My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kekuatan perasaan


__ADS_3

...'Kata pingsan memang tidak seharusnya ada dalam kamusku, tapi banyaknya tekanan pikiran dan beberapa hal menegangkan yang terjadi kemarin memanglah cukup melemahkanku secara fisik maupun psikis ... karena ... banyak hal ... '...


Susan berhasil siuman setelah 10 menit kemudian dengan bantuan dua orang teman perempuan nya di dalam klinik secara perlahan menggunakan parfum dan kompres air hangat.


Perlahan tersadar dengan rasa sakit di bagian kepala akibat terbentur laci berkas di ruangannya. Berusaha memfokuskan matanya yang buram akibat sofltens yang mulai mengering di bola matanya.


"Saay ... jangan bangun dulu ... jangan bangun dulu, udah kamu tenang ya ... nanti kelas aku handle, kamu istirahat ya sayang ..." ucap Haya


"Eh, kamu belum sarapan ya 'San? kok bisa pingsan gini ... kalau capek ... kamu izin aja ya sama Pak Anton, biar Haya yang gantiin kamu di kelas" bujuk Mbak Wulan.


"Udah mbak, hhh ... tunggu lima belas menit lagi a—aku juga bisa ngajar lagi kok ..."


"Gak, gak, jangan say. Biar aku aja yang lanjutin, udah sampe materi apa?" tanya Haya.


"Hmm ... positive mindset dan Video motivasi Mike Vuijic ..., kasih story pohon afrika yang kubilang waktu itu, materi sesi satu udah selesai gak gantung kok ... maaf ya ..."


"Oke say, aku ke kelas dulu kali ya, udah mau jam satu biar aku kasih musik sedikit sebelum mulai"


"Makasih say ... nanti—a—aku sesi akhir materi aku masuk, tukar materi self-hypnosis jadi besok karena ini empat puluh orang, jadi jangan sendiri ya, takut gak kondusif. latihan smiling voice aja satu persatu"


"Udah, udah kamu gak usah pikirin. Nanti kalau ada apa-apa aku tanya lagi ke kamu ya, nanti aku infokan sama Anton"


"Yes, makasih, maap repotin ..."


Haya menepuk pelan lengan Susan sambil tersenyum, dan berlalu keluar ruang klinik, melirik malas ke arah Dicky.


Haya adalah partner satu divisi yang paling dekat dengan Susan, sedari perjuangan semasa kuliah hingga keberuntungan mendapatkan pekerjaan menjadi satu tim dalam perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi itu.


Dicky yang sedari tadi duduk terdiam pada kursi yang berhadapan dengan meja Dokter, masih menunduk menyimak percakapan tadi, sedang menekan rasa lelahnya. Kemudian ia perlahan bangkit dari duduk dan meraih tas ranselnya.


"Mbak, udah kan? aku pulang dulu ya, habis begadang. semalam problem server, capek nih" ucap Dicky berusaha acuh.


"Makasih ya Mas Erick" ucap Mbak Wulan kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke arah Susan "


San, bilang makasih sama Mas Erick, tadi dia yang gotong kamu"


"Dia?? kok ... kok ... " ucap Susan terbata-bata.


"Gak perlu Mbak, saya udah biasa menolong tanpa ucapan terima kasih" sindir Dicky.


"Hahaha, eh, bukannya tadi Mas Erick yang paksain security ... bercanda aja sih Mas, gak usah malu gitu dong ..." jelas Mbak Wulan sambil tertawa kecil. Menoleh ke arah Dicky yang hendak membuka pintu.


"He?" Susan tersenyum mengejek sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Security nya kasian, lagipula ... e—eh kan ... kamu harusnya takut kalau dia ambil kesempatan" Dicky berjalan kembali menghampiri Susan yang seketika berusaha bangun dan duduk di ranjang rawat "pakai pingsan segala! kamu kan gak pernah pingsan" bisik Dicky pelan.


"Oh ya? aku pernah pingsan MASS ERICKKK ... kamu tau dari mana?" bisik Susan sinis sambil mencondongkan tubuh sedikit ke arah Dicky "lima tahun lalu aku terjatuh pingsan setelah mengalami musibah terburuk. Dan, ow—ow—ow mungkin ... kemarin malam kualami juga ... bukan musibah, tapi lelah yang berkesan ... saaaangat menyenangkan ... bagi aku ... dan Brian tentunya!" ucap Susan sambil menyeringai.


'Bohong sedikit tak apa, senang hati mendapati ekspresi terkejutmu itu' batin Susan.


Dicky tersenyum kecut, sedikit menelan saliva.


"Bukan urusanku"


"Ya, memang bukan urusanmu. Jadi, baiknya kamu sudah pergi dari tadi 'kan?"


Dicky berbalik cepat menuju keluar ruangan melewati Mbak Wulan yang terheran-heran mencoba menyimak percakapan antara Susan dan Dicky barusan. Sedikit memahami kedekatan mereka berdua yang mungkin saja saling mengenal sekian lama, tanpa tau permasalahan sebenarnya.


Saat Dicky berjalan cepat menahan geramnya menuju lift, dan tidak fokus pada sekitar. Brian yang baru saja keluar dari lift berpapasan dengan Dicky yang kali ini tidak menutupi wajahnya. Dengan cepat Brian menahan bahu Dicky untuk tidak segera memasuki lift


__ADS_1


"Tunggu!" cegah Brian.


"Hey, Bro! apa-apaan!!" bentak Dicky sambil mengelak.


"Sedang apa disini." tanya Brian dengan nada datar.


"Heh, hehe ... Ba—pak ternyata. Saya kira orang mana, Bapak sendiri sedang apa disini?! cari pacar? tuh, lagi pingsan di klinik" jawab Dicky santai. Mengelak kembali


"Pingsan?! berbuat apa lagi kamu!! ulahmu lagi 'kan!"


"Santai ..., bukannya pingsan kelelahan katanya 'Pak! itu Bapak dong ... bukan saya yang tanggung jawab, hahaha" balas Dicky dengan nada ejek.


TINGG


Pintu lift kembali terbuka menuju lantai bawah.


"Oke, anda lolos kali ini!" ucap Brian sambil menatap tajam dan berlalu meninggalkan Dicky.


Saat Brian baru saja berjalan beberapa meter, Dicky berteriak kecil mengatakan sesuatu saat hendak memasuki lift.


"Oya, Pak Brian! tadi Bu Susan sudah saya bopong bawa ke klinik ya 'Pak!" ucap Dicky mencoba mengganggu Brian dengan kata-katanya.


"Shtttt" Brian mengumpat nyaris berbisik mendengar kata-kata Dicky dan sigap membalikan badan, melihat ke arah lift yang baru saja tertutup dan mengarah turun ke lantai dasar.


'Kurang ajar si Preman itu! bagaimana bisa! memang gak ada orang, security sibuk apa ini!'


Brian berjalan ke arah loby dan berbicara dengan salah satu dari dua orang security disitu.


"Permisi, bisa saya bertemu Ibu Susan?"


"Oh, itu ... Pak Brian ... tadi e—eh Bu Susan pingsan sekarang di klinik samping ruang Training 'Pak, mari saya antar?" jelas Security.


"Pingsan dimana 'Pak?" sambil berjalan ke arah ruang klinik "sudah siuman atau belum?"


Brian dan Pak security berhenti didepan pintu klinik kemudian Pak Security mengetuk pintunya.


Tokk tokk


"Lain kali 'Pak, biarkan jadi tugas Bapak kalau ada pegawai yang pingsan, sedikit lebih sigap saja 'Pak, khawatir ... orangnya tidak baik!"


"Ya 'Pak, tadi sudah saya bopong, malah direbut kok, saya dituduh mau macam-macam"


"Ya sudah, terima kasih 'Pak"


Mba Wulan membuka pintu. Dan Brian maju melongpk ke dalam.


"Pak Brian? ini ... Susan nya ... "


"Ya Mbak Wulan, permisi ..." Brian berjalan masuk mendekati Susan yang duduk bersandar di atas ranjang klinik.


"Kalau begitu aku balik ke ruangan ya 'San, nanti jadi nyamuk lagi, hahaha, nanti aku kabari Anton ya"


"Ya ampun si Mbak Wulan ... hahaha iya, makasih ya Mbak ..."


"Yuk Dok, Pak Brian, saya tinggal dulu"


"Ya, terima kasih Mbak Wulan"


Mbak Wulan keluar meninggalkan klinik.


"Dear, kenapa? sudah cek tensi?" tanya Brian sedikit panik.

__ADS_1


"Bri ... I—Iya ... ini ... "


"Ponsel kamu dimana, jadi sudah berapa lama kamu pingsan?"


"Maaf tadi aku silent mode, kan tadi ngajar .., pas break terus gak sadar tau-tau disini ..."


"Oke, kalau sudah kuat, kita makan siang" kemudian menoleh dan menyalami Dokter Rizal "Dok? Apa kabar ..."


"Baik 'Pak Brian, gimana ... masih sering maju mentoring?"


"Loh, kamu udah kenal Dokter Rizal, 'Bri?"


"Lagi vakum beberapa waktu, 'Dok." jawab Brian kepada dokter rizal "Waktu disini, mentoring"


"Loh, aku gak tau"


"Kamu 'kan ada Training, ingat? pertama lagi ketemu disini"


"Oh, waktu mentoring modus itu ..." gumam Susan sambil tersenyum.


"Hussh, haha. Sempat tanya beberapa kendala kesehatan karyawan, itu kan salah satu yang wajib diperhatikan oleh perusahaan, fisik dan mental kerja. Juga kesejahteraan sumber daya manusia nya. Apalagi yang pingsan-pingsan. Makanya, sekarang shift malam hanya diperuntukan bagi karyawan Pria 'kan?"


"Jadi itu yang kamu sampaikan saat mentoring sama tim HR?"


"Kurang lebih, itu kan PIO(Psikologi Industri dan Organisasi) dear, lingkup kita luas. Belajar lagi hayoo ... hahaha" Brian memijat-mijat kecil bahu Susan.


"Ya yaa ..., malah kuliah umum dia. Kamu sih iya Prof ..., aku kan belum ambil profesi"


"Ya, sudah. Ini aku mau tanya kondisi kamu. Berapa tensi nya dok?"


"Tadi ... 80/45, ini terlalu rendah lho" jelas Dokter Rizal.


"What? itu rendah sekali, polah hidup kamu gak sehat ini, dear. Kamu begadang ya?"


"Lagi drop aja mungkin, aku udah biasa kok rendah begitu, biasanya malah per-48 aja aku masih bisa kerja"


"Jangan dibiasakan. Nanti pulang kita cari buah bit, dan supply vitamin. Eh ... atau kita ke Rumah Sakit dulu? atau gimana?"


"Panik deh, aku cuma butuh istirahat. Lelah aja."


"Karena kemarin??" bisik Brian sambil menatap dalam.


"Gak kok, emangnya kita ..." balas Susan sambil menatap balik dan mengernyitkan dahi.


"Gak, kukira ... e—mm ... " gumam Brian.


.


.


Bersambung


kita apaaa? kirain apaaa? kemaren ngapain??🤣


kamu dimana... dengan siapa... semalam berbuaaat apaaaaa ....


nyanyi hayahh


nanti akan dijelaskan, flash back on di Villa.


sorry author cm mampu bikin visual sampe gitu, gelap dikit tp yaaa kurleb gitu lah situasinya.

__ADS_1


oya, FYI, maaf kl author akhir2 ini ga ngasih like komen2 kalian lagi tp balas pake komen, krn ini hp Thor keren banget gak baperan jadi kalo pencet tombol like itu gak seimbang sm jempol gede nya Thor, dasar kamu ponsel gak peka, ish!smoga kl nanti bisa diusahakan pake yg lain ya, hehhe.


__ADS_2