My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Antara kekasih dan mantan


__ADS_3

Lelah dengan permainan basket mereka bertiga duduk berjajar di sisi halaman. Sedikit perbincangan dan banyak sindiran antara Dicky dan Susan.


'Lama-lama bikin panas hati aja si Setan ini, udah dia yang salah paham, dia yang berbuat ... aku juga korbannya' batin Susan geram.


Tidak berapa lama kemudian, ponsel yang sedang dimainkan bergetar karena panggilan masuk.


'BRIAN!'


Dengan senang hati dan senyum sumringah Susan menjawab panggilan telepon dari Brian.


"Hai, Bri ... lagi apa SAYANGGGG ... " Susan sengaja meninggikan volume suaranya di akhir kata.


Dicky yang sedang beristirahat langsung menoleh malas.



Brian [ Ada apa? kamu lagi dimana? ]


Susan [ Aku ... lagi diluar ]


Tiba-tiba Dicky teriak dengan sengaja mengganggu percakapan Susan dengan Brian.


"Saaan ... jangan lupa pakai bajunya yaaa ... nanti kamu kedinginan!"


'Ughhh, s**t! apa dia bilang barusan??' batin Susan yang terkejut dengan kata-kata Dicky.


Susan merampas bola basket yang sedang diputar-putar Eli disebelahnya dan melemparkannya ke arah Dicky.


"Makan tuh!!"


BUGGG


"Hahaha ... gak kena!" ejek Dicky dari jauh.


Brian [ diluar mana?? siapa itu, suaranya seperti tidak asing ... ]


Susan [ Ah, bukan. Perasaanmu aja Bri ... ]


Brian [ Bisa aku video call? ] ucap Brian dengan nada mulai dingin.


"Saaaan ... aku mandi dulu yaaa ... kamu mau ikut gaaak ..." ejek Dicky lagi.


"Seriously?" Eli tertawa kecil tidak percaya dengan ejekan Dicky barusan kepada Susan "You're nuts! Hahaha" Eli menggeleng kepala sambil malah Toss dengan Dicky.


Susan [ Okey, Bri. Tapi sebentar ya ]


Susan menekan tombol 'Mute' pada ponselnya dan menghampiri Dicky yang sedang duduk.


"Apa? Mau apa?" tantang Dicky yang masih terlihat santai.


Tiba-tiba Susan memberikan serangan tendangan ke arah vital, hingga Dicky teriak meringkuk kesakitan.


BUGG!


"AAAHH ..., f**k!!"


"Rasakan itu! untuk kemarin dan hari ini! makanya jangan suka ganggu hubungan orang!" Susan meninggalkan Eli dan Dicky yang sedang meringkuk menahan sakit.


"Makanya ... dari dulu gak pernah jaga hati pria sih ..."


sindir Eli sambil menoleh tipis.


"Emangnya aku herder!" jawab Susan asal. Berjalan menjauhi Eli dan Dicky untuk kembali ke dalam rumah, dan bergegas ke kamar.


Susan [ Bri ... halo ... yaaaaah ]


Panggilan sudah dimatikan. Beberapa saat kemudian pesan masuk.


Brian [ Setengah jam lagi ku jemput, bersiaplah. Aku menuju kesana ]


'Brian menuju kesini? kacau!' batin Susan.


***


Susan bergegas mempersiapkan diri untuk kedatangan Brian, yang bahkan terlupa jika Dicky mungkin saja masih berada di halaman, itu akan membahayakan dirinya.


'Jika jarak tempuh Brian dari rumah Uncle sekitar setengah jam, berarti lokasi itu tidak jauh dari sini, apakah rumah Brian juga berdekatan dengan Uncle nya nanti ...' batin Susan bertanya apakah mungkin Uncle juga tidak jauh dari kediamannya kini.


Tak berpikir panjang Susan memilih menggunakan pakaian yang kasual, dress selutut dengan salur hitam putih favoritnya , juga flat shoes yang sporty menjadi pilihan utama kali ini.

__ADS_1


Lebih sedikit lima menit dari waktu yang ditentukan Brian, bunyi kendaraan terparkir depan rumahnya. Susan melongok kecil dari atas kamarnya.


'Itu Brian! apa Dicky dan Eli masih disana!'


Brian terlihat berjalan dihalaman depan menunduk sambil memasukan kunci mobil ke dalam sakunya, nampak tidak terganggu oleh orang sekitar, sepertinya kondisi memang sudah tidak ada satu orangpun disana.



'Saking rindunya kulihat ia semakin tampan, jantungku jadi berdebar begini'


Susan kembali menghadap cermin menyempurnakan penampilannya setelah hampir seminggu tidak bertemu.


Dari ruangan bawah terdengar seseorang telah menyambut kedatangan Brian di pintu. Tanpa menunggu lama Susan segera turun menghampiri Brian.


"Haiii ... " Susan berteriak menyambut dari kejauhan, nampak seperti orang yang terlalu lama menahan kerinduan.


Ternyata kali ini kak Edo yang berusaha menahan sikap ketidak sukaannya pada Brian tetap menjaga senyuman meski tampak basa-basi.


"San ... cepat juga" Brian tersenyum.


"Yah, cepat. Kenapa enggak"


Mereka berdua nampak mengepal tangan karena gemas ingin sekali memeluk pasangan, apa daya ini bukan tempat sembarang mengumbar kemesraan terlebih di depan kakaknya.


"Hmm ... ya, nih Susan ... " ucap kak Edo datar dan melengos masuk kembali kedalam. Tapi Susan dan Brian nyaris tidak mempedulikan, sibuk saling memandang kemudian Brian menyambut tangan Susan.


"How are you, Dear?" Brian tersenyum dan mencium cepat tangan kekasihnya.


"I'm good, kamu ... kenapa sulit aku hubungi 'Bri ... "


"Huummm ... waktuku padat, dan ... banyak sekali masalah, biar tidak mengganggumu kalau mood ku berubah"


"Memangnya kalau berubah jadi apa? kan aku pasti coba buat kamu tenang ... "


"Jangan lah" Brian mengusap pipi Susan dengan ibu jarinya kemudian mencubit kecil.


"Uh, cerita ya ... "


"Ya nanti ..."


Suara dari dalam memecah kedamaian.


"Tamunya gak disuruh duduk San ... " Mama datang menghampiri.


"Tante ... apa kabar?"


"Baik, loh. masuk nak Brian kenapa berdiri didepan saja" sambut Mama.


"Ehm ... kalau boleh, mau langsung saja tante, izin mau keluar dulu dengan Susan?" tanya Brian.


"Tau aja aku dah siap begini, hahaha"


"Ya ... nanti pulang aku ngobrol sebentar sekalian antar kamu" jelas Brian.


"Tapi jangan malam-malam ya, dicari Papanya nanti" jawab Mama.


"Besok gak apa-apa 'Ma?" canda Susan.


"Mau kamu ... genit!" ucap Mama sambil menoyor Pipi Susan dengan telunjuknya.


"Hahaha, ya sudah. Gimana, kamu sudah siap?"


"Ready lah ... apa lagi? tas, sepatu?"


"Jaket?"


"Kan ... A—da" Susan menunduk tersenyum, Brian pun membalas tersenyum memahami maksud Susan."Dah ya 'Ma ... " Susan mencium kedua pipi Mama untuk berpamitan.


Setelah berpamitan, Susan dan Brian berjalan keluar ke arah jalan dimana mobil terparkir. Kemudian masuk ke dalam mobil berencana untuk makan siang bersama dan setelahnya entah apa rencana Brian.


Tapi seketika itu semua berubah, Brian yang tadinya terlihat hangat dan penuh senyuman mendadak bersikap dingin dan nampak serius. Persis sesaat mereka berdua telah masuk ke dalam mobil.


Brian sempat terdiam seakan hendak mengatakan sesuatu.


"Kok diam? kenapa? liat apa kamu?"


Susan memperhatikan tatapan Brian yang tidak sedikitpun berusaha menoleh kepadanya, pandanganya lurus kedepan dengan kedua tangan di atas kemudi.


Kemudian berbalik menghadap Susan namun enggan memandang langsung.

__ADS_1



"Dengar ..., aku tidak tau siapa yang coba kamu sembunyikan, tapi ... jika menurut kamu pertemuan kita saat ini hanya sekadar basa-basi, lebih baik ... kita bertemu lain kali"


"Kamu kenapa jadi berubah pikiran? ada apa sih?"


"Siapa orang yang ikut bicara di telepon tadi?" tanya Brian dengan ekspresi serius.


DEG


'Aku harus jawab apa ... jika Brian tau itu Dicky, dia bisa menyangka macam-macam'


"Itu tetanggaku, kami memang sedang main Basket, eh ... dengan Eli juga, kok. jangan khawatir 'Bri ..." jawab Susan sedikit panik.


"Tetangga? yah ... Okey" Brian mengangguk kecil mencoba percaya "Eli ... cukup masuk akal. Apa mungkin yang kukenal tadi itu suara Eli?"


"Ahhh ... iya, iya betul ... makanya kamu kenal kan ..."


jawab Susan gugup.


"Meski bukan dia ... lain kali katakan pada orang itu, agar bicara lebih sopan!"


"Hehehe, dia cuma bercanda 'Bri"


"Jadi hal itu pantas diucapkan untuk seorang wanita di depan pacarnya?"


"Oh, ya ... itu salah Bri ... ya ... maaf, tadi juga udah aku marahi kok. Maaf ya ... " Susan merendahkan suara dan menunduk merasa bersalah.


"Ya!" Brian kembali ke posisi semula hendak memutar kunci menyalakan mesin mobil.


"Bri ... "


"Hm ... "


"Boleh peluk?" tanya Susan sedikit ragu.


"Nanti" jawab Brian datar.


"Goooshhh ... " Susan menghempaskan dirinya ke sandaran kursi.


"Masih banyak yang perlu kita bicarakan, kita pergi ke tempat yang lebih aman" jawab Brian datar sambil mulai mengemudikan mobil keluar dari parkiran.


"Kemana?"


"Satu tempat yang dijual kolegaku, dia membutuhkan uang ... kuharap tempatnya bagus"


"Orangnya disana?"


"Sudah ku beli, untuk apa dia disana" jawab Brian acuh.


"Kapan kamu beli, kok gak bilang?"


"Sudah sebulan, tapi aku belum kesana ... hanya liat dari foto yang dikirim Adam, kubilang aku sibuk 'kan?"


"Oke, semoga disana ... bukan untuk tempat marah-marah ya?"


"Ada Adam dan Leo menunggu disana, apa aku akan marah-marah?"


"Gak tau, aku belum pernah liat kamu marah ... gak berani"


"Kalau kamu gak punya salah, kenapa harus takut. Liat saja gimana nanti"


Susan terdiam tidak berani menjawab lagi. Memberanikan diri bertanya hal lain.


"Dimana sih 'Bri ... ?"


"Puncak Pass"


'Jawabannya dan wajahnya dingin seperti ini, dia mau bicara apa sih, rasanya kalau ini di film-film seperti punya pacar yang merencanakan pembunuhan kekasihnya ditempat lain, bagaimana jika dia marah ... aku tidak berani memikirkan sikapnya nanti' pikir Susan.


.


.


Bersambung


Aapa kudengar kata puncak??? 🤣🤣🤣


oww owww owww ...

__ADS_1


Brian moodnya kacau ...


Hmm ... Author gak tau Brian kalo marah kayak gimana ... mereka akur gak ya disana ... tunggu next eps ya ....


__ADS_2