan dirinya percaya, jika satu perjalanan sehari dengan Dicky dapat berakibat buruk bagi kelangsungan pernikahannya.


"Masih sehat kamu? kamu pikir semua orang itu bodoh ya, mau percaya dengan kelicikan kamu?" tanya Susan dengan nada sinis, mengingatkan kembali setiap kali pertemuan mereka berdua bisa saja berarti masalah baru.


"Licik? aku mau ngajak jalan, itu aja," jawab Dicky dengan ringan seakan tidak ada yang aneh dengan permintaannya.


"Punya rencana apa lagi? Oh! Dengan CCTV dan skema fitnah-fitnah kamu lagi?!"


"Aku tulus. Aku cuma minta itu aja. Ini yang terakhir. Ngajak kamu jalan berdua. Seterusnya— Toh, Brian akan memiliki kamu sepenuhnya, kita akan sulit untuk komunikasi, apalagi jalan," penjelasan yang masuk akal kali ini diutarakan Dicky dengan gamblang, hanya saja yang menyatakannya adalah orang yang biasanya bermasalah dengan Brian maupun Susan.


'Benar-benar mengaduk pikiran, bagaimana aku bisa memastikan kalau dia gak akan berbuat macam-macam' batin Susan meraba jalan pikiran Dicky yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Minta izin sama Brian." Susan menjawab cepat.


Respon pria itu hanya menggelak tawa kecil, sempat terhenyak dengan permintaan yang menantang untuk tidak lagi mencoba main di belakang tanpa sepengetahuan Brian.


"Wah, serius? aku merasa ditantang nih. Eh, San ... bukannya— ."


Susan kembali memotong perkataan Dicky yang terasa ragu kali ini. Sangat memberanikan diri untuk membuka kemungkinan tipis Dicky mengurungkan niatnya.


"Kalau kamu gak berani, jangan coba-coba ajak aku." tegas Susan.


Dicky menggelengkan kepala, tidak habis pikir. Seakan niatnya kali ini telah dipandang salah sejak awal. Meskipun tidak ada yang tahu, rencana macam apa kali ini, itu sifat spontanitas Dicky yang terkesan bicara tanpa berpikir.


Sedikit penolakan keras dalam hati Dicky rupanya tidak membuat ia lengah mengajukan persyaratan lain.


"Aku gak mau dia ikutan, atau pake bawa orang buat mata-matain perjalanan kita. Aku gak akan buat masalah. Janji aku, atas nama mamaku," ucapnya tanpa ragu melibatkan nama mamanya, wajahnya tak berpaling sedikitpun menatap Susan menunggu jawaban.


"Kenapa mama Inka dibawa-bawa! anaknya bikin masalah selama ini aja dia gak tahu menahu kok! Jangan bikin orang tua jadi dosa gara-gara kamu melanggar!" protes Susan keras dengan tindakan Dicky yang dirasa berlebihan.


"Apa sih yang akan kulanggar? ya silahkan kamu kan ada Brian, aku bawa mamaku. Jika terjadi apa-apa, kan ada penanggung jawab."


"Durhaka kamu Dic!" tukas Susan dengan marah.


"Terserah. Aku udah bilang, gak akan terjadi apa-apa. Kalau memang kamu kurugikan, Brian bisa cari aku dimana aja, aku juga gak akan lari! Hhh~ jangan ge-er deh, cuma mau jalan berdua kok repot banget!"


"Minta izin sama Brian! dia oke ... aku oke, deal?!"


"Aah— , fine! aku minta izin. As you wish, my lady," kata Dicky merendahkan suara di akhir ucapannya, tapi seketika ia mengacungkan jari telunjuknya dengan cepat, hendak menambahkan permintaan lain. "But! Aku gak mau diikuti. Gak ada CCTV manusia yang badannya gede-gede itu. Gak ada mobil pengintai di belakang, gak ada video call sama pacarmu. Are we deal?"

__ADS_1


Tanpa basa-basi Dicky bangkit dari duduk, dan berjalan ke ruangan lain menghampiri mama Inka yang sedang berbincang dengan kedua orang tua Susan di ruang keluarga.


"Eh-eh, ngapain!" Susan yang panik, hendak mencegah Dicky. Tangannya yang sempat menggapai lengan Dicky, gagal menahan langkah cepat Dicky menuju ruangan lain.


Dicky berdiri di ambang perbatasan kedua ruangan. Disusul Susan yang sigap berdiri disebelahnya dengan sikap menunggu, memastikan pria itu tidak mulai lagi-lagi mengutarakan maksudnya sesuka hati.


"Mama! Eh ... ganggu sebentar semuanya, maaf. Minta izin— Om dan Tante," sangat pandai berperan naif, Dicky menampakkan sikap santunnya dihadapan kedua orang tua Susan.


"Kenapa? sini, duduk sini lah kalian. Kita lagi ngobrolin kamu sama Susan, hahaha. Itu dulu itu loh, yang kamu suka manjat-manjat tembok ke teras atas, hahaha. Eh, mamamu baru tau ini. Lucu deh kamu itu dulu Dic ...," ucap mama menyampaikan sedikit nostalgia, kedua orang tua Susan sebenarnya menyukai hubungan persahabatan antara Susan dan Dicky. Terutama mama, yang dulu hampir menjodohkan mereka berdua.


"Dicky mau bilang apa dulu itu 'Ma ... biarkan dia bicara dulu." ucap Papa singkat.


"Eh, iya Om— Tante. Begini, kebetulan Susan lusa kayaknya cuti,"


Dengan gugup Susan cepat berusaha memotong.


"Eh, si-siapa—,"


Dicky tetap melanjutkan maksudnya tanpa menggubris Susan yang berusaha mengalihkan.


"Dicky mau ajak Susan jalan-jalan boleh gak?" Dicky memandang sekitarnya, ketiga orang tua yang dihadapannya kini nampak terhenyak. "Yah ... niatku— sebagai jalan-jalan terakhir sama sahabat sebelum dia nikah, hehehe." Dicky melirik Susan yang masih bergeming tidak mampu memotong pembicaraan. "Nanti Dicky kan gak boleh lagi jalan sama istri orang, ya kan Om, Tante?"


Hampir saja Mama Inka tersedak minumannya sendiri, mendengar permintaan anaknya kali ini. Bukan perihal permintaan yang sepele, tapi bagaimana ia mengetahui rahasia besar hubungan anaknya dengan Susan adalah hal yang paling ditakuti, ia begitu khawatir akan terjadi hal bodoh, yang akan dilakukan lagi oleh Dicky.


"Beres Tante, pasti Dicky nanti bilang sama Brian, asal boleh sama Om dan Tante dulu. Gimana, boleh ya?" Dicky menangkup kedua tangannya seperti memohon untuk meminta izin.


"E-eh ya, silahkan aja, kenapa enggak, ya kan 'Pa?" Mama mengerling ke arah papa untuk meminta dukungan.


Papa hanya mengangguk pelan tak mencurigai apa-apa. Baginya adalah suatu kewajaran, mengingat kedekatan Dicky dan Susan sekian lama.


"Ah, oke. Nih, Dicky telepon Brian sekarang, biar semuanya tau kalau Dicky benar minta izin, hehehe."


Dicky dan Brian yang tidak pernah saling berkomunikasi, sudah dipastikan tidak akan menyimpan nomor ponsel satu sama lain. Saling mengenal lama, tapi keduanya mantap enggan menyimpan nomor 'musuh'nya sendiri. Satu-satunya cara agar Brian mau menjawab Video Call adalah melalui ponsel Susan. Dicky menoleh ke arah Susan dan meminjam ponsel, menengadahkan sebelah tangannya seakan meminta dengan paksa.


Dipenuhi keraguan, hanya demi menunjukkan sikap natural seorang sahabat di depan keluarganya. Susan terpaksa menahan diri mencegah memberikan ponselnya.


Sesaat Susan membuka password dilayar ponselnya, tak ingin menunggu lama Dicky mengambil pelan ponsel itu dari tangan Susan yang sedikit gemetar. Dengan lihai, jarinya mudah menemukan kontak Brian, seakan terbiasa tahu cara menemukan data dalam ponsel seseorang. Hal yang paling sepele meski nama kontak biasanya tersimpan dengan sebutan khusus untuk seorang pacar. Karena kemampuan teknologinya seringkali ia gunakan untuk meretas sebuah sistem dalam dunia digital. Bisa dikatakan Dicky juga seorang Hacker, tanpa pernah ia memperlihatkannya di depan orang lain.


'Bri Baby? haha, geli banget.' gumam Dicky dalam hati.


Ia tersenyum miring mencela.

__ADS_1


Jarinya menekan logo berbentuk kamera, bukan logo bergambar telepon, Dicky nekat melakukan Video Call untuk bicara dengan Brian.


Panggilan tersambung


Layar ponsel itu kini nampak wajah Brian. Seketika mata abu-abunya mendelik terkejut memandang tampilan layar dihadapannya kini, seorang pria yang tidak asing dan juga dibencinya, muncul bersama orang tua kekasihnya sendiri, Susan.


"Halo Bro, maap ganggu kesibukan, ini ada Om, Tante, Susan, dan Mamaku, kenalin."


Seakan mencari dukungan dan mencegah halus Brian yang nyaris mematikan panggilan, Dicky sengaja memamerkan situasi itu dihadapan ketiga orang tua. Bagi Brian, diantaranya yaitu ibu musuhnya, dan kedua calon mertuanya sendiri.


"E-ehm—, ya. Eh— gak, maksudnya ...," Brian tercekat, menjawab dengan senyuman kecut, "bagaimana?" tanyanya kembali mendatarkan suara.


"Jadi rencananya ..., aku ngajak Susan jalan-jalan, refreshing lah sebelum hari H, gitu—. Mungkin besok atau lusa, mau minta izin, bisa?"


Dengan santai atau sengaja membuat Brian semakin kesal dengan permintaannya, Dicky tersenyum bangga seakan mampu mengalahkan Brian secara telak dalam situasi ini. Brian yang sempat menyembunyikan kemarahan, sudah tidak mampu lagi membendung, dengan nada bicaranya yang semakin terdengar dingin.


"O-oh, itu. Saya— eh, bisa saya bicara sama Susan sebentar?" intonasi suara Brian meredam, nampak serius saat menyebut nama kekasihnya sendiri. Bahkan sebelum Dicky menyodorkan ponsel, Susan tanpa ragu meraih ponselnya kembali dari tangan Dicky saat terdengar Brian menyebut namanya.


"Sue." sapaan dingin Brian nampak seperti hantaman keras ke jantung, bagi Susan. Tatapannya yang tajam semakin mengintimidasi posisi Susan saat ini.


Susan menelan ludah, pias seketika. Melihat wajah tampan kekasihnya kini berubah terlihat menyeramkan, bukan dalam arti yang sebenarnya. Susan tahu betul, kala terakhir kali melihat ekspresi Brian seperti itu saat di Villa, pria itu menghempaskan sebuah Vas bunga yang cantik hingga terpental jauh dan hancur berserakan akibat kemarahannya.


.


Bersambung


otw next part,


Please Follow IG Author ya, dan Tap Love untuk video trailer yg Author buat ala amatir dari Novel2 Author


IG : arwauthor ~ Sue Shine



New Video of : My Complicated Love S2



My Complicated Love : Versi 1, 2, 3, 4


The Other Side Of Psychopath

__ADS_1


Glo In the Dark : Ann R Wood (akun lain)


__ADS_2