
Dicky berjalan menuju toilet, membasuh wajahnya yang terkena tumpahan minuman. Ia menatap wajahnya pada cermin, lalu tersenyum sinis.
'Pusing 'kan kamu 'San ...' batinnya.
Ia beranjak melangkah menuju meja security yang berjaga di lantai itu, atas dasar hal yang ia rencanakan kembali.
"Permisi Pak, maaf ... saya staff dari Divisi IT lantai 21, ada barang penting saya tertinggal dan hilang tadi di kursi cafetaria. Saya butuh rekaman CCTV nya, bisa?" ucap Dicky sambil menunjukan ID card perusahaan.
"Tapi harus buat laporan permohonan dulu ya Mas, nanti gak bisa dikirim copy-nya kalau gak resmi."
"Aduh, Pak. Ini masalahnya data penting perusahaan, saya takut kalau pihak kantor tau, saya bisa kena pecat."
Kedua security saling berpandangan menimbang-nimbang perkataan Dicky yang bernada lirih.
"Tolong, Pak ... . Toh, nanti kalau memang gak ada disana juga saya cari lagi barangnya dimana. Ini cuma saya yang tau, janji—saya."
Salah satu security menghela napas memahami kondisi yang terdengar mendesak.
"Ok, ya sudah, nanti saya bantu jelaskan. Sebentar mas ... saya antar ke ruang operator CCTV gedung. Asal Mas-nya janji ini bukan untuk kejahatan, ya Mas!"
"Janji, Pak. Saya hanya mau menganalisa sendiri nanti."
"Ok. Kita kesana."
...'Selamat menunda pernikahan San ...' batin Dicky...
***
Susan kembali duduk di balik mejanya dalam perasaan kalut. Sebagian tujuan Dicky mengajaknya makan siang memang sedikit mencurigakan, tapi segera ia hempaskan hal itu dalam benaknya. Saat ini adalah tentang Brian yang tanpa kejelasan tiba-tiba bersikap dingin dan menjauhi Susan. Bukan tidak ingin mencari-cari tahu, karena Brian dan segala keputusannya adalah rahasianya sendiri yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan oleh kedua asisten pribadinya.
'Ya ampun, Bri ... . Salah apa aku ...' semakin dalamnya pikiran itu, semakin berat rasanya ia untuk menopang kepalanya sendiri. Hingga tanpa sadar ia tertidur lelap diatas meja kerjanya.
Tidak ada satupun rekan satu Tim-nya yang hendak membangunkan lelap tidurnya saat itu. Hingga seseorang membangunkannya perlahan, menepuk pelan lengannya yang terlipat diatas meja.
"San ... sayaang ..., bangun yuk." ucap Haya sambil mengusap punggung sahabat sekaligus partner satu Divisi nya.
Susan mengangkat wajahnya yang sembab, kering sisa aliran airmata nampak disudut matanya, tidak lagi dapat menyembunyikan kepiluan yang dialaminya.
"Hay, udah kelasnya?"
"Udah kamu kalo masih gak kuat, rebahan aja deh ke ruang IT ... siapa tau—" belum sempat Haya menyelesaikan kata, Susan menggeleng cepat.
"No, no, thanks. Gak akan aku mau kesitu."
"Ah! Erick ini pasti," bisik haya sambil membuang napas kasar, "dia iseng lagi sama kamu? apa perlu aku aduin sama Eva kelakuannya itu!"
"Jangan, Hay. Semakin hubungannya kacau, dia pasti dendam sama aku."
"Gak habis pikir deh manusia itu. Ya udah, aku cuma sebentar nih ambil modul, nanti kalau sempat cerita, kita ngobrol lagi, ya?" Haya mengerlingkan mata ke arah rekan-rekan lainnya. "eh, guys. Titip ya, biar Susan istirahat dulu, takutnya gejala tipes deh, badannya panas gini."
__ADS_1
"Masa sih, say?" Susan menempelkan telapak tangan ke dahinya sendiri.
"Ya, San. Nanti aku kasih tau kalau ada orang pusat datang kesini, kamu tidur aja gak apa-apa." ucap Mbak Yuni.
"Gak, kok. Aku serius, ini cuma masalah tekanan darah aja mungkin."
"Ya, aku tau seminggu kemarin kamu fulltime Training 'kan? lelah pasti. Jaga kesehatan yang penting kamu tetap bisa masuk saat ini."
"Tenang aja, makasih ya semuanya. Aku bawa vitamin kok, kemarin kan Brian—" Susan berhenti melanjutkan kata, teringat kembali akan kekasihnya.
"Nanti minta jemput sama Pak Brian aja 'San. Jangan pulang sendiri, nanti pingsan dijalan gimana?"
Susan hanya mengangguk, menyungging senyum tipis tanpa menjawab lagi.
***
POV Susan
...'Hari-hari berjalan dengan semestinya, aku harus mengumpulkan kehancuran tersembunyi dibalik senyuman. Berusaha kuat melupakan orang terkasih dalam detik yang semakin menyiksa. Dalam satu pekan yang berlalu sia-sia tanpa kehadirannya.'...
...'Beginilah perasaan yang terombang-ambing tanpa kejelasan. Batinku menggoyahkan keputusan yang telah kuambil, sesuaikah ia sebagai pendamping hidupku hingga nanti, mampukah Brian mengatasi ego yang bisa saja muncul dalam keadaan emosi'...
Menjejak di minggu ketiga kekosongan hubungan kami, hingga detik ini aku tidak berani menanyakan lebih lanjut bagaimana kabarnya kini, yang tanpa kabar ... tidak ada tanda-tanda apapun.
Rasa gelisah terus menghantuiku kala malam tiba, sesaknya dada mengingat kembali rasa bahagia di detik terakhir pertemuan kami dua minggu lalu, mimpi indah dalam balutan nyata yang terjadi pada satu malam dalam hidupku. Semakin larut dalam kesedihan membuat otakku buntu pada logika, sempat nyaris kehilangan pertahanan ingin mengakhiri hidupku sendiri.
Satu pesan masuk kedalam ponselku saat ini, meski bukanlah orang yang kuharapkan, setidaknya masih ada harapan menantiku, Adam!
Perasaan ini membuncah, semangatku muncul seketika mendapat harapan informasi. Meski tak ingin mengira-ngira apa yang akan dibahas oleh Adam, setidaknya ... aku tidak hanya diam tanpa kepastian.
Bergegas menuju lokasi yang telah disebutkan. Aku siap mengembangkan senyuman bertemu dengan asisten terbaiknya.
Sesampainya aku disana, kulihat Adam duduk menatap ponselnya di sekitaran sudut ruangan kafe itu. Dua buah gelas minuman sudah tersedia di meja, begitu yakinnya akan kedatanganku kali ini.
"Adam." sapa ku.
Adam mengangkat wajah dari tatapannya pada ponsel tadi.
"Duduklah, di sebelah saya, Nona."
"Jangan, Adam. Nanti dikira—"
"Gak usah khawatir, saya sudah paham situasi disini. Ini pembicaraan genting yang tidak perlu didengar orang sekitar kita."
"O—okay. Saya duduk ya ..."
"Silahkan."
Aku perlahan duduk disebelahnya, rasa risih tentu saja ada, aku mulai terbiasa enggan duduk berdampingan dengan pria manapun selain kekasihku sendiri.
__ADS_1
"Adam—" tak sabar aku memulai kata, Adam menghentikanku bicara.
"Anda kelihatan kurus. Makan—tidak selama dua minggu?"
"Makan. Lihat, saya masih hidup 'kan, 'Dam ...?"
Adam meneguk minumannya dengan santai.
"Makan tapi tidak tidur? lingkar mata Nona terlihat jelas seperti panda. Sebesar itukah masalah ini hingga mengganggu polah hidup Nona?"
"Berhenti bercanda, Adam! Jika hanya itu yang mau kamu sampaikan, maka pertemuan ini saya anggap membuang waktu dan tenaga!"
"Tepat seperti prediksi saya 'kan? obrolan privasi ini pasti gak bisa membuat anda mengecilkan suara, makanya duduk seperti ini memang langkah paling tepat menghindari emosi anda yang seringkali meluap."
"Tujuan kamu apa. Mau mengejek saya berjam-jam?"
Adam tersenyum sambil menggelengkan kepala. Mempersilahkanku minum sebelum melanjutkan pembicaraan.
Aku meraih gelas itu, menyeruputnya sedikit, melegakan napasku yang mulai cepat terpancing emosi.
"Nona. Saya kasihan sama anda." gumam Adam.
"Ada lagi??" tanyaku sinis. Aku membuang pandanganku berpura-pura memainkan ponsel.
Adam menoleh ke arahku, menatapku dengan iba. Sesaat ia menghela napasnya, nampak berat hati ia melanjutkan bicara ...
"Tuan sudah kembali ke UK bersama ibunya, DAN ... BELUM DAPAT DIPASTIKAN KAPAN IA AKAN KEMBALI ... ." ucapnya cepat.
DEG
'Brian pergi ... tanpa sedikitpun kata untukku ...' batinku.
Aku terperangah, suaraku tercekat! Air mataku seketika mengalir tak terkendali ...
Aku menatap Adam dengan tatapan kosong, buyar semua impianku menuju ikatan pernikahan ... . Dalam waktu singkat, kata-kata Adam telah menghantam keras jantungku yang semakin lemah tanpa harapan ... aku merasakan kehancuran ... oleh Pria yang sangat kucintai ...
Seketika kurasakan tubuhku gemetar hebat hingga perlahan terasa ringan. Semuanya pandanganku semakin redup ... tanpa terasa semakin gelap ...
Nona ...
Nona Susan ...
Samar-samar kudengar seseorang memanggilku ... hingga suara itu tidak terdengar lagi ...
.
.
__ADS_1
Bersambung