
...'Sesuai perjanjian ... tanpa sentuhan'...
Pagi itu seorang pria tengah berdiri bersandar pada sisi mobil SUV-nya yang terparkir tepat di sisi jalan rumahnya. Susan keluar dari dalam rumah dan melangkah malas mendekatinya. Seperti memang sudah terancang sempurna, hari itu datang juga di mana permintaan Dicky tidak pernah dapat digagalkan oleh siapa saja.
Susan menatap datar wajah pria yang memasang senyum kemenangan, sebab itu ia menahan diri untuk menyapa sekedar basa-basi. Susan pun mengikuti langkah Dicky yang kemudian masuk ke dalam mobil. Tidak ingin menebak apa yang akan terjadi, perjalanan macam apa, atau kemana arahnya, Susan hanya mampu mempersiapkan fisik dan kesadaran lebih untuk menghadapi Dicky dengan penuh hati-hati.
'Semoga Brian punya cara lain untuk dapat mengetahui keberadaan ku nanti' batin Susan.
"Mau kemana?" tanya Susan dengan sikap dingin, saat keduanya masuk kedalam mobil.
Pertanyaan meluncur untuk Dicky yang bahkan belum sempat memakai seat belt-nya "Ada deh," jawab Dicky dengan santai, seraya menggulung bagian lengan sweater yang digunakannya.
"Ada deh gak termasuk dalam perjanjian," cetus Susan. Ia tidak ingin melakukan perjalanan dengan orang yang tidak mudah ditebak. Baginya, sama saja masuk ke dalam kandang singa, yang tidak tahu kapan lapar dan menyerang tiba-tiba. Sejauh itu pikiran Susan.
"Rapi amat? mau kemana neng?" goda Dicky mencoba mencairkan suasana. Dicky menoleh ringan merasakan situasi canggung saat itu, seraya memakai seat belt dan mulai menyalakan mesin untuk memanaskannya sesaat.
"Gak usah banyak tanya, emangnya aku mau pakai baju sobek-sobek, cuma jeans dan kaos aja kok rapi!" jawab Susan ketus.
"Tumben gak pakai rok, kalo sama Brian maunya pakai rok, kenapa sama aku enggak?" tanya Dicky iseng, sambil memerhatikan Susan dari atas kepala hingga lutut.
Susan membalas tatapan Dicky dengan kesal, baru saja masuk ke dalam kabin mobil, ada saja kata-kata dan sikap Dicky yang mulai membuatnya ragu.
"Antisipasi." Susan menjawab singkat.
"Hah? Hahaha ... ge-er," jawab Dicky. Ia terlihat menoleh dan memutar sedikit tubuhnya, mengambil sebuah sweater yang tergeletak di kursi bagian belakang. "Nih, pakai. Jaketmu masih sama aku kok, biar kita samaan ...."
"Eh, ini~ ?? sama kamu?!" Susan sedikit terhenyak, sweater yang telah lama dicarinya ternyata tersimpan dalam keadaan baik oleh Dicky. Entah kapan sweater itu hilang, sejak kejadian lima tahun lalu, Susan enggan mencarinya lagi.
Jaket berwarna biru navy polos, tertera bordir dengan inisial S berukuran kecil, sama dengan sweater yang digunakan Dicky saat ini juga terdapat inisial D dibagian sebelah dada kiri.
Dicky tersenyum, saat memerhatikan Susan yang nampak senang dengan sweater yang disodorkannya barusan.
"Aku cari-cari lhoo~" ucap Susan dengan senyum mengembang, tanpa ia sadari. Sweater itu adalah salah satu sweater kesukaannya, kala dulu.
"Pakai udah, biar nge-couple," pinta Dicky.
Susan menaikan sebelah alisnya, menanggapi perkataan Dicky. "Hih, in your dream," balas Susan yang tidak ingin terkesan Dicky menanggapi hal itu seakan-akan spesial untuknya.
"Pakai! apa aku yang pakein ke kamu nih?!" ucap Dicky seraya membentangkan sweater itu, hendak meloloskan sweater itu dari atas kepala Susan.
__ADS_1
Otomatis Susan menarik kuat sweater itu agar tidak sedikit pun mencoba bersentuhan. "Aku bisa pakai sendiri! lagian mau kemana sih, pakai jaket segala, emangnya udara bakal dingin apa?"
"Puncak? hu~ maunya ... cari dingin-dingin, mancing-mancing? hahaha," goda Dicky.
"Gak bisa salah dikit ya ngomong sama kamu, otakmu rusak kayaknya?"
"Hm ... kalo otakku rusak, perusahaan kamu gak akan naikin jabatan lagi buat aku. Mereka mulai ketergantungan sama aku lho," ucap Dicky menyombongkan diri. Keduanya mengetahui peningkatan kinerja Dicky sebagai Tim IT perusahaan yang cukup handal sebagai pegawai yang belum lama bekerja, Dicky bahkan sudah sempat dipromosikan naik posisi dari jabatannya sekarang sebagai SPV.
"Sombongnya ..., dah, jalan! ngomong terus," ucap Susan dengan nada ketus.
***
Perjalanan tampak lengang tanpa banyak kata yang keluar dari mulut keduanya. Susan kerap ngutak-atik ponselnya mematikan kemudian menyalakan koneksi internet berulang-ulang. Tanpa disadari, ia terus mencari sinyal dari ponselnya yang tiba-tiba sangat sulit mendapatkan pesan masuk.
'Mati aku. HPku rusak, apa sinyalnya parah begini ... ' batin Susan.
Sekilas Dicky tersenyum miring, melirik aktifitas Susan yang mungkin saja akan sia-sia.
'Cari aja sampai dapat, jangan harap Brian cari tahu keberadaan kita nanti' batin Dicky. Yang sebenarnya sudah mengakali sinyal ponsel Susan dengan sebuah alat berukuran kecil yang disebut 'Jammer', yang berfungsi menghalangi frekuensi sinyal ponsel.
Posisi kendaraan melaju ke arah Jakarta Utara. Salah satu tempat hiburan yang sudah lama berdiri sebagai lokasi wisata yang menghadirkan wahana permainan berbagai usia.
"Kesini? Gak lupa umur 'kan?" sindir Susan. Mengingat keduanya tidak lagi berusia belasan, dan hanya sibuk memikirkan karir juga fokus memilih pasangan.
"Kamu inget gak waktu SMA kita kesini? satu tas isinya snack sama minuman, ujung-ujungnya kita tetep aja jajan di dalam dan snacknya kita makan dirumah, hahaha." Dicky tertawa dengan mata menerawang, ekspresinya seakan mengingat masa lalu mereka berdua yang tanpa masalah.
"Kamu aja yang gak mikir, di dalam banyak makanan malah belanja ke mini market," gerutu Susan.
"Ya aku kan tau kita suka cemilan," ucap Dicky dengan senyum hangat. Seakan ia benar-benar menikmati apa yang sedang dalam pikirannya tentang masa lalu mereka.
Susan tanpa sadar tersenyum tipis, juga teringat akan masa-masa itu. Bagaimana ketika keduanya sering meluangkan waktu tanpa terikat hubungan percintaan, dan sangat lepas dengan kenyamanan hubungan persahabatan. Meski tidak diketahui hati terdalam keduanya yang saling melindungi dan menerima kekurangan atas dasar apa.
Sesaat berhenti disebuah lahan parkir, mereka keluar melangkah menuju area tiket masuk wahana, Dicky berjalan menuju antrian membeli tiket. Kemudian keduanya memasuki area wahana.
Melihat sekeliling sambil memikirkan harus memulai dari area mana, tiba-tiba Dicky mencetus sebuah permainan yang paling pertama mereka temui. Sebenarnya, itu permainan yang mereka sukai sejak dulu, permainan berupa sebuah perahu besar yang mengayun hingga 90 derajat, dengan ketinggian 30 meter.
"Duh, itu ... enggak deh, Dic. Aku gak mau muntah," ucap Susan memandang ngeri.
"Kenapa? jantungan? dulu enggak." Dicky mengernyitkan dahinya memandang Susan yang tidak tertarik dengan wahana itu.
__ADS_1
"Aku habis makan, nanti muntah," Susan beralasan. Karena memang sebelumnya pengaruh sarapan, atau tidak ingin sampai ketakutannya membuat ia berpegangan dengan Dicky.
"Ah, alasan ... ayok!" paksa Dicky seraya menarik tangan Susan.
Mencoba menuruti permintaannya kali ini, Susan memilih mengalah. Saat permainan dimulai hingga selesai ia mampu untuk mengendalikan diri tidak merasa takut hingga harus memegang tangan pria di sebelahnya, yaitu Dicky. Setelah permainan usai, Susan yang keluar dari area nampak terlihat pucat, seakan asupan sarapannya tadi hendak berontak keluar dari mulutnya.
"Gak muntah kan?" tanya Dicky pelan, sedikit khawatir.
" ... " Susan terdiam tidak menjawab apa-apa, jalannya sedikit lunglai dan tubuhnya berkeringat dingin.
"Ya udah, duduk dulu." pinta Dicky, ia mengepal tangannya menahan diri untuk memapah tubuh Susan yang nampak lemas. Ia hanya berani menyentuh tas Susan, dan menggiringnya pelan ke arah bangku taman. "Sini tas kamu."
" ... " Susan menggeleng pelan tanpa jawaban sedikitpun, menahan rasa ingin muntah dan pusing pasca menaiki wahana itu.
"I-itu berat, San— ," bujuk Dicky.
"Barang bawaanku adalah bagian aku juga," gumam Susan.
"Hmmh ... ya udah, aku beliin minum dulu, tunggu disini," ucap Dicky, sedikit cemas melihat kondisi Susan yang bisa saja pingsan.
Beberapa saat kemudian Dicky kembali membawa minuman hangat, sebuah cup kertas berisi teh hangat digenggamnya dan disodorkannya pada Susan.
"Minum," ucap Dicky, seraya menyodorkan teh hangat itu dekat ke arah bibir Susan. Hendak membantu meminumkannya.
"Gak, aku udah gak apa-apa." Susan mendongak pelan, mulai kembali meragukan isi minuman yang ditawarkan.
"Ini bukan racun, minum!" paksa Dicky dengan tegas, kekhawatirannya semakin meningkat karena Susan selalu menolak dibantu apapun.
Susan akhirnya menuruti Dicky yang mulai terlihat kesal, dan meminum teh hangat itu perlahan dengan syarat ia meminumnya sendiri, bukan dengan bantuan Dicky.
"Aku udah janji kan, gak akan menyentuh kamu. Gak usah khawatir," gumam Dicky. Hatinya miris melihat wanita dihadapannya begitu ekstra hati-hati meski tidak ada niat jahat sedikitpun terlintas dalam benaknya.
.
.
Bersambung
otw next part👍
__ADS_1