
POV Susan💋
"I—wan't—you ... I really wan't you ... "
Pikiranku nyaris tersihir akan sorot mata berwarna abu-abu itu. Kutekankan kembali perkataanku.
'Harus seberapa sering menghadapi situasi seperti ini, dan berapa banyak kata kuutarakan tapi Bri seperti belum lelah mencoba, aku harus lebih kuat agar tidak gagal, tapi sampai kapan?'
Aku memaklumi sikapnya yang terlanjur sekian lama tertunda akan masalah 'khusus' ini. Bagaimanapun terkait dengan genetika, gaya hidup, lingkungan atau apalah ini bagi pandangan kami sangatlah lumrah. Tapi, seharusnya ini berbeda, karena ini bukan tentang orang lain, ini tentang kami.
"Emm ... Okay. Begini ... " seraya mendorong tubuhnya kembali berdiri mengikuti posisiku yang berusaha kembali duduk di sisi tempat tidur itu, "Bri, listen. Soal ini kukira, sekian kali sudah cukup membuat kita kuat, ya 'kan, Bri? Tidak ada salahnya kita lebih 'anti mainstream' dibanding teman-teman kita. So, why?"
"So, why?"
"Penawaranmu kesekian kalinya selalu mengguggahku untuk setuju, tapi ... Ada sesuatu yang menahan ku lebih lanjut lagi"
"Apa kita sedang transaksi bisnis disini?" Brian tersenyum paksa.
"Bukan, sih. Tapi, yaaaaa ... Anggap saja begitu"
"Huuuffff, baiklah. Aku hargai itu, akupun tidak bisa melihatmu cemas nanti, itu menggangguku juga"
"You mean?"
"Ehmm, tidak" Brian membalikan badan.
Aku bangun dari duduk dan disambut kembali tanganku olehnya menuntunku segera keluar dari ruangan. Semakin ia menerima keputusanku.
Sesaat menutup pintu kembali dari luar kamar ia menoleh sedikit seakan mengumpat.
"Mungkin memang tempat tidur itu ada setannya, lihat saja warna nya hitam. Hahaha"
"Biarkan setan itu di dalam, kita keluar saja" aku tersenyum memandangnya sambil melingkarkan tanganku pada lengannya.
Kami berjalan kembali menuju lantai satu. Melihat beberapa bagian ruang yang masih nampak kosong tanpa benda apapun.
"Oh, ya. Aku lupa, disebelah ruangan ini adalah ruang baca, nantinya juga bersebelahan dengan ruang khusus untuk Adam"
Brian membuka pintu di salah satu ruangan, nampak rapi dengan rak buku yang berjajar tersusun hingga dua lantai di dalam.
"Buku banyak begini sudah kamu baca semua?"
Kami hanya melongok dari luar tanpa masuk ke dalam.
"Belum, lah. Memang ada beberapa koleksi. Tapi, ini juga belum datang semua, sisanya akan dibawa dua minggu lagi yang masih kubaca sekarang"
"Wow, koleksi. Koleksi apa?"
"Mau tau aja, suka baca juga enggak. Hahaha" Tertawa mengejek sambil menutup pintu ruangan itu kembali.
"Hey, udah mulai berani yaaa ngejek aku sekarang, hmm—hm—hmm ... " kutunjuk-tunjuk dadanya dengan kedua jari telunjukku.
"Heeei ... Geli" Brian termundur menghindari keisengan jariku, "Aku 'kan berusaha mengingatkan perkataanmu, kalau merasa itu ejekan harusnya bisa dong menyangkal itu. Apa ada buku Psikologi yang pernah kamu baca selain mata kuliah dulu?"
"Ada!" jawabku pasti.
"Apa?" tersungging senyum kecil di ujung bibirnya tipis. Ejekan halus.
"Harry Potter, hahaha" akupun tertawa dengan perkataanku sendiri, betapa aku memang tidak suka baca sama sekali.
"Hahaha, apanya yang bisa kamu ambil. Hayalan?"
"Ah ... Yang penting baca 'kan? Kupikir di ruang baca tadi aku bisa dapatkan tongkat sihirku disana, hahaha"
"Tongkat sihirmu ..., disini." ia meraih tanganku dan menaruh telapak tanganku di sebelah dadanya.
__ADS_1
"Yes ..., Hagrid!" aku mendongak sambil tertawa kecil mengejeknya. Karena tinggi kami yang selisih hampir 35cm dan perawakannya yang besar untuk kategori pria Asing.
Brian memang bukan Pria yang atletis dengan perut berpetak-petak macam sawah. Ia cenderung berisi namun tetap proporsional karena perutnya rata bukan seperti wanita hamil dua bulan. Tanpa sengaja tangan ku merayap turun ke bagian perutnya mengikuti jalan pikiran, eh!
"Sue? lagi mikir apa?" Brian menyeringai dengan deretan giginya yang kecil menggemaskan. Menunduk melihat tanganku yang masih belum berubah posisi.
"Eh!" seperti terlonjak kaget menyentuh air panas, kulepaskan tanganku dari tubuhnya.
"Penasaran?"
"Gak, gak ... Aku gak penasaran" jawabku kikuk, dengan wajah yang memerah karena malu.
"Aku gak minta jujur kok, Sue. Melihat wajahmu yang merah begini juga cukup menjelaskan. Hahaha"
"Ah, shooooot. Hahaha" kutonjok pelan bagian pinggangnya dan kami berjalan kembali berkeliling ruangan dengan tangannya yang melingkar di bagian punggungku.
Kami berjalan ke area garasi yang terdapat ruangan lapang di sebelahnya, masih terlihat tembus keluar area halaman belakang, tempat gundukan tanah tadi.
"Ini ruangan luas rencana untuk apa?"
"Baru rencana, untuk area informal teman-teman dan keluarga nantinya, makanya akan tembus ke halaman belakang dan area kolam renang"
"Ini semua kamu yang rancang?"
"Permintaanku, ya. Dibantu oleh arsitek kepercayaan Uncle. Bukan seperti kamar tadi, si Adam gila itu yang punya ide tanpa memberitahuku"
"Hahaha ... Hahaha, segitu bencinya sama kamarmu"
"Sudahlah"
Aku berjalan keluar ke halaman belakang, penasaran dengan besarnya galian kolam renang yang akan dibuat dalam waktu dekat. Brian mengikutiku dari belakang.
"Seharusnya pembangunan kolam ini sudah selesai, terhambat cuaca terus"
"Iya, kenapa tidak dibuat duluan, kan jadi kotor begini"
"Sini, hati-hati licin" Brian menuntunku agar tidak terjatuh, "Lihat saja masih siang begini sudah mendung, padahal tadi terik sekali"
"Kesukaanmu" Brian menghela napas, "meskipun aku aneh dengan kegilaanmu akan warna putih, tapi aku mendukungnya"
"Thank you" aku tersenyum sambil memandangi daun-daun yang merambat disekelilingnya, "Ini ... Daun ... Anggur? Tapi ini daun apa?"
"Wisteria. Ketika muncul bunganya ini akan berwarna ungu dan merambat kebawah seperti air terjun"
"Pasti cantik"
"Dia menunggu Nyonya William mengaguminya nanti"
Aku membalikan badan, mendongak melihat ke arahnya.
"Nyonya William itu orangnya seperti apa?" aku tersenyum bersikap manja.
"Wanita yang simple dan tidak banyak macam-macam, tapi mampu membuatku kewalahan"
"Kewalahan apa?"
"Menahan cemburu dan segera memilikinya" ia menatapku sambil tersenyum, kedua tangannya yang disisipkan dalam saku celana kini cepat memegang kedua lenganku.
"Aku tidak kenal, siapa?"
"Ms. Susan ... William ... "
Jarinya menyentuh ujung dagu ku dan mengusap sebelah pipiku kini, lagi-lagi si bule berbadan tinggi ini mengajak cipika-cipiki, tapi nasib menentukan lain. Seketika hujan deras dadakan musim pancaroba ini mengejutkan kami, hingga kami lari tunggang langgang.
Brian yang menggandeng tanganku tidak berani resiko membuatku terpeleset akibat sisa-sisa tanah yang bisa saja licin dan membuat kami berdua terjatuh. Ia sigap membopong tubuhku seperti anak kecil yang tantrum saat minta mainan.
Tapi terlanjur basah, ya sudah memang kebasahan. Pakaian kami berdua sulit diselamatkan dari guyuran air hujan. Kami kembali berdiri di tempat awal dekat garasi tadi.
__ADS_1
"Bagaimana ini, aku tidak bawa salinan"
"Cepat kedalam, segera keringkan badan" Brian menuntunku kembali ke dalam, "hmmm ... Kita ke ruang buku saja, siapa tau bisa kering di depan perapian, kucoba hubungi Leo untuk membawakan pakaian ganti"
"Tumben"
"Si konyol itu sedang cuti, biar Leo saja yang kesini" Brian dan aku berjalan kembali kedalam rumah ke arah ruang baca tadi. Ia menghubungi Leo.
Brian [ Leo, bawakan pakaian ganti untukku kee ... Rumah, ya ]
Leo [ Rumah mana, tuan ]
Brian [ Rumahku, disini kan belum ada apa-apa, kami kehujanan. Oh ya, juga peralatan mandi atau apapun yang hangat, blanket atau apalah. Dan ... ]
Brian berjalan agak menjauh dariku yang sedang duduk memeluk lutut di depan perapian.
Leo [ Bagaimana?]
Brian berbisik mengecilkan suara.
Brian [ Bisa tolong kau carikan ke mall ... Pakaian wanita dan ... pakaian dalam, maaf. Kekasihku kebasahan juga, tolong ya ]
Leo [ Noted ]
Brian [ Tolong segera, dan siapkan pesananku untuk makan malam nanti disini ]
Leo [ Segera ]
Brian [ Terima kasih, Leo. Kutunggu disini ]
Brian mematikan ponselnya dan kembali ke arahku, ia ikut duduk berdua berhadapan denganku di depan perapian.
"Ternyata ada gunanya juga, perapian di daerah tropis begini macam indonesia"
"Aku sering membaca saat malam tidak bisa tidur, kurasa suhu udara malam juga tidak baik, jadi butuh hangat pastinya"
"Siapa peduli tentang perapian, bahkan orang disini sibuk mencari AC dengan ukuran besar agar bisa mendapatkan dingin"
"Tapi tidak selalu itu terjadi, fakta nya kita butuh tanoa sengaja, ya 'kan?"
"Hmmm ... Ya, kau ada benarnya juga, selain sebagai interior ternyata ini berguna"
"Apalagi untuk yang masih sendiri seperti ku, kasian ya. Menunggu calon istri"
"Hahaha, calon istri ada. Menunggu nya yang buatmu dingin"
"Ya memang, biarlah. Masih dingin?" tanya Brian
"Sedikit, tidak apalah"
"Maaf ya, mau peluk aku? Aku aman" Brian tersenyum membentangkan kedua tangan.
"Yakin, aman"
"Aman, semua tergantung kamu"
"Okay" aku bangun dari duduk dan kembali duduk membelakanginya yang memelukku.
Ini memang hangat ...
Semakin hangat ...
Meski hembusan napasnya yang hangat di bagian tengkuk ku sedikit mengganggu pikiran.
Konsentrasi penuh ...
"Sudah lebih baik?"
__ADS_1
"Jauh lebih baik" aku menoleh kearahnya yang sedang menatapku. Menatapku intens hingga mataku tak sanggup menghindar lagi.
'Magnet nya kuat ... Magnetnya kuat ... Ini darurat ... Tolong!'